Guru-guru Favorit Semasa Sekolah

Guru favorit

 

Membicarakan guru favorit, rasanya banyak sekali guru yang bisa difavoritkan. Salah satu cerita tentang guru favorit pernah mengantarkan lolos tes tulis sesuatu. Beliau adalah salah satu definisi pahlawan tanda jasa sesungguhnya.

Ada kalanya aku membenci guru. Guru yang jarang masuk kelas. Guru yang mengajarnya apa adanya. Guru yang “les dengan saya nggak wajib kok”, tapi murid yang les dengannya diberi nilai tambahan. Guru yang pelajarannya memang kurang aku suka. Daaan, masih banyak lagi.

Di balik itu semua, masih ada guru-guru baik yang membuatku terharu. Guru-guru yang membuatku optimis bahwa masih ada orang yang menjadi guru karena panggilan hidup. Bukan panggilan rekening, semata. Jadi,  ini dia beberapa guru favoritku. Identitas mereka aku samarkan, ya. Nggak semua orang mau terekspos, kan?

Guru SD 1

Memasuki masa remaja, anak-anak sepertinya suka diperlakukan seperti dewasa. Diberi kepercayaan-kepercayaan. Diajak bicara dengan cara dewasa. Dan, semacamnya. Memperlakukan anak sebagai anak-anak adalah hal tabu dalam fase ini. Seperti penghinaan. Huehe.

Mungkin, pengalaman beliau mengajar selama bertahun-tahun mengajarkan hal ini. Mungkin juga karena beliau juga mempunyai anak dengan usia tidak berbeda jauh dari kami. Jadi, beliau bisa dikategorikan sebagai guru paling asyik. Anak-anak yang biasa nakal pun tiba-tiba jinak.

Kalau aku menjadi guru, menjadi pendidik seperti beliaulah yang aku imginkan.

Oh, ya. Ada kejadian memalukan bertahun-tahun setelah aku lulus. Banyak guru mengatakan mereka tidak mungkin mengingat murid satu per satu. Biasanya muridlah yang mengingat mereka. Jadi, para guru mengatakan bahwa harap maklum kalau disapa dan tidak mengenali.

Tapi …

Suatu hari aku naik angkot. Lalu, ada seorang ibu menyapa. Kaget, dong, tiba-tiba seorang ibu memanggil namaku di angkot.

1 … 2 … 3 … Fix, nggak kenal.

Begitu beliau menyebutkan siapa beliau, langsung saja aku merasa menjadi murid durhaka. Iya, beliau adalah guru SD-ku itu.

Aku merasa durhaka sekaligus terharu. Beliau ingat aku. Padahal, kan pasti sudah berubah, ya. Apa lagi, dulu aku belum berjilbab dan berkacamata.

Maafkan muridmu yang memang sulit mengingat wajah orang ini, ya.

Guru SD 2

Seperti yang kubilang. Banyak temanku yang tergolong nakal. Bukan nakal yang sampai sering bolos, sih. Hanya saja, di mataku, mereka tampak sebagai pemberontak.

Karena di kelas sebelumnya aku mendapat guru super galak, aku agak skeptis begitu naik kelas. Beliau adalah guru yang super lemah lembut. Itu pandangan sekilasku, ya. Karena murid pindahan, aku belum pernah diajar oleh beliau. Sedangkan, teman-temanku pernah merasakan diajarkan beliau di kelas bawah.

Aku dan teman sesama murid pindahan awalnya agak ragu. Kalau guru super galak saja nggak bisa menaklulan mereka, bagaimana dengan guru yang lembut? Ternyata, nggak begitu. Entah karena memori di masa-masa masih lugu atau memang kelemahlembutan justru melunakkan hati yang keras, teman-temanku nggak tampak seonar sebelumnya. Yaa, masih onar, sih. Tapi, setidaknya, di depan beliau, mereka cukup kalem, lah.

Berdasarkan hasil voting tidak official, beliau adalah salah satu guru yang paling banyak difavoritkan, terutama oleh geng bengal.

Guru Geografi

Ketika itu, aku hampir terlambat masuk kelas. Beliau sudah menunggu di depan kelas. Ketika bersalaman dengan beliau, beliau membisikkanku untuk membuat makalah. Untuk menambah nilai.

Murid-murid yang terkenal remedial memang diminta membuat makalah, tapi wait … aku kan nggak kena remed. Nilaiku bahkan nggak nyerempet batas minumum KKM sama sekai. Sekarang istilahnya apa, ya? Itu, loh, nilai yang harus dicapai supaya nggak perlu remedial.

Awalnya, aku pikir beliau salah mengenali orang. Teman-temanku juga heran ketika aku membuat makalah. Kalau punya nilai bagus, teman lain pun mudah saja mengingat nilai kita, kan, ya? *iya, sombong*

Walaupun janggal, aku tetap mengerjakannya. Aku kan anak baik. *iyahin aja*

Lalu, ketika aku menyesaikan dan mengumpulkan makalah, aku malah menjadi yakin beliau memang tidak salah mengenali orang.

Sampai sekarang, kenapa aku diminta mengerjakan makalah masih menjadi misteri. Lalu, apakah nilaiku bertambah? Entahlah.

Omong-omong, cara mengajar beliau sangat “masuk” bagiku. Iramanya pas. Penjelasannya cukup bisa membuatku berimajinasi. Nggak ada alasan aku nggak bisa mengerjakan ulangan.

Guru Matematika

Matematika adalah pelajaran yang riskan. Kalau aku suka gurunya, aku akan suka Matematika. Kalau nggak suka gurunya, aku nggak akan suka Matematika. Beda dengan Biologi. Suka nggak suka gurunya, pelajarannya aku tetap sukai. Atau, dengan Sejarah. Suka nggak suka gurunya, Sejarah tetap nggak kusuka.

Ada 2 guru Matematika yang paling kusuka. Yang pertama, guru yang menjadikan Matematika menjadi bernuansa cerah. Yang kedua, guru yang menjadikan Matematika bernuansa games.

Sebetulnya, aku bertanya-tanya. Kalau mereka yang mengajarkan persamaan garis, apakah aku akan mudah mengerti juga. Aku sangaaaat nggak suka garis. Bahkan, menggambar garis di pelajaran Kesenian saja aku kena remed.

Guru Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang sering disepelekan. Dianggap mudah karena merupakan bahasa sehari-hari. Padahal, bahasa sehari-hari jelas bukan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lagipula salah satu yang dipelajari dalam bahasa Indonesia adalah seni.

Kalau bahasa Indonesia mudah, sepertinya Indonesia punya banyaaaak sastrawan. Nyatanya, jangankan menjadi sastrawan, ulangan harian saja banyak banget yang remedial.

Berangkat dari banyaknya murid yang tampak belum siap menghadap UN bahasa Indonesia, guru bahasa Indonesia-ku yang satu ini memberikan les. Target utamanya adalah mereka yang sering remedial. Les ini GRATIS.

Di saat banyak guru yang menjadika les sebagai penghasilan tambahan, beliau memberikan secara cuma-cuma. Bahkan, beliau menguatkan hati seorang temanku yang tampak sudah mau menyerah. Dia merasa kemampuannya sudah mentok walaupun sudah ikut les. Tadinya, dia sudah akan berhenti les. Tapi, akhirnya dia tetap maju dan berhasil lulus dengan baik.

Cara beliau menguatkan temanku itu yang membuatku terharu. Tampak banget peran seorang pahlwan tanpa tanda jasa.

Jadi, mereka adalah beberapa guruku yang sangat kusukai. Selain mereka, ada seorang lagi yang sangat kufavoritkan: Dosen pembimbingku yang supeeeeer baik. Kalau ada sekolah lain yang akan menjadi kenangan selain tempatku menuntut ilmu, itu adalah sekolah tempatku meminta tanda tangan beliau.

Aku harap kabar dari belia-beliau tersebut akan selalu baik. Semoga beliau yang diberi ujian sakit selalu kuat dan segera diberi kesembuhan. Dan, beliau untuk yang telah berpulang, semoga jasanya menjadi penerang di alam sana.

2 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *