Hidup Sederhana: Jalani Hidup Apa Adanya, Terus Berkembang

Hidup sederhana jalani hidup apa adanya terus berkembang

Gaya hidup minimalis. Ketika mendengar kata-kata itu, mungkin yang terbayang adalah hitam-putih dan lurus. Padahal, gaya hidup minimalis adalah menjalani hidup apa adanya. Tanpa Syarat Ketentuan warna maupun bentuk.

Bagiku, gaya hidup minimalis bukan sekadar pandangan mata seperti itu. Gaya hidup minimalis adalah tentang meminimalkan terbuangnya energi. Dan memaksimalkan energi yang dimiliki.

Gaya hidup minimalis adalah gaya hidup sederhana.

Nggak harus ruangan bernuansa hitam-putih. Kalau suka ruangan dengan warna-warna pelangi, ya boleh saja. Kursi biru, meja merah, lantai hijau. Yang terpenting adalah menempatkan elemen-elemen seperlunya. Secukupnya.

Rumah minimalis mungkin identik dengan style kotak-kotak atau lurus. Tapi, untuk menerapkan gaya hidup minimalis nggak harus seperti itu.

Kalau punya rumah peninggalan kakek-nenek dengan kolonial, tempati saja. Nggak ada rumah warisan? Tapi ingin membangun rumah DIY dengan kayu sisa yang ditemukan di jalanan? boleh saja. Izin dulu kepada pemilik kayu tentunya.

Hidup minimalis adalah hidup sederhana.

Sederhana adalah dengan bersyukur. Bersyukur kalau punya rumah peninggalan kakek-nenek. Bersyukur kalau menemukan kayu sisa. Bahkan, bersyukur menemukan kursi yang bisa diduduki.

Nggak perlu malu kalau hanya punya kursi bekas dari rumah kakek-nenek. Toh, lebih baik kursi itu dimanfaatkan oleh kita daripada teronggok di gudang.
Nggak perlu malu juga kalau pakai baju itu-itu saja. Deterjen memang diciptakan supaya baju bisa dipakai berulang kali, ‘kan?

Hidup minimalis atau sederhana adalah memanfaatkan semua yang dipunyai dengan maksimal.

Menjadi Sederhana Tidak Selalu Sederhana

Sekarang, sih, aku bisa mulai mengaku sebagai minimalist. Belum sepenuhnya minimalis. Walau begitu, setidaknya aku bukan lagi hoarder.

Dulu, hidup minimalis rasanya jauh banget.

Beberapa tahun lalu, aku adalah pendengar yang “kelewat baik”. Hal yang dikatakan orang lain, aku dengar dan masuk ke hati.

Dulu, ada seseorang yang mengomentari “kok yang aku pakai itu-itu saja sih”. Aku memang suka yang itu-itu saja. Bukan karena nggak bisa beli, tapi memang kalau mau membeli sesuatu, aku harus sangat menyukai sesuatu itu dulu.

Gara-gara komentar itu, aku pun jadi keranjingan browsing online shop. Aku bahkan menjadi pembeli spontan: sedang menunggu orang, bosan, masuk mall, akhirnya beli tas.

Melelahkan juga hidup seperti itu bagiku. Membeli sesuatu hanya karena sekilas pandang tampak bagus. Tampak mungkin disukai orang-orang. Di sisi lain, value sebenarnya sangat minim.

Lalu, aku terhubung kembali dengan teman lama. Teman yang mengajariku hidup sederhana lagi. Hidupnya tanpa pencitraan. Tanpa tipu-tipu. Nggak peduli apa kata orang, yang penting yakin. Punya barang 1 saja cukup.

Hidup apa adanya

Yang terpenting bukan apa yang dipakai. Yang penting adalah kualitas diri. Temanku itu sederhana banget. Di sisi lain, aku bisa melihatnya sebagai seseorang yang banyak memberikan pengaruh positif.

Semakin ke sini, aku semakin yakin bahwa nggak ada orang hebat yang suka menyinyiri kehidupan orang lain.

Menilai seseorang dari apa yang dimilikinya memang aneh, sih. Kita bahkan nggak tahu sebenarnya orang itu punya apa saja. Mana tahu setiap hari memakai pakaian yang sama tapi tabungannya milyaran.

Well, aku akui ada kalanya kita perlu berpakaian pantas. Pakaian rapi. Tapi, yang penting rapi, ‘kan? Kalau hari ini aku memakai pakaian yang sama dengan besok untuk suatu acara, rasanya nggak masalah. Asalkan sudah dicuci dan disetrika.

Membebaskan Diri dari Jebakan Pikiran

Sering kali kita terjebak dengan ketidaksederhanaan pikiran sebagai manusia.

Kita sering memikirkan “apa kata orang”, betul?

Misalnya, kita ingin ruangan hanya diisi meja pendek. Tapi, kita berpikir “gimana kalau ada tamu? Apa yang akan dipikirkan orang itu?”

Padahal, belum tentu tamu akan memikirkan apa pun ketika melihat ruangan itu.

Tanpa sadar, kita sering terjebak dengan pikiran diri sendiri. Kita pikir, kita melakukan sesuatu agar nggak di-judge orang lain. Kita memakai pakaian bagus supaya nggak dianggap buruk. Padahal, apakah benar orang lain akan men-judge kita?

Dijudge orang lain

Ibaratnya, kita memiliki suatu tas. Membawanya berjalan. Melewati banyak orang. Kita mengira orang lain memperhatikan tas itu.

Padahal, belum tentu ada orang yang memperhatikan. Mungkin sekadar perasaan kita saja.

Atau, mungkin 1-2 kali kita memergoki seseorang melihat tas itu.

Lalu, muncul ketidakpercayaan diri. “Kenapa? Apakah tas ini jelek?”

Padahal, orang yang kita pergoki sedang melihat tas itu bisa saja sekadar nggak sengaja sedang melihat ke berbagai arah. Dan kebetulan saat mata kita bertemu, orang itu sedang melihat tas kita.

Atau, justru orang itu memang melihat tas kita tapi yang ada pikirannya adalah bahwa tas itu keren.

Bahkan, seandainya ada seseorang yang berkomentar negatif, mungkin hanya 1 dari sekian banyak manusia.

Manusia di dunia ada banyak. Kita nggak hidup bergantung penilaian manusia. Kalau setiap komentar subjektif kita masukkan ke hati, mau sampai kapan kita terus bermimikri?

Aku pun jadi belajar untuk lebih meyakini apa yang aku pegang. Mempunyai pedoman hidup. Lalu, genggam erat dengan yakin.

Yakin. Bukan Selfish

Seandainya ada orang yang bilang warna hijau itu jelek, apakah kita akan harus meninggalkan warna hijau? Padahal, itu adalah warna favorit kita.

Aku rasa, orang yang benar-benar peduli dengan kita, nggak akan memaksakan hal subjektif seperti itu. Yaaah, kecuali dia fobia hijau, sih. Itu mah kita yang sehat yang perlu maklum.

Menghadapi komentar negatif

Nah, seandainya ada orang yang bilang 1+1=2 padahal kita mengira 1+1=3, apakah kita harus tetap berpegang dengan pendapat kita?

Untuk urusan itu kan bukan perkara subjektif. 1+1 memang ada jalannya dan selalu berujung 2. Kita nggak boleh menjadi selfish. Kalau masih belum mengerti, ya belajar lagi.

Akan ribet kalau keukeuh 1+1=3. Kan mau hidup yang simple, bukan yang ribet.

Walau begitu, kalau pikiran dan hati sudah terbiasa lega, hal-hal semacam itu seharusnya lebih mudah dipahami, sih. Sudah nggak ada lagi hal yang bikin overthinking. Jadi, mungkin bisa mencerna baik-baik hal penting. Bisa menelaah kenapa 1+1=2.

Ketika kita benar-benar fokus pada kualitas yang benar-benar bermakna, kita pun bisa menemukan value hidup ini. Sekalipun awalnya mungkin nggak paham kenapa 1+1=2, begitu diresapi, mungkin suatu saat akan mengerti.

Kalau kita mempunyai pegangan hidup, hati pun nggak akan mudah baper. Kita bisa melihat banyak fakta. Perkataan orang lain yang semula terlihat sekadar pendapat pun, bisa dengan mudah disaring. Mana tahu ternyata ada perkataan orang lain yang ternyata baik dan beralasan, ‘kan?

Menemukan Value.

Berpikir adalah sesuatu yang seharusnya baik. Tandanya, otak bekerja. Tapi, berpikir apa? Kalau memikirkan hal nggak penting, ya buat apa?

Hidup sederhana tanpa overthinking

Hidup sederhana awalnya mungkin nggak mudah. Hati harus terbiasa menjauhi komentar subjektif. Tapi, dari situ ada kesempatan. Kesempatan menunjukkan diri.

Baju mungkin cuma punya 5. Tapi kemampuan bahasa sudah menguasai 7 bahasa.

Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Sunda …

Kemampuan bukan untuk sombong, sih. Hanya saja, kalau kita sudah bisa menemukan value diri, hidup kemungkinan akan lebih mudah. Hati pun akan lebih kebal dari komentar negatif.

Menormalkan Kesederhanaan

Segala hal di dunia ini sering kali didasarkan trend. Mungkin saat ini banyak trend untuk menipu diri. Tapi, buat apa?

Kenapa kita nggak ambil bagian sebagai trendsetter?

Beberapa tahun lalu, hidup minimalis, sederhana, dan semacamnya mungkin masih kurang umum. Tapi, sekarang sudah semakin sering terdengar. Karena itu, aku rasa ini memang saatnya untuk ambil bagian perubahan.

Video IM3 Ooredoo ini mungkin bisa menjadi penyemangat untuk hidup simple.

Walau lingkungan tempat tinggal mungkin masih asing dengan hidup sederhana, toh kita bisa menemukan kekuatan di internet. Banyak komunitas. Banyak akun yang bisa diikuti.

Mencari hal positif di internet nggak ada salahnya. Boleh banget bahkan.

Paket internet yang simple dan bebas syarat ketentuan bisa menjadi salah satu sumber kesempatan. Kayak Freedom Internet dari IM3 Ooredoo. Tanpa pembatasan jaringan. Bisa untuk 24 jam. Nggak khawatir terkena tarif dasar kalau kuota habis.

Mungkin ada stereotip bahwa internet adalah sumber kepalsuan. Di sisi lain, kalau mencari lebih jauh, banyak hal positif yang bisa ditemukan.

Aku pun awalnya banyak menemukan komunitas positif di internet. Bahkan, teman yang aku ceritakan di atas, itu pun teman maya. Banyak sumber-sumber di internet yang bisa menjadi penguat diri.

Kita pun bisa ambil bagian. Menjadi sosok apa adanya di dunia maya. Bahkan kalau mau menjadi tak berwajah pun ok ok saja. Misalnya, akun Instagram yang isinya fokus pada tulisan positif.

Dari 1 orang yang mulai berani sederhana, mungkin menular ke orang lainnya. Lama-lama, hidup apa adanya akan terasa normal. Nggak perlu lagi pencitraan.

53 comments

  1. indeed! kena banget kalimatnya mba, dulu aku seneng banget ngoleksi barang ngga penting, sekarang kalo dipikir2 mending buat ikutan kelas apa kek uangnya, bisa nambah ilmu.

  2. Jadi diri sendiri tanpa direpotkan dengan kepura-puraan memang lebih terasa tenang dan beban hidup tidak terasa membebani pikiran. Meski hidup tidak lepas dari masalah, justru itu kita jangan cari masalah.

  3. Memang sebaiknya percaya dan jujur sama diri sendiri aja yah, biar gak lelah hidupnya mengikuti kehendak orang lain
    Harus banyak2 introspeksi sebelum mengomentari orang lain yaah

  4. Hidup bukan apa adanya alias penuh kepura-puraan itu di dunia nyata maupun dunia maya akan berujung ‘capek sendiri’. Apadanya juga bukan berarti tanpa privacy., tetap harus memilih dan memilah, termasuk menggunakan akses internet yg dibutuhkan, lancar dan tidak bikin kantong bolong ya.

  5. Hidup minimalis dan menjadi pribadi yang sederhana, ya saya juga mengarah ke sana demi menabung untuk masa depan, gak ikut2an gegayaan menghamburkan duit utk yg gak penting demi keliatan glamor di sosmed, pokoknya ikutin kata hati aja deh 🙂

  6. Setuju semuanya mba apalagi part berbesar hati dan tidak egois, sayangnya ga semua orang bisa buat lakuin ini hehhehe hidup minimalis sesuai keadaan ga usah kepengaruh ya mba

  7. Menjalani hidup emang harus d3ngan apa adanya kalau nggak apa adanya tuh hmmm, nikmati tuh kepura-kupaeaan hidup yang kadang sok sokan. Padahal apa adanya tuh akan buat kita lebih produktif.

  8. Rasanya baca tulisan ini, aku seperti bernapas.
    Karena memang gak jarang orang-orang di lingkungan kita lah yang tidak memberi ruang untuk kita berekspresi sesuai dengan keinginan kita. Gak perlu pencitraan dan hal-hal berlebihan lainnya. Cukup jadi diri sendiri, apa adanya.

  9. Aaaa, suka banget sama tulisannya. Ukuran kebahagiaan itu tidak bisa diasosiasikan dengan banyaknya barang yang dimiliki.

    Saya mengenal minimalism dari bukunya Fumio Sasaki. Kemudian lanjut nonton filmnya The Minimalists, dengerin podcast mereka, nonton channel Matt D’Avella & baca blog Zen Habit. Perlahan-lahan jadi ikutan berubah. Baju dari 1 lemari jadi 2 laci, yang 90% nya warna hitam wkwkw. Beliin mainan anak, yang awalnya asal ambil & tinggal bayar, sekarang dipikir dulu masak-masak. Dulu hoarding sepatu, sekarang cuma punya sepasang sandal, sepasang heel buat kondangan dan sepasang sneaker. Memiliki sedikit barang membuat saya memiliki banyak waktu dan ruang untuk melakukan hal-hal lain yang lebih meaningful dan itu membuat saya menjadi lebih bahagia.

    Maaf jadi curhat. Keep sharing, Mbak ♥️

  10. memang paling enak itu hidup apa adanya. lebih nyaman. gak perlu pencitraan.

    btw, aku juga sering tuh dikatain gara2 pakai baju itu2 mulu. Padahal mah emang nyaman aja pakai yang “itu” makanya dipakai terus.
    susah deh kalo nurutin omongan netizen mah.. haha

  11. Minimalis gak harus semua dibeli baru ya untuk mewujudkannya. Aku justru pingin punya rumah minimalis alias minim barang makanya sekarang gak mau nambah, yang ada ngeluarin kasih buat yang butuh khusus untuk barang yang masih bagus

  12. Menyimak beberapa poinnya bahwa pentinngnya menjalani hidup apa adanya, yakin yang bukan berarti selfish. Tidak perlu merasa gak PeDe karena semua memperhatikan kita krn setiap orang punya urusan masing-.masing.

    1. Aku juga setuju dengan kalimat kita itu bukan bergantung pada penilaian manusia. Jadi ingat sebuah riwayat kisah seorang ayah dan anaknya dengan keledai. Penilaian orang tak selalu merasa puas dengan apa yang kita jalani

  13. Terus berkembang dengan hidup sederhana.. ini memang simpel banget sih tapi kadang penerapannya butuh jiwa besar ya.. semoga dengan hidup sederhana dan apa adanya kita jadi semakin bisa bijak dalam menjalani hidup ini ya mbak.. bismillah semua bisa dijalankan dengan kesederhanaan dan bisa terus berkembang

  14. Bener juga ya mba, kadang kita terlalu khawatir dengan penampilan, dikirain orang lain bakalan ngeliatin kita. Padahal bisa jadi nggak ada orang yang memperhatikan kita, kenapa kitanya jadi keGRan ya hehehe..
    Menjadi diri sendiri, hidup apa adanya dan sesuka kita memang selalu menyenangkan. Tak perlu banyak berpura-pura.

  15. masih harus ikjhtiar untuk memperbaiki diri lebih baik lagi, btw dimana banyak orang untuk menjadi minimalis, saya belum kebayang hanya punya baju 5 aja. yang liat pada bosen ga ya

  16. Menjadi diri sendiri itu terdengar gampang tp sebenarnya susah apalagi klu ad tuntutan kehidupan, tp harus berusaha sih sebaik mungkin.

    Btw makin kece aja im3 paket2nya sekarang yah

  17. Perlu proses untuk mengabaikan pemikiran orang atas diri kita, eh ini sih pengalaman pribadi ya ^_^
    Dan setelah dilakonin, hidup emang jadi lebih enteng. Tapi kadang bertanya sendiri, bedanya dengan egois tuh di mana hahaha

  18. Kebutuhan pokok manusia itu sebenarnya nggak banyak, tapi untuk menyederhanakan keinginan butuh proses dan pengalaman hidup.
    Menjadi diri sendiri itu paling menyenangkan,.ngga ad beban nyenengin orang lain.

  19. Sepakat banget Mbak. Hidup sederhana dan simpel itu mudah-mudah susah ya? sepakat dengan yang Mbak bilang, kita dapat terjebak pada jalan pikiran orang, padahal pas dikonfirmasi eh, malah dia fine-fine aja…sayalah yang terlalu overthinking. So, hidup sederhana, no pikiran yang banyak, wah…harus saya jalani. Thanks Mbak.

  20. Kejebak pikiran tuh kek nya yg lebih sering aku rasain deh mba, hehe bahaya banget yah dan kalo lepas dari itu plus bisa hidup dengan apa adanya akan bisa jadi lega jalani hidup 😉

  21. Sungguh melelahkan jika selalu ikuti pandangan atau penilaian orang, namun ada benarnya juga, kita pun harus tetap realistis dan tidak bisa egois. Tapi yang terpenting, jalani hidup dengan apa adanya tanpa merugikan diro sendiri dan orang lain itu yang terpenting.

  22. Betul, overthinking itu awalnya sih, jadi pikiran ke mana-mana. Lebih tepatnya menjalani kehidupan apa adanya menjadi pribadi yang lebih bersyukur ya. Pas banget sama tagline im3 ooredoo.

  23. Setuju banget bahwa mengembangkan kualitas diri jauh..jauh..jauh lebih baik dari pada mengembangkan jumlah barang untuk dimiliki. Barang-barang bagus ada aja setiap saat. Begitu pun diskon. Hanya perlu kah itu semua untuk kita?
    Dan menjadi sederhana emang gak sederhana prosesnya. Butuh perjuangan, insight, dan tahu apa yang penting bagi kita sesungguhnya ya Mbak

  24. Suka banget sama tulisannya mbak, aku yang kadang masih beli barang karena laper mata bukan karena kebutuhan. Terima kasih mbak untuk tulisannya yang mencerahkan, dan aku setuju banget kalau orang hebat nggak suka menyinyiri kehidupan orang lain. Mereka akan fokus sama apa yang akan mereka lakukan

  25. SETUJU BANGET MBAK!
    Menjadi diri sendiri itu emang lebih baik daripada terus-meneur dalam kepura-puraan agar orang peduli sama kita. Tapi kalo liat di medsos emang agak sulit sih yah kadang, liat mana orang yang apa adanya atau ada apanya hehe

  26. Nunggu temen di mall bisa langsung kebeli satu tas. Mbaaaa … Hihihi jangan lagi yaaaa.

    Saya suka banget nih sama kampanye yang digalakkan aama IM3 Ooredoo. Bikin kita tetap simple tanpa mengada-ada. Tetap sederhana tapi ber-value. Sepakat.

  27. Iya sih bener banget. Terkadang tanpa sadar jita suka bgt mikirin pendapat orglain, takut jelek, takut gak pantaslah. Dsb. Padahal sbnrnya dgn kesederhanaan kita aja udah cukup bikin kita happy yam

  28. Tentang hidup sederhana, itu “kena” banget buatku yang sebelumnya suka “malu” kalau difoto baju atau jilbabnya yang itu2 aja, padahal sebenarnya di lemari ada juga baju yang lain. Tapi belakangan dipikir ulang, ngapain malu? dan kalau emang gak mau keliatan monoton, baju yang ada bisa di mix and match aja, gak usah maksain beli juga. Dengan apa yang kita punya, malah bisa “maksa” untuk kita lebih kreatif lagi, haha. Just be ourselves! Gak capek dan lebih nyaman pastinya.

  29. Aku pernah gitu mba, wkwkwk pengen barang-barang yang bukan kebutuhan apalagi diskon
    duh, tapi sekarang alhamdulillah sudah nggak lagi. Hidup sederhana dan bersyukur sangat meyenanagkan alhamdulillah

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *