Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Corona

Ini artikel tentang Corona ke berapa di blog ini, ya? Mungkin ada di antara kalian yang mulai bosan. Tapi, aku berharap artikel-artikel tersebut bermanfaat. Nah, aku juga berharap artikel kali ini bisa mengobati jenuh. Artikel ini membahas tips menjaga kesehatan mental saat pandemi Corona.

menjaga kesehatan mental saat pandemi corona

Jenuh dengan segala info dan berita soal Corona / Covid-19 wajar. Beberapa orang mungkin malah mengalami takut, gelisah, cemas berlebihan, anxiety. Rasanya, ingin gumoh dan mengeluarkan itu semua, ‘kan?

Nggak bisa dipungkiri memang virus Corona bukan cuma membuat resah dari segi kesehatan fisik. Virus Corona juga nggak baik untuk kesehatan jiwa secara nggak langsung.

Orang yang sehat, nggak kontak dengan ODP / PDP, selalu di rumah pun bisa stress gara-gara virus baru itu. Mungkin nggak terpapar virus Corona secara langsung, tapi info-info tentang virus bisa menganggu kesehatan mental.

Aku juga sempat kepikiran banget soal Corona. Lelah banget rasanya. In my case, yang membuat cemas berlebihan adalah kenyataan bahwa orang-orang menyepelekan social-distancing.

Sudah banyak berita dokter meninggal. Tapi, masyarakat tampak tetap melakukan aktivitas seperti biasa.

Kalau memang demi memenuhi kebutuhan hidup, sih, apa boleh buat. Yang penting tetap menjaga jarak dan kebersihan. Tapi kalau sekadar kumpul-kumpul biasa … di mana harga perjuangan para tenaga kesehatan?

Hal itu membuat pikiranku rasanya penuh. Mungkin karena aku pernah internship di rumah sakit. Jadilah peran tenaga kesehatan dan staf rumah sakit lain terasa dekat. Makanya sedih banget setiap ada berita nakes meninggal.

Tapi, hidupku juga harus terus berjalan. Kalau cemas berlebihan terus gimana? Sebagai orang non-medis, aku sadar kecemasanku nggak akan banyak membantu menangani COVID-19.

Hal yang membantu memberantas Corona adalah physical distancing, menjaga kebersihan, dan menjaga kesehatan. Kesehatan mental tentu juga termasuk.

Aku pun mencoba deal dengan rasa cemas berlebihan. Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik.

Tips Menjaga Kesehatan Mental saat Pandemi Corona

Aku bukan ahli psikologi ataupun kesehatan jiwa. Di sini, aku sekadar berbagi pengalaman mengatasi cemas berlebih.

Berikut beberapa di antaranya:

Menjaga Kebersihan dan Kesehatan Fisik

Mengikuti anjuran WHO dan Kemenkes bisa membangkitkan perasaan lebih aman.

Rajin mencuci tangan, olahraga, makan makanan sehat, dll. Dengan merasa lebih aman, kita bisa meminimalikan perasaan cemas.

Misalnya, baru saja membeli perlengkapan hidup. Kepikiran ada virusnya nggak? Yaaa, cuci saja semua. Makanan mungkin nggak bisa dicuci, tapi bisa dihangatkan.

Mengakui Kecemasan

Menurutku, bilang “aku nggak cemas” berulang kali malah bisa menghasilkan efek sebaliknya. Jadi, aku memilih mengakui aku cemas. Lalu, hadapi saja.

Dengan mengakui diri cemas, aku merasa bisa menyusun rencana cara menghadapinya.

Ibarat cemas sebelum sidang tugas akhir. Kalau mengakui cemas, malah jadi bisa menyusun strategi.

Membangun Rutinitas

Keteraturan dalam hidup bisa sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Aku pribadi merasa rutinitas harianku yang dulu masih berantakan. Jadi, aku merasa perlu membangun rutinitas baru.

Sarapan (sekarang sih sahur, ya), menyiram tanaman, membersihkan gulma, tampaknya aktivitas sepele, ‘kan? Tapi, ketika aktivitas semacam itu dibangun dan dinikmati, bisa membuat diri lebih tenang.

Bunga kuning

Buatku, aktivitas harian perlu dimulai sebelum subuh. Bangun sebelum subuh sangat membuat hati tenang. Ada banyak waktu untuk relaksasi hati. Belum banyak suara-suara yang mendistraksi. Udaranya juga masih enak banget.

Jadi, aku berusaha untuk membangun aktivitas sejak sebelum matahari terbit. Aktivitas-aktivitas yang menurutku bermanfaat.

Kenapa perlu bermanfaat? Supaya nggak menyesali waktu yang digunakan. Menyesal hanya akan menambah problem mental lain, ‘kan?

Ketika warna putih/biru terang sudah muncul di langit, baru deh aku menghadapi email dan sebangsanya.

Kalau sore sudah datang, ada juga rutinitas-rutinitas lain yang dilakukan. Intinya adalah membangun rutinitas positif dan menikmatinya.

Tidak Membaca Info Terlalu Banyak

Hampir semua grup WhatsApp membicarakan Corona? Grup-grup WhatsApp-ku pun banyak yang membicarakan Corona.

Tapi, hanya satu grup yang aku baca betul-betul. Grup yang ada dokter. Di grup lain nggak ada dokter, jadi buat apa dibaca juga, ‘kan?

Di grup lain pun ada dokter, sih. Tapi sebelum Corona pun beliau jarang aktif chat. Jadi, yah, aku hanya baca satu grup saja.

Kalaupun nggak sengaja membuka grup lain saat mereka membahas Corona, aku hanya akan membaca sekilas. Nggak dimasukkan ke hati dan pikiran.

Mengurangi kecemasan akibat corona

Aku juga mengurangi membaca angka-angka. Maaf, ya, soalnya aku pusing banget.

Aku nggak hafal, loh, total kasus sekarang sudah berapa. 6000 sekian? Bukan bermaksud ignorance, tapi angka-angka itu membuat kecemasanku meningkat.

Jadi, yang penting, aku tetap menjaga kesehatan dan kebersihan.

Toh, aku yakin Corona is real. Kalau melihat angka terus, yang ada malah ingin gumoh dan makin cemas.

Jadi, itu caraku mengurangi paparan info supaya nggak cemas berlebih. Kamu punya cara lain?

Menyibukkan Diri dengan Hal Positif

Ketika sibuk dengan situasi hal, otomatis diri akan fokus dengan hal itu, ‘kan?

Makanya sibuknya perlu dengan hal positif supaya nggak mudah sedih.

Tadi aku bilang soal rutinitas. Rutinitasnya tentu perlu positif. Bahkan, mungkin bisa saja menyisihkan waktu untuk melakukan random things yang positif.

Misalnya menyisihkan 30 menit di sore hari. Hari ini untuk memasak cemilan baru. Besok untuk membuat instastory penyemangat.

Akhir-akhir ini, aku melihat orang-orang makin rajin memasak. Banyak resep kekinian. Memasak juga hal positif, ‘kan? Selama nggak berlebihan sampai mubadzir.

Kue ape

Bulan Ramadan seperti ini, semangat melakukan hal positif pun bertambah, ‘kan? Ingin bisa one day one juz, misalnya.

Melakukan hal positif bukan melarikan diri dari kenyataan tentang pandemi.

Melakukan hal positif adalah untuk membangun positive mind. Semacam melatih untuk berpikir positif.

Perlu diingat bahwa hal positif adalah hal yang berguna bagi diri sendiri dan banyak orang, serta berguna sampai di akhirat nanti. Kalau merasa ngerumpi di gang adalah positif demi kewarasan, silakan tanya kegunaannya sampai di mana? *Maaf, kok tiba-tiba galak, Kak?*

Berbagi

Berbagi itu menyenangkan, ‘kan? Hal itu juga termasuk hal positif, dong.

Ada banyak donasi dibuka terkait COVID-19.

Nah, berbagi yang kumaksud buka cuma terkait COVID-19. Bisa juga berbagi lain. Misalnya berbagi kepada orang-orang yang sakit selain karena Corona.

Atau, berbagi sembako untuk Lebaran. Mungkin juga mengirimkan kue kaleng kepada teman lama.

Donor darah juga termasuk berbagi. Nggak perlu keluar banyak uang.

Mau berbagi yang nyaris gratis? Berbagi info (nggak harus tentang Corona) atau berbagi penyemangat. Cuma butuh kuota.

Menjaga Komunikasi dan Hubungan

Menjaga hubungan dan komunikasi dengan orang-orang spesial tentu membahagiakan. Sekarang, memang ada pembatasan.

Mungkin belum bisa berjumpa langsung. Tapi, sekarang juga ada teknologi. Telepon, chat, video call.

Sekadar menyapa sehari sekali pun sudah menyenangkan. Ada seorang teman yang rajin banget mengirim chat di jam buka puasa. Itu saja heart-warming, loh.

Melakukan Skrining Mandiri

Mungkin ada rasa khawatir, “sebenarnya aku tuh sudah kena belum, sih?”

Kan banyak juga orang yang positif Corona tapi nggak bergejala. Lalu, ingin tes Corona, tapi masih sayang uang? Di saat seperti ini memang ingin bisa hemat banget, kan?

Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk meyakinkan diri supaya bisa lebih tenang adalah dengan tes Corona skrining mandiri.

Aku sudah coba. Alhamdulillah bisa lebih tenang walau tinggal hanya beberapa ratus meter dari PDP. Hasil yang aku dapatkan adalah “resiko rendah”.

Aku coba test corona skrining mandiri online di Halodoc. Tinggal masuk ke linknya. Kalau mau baca artikel di halaman tersebut boleh banget. Artikel di Halodoc mencantumkan nama dokter yang meninjaunya. Jadi, bukan kaleng-kaleng.

Di halaman itu ada “Cek di sini”. Klik, deh. Otomatis akan masuk ke semacam chat.

Chat itu berisi beberapa pertanyaan (aku screenshot 3 saja). Jawabannya tinggal pilih dari beberapa pilihan yang sudah disediakan. Hasilnya langsung keluar.

skrining online tes corona online

Alhamdulillah aku termasuk resiko rendah. Seandainya ada yang mendapat hasil sebaliknya, setidaknya skrining ini bisa membuatmu mulai merencanakan langkah preventif.

Mungkin bisa sekalian menyisihkan uang untuk tes di rumah sakit.

Jangan panik, ya. Corona bisa sembuh. Banyak yang sembuh. Tentunya, dengan melakukan langkah-langkah sesuai anjuran tenaga kesehatan/dokter.

Kerja sama antara semua pihak diperlukan supaya wabah segera berlalu.

Kerja sama antara fisik, hati, dan pikiran kita juga diperlukan supaya kita terus sehat. Menjaga kesehatan fisik perlu. Menjaga kesehatan mental saat pandemi Corona juga penting.

20 comments

  1. Bener banget kak, kesehatan mental ini sangat penting. Dan menjaga kewarasan mental juga nggak kalah penting. Aq juga sempat stress bgt kalo baca² chat di grup2 yg kadang nggak jelas juga asal usulnya.

    Terima kasih kak infonya. Semoga Corona segera berlalu. Sehat² terus. Amiiin

  2. mental, betul sekali, sekarang saja aku sudah gak baca lagi berita covid bikin mental jatuh, baac yang bikin santai

  3. Setuju. Kesehatan mental penting untuk dijaga. Sekarang kita pun bisa skrining mandiri dengan app halodoc

  4. memang bagi sebagian orang sulit menghadapi masa pandemi ini terutama dampaknya, aku setuju dengan paparan diatas salah satunya kita harus tetap berfikir positif dan melakukan hal2 positif.

  5. Memang pada situasi seperti ini sebaiknya kita membatasi diri dalam membaca info yah, kalo gak jelas sumbernya mending abaikan aja dari pada stres sendiri huhu. Menjaga kebersihan dan rajin mencuci tangan juga merupakan salah satu cara yang kuajarkan terus menerus ke anak-anak sih.

    1. Bahkan aku sendiri yang juga dokter pun memilih membatasi diri dalam membaca info tentang Corona. Aku cuma mengupdate diri tentang siapa temanku yang masih selamat, siapa temanku yang sudah ketularan. Kita memang sedang dalam situasi “perang” sekarang.

      Oh ya, berbulan-bulan tinggal di rumah memang membuat mental potensial jadi tidak waras. Jadi aku banyak menyibukkan diri dengan menemani anakku sekolah dan aku sendiri banyak membuat konten. Alhamdulillah sangat bermanfaat sekali. Aku juga memperbaiki pola makan. Karena pola makan yang bagus itu berefek banyak sekali pada kesehatan mental kita.

  6. Pandemi Corona ini memang mudah banget memancing kecemasan. Tetapi, memang harus diusahakan untuk tetap positif thinking. Supaya kesehatan tetap terjaga

  7. Konsultasi dengan ahlinya bikin kita tidak khawatir berlebihan, alih-alih mendapatkan informasi yang bikin makin khawatir. Menjaga pola hidup sehat dan menjaga jarak saat ini bisa jadi sebuah ikhtiar kita ya. Semoga pandemi ini segera berakhir. Aamiin…

  8. Berita tentang wabah ditambah nyaris nggak bisa kemana2 itu bisa rentan membuat stress. Apalagi kalau jumlah pasien positif makin bertambah tapi di luar masih ramai dan orang2 banyak nggak mau pakai masker.

  9. Saya suka sama poin jangan baca informasi terllau banyak emang betul mbak sekarang pun diet informasi yang tidak dibutuhkan sesuai dengan kebutuhana aja.

  10. Ini nih yang gak kalah penting ya, menjaga kesehatan mental. Soalnya keadaan sekarang ini rentan banget bikin stress. Dan setuju dengan langkah-langkahnya. Terutama jangan banyak baca berita, khususnya di medsos. Banyak hoax yang bertaburan. Bukannya bikin tenang malah sebaliknya. Bacanya referensi yang terpercaya aja eh ya.

  11. Kesehatan itu bukan hanya fisik saja ya. Menjaga kesehatan mental itu penting sekali. Karena kesehatan mental besar pengaruhnya pada kesehatan fisik. Lebih baik banyak melakukan hal-hal yang menyenangkan dan selalu berpikiran positif, ya…

  12. Selain kesehatan fisik yang paling penting menjaga kesehatan mental. Secara psikis memang kasat mata, tapi ini berpengaruh besar banget ya mba.

  13. Iya mbak, masa pandemi seperti ini diperlukan sehatan mental agar imunitas tubuh terjaga, aku juga mengurangi membaca info info yang menurutku ga berguna dan mengganggu kesehatan jiwa.

    btw mbak itu kue ape bikin saya gagal fokus, punya resepnya mbak?

  14. yup betul mbak, menjaga kesehatan mental saat2 susah kayak gini pentiing banget. kalo aku dengan cara jaga rutinitas, olahraga, aroma rumah, makanan yang sehat, menurutku hal2 itu sangat membantu juga.

  15. Beneran…jadi berefek buat tubuh yang gak baik karena menyerap semua berita tentang si Corona ini.
    Semoga selalu sehat dan skrining mandiri menggunakan apps Halodoc yang bisa diinstal dengan mudah dan gratis.

  16. Buat aku yangpenting adalah hati nurani kita dan positivity di dalam jiwa. Cemas boleh tapi sewajarnya saja agar kita tetap alert namun tidak menjadi paranoid di masa pandemi seperti sekarang

  17. Demi menjaga kewarasan, saya sudah lama tidak menonton dan membaca info-info di tv atau whatsapp tentang Corona aka covid 19. Bukan tidak mau perduli namun kita juga punya masalah yang harus dihadapi. Yang penting tetap mengikuti anjuran pemerintah dan para ulama untuk mengenakan masker, cuci tangan, beribadah di rumah dan sebisa mungkin stay at home.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *