Opinion

Aku Ingin Terbang Tanpa Batas

 

sabtukenalan(5)
 
Flying Without Limit

Mungkin tiga kata itulah yang pertama kali ditangkap mata ketika membuka blog ini. Tiga kata itu sebetulnya merupakan kata hatiku. Aku ingin terbang tanpa batas.

Sewaktu SD, aku pernah bercita-cita menjadi pilot. Aku ingin terbang. Terbang sebagai penumpang saja sepertinya kurang. Aku ingin mengendarai, menembus awan dengan tanganku.

Sayangnya, baru sebentar cita-cita datang, aku menyadari kedatangannya terlambat. Aku mendapat informasi bahwa untuk menjadi pilot, seseorang harus mempunyai mata dan gigi yang baik. Dua hal yang sudah tidak kumiliki saat itu. Aku sudah sering bolak-balik ke dokter gigi, bukan sekadar untuk periksa gigi enam bulan sekali. Aku pun sudah tahu ada yang salah dengan mataku walaupun saat itu aku belum menjalankan pemeriksaan apa pun.

Kalau saja keinginanku menjadi pilot itu datang sejak dulu, mungkin aku akan rajin merawat mata dan gigi.

Ah, semua tinggal “kalau”.

Cita-cita itu pada akhirnya menjadi cita-cita yang pupus bahkan sebelum aku sempat memperjuangkannya. Menyebalkan. Kalah sebelum bertanding.

Di kemudian hari, entah inspirasi dari mana, aku teringat lagu “Flying Without Wings” yang dibawakan Westlife. Saat itu, kalimat yang bisa tertangkap olehku baru sebatas “I’m flying without wings“. Aku belum dapat menangkap kalimat lainnya.

Walaupun begitu, kalimat itu membuatku berpikir, “Memangnya bisa terbang tanpa sayap?” Bahkan, burung pun mempunyai sayap.

Bagiku, sayap itu merupakan batas. Tanpa sayap, seekor burung tidak bisa terbang, kan? Begitu pun manusia. Dia tidak akan bisa terbang tanpa sayap, sayap pesawat. Kalimat “I’m flying without wings” seolah menunjukkan seseorang yang sedang berusaha menembus batas.

Segera saja, aku menyukai kalimat itu. Aku pernah satu kali terjegal batas. Jika ada kesempatan atau inspirasi lain, aku tidak ingin terjegal lagi. Aku ingin bisa terbang walau tanpa sayap. Satu kalimat lirik lagu lain menyertaiku, “I believe I can fly.”

Maka, “Flying without wings” menjadi mottoku.

Tapi, sepertinya terlalu mainstream. Terlalu mengikuti lagu. Terlalu berkonotasi. Aku pun mengubahnya menjadi “Flying without limit.”

Itu adalah sebuah harapan.

Aku tahu ada hal-hal di dunia ini yang memang menjadi batas. Seperti kata Mak Mira Sahid dalam artikel berjudul “Menikmati Keterbatasan“:

Bahwa siapa pun kita, selama makhluknya bernama manusia, kita tetap memiliki keterbatasan yang tidak bisa kita paksakan.
Benar, kan?

Aku memahami hal tersebut bukan sebagai excuse untuk melakukan sesuatu ala kadarnya. Mengenali batas bukan berarti sedikit-sedikit berhenti, sedikit-sedikit merasa sudah mencapai batas.

Aku mungkin belum bisa dikatakan seorang yang selalu bekerja keras. Walaupun begitu, aku ingin bisa menembus batas.

Batas yang kumaksud bukan agama, ras, status, undang-undang atau hal-hal semacamnya. Bagiku, hal-hal semacam itu bukanlah batas melainkan sesuatu yang seharusnya berjalan beriringan. Semua hal itu sudah di-set sejak awal atau merupakan suatu pilihan, jadi tidak bisa dikatakan batas, kan?

Tidak mungkin kan kita (aku) menyalahkan Tuhan terhadap apa yang tidak boleh dilakukan? Sebaliknya, Tuhan menciptakan itu memandu atau melindungi kita. Kasarnya, kalau tidak suka, cari Tuhan lain saja. Duh, kok jadi seperti ceramah.

Pokoknya, batas yang ingin aku lampaui berupa hal-hal seperti energi, IQ, EQ, tingkat pendidikan, tingkat kekayaan, atau bahkan sifat kusendiri yang bisa menjadi batu sandungan. Sifat baperan, contohnya. Hihi.

Sebagai pecinta film dan drama Jepang, terkadang, aku ingin seperti tokoh-tokoh utama itu. Biasanya, dalam film dan drama Jepang ada goal yang sejak awal diinginkan tokohnya. Goal tersebut sangat jelas. Tokoh utama mempunyai batas yang kemudian akan mereka lampaui. Misalnya, pada drama Dragon Zakura. Goal mereka adalah lulus tes masuk Universitas Tokyo. Batas mereka adalah kemampuan mereka yang sangat buruk, bahkan di bawah standar. Berbagai cara mereka tempuh. Putus asa pernah menghantam. Walaupun begitu, mereka pada akhirnya tetap berusaha menembus batas.

Ketika sudah berusaha, tetapi goal tidak bisa diraih, setidaknya rasa penasaran akan pupus. Setidaknya, perjalanan menuju goal bisa membuat diri berubah.

Aku belum pantas menggurui soal batas. Aku masih sering menjadikan batas tak kasat mata sebagai alasan. Lelah, lah. Takut sakit, lah. Kalau sudah begitu, ketika goal tidak teraih, mau menyalahkan apa? Hanya bisa menyesal.

Kadang, ketika sudah merasa berusaha maksimal, tidak banyak alasan untuk berhenti, goal tetap tidak teraih. Kalau sudah begitu, aku akan teringat kata-kata seseorang bahwa mungkin, usaha dan doa pesaing jauh melebihi maksimal. Bukannya tidak percaya Tuhan tidak akan salah membagi rejeki, hanya saja hati ini masih terlalu hitam. Lebih mudah membayangkan usaha dan doa orang lain yang jauh lebih keras. Mungkin orang lain itu sudah melampaui batasnya.

Sewaktu menulis paragraf di atas, aku tiba-tiba baper. Haha.

Sebaiknya aku sudahi tulisan ini. Satu hal terakhir yang ingin aku ungkapkan: aku takut menarik batas tak kasat mata mendekat. Aku takut tidak bisa membedakan batas yang sesungguhnya atau batas itu justru aku buat sendiri.

Aku ingin bisa tidak khawatir terhadap batas. Aku ingin mendobrak batas.

Because I wanna fly without limit.

6 Comments

  1. Kdang saya merasa sedih jg kalau keinget goal2 yg blm kesampaian. Tapi setelah dipikir lg, ah move on aja. Yg penting semangat utk bikin goal2 baru yg kudu dicapai di masa mendatang 😀

    TFS Mbak artikelnya 🙂

  2. Iya ya,batas itu kadang kita sendiri yang buat hanya karna malas dsb. Tulisannya enak dibaca Fah, berasa baca harry potter #taunya itu doang :p. referensinya banyak :)d love it

  3. aku juga ingin terbang tanpa batas, tapi masih ingin tetap kembali ke bumi fah :p

  4. Kehidupan tidak terjadi begitu saja. Kehidupan adalah serangkaian pilihan dan bagaimana kita merespons setiap situasi yang terjadi pada kita. Karena kita bukan superman maka dibutuhkan kemampuan mengenali dimana potensi terbesar kita. So we can fly with a brief destination which we arrange before.

  5. Ntar kalau ada yang bisa terbang ikutan ya..hahahaa

  6. “Keterbatasan membuat saya menjadi manusia” sukak sama blognya kakak inih….

Leave a Reply

Required fields are marked*