Catatan Hijrah Shafira dan Nadiah Fatimah

Shafira muslim fashion

 

Hijrah. Mungkin kata satu ini semakin sering terdengar belakangan ini. Hijrah memang bukan hal mudah, baik hijrah secara lahir maupun batin. Hijrah secara lahir identik dengan “ribet”. Yang pernah pindah rumah pasti kebayang segala persiapan pindahan sampai rumah baru tertata rapi, bukan memerlukan waktu yang sedikit. Hijrah batin mungkin tampak tidak seribet pindah tempat tinggal, tapi sebetulnya godaannya luar biasa. Batin kan sesuatu yang abstrak alias tidak tampak. Kadar naik-turunnya niat pun nggak bisa diprediksi.

Seseorang yang memutuskan hijrah batin biasanya sudah menemukan suatu titik balik kehidupan. Defining moment.

Beberapa orang menemukan defining moment bersamaan dengan hijrahnya ke tempat baru. Menemukan lingkungan baru yang membuatnya berpikir ulang tentang segala harus.

Beberapa orang dijatuhkan terlebih dahulu sebelum akhirnya menyadari itu adalah defining moment-nya. Diuji dengan beragam hal. Sakit. Patah hati. Bangkrut. Atau hal-hal buruk lainnya di mata manusia.

Dan, mungkin ini yang tersulit, menurutku: menemukan defining moment dalam kebahagian. Kaya raya, tenar. Hidup enak. Kebahagiaan dunia terkadang membuat seseorang lupa. Apa lagi, kalau merasa sudah rajin salat. Jadilah yakin bahwa semua itu adalah berkah Allah. Siapa yang mengira itu adalah ujian?

Itulah yang dialami Nadiah Fatimah. Di usianya yang belum genap 30 tahun, kehidupannya sudah nyaman. Pekerjaan bagus. Gaji besar. Semua hal dalam hidupnya seperti impian dalam novel-novel Chicklit.

Nadiah Fatimah menceritakan perjalanan hijrahnya dalam acara “Blogger Gathering Inspiring Journey” bersama Shafira Muslim Fashion pada 23 Agustus 2018 lalu.

Mungkin ada yang sudah pernah mendengar namanya. Beliau adalah seorang survival lupus. Walaupun demikian, berdasarkan cerita beliau yang aku tangkap, bukan penyakit lupus yang menjadi titik balik kehidupan beliau.

Kalau mendengar karir Nadiah Fatimah, siapa yang tidak iri? Kuliah di luar negeri, karir mapan, gaji besar.

Dulu, beliau bekerja sebagai LO. Tamu-tamu dari luar negeri adalah kliennya. Membuat para tamu betah selama kunjungan di Indonesia adalah salah satu tugasnya. Mungkin karena budaya Barat yang berbeda dengan di Indonesia, permintaan para tamu itu pun terkadang menyesuaikan budaya mereka.

Maka, keluar-masuk tempat yang tidak semestinya bagi seorang Muslim, menjadi hal biasa bagi seorang Nadiah Fatimah pada masa itu. Jam kerja yang tidak kenal waktu pun menjadi hal biasa.

Salat 5 waktu tidak pernah ditinggalkannya. Walaupun demikian, ada suatu ketika beliau menyadari dirinya tidak bahagia.

Beliau mulai mencari arti bahagia.

Bahagia Itu Apa?

Apakah ketenaran adalah kebahagiaan? Kalau begitu, orang-orang tenar di dunia, seharusnya tidak ada yang bunuh diri.

Apakah kekayaan adalah kebahagiaan? Tapi, orang-orang kaya masih saja banyak yang membuat kasus.

Lalu, apakah mungkin jabatan menjadikan seseorang bahagia? Sayangnya, ada saja presiden yang bunuh diri.

Mungkin, kecantikan yang menjadi kunci bahagia? Sepertinya bukan. Banyak orang cantik yang melakukan operasi plastik lagi dan lagi.

Lalu, pada suatu titik, beliau menyadari sesuatu: iya, salat nggak bolong. Tapi, jalan ke tempat haram pun nggak bolong. Ke mana pun klien ingin, beliau mengikuti. Jilbab pun saat itu belum beliau kenakan.

Akhirnya, beliau mulai menyadari bahwa kebahagiaan sesungguhnya berasal dari hati. Hati yang tenang karena mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Beliau mulai kembali belajar Islam. Apakah beliau langsung bahagia? Nggak juga.

Segala pertanyaan masih tersimpan di benaknya. Masih merasa kurang bahagia, belum pun terus mencari arti bahagia tersebut.

Hingga suatu saat, beliau menemukan filosofi kopi.

Kalau gelas berisi kopi, dimasukkan susu, warnanya tidak lantas berubah menjadi putih. Warna kopi dan susu masih akan bercampur. Kalau ingin mendapatkan warna putih, seluruh kopi harus dikeluarkan lebih dahulu. Barulah diisi susu.

Hal ini pun sama dengan hijrah menurut Nadiah Fatimah. Tidak cukup sedikit-sedikit. Kalau sedikit-sedikit, godaan kembali ke jalan yang salah cukup besar, menurut beliau.

Jalan Bahagia

Shafira muslim fashion

Memutuskan berhijrah, beliau pun meninggalkan pekerjaannya dan berhijab. Beliau pun menemukan jodohnya melalui proses taaruf. Seorang lelaki yang tinggal di Belanda.

Mereka pun dan … hidup bahagia selamanya? Sampai di sini, mungkin perspektif bahagia bergantung pada setiap orang.

Terkadang, sakit pun dapat dikatakan sebagai kebahagian karena disanalah ditemukan ketulusan dan kesungguhan.

Setelah berbagi bahagia dalam acara wedding, malam harinya, Nadiah Fatimah merasa kakinya bengkak. Mulanya, beliau mengira hal itu hanya akibat lelah. Mungkin akibat terlalu lama memakai sepatu high heels, pikirnya.

Selanjutnya, barulah diketahui bahwa bengkak tersebut adalah cikal bakal penyakit lupus. Salah satu penyakit yang hingga kini belum ditemukan obatnya.

Lupus tersebut semakin lama semakin mengganas. Beliau divonis lumpuh selamanya. Beliau bahkan sampai memasrahkan sang suami karena dengan vonis kelumpuhannya, vonis tidak dapat memiliki keturunan pun mengikuti.

Lalu, apa yang dilakukan suami Nadiah Fatima? Beliau justru menetap di Indonesia dan merawat sang istri. Semula, keduanya memang berencana tinggal di Belanda. Tapi, dengan keadaan demikian, keputusan untuk menetap di Indonesia pun hadir.

Syukur dalam Sakit

Nadiah Fatimah sangat bersyukur sakitnya datang setelah menikah. Bukan sebaliknya. Beliau merasa Allah sangat baik. Lebih dulu memberikan seseorang untuk merawatnya sebelum memberikan penyakit tersebut.

Beliau juga bersyukur diberi penyakit setelah berhijrah. Kalau penyakit itu datang sebelum berhijrah, mungkin rasa kesal kepada Tuhan yang akan muncul. Namun, karena sudah lebih memahami agamanya, beliau berpikir hal tersebut mungkin penggugur dosa karena dahulu kakinya digunakan menapaki tempat-tempat yang tidak seharusnya.

Wallahualam, mungkin syukurlah yang menyelamatkannya. Segala vonis tinggallah vonis. Di bulan ke-11 penyakitnya, beliau tiba-tiba saja dapat merasakan kembali kakinya.

Twin house

Dengan segala usaha yang kemudian dilakukan, Nadiah Fatimah dapat berjalan kembali. Bahkan, beliau dikaruniai seorang anak kandung.

Bagi seorang wanita pengidap lupus, kemungkinan mempunyai anak kandung setelah penyakit tersebut menyerang sangatlah kecil. Walaupun sudah tampak sehat, dikhawatirkan penyakit tersebut kembali menyerang saat hamil. Walaupun tidak menular kepada janin, tetap saja berbahaya bagi kehidupan ibu dan bayi. Kuasa-Nya yang menjadikan seorang Nadiah Fatimah dapat berjalan dan mempunyai anak kandung.

Bagaimanapun, akhirnya beliau dapat melalui semua itu. Memang, beliau masih mengonsumsi obat secara rutin. Penyakit tersebut belum dapat sembuh sepenuhnya. Walaupun demikian, segala keajaiban kesembuhan sangat patut disyukuri.

Dengan kesembuhannya, tidak lantas membuat Nadiah Fatimah lupa diri. Beliau masih terus meng-upgrade diri melalui ilmu agama. Salah satunya adalah dalam hal fashion.

Dulu, gaya berpakaian beliau sangat berkiblat pada manusia. Beliau sangat memikirkan pandangan manusia. Kini, beliau pun memikirkan pandangan Allah.

Bagi beliau, hijrahnya belum selesai. Perbaikan demi perbaikan terus dilakukan. Bukankan memang manusia sebaiknya demikian?

Shafira: dari Lokal Sampai Internasional

Seperti halnya Nadiah Fatimah, Shafira Muslim Fashion pun terus berhijrah. Upgrade demi upgrade terus dilakukan. Dalam langkahnya menuju 30 tahun Shafira, banyak perubahan yang telah terjadi.

Di tahun 1989, Shafira hadir sebagai suatu brand pakaian Muslim lokal. Sekarang, menjelang 30 tahunnya, Shafira mulai melebarkan sayap ke kancah dunia. Shafira kerap menyelenggarakan pagelaran busana di dalam maupun luar negeri.

Dengan kesuksesan Shafira saat ini, mungkin sulit membayangkan modal Shafira merupakan hasil pinjaman kepada kerabat. Feny Mustafa, pemilik Shafira memang memiliki mimpi, tetapi terkendala modal uang. Di sisi lain, beliau mempunyai modal networking. Hal itulah yang menjadi awal berdirinya Shafira di era ketika pakaian Muslim belum sepopuler sekarang atau bahkan dianggap tabu.

Perjalanan bisnis Shafira Muslim Fashion pun tak selamanya mulus. Brand pakaian Muslim, yang sekarang mempunyai anak perusahaan berlabel Zoya ini, pernah nyaris tutup usia di tahun 2006. Namun, berbekal tekad dan lagi-lagi networking, Shafira berhasil bangkit dengan semakin banyak outlet di Indonesia dan terus berkembang ke kancah dunia.

Walaupun menapaki dunia luar, Shafira tidak lupa dengan membawa kekayaan lokal dalam desain-desainnya. Salah satunya koleksi seri “Ngabaraga”. Nama seri ini terinspirasi dari nama jalan di Bandung: Jalan Braga.

Desain “Ngabaraga” identik dengan fashion era 1920-1930. Warna-warna yang digunakan cenderung nude. Salah satu seri “Ngabaraga” yang dibawa pada acara Kamis lalu, mempunyai detail bordir yang dikerjakan secara handmade.

Shafira memang sering menambahkan kesan personal pada produk-produknya. Seperti penambahan nama pada jilbab dengan sulaman batu Swarowski asli. Jilbab ini bisa dipadukan dengan seri formal. Batu Swarowski di sekitar sulaman nama pun bisa ditambahkan atau dihilangkan sesuai selera pemesan.

Bagi yang ingin menghadiri acara khusus, Shafira juga mempunyai set dress dengan perpaduan Swarowski dan kain tenun Silungkang dari provinsi Sumatera Barat. Kain tenun ini memberikan kesan mewah. Dengan desain sedemikian rupa, kain Silungkang siap go international. Koleksi satu ini pernah dibawa ke perhelatan Dubai Fashion Week.

Harga yang ditawarkan Shafira mulai dari ratusan ribu hingga jutaan. Harga demikian tentu berbanding lurus dengan kualitasnya. Apa lagi, hampir setiap item yang dijual di Shafira tidak diproduksi secara massal. Hanya beberapa buah saja. Lagi-lagi hal ini memberikan kesan personal bagi penggunanya.

Memilih pakaian mungkin seperti memilih jalan hidup. Bergantung selera, keinginan, dan kebutuhan. Pakaian pun dapat menjadi identitas penggunanya.

Dan, seperti halnya jalan hijrah, tinggalah memilih ingin berpakaian terbuka atau tertutup. Ingin pakaian yang seperti apa yang sedang dikenakan jika suatu waktu malaikat menjemput?

 

8 comments

  1. Ya Allah…
    Allah memberi ujian kepada siapa saja yang dikehendakiNya dan memberi petujuk pula dibalik ujian tersebut.
    Semoga istiqomah dalam berhijrah.

    Salut dama Shafira yang hadir trendi dengan balutan baju muslimah yang sopan.
    Semoga orang jadi ga takut lagi berhijab.
    Karena,
    dengan berhijab, tetap bisa terlihat cantik di mata manusia dan di hadapan Allah.
    in syaa Allah.

  2. Hebat kisah hidup mbak ini, punya penghasilan besar tidak membuat dia nyaman, bisa memulai wiraswasta dan sukses, keren banget. baju-bajunya juga cakep dan trendi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *