Les Mengoptimalkan Otak Kanan di Masa Lalu

Kamu percaya bahwa fungsi otak manusia terbagi 2? Otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berfungsi untuk kerja-kerja logis. Otak kanan berfungsi untuk kerja-kerja kreatif. 

Untuk mengoptimalkan kemampuan kedua sisi, otak membutuhkan latihan. Di sekolah, kita (atau yang bersekolah seangkatan denganku) umumnya diajarkan untuk melatih otak kiri, ‘kan?

Namun, bukan berarti otak kanan terabaikan. Ada juga pelajaran untuk mengasah otak kanan. Ada juga les-les untuk meningkatkan kemampuan otak kanan.

Salah satu les yang pernah aku ikuti adalah les sempoa. Sekilas, sempoa berhubungan dengan matematika. Matematika berhubungan dengan otak kiri, ‘kan?

Nah, les sempoa yang pernah aku ikuti ceritanya mempunyai tujuan mengoptimalkan otak kanan. Entah betulan, entah bergantung individu. 

Les sempoa adalah les pertamaku (seingatku). Waktu itu masih kelas 2 atau 3 SD. 

Teman Bapak mengajar di Yayasan Artimatika Indonesia (YAI). Jadilah aku diikutkan les sempoa di sana.

Lesnya ada beberapa level. Sebagai permulaan, level 1 dulu. 

Cara Menggunakan Sempoa

Di pertemuan awal, diajarkan cara menggunakan sempoa: 

4 manik-manik di bagian bawah masing-masing bernilai 1.

Manik-manik di atas bernilai 5.

Perhitungan dimulai dari sempoa bagian tengah. Bagian tengah bernilai satuan. Bergeser ke kiri menjadi puluhan, ratusan, dst.

Ada juga istilah “kawan kecil” dan “kawan besar”. Semacam aturan menaik-turunkan manik-manik dalam perhitungan.

Di level 1, murid-murid diberikan soal-soal latihan sederhana. Kami harus mengerjakan soal dalam kurun waktu tertentu.

Suasana kelas langsung hening begitu perhitungan waktu dimulai. Bunyi gerakan manik-manik jadi mendominasi.

Kalau sudah selesai sebelum waktu habis, langsung saja bilang. Tutor akan mencatat waktunya di papan tulis.

Cocok, sih, untuk yang suka berkompetisi. Walau nggak ada hadiah, mungkin tetap senang kalau bisa selesai paling dulu.

Dengan mencatat waktu, bisa ketahuan juga seberapa besar kemajuan setiap pertemuan.

1 level berlangsung selama sekitar 3 bulan. Kalau lolos level 1, naik ke level 2.

Sempoa dalam Imajinasi

Di level 2, wujud sempoa yang nyata mulai ditinggalkan. Kami belajar menggunakan sempoa dalam bayang-bayang. Namanya sempoa bayangan.

Menghitung menggunakan sempoa tapi sempoanya cukup dalam imajinasi. Tangan boleh ikut bergerak seolah menggerakkan sempoa.

Mungkin inilah kenapa les sempoa di YAI disebut berguna untuk mengoptimalkan otak kanan. Meghitung pakai imajinasi.

Sebetulnya, kalau mau curang bisa saja, sih. Menghitungnya bukan pakai sempoa bayangan, melainkan pakai cara manual biasa.

Soalnya, di level 2 angka yang dihitung masih 1 digit (walau ada beberapa baris ke bawah). Bisa lebih cepat dengan menghitung biasa daripada menggerakkan sempoa bayangan.

Tapi kan buat apa curang? Nggak seru kalau terlalu mudah. Lagipula, apa kabar di level-level selanjutnya yang mungkin lebih sulit.

Lagian juga, lama-lama, bisa juga loh menghitung cepat dengan sempoa bayangan. Seiring waktu, malah bisa lebih cepat daripada menghitung manual.

Menulis Cepat

Ada waktu yang ditentukan setiap mengerjakan soal. Kurang dari 5 menit harus sudah selesai sekian banyak soal.

Jadi, menulis pun nggak perlu diukir-ukir.

Untuk membiasakan menulis cepat, ada juga intermezzo berupa latihan menulis cepat: menulis angka dalam kotak-kotak kecil.

123456 dst begitu dalam kotak-kotak yang ada dalam kurun waktu tertentu.

Awalnya, kenapa orang-orang bisa mengisi sampai banyak kotak. Ternyata, tulisannya betulan nggak perlu bagus ataupun rapi.

Mau agak bleberan keluar tiap kotak pun nggak apa. Yang penting cepat.

Di sekolah, kita memang harus menulis rapi. Tapi, di kehidupan, tulisan rapi adalah nomor sekian. Kecuali mungkin bagi artis lettering.

Yah, makin tinggi kelas, di sekolah pun yang lebih penting adalah kecepatan menulis, sih. Yang penting yang guru bicarakan bisa tertuang dulu, ‘kan? Setelah itu, bisa dipindah dan dirapikan lain waktu.

Bye

Aku les sempoa hanya sampai level 2 atau 3. Aku lupa. Intinya sih nggak lanjut sampai jauh.

Kenapa? Ya nggak apa.

Lalu, apakah betul hasilnya bisa mengoptimalkan otak kanan? Entahlah. Kan baru tingkat awal.

Tapi, les itu bisa membuat lebih semangat bersekolah.

Jadi, les bisa menjadi semacam refreshing.

Pun, karena lesnya berhubungan dengan hitungan, jadi bisa merasa lebih pede dalam pelajaran matematika.

Apalagi, setelah insiden sebagai murid baru. Aku memang nggak jadi nggak pede (kok banyak banget kata “nggak”). Tapi, dengan les, makin percaya bahwa Matematika itu mudah.

(Matematika SD, sih. Kalau Kalkulus mah, aku bye.)

Ada hal lain yang mau aku ceritakan soal les ini. Tapi, itu aku simpan dulu. Insya Allah akan aku ceritakan untuk tantangan nulis bareng Kak Zelie tema lainnya.

Tulisan ini juga untuk tema nulis bareng, omong-omong. Cerita Pertama tema “les”.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *