Reportage

Bicara Pancasila? Nggak Perlu Ribet

 

 

Apa yang kamu pikirkan kalau mendengar kata “Pancasila”?

Nasionalis? 5 silanya?

Upacara? Mata pelajaran?

Aku, sih, lebih kebayang upacara. Pembacaan Pancasila menjadi salah satu momen di upacara. Pembawa teks Pancasila berdirinya agak memisahkan diri dari petugas upcara lain: di belakang pembina upacara.

Jadi, begitu waktunya pembacaan Pancasila, langsung diberikanlah teks itu kepada pembina. Pembina membacakan sila-sila Pancasila. Lalu, semua peserta upacara mengikutinya.

Kalau bicara upacara, yang terbayang adalah masa SD. Waktu SMP, aku mulai ikut upacara di kelas 8 karena kelas 7 masuk siang. Lapangan SMP kecil, jadi berdirinya lebih berhimpitan. Yang di belakang kayak aku, biasanya cenderung asyik sendiri. Asalkan nggak berisik, nggak ketahuan. Hihi.

Waktu SMA, jarang banget ada upacara. Lapangan sekolah yang masih tanah kurang memungkin untuk upacara. Apalagi, dulu sering hujan malam atau pagi. Makanya, kalau bicara upacara, ingatanku lebih sering terbang ke zaman SD.

Zaman SD juga masih baik banget. Ikut upacara masih tertib. Setiap tahap upacara masih dilakukan dengan khidmat. Namanya anak SD memang masih baik, ya? Mulai SMP mulai banyak cemaran.

Pancasila yang Dihilangkan

Omong-omong, waktu SD aku masih dapat pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Pelajaran itu bukan salah satu pelajaran favorit. Walau begitu, pelajaran itu salah satu yang pasti dapat nilai bagus.

Pelajarannya gampang banget. Tinggal menilik perilaku baik dan buruk. Sesekali dihubungkan dengan Pancasila dan UUD.

Begitu SMP, sudah nggak ada PPKn. Sebagai milenials kw, itulah akhir pelajaran Pancasila yang berhubungan dengan etika dan perilaku. Ada, sih, pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan).

Tapi, ini jadi menjadi pelajaran paling membosankan. Isinya kayak belajar hukum dan semacamnya. Teori banget. Waktu itu, aku berpikir pelajaran itu nggak akan ada hubungannya dengan kehidupan, sama kayak Al Jabar. Buat apa coba anak SMP belajar kayak gitu?

Lanjut SMA, nama pelajaran itu berubah lagi. Kewarganegaraan (KWN). Namanya lebih sederhana, tapi pelajaran nggak. Masih membosankan.

Untungnya, di SMA ada guru Kewarganegaraan yang asyik. Kami lebih sering mendengar ceramahnya daripada belajar dari buku. Ceramahnya menghibur. Urusan teori untuk UAS, tinggal baca sendiri di buku.

Guru satu ini kayaknya lebih sering menamamkan teori Pancasila dan dasar-dasar negara daripada sekadar teori buku. Kewarganegaraan tetap bukan pelajaran favorit, tapi setidaknya bukan pelajaran pengantar tidur.

Aku ingat banget salah satu (dua, deh) cerita beliau. Pertama, soal naik angkot.

Banyak orang naik angkot lebih memilih duduk di dekat pintu supaya mudah turun. Begitu ada yang naik, yang baru naik itu yang disuruh ke dalam. Kata beliau, itu perilaku kurang kemanusiaan.

Turun sih gimana nanti. Gampang urusannya. Permudah dulu yang mau naik. Lagian, kita nggak tahu yang baru naik itu turunnya lebih lama atau malah duluan.

Kedua, soal mengambil makan ketika makan bareng. Biasanya orang cepat-cepat mengambil makan karena takut kehabisan. Lebih lagi, ada yang mengambil banyak-banyak. Itu juga kurang kemanusiaan banget.

Kalau bisa mendahulukan hak orang lain itu keren banget, katanya. At least, memikirkan orang lain, deh. Nggak rakus ketika mengambil makan. Kalau kebuang ‘kan sayang.

Mubazir ‘kan jadinya. Sila pertama coret. Bikin manusia lain lapar karena kebagian. Sila kedua coret.

Cerita dari guru itu kadang terkesan sepele, tapi ternyata bikin “mikir”. Nggak kerasa, makin lama makin jauh dari Pancasila.

Makin jauh dari Pancasila, makin berantakan deh etika dan perilaku.

Pancasila Kembali?

Bertahun-tahun setelah menghilangnya Pancasila dari nama mata pelajaran, Pancasila kembali dengan gadang-gadang 4 Pilar.

Tepatnya, tanggal 5 Juni 2017 lalu MPR RI mengundang netizen untuk membicarakan 4 Pilar Bangsa Indonesia.

Kok tiba-tiba muncul lagi?

Sebetulnya, bukan sepenuhnya menghilang, tapi, yaaa … mungkin menghilang dari hati. Makanya, kalau sekarang akan banyak sosialisasi 4 Pilar, itu cuma buat mengingatkan.

Sebentar …

4 Pilar itu apa?

Aku tadinya nggak tahu, kok. Waktu melihat undangan dari MPR RI saja aku baru googling tentang 4 Pilar.

4 Pilar terdiri atas:

Pilar Pancasila

Pilar UUD 1945

Pilar NKRI

Pilar Bhinneka Tunggal Ika

Aku nggak akan menjelaskan satu persatu karena bukan itu tujuan acara tersebut. Menurut Ketua MPR RI, Pak Zulkifli Hasan, dari acara tersebut, diharapkan bisa merangkul netizen untuk menyosialisasikan 4 Pilar.

Ribet, ya? Nggak deh.

Sosialisasi di sini bukan semacam penyuluhan, bikin tulisan berat-berat. Bukan. Sosialisasi ini lebih ke arah passion dan segmen masing-masing.

Kalau suka travel, bisa disisipkan soal Pancasila ketika bahas travel. Misalnya, budaya gotong royong di suatu daerah.

Suka beauty, bisa bahas kelebihan-kelebihan produk lokal, tanpa nyinyir-nyinyir produk luar. ‘Kan bhinneka tunggal ika.

Gaya bahasa yang digunakan pun bebas. Mau pakai bahasa baku boleh, mau pakai bahasa gaul boleh.

Hal ini supaya lebih mengena ke hati masyakarat. Kalau cuma sosialisasi ala penyuluh gitu, mungkin efeknya beberapa hari saja, ya. Tapi, kalau netizen juga ikut bergerak, semoga saja efeknya terus. Yaaa, semacam soft-selling.

Kenapa, sih, Pancasila itu penting?

Pancasila sudah mencakup berbagai aspek kehidupan. Ke Tuhan ada, ke sesama manusia ada. Proses lahirnya 5 kalimat itu juga nggak asal, ‘kan? 5 kalimat yang kemudian diharapkan bisa menaungi seluruh Indonesia yang luas ini.

Demikian juga dengan bhinneka tunggal ika. Bahwa kita semua berbeda. Nggak mungkin, ya, kita semua sama. Memangnya kita robot? Makanya, kudu saling menghormati. Toh, sama-sama manusia.

Oke. Sampai di sini aku malah ceramah.

Aku bukan orang yang nasionalis, patriotis, atau apalah itu. Tapi, aku juga percaya 4 Pilar bangsa Indonesia ini bisa menjadi penuntun dan reminder bagi rakyat Indonesia yang banyak ini tanpa menggeser kepercayaan masing-masing individu.

1 Comment

  1. Ya, harus digalakkan kembali biar orang Indonesia lebih bisa saling menghormati dan toleransi ya..

Leave a Reply

Required fields are marked*