Singapura memiliki satu zona waktu. Negara-negara lain juga umumnya hanya memiliki satu zona waktu. Indonesia memiliki tiga zona waktu – meskipun ada isu bahwa Indonesia akan dijadikan satu zona waktu, tetapi tetap saja perbedaan waktu matahari di bagian barat dan timur berbeda sekitar dua jam.
Sebenarnya setiap manusia memiliki empat zona waktu. Setiap zona waktu adalah pilihan tiap individu untuk menjalaninya. Sama halnya dengan pilihan seseorang akan tinggal di Lampung, Bali, atau Papua. Setiap pilihan memang ada resikonya karena akan ada perubahan budaya. Perubahan budaya-lah yang sering ditakuti orang. Ketika memilih salah satu zona takut, mulanya akan timbul rasa takut untuk meninggalkan budaya dari zona waktu sebelumnya. Sekali lagi, setiap zona waktu adalah pilihan.
Berikut gambaran singkat dari setiap zona waktu:
  • Zona 1: Banyak waktu, kurang uang
Pada zona ini, seseorang sebenarnya memiliki banyak waktu, tetapi tidak memiliki cukup uang. Zona ini umumnya dialami oleh pengangguran atau gelandangan. Mereka sebenarnya memiliki banyak waktu, tetapi waktu tersebut tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk menghasilkan uang (halal).
Orang-orang tersebut takut melewati batas nyaman mereka. Mereka sudah cukup nyaman dengan hidup seperti itu. Tanpa bermaksud menghakimi, setidaknya mereka memiliki banyak waktu, yang mungkin dapat bermanfaat menghasilkan uang jika dikorbankan sedikit saja.
  • Zona 2: Kurang waktu, kurang uang
Zona ini umumnya dihuni oleh para pekerja. Walaupun level pekerja sudah sedikit lebih tinggi dibandingkan pengangguran di mata masyarakat, perlu diakui seringkali pekerja merasa kekurangan uang. Mereka bekerja seharian, dari pagi hingga malam, hanya untuk menghasilkan sedikit uang. Dapat disebut sedikit karena pekerja kantoran dengan gaji tujuh digit angka sekali pun masih sering dibuat harus memutar otak untuk keperluan sehari-hari.
Zona ini sebenarnya zona yang paling tidak menyenangkan. Kurang dalam dua hal penting yang menunjang kehidupan. Namun, orang-orang dalam zona ini mungkin sudah cukup puas dengan karir mereka. Yang (sebagian besar) mereka pikirkan adalah bagaimana caranya mendapat jabatan lebih tinggi. Kelebihannya dibandingkan zona 1 adalah beberapa orang dalam zona 2 masih dapat melakukan hal-hal yang mereka sukai dalam pekerjaannya, misalnya menjadi jurnalis bagi mereka yang gemar menulis.
  • Zona 3: Kurang waktu, banyak uang
Boss-boss, pejabat, petinggi-petinggi perusahaan, biasanya berada dalam zona ini. Mereka adalah tipe workholic. Mereka menghabiskan waktu dengan membangun jaringan di mana-mana, memimpin banyak orang, menghadiri berbagai pertemuan, mengawasi pekerjaan orang lain, dan sebagainya. Orientasi mereka adalah uang. Secara stereotipe, mereka adalah orang-orang ambisius.
Keuntungan dari zona ini adalah banyaknya uang yang dihasilkan sebanding dengan banyak waktu yang dihabiskan. Kerugiannya adalah mereka cenderung lupa dengan kehidupan pribadi dan diri sendiri. Bagaimana pun, seringkali mereka terlalu menikmati keuntungan sehingga lupa dengan kerugian.
  • Zona 4: Banyak waktu, banyak uang
Inilah zona yang mungkin diinginkan semua orang. Bagaimana tidak, siapa yang tidak ingin memiliki banyak waktu dan banyak uang? Hidup seperti itu terasa sangat menyenangkan dan mungkin terdengar tidak masuk akal.
Sebenarnya, sebagian besar orang dalam zona ini pernah merasa berada dalam zona 2 dan zona 3. Kemudian mereka menyadari satu hal: mereka dapat memiliki banyak uang sekaligus waktu. Mereka berani melakukannya karena mereka memiliki suatu sistem: jaringan. Mereka cukup bekerja untuk membangun jaringan, menguatkan jaringan itu, dan tidak pernah meninggalkan jaringan itu. Mereka dapat memiliki suatu produk, lalu mereka membentuk jaringan pemasaran.
Zona 1, 2, dan 3 dapat berpindah ke zona 4 dengan pengorbanan. Segala sesuatu tentu memerlukan pengorbanan.
Orang dari zona 1, harus mau mengorbankan waktu mereka. Waktu diperlukan untuk membangun. Secara bertahap, mereka akan melalui zona 2, 3, barulah 4. Lamanya setiap tahapan bergantung pada seberapa besar usaha yang dikerahkan dan seberapa bagusnya strategi yang digunakan. Perlu diingat bahwa, setiap orang awam memerlukan bimbingan. Penghuni zona ini sangat memerlukan bimbingan karena umumnya masih terbawa arus “nyaman”. Jika mau belajar, orang pada zona 4 tentu siap mengajari karena mereka memiliki banyak waktu.
Penghuni zona 2 mungkin sudah terbiasa dengan kurangnya waktu. Yang mereka perlukan hanyalah keberanian untuk membagi sedikit waktu untuk menumbuhkan sesuatu yang baru. Setiap keputusan tentu ada resikonya. Ibarat petani yang bekerja dengan teman-temannya. Hasil pertanian itu tentu langsung diambil oleh pemilik lahan. Para petani hanya akan menerima bayaran. Jika ada seorang petani yang mengorbankan sedikit waktunya bekerja di pertanian tersebut untuk menumbuhkan bibitnya sendiri di lahannya sendiri yang kecil, mungkin pemilik lahan dan petani lainnya akan mencibir dan meragukan keberhasilannya. Resikonya adalah bibit itu tidak akan tumbuh karena tidak pernah ada yang menanami lahan di tempat itu sehingga tidak ada yang tahu lahan itu subur atau tidak. Tetapi, ketika bibit itu tumbuh dan lahan itu subur, petani tersebut dapat mengembangkan pertaniannya sendiri dan keluar dari pekerjaannya sebagai petani, ia hanya perlu mencari petani-petani lain yang mau menggarap lahannya.
Selain pejabat atau semacamnya, penghuni zona 3 sebenarnya sudah cukup baik. Ia hanya perlu keberanian untuk membangun jaringannya sendiri. Setidaknya, ia sudah memiliki banyak pengalaman menghadapi berbagai macam keadaan. Jika ia masih berstatus manager, mungkin ia perlu “menyenggol” sedikit pemilik perusahaan untuk mau bekerja sama dengannya dengan ide-ide barunya dengan menyamakan status mereka sebagai pemilik saham perusahaan sehingga keuntungan mereka akan dibagi (hampir) sama rata. Atau dapat juga mereka melakukan seperti yang dilakukan orang dalam zona 2: mencoba menggarap lahan mereka sendiri. Kelebihan mereka adalah pengalaman mereka dalam menghadapi berbagai keadaan yang telah membuat mereka mampu menghasilkan banyak uang namun sedikit waktu.
Hidup adalah pilihan. Apakah perlu memilih mengambil resiko dan meninggalkan kenyamanan atau tetap statis?
Mari, membangun menggarap lahan sendiri. 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *