Opinion

Susahkah Menjadi Perempuan?

Suatu kali, waktu masih SD, pernah ada yang bertanya, “Kalau bisa dilahirkan kembali, mau jadi perempuan atau laki-laki?”

Waktu itu, jawaban spontan yang aku pikirkan adalah menjadi laki-laki. Sekarang, aku lupa kenapa aku menjawab seperti itu. Mungkin karena anak-anak cowok di sekolah menyenangkan, mungkin karena laki-laki tampak lebih bebas, mungkin karena kalau laki-laki nggak bisa nyapu nggak ada yang bilang, “Cowok kok nggak bisa nyapu?” Entahlah. Aku lupa. Yang pasti, pada suatu masa, aku pernah berharap menjadi laki-laki.

Tapi, waktu berlalu dan keinginan aneh itu terlupakan. Ngapain juga mengharapkan sesuatu yang mustahil, ‘kan? Nikmati saja apa yang ada.

Sampai suatu hari, aku iseng mengganti nickname, di akun Telegram yang untuk main, dengan nama laki-laki. Namaku kalau dipenggal sedikit langsung berubah jadi nama laki-laki. Lalu, ada yang tanya kenapa aku pakai nama itu. Aku jawab iseng bahwa aku ingin menjadi laki-laki. Eh, malah muncul sederet ceramah. Bahwa menjadi perempuan itu baik, bahwa ini-itu. Laaah.

Lalu, aku kepikiran berapa banyak sih perempuan yang sebetulnya berharap terlahir sebagai laki-laki? Berapa banyak perempuan yang merasa menjadi perempuan banyak batasnya? Atau, setidaknya, berapa banyak perempuan yang merasa menjadi perempuan memang tidak mudah?

Sejujurnya, ada beberapa hal yang membuatku merasa menjadi perempuan memang nggak mudah. Aku coba jabarkan satu-satu persatu.

1. Berdarah-darah Setiap Bulan

Yaa, kalau cuma berdarah sih nggak masalah. Tapi, ribetnya itu loh. Jaga kebersihan mesti ekstra. Barang bawaan makin banyak. Jadi sering buang air kecil. Belum lagi, kalau sampai sakit. Doooh. 😩

Dan, berhubung pembentukan darah butuh energi dan nutrisi, makanan juga jadi harus diperhatikan.

Tapiiii … kalau bulan Ramadhan dan lagi haid, terus lemas atau bahkan pucat, malah ada yang bilang, “Nggak puasa aja sok lemes.” Sesama perempuan loh yang bilang. Padahal, gimana nggak lemas, darah keluar banyak, tapi mau makan canggung karena orang lain puasa atau bahkan nggak ada cukup makanan. 😴

Nah, walau berdarah-darah itu tampak tidak menyenangkan, tapi kalau si darah nggak keluar, malah bikin galau. Terutama untuk para single. Takut hamillah, takut penyakitlah. Kalau jelangkung datang tak dijemput, pulang tak diantar. Kalau haid, datang tak dinikmati, tidak datang tak disyukuri.

2. Menghadapi Hormon Nggak Mudah

Sumber: @gif

Masih sambungan dari nomor 1. Hormon perempuan mudah labil ‘kan, ya. Tiap bulan, akan ada hormon yang naik-turun. Hormon-hormon ini naik-turun supaya sistem reproduksi berkerja sebagaimana mestinya.

Sayangnya, yang terkena pengaruh hormon bukan cuma organ saja, tapi juga perasaan. Mood. Kerasa banget, loh, bedanya hari-hari biasa dengan hari-hari merah.

Makanya, sering banyak yang menyalahkan PMS, ‘kan? Lagi marah-marah, anggap saja pre menstrual syndrome.

Tapi, sebetulnya, kadang kami nggak mau terlalu emosional. Sayangnya, mengendalikan keinginan hormon itu nggak mudah. Kadang-kadang, berusaha nggak emosional itu lebih menguras energi daripada mengeluarkan emosi. Kalau sudah dikeluarkan, malah menyesal. Begitulah hidup. 😌

3. Kulit Kinclong Kayak di Iklan Hanya Mimpi

Nggak dipungkiri bahwa sebagian besar perempuan ingin mempunyai kulit mulus dan kinclong, termasuk aku. Iklan-iklan banyak menampilkan model-model cantik yang kemudian mempromosikan hanya satu produk. Satu produk.

Sayangnya, hampir nggak mungkin memiliki kulit cantik seperti itu hanya dengan satu produk. Malah, kadang sabun pencuci muka, krim siang, dan krim malam saja nggak cukup untuk perawatan wajah. Minimal harus ada masker. Lalu, kalau mau hasil lebih, pakai toner dan serum.

Pernah membaca “10 Steps Korean Skin Care Routine”? Begitulah kira-kira kalau mau kulit flawless seperti artis Korea di layar kaca. Produk kecantikan yang dipakai nggak mungkin cuma satu atau dua.

Itu baru untuk wajah, belum body care. Selamat pusing! 😂

4. Keluar Rumah Tanpa Ribet adalah Hoax

Maksudku, bukan sekadar ke warung atau mampir ke tetangga. Lebih kayak keluar ke mall atau bekerja.

Ibu-ibu sudah pasti riweuh. Tapi, yang belum ibu-ibu pun bisa ribet: milih baju, mematut di depan cermin, menyiapkan segala perlengkapan ke tas. Dan semacamnya.

Kalau cek tas perempuan, bisa saja menemukan hal-hal ajaib. Kayak, beragam kuas, minyak kayu putih, sepatu padahal sedang pakai sepatu juga, pembalut padahal bukan sedang periodenya, dan hal-hal lainnya.

5. Sesama Perempuan Lebih Horror daripada Parker Crane

 

Sumber: @gif

Sudah nonton “Insidious 2”? Mungkin film itu salah satu film horror yang paling berkesan. Kenapa? Bukan karena horrornya, tapi karena adegan hantu Parker Crane teriak.

Setelah nonton itu di bioskop, selang beberapa hari aku praktikum. Aku melakukan kesalahan dan tiba-tiba saja guru berteriak dan beliau sudah ada tepat di belakangku. Jadilah waktu itu aku langsung teringat Parker Crane. Makanya, aku pakai Parker Crane sebagai perumpaan karena buatku lebih seram daripada Pennywise dari film “It”. 😂

Sambungin ke cerita itu saja, ya. Selain aku, ada juga beberapa murid yang kena marah. Salah satunya temanku yang dimarahi, “Mau jadi istri siapa kamu? Istri presiden?” Waktu itu praktikumnya adalah praktikum memasak.

Well, kalau guru marah mungkin sah-sah saja bilang begitu (walau sepertinya tetap nggak sah karena bawa-bawa gender). Tapi, di luar sana, banyak banget perempuan yang saling menyinyir, ‘kan?

Nggak bisa masak dibilang nggak istri-able. Ngasih susu formula dibilang nggak sayang anak. Nggak ngasih duduk di kereta, dinyinyirin. Spoantan ngasih duduk dibilang menyinggung mengira renta atau perut gendut. Bahkan, di dunia perempuan, makan nasi pun bisa salah.

Hiduuup. Hiduuup

Let It Go

Kalau dijabarkan, mungkin masih banyak hal lain yang menunjukkan menjadi perempuan memang nggak mudah. Tapi, setelah dipikir lagi, kenapa fokus dengan kata “nggak mudah” kalau semua itu bisa dibalik.

Contohnya:

1. Memang betul berdarah tiap bulan itu merepotkan dan kadang menyakitkan, tapi bukan berati nggak ada yang bisa dinikmati. Misalnya, bisa izin nggak ikut upacara. Bisa juga jadi pelegalan coklat sepuasnya. 😆

2. Sesuatu yang berasal dari alam memang sulit dilawan, tapi bukan berarti nggak bisa diatasi. Pengalamanku, kalau rajin makan buah dan sayur, plus mengurangi micin, mood lebih mudah dikendalikan. Hindari juga hal-hal negatif kayak berita kriminal atau twit war. Sama kayak elektron, hal negatif juga mudah hingga dari satu hal ke hal lain.

3. Kulit kinclong dan mulus kayak artis mungkin nggak mudah, tapi yang paling penting adalah kulit sehat. Cleanser, pelembab, dan tabir surya nggak boleh lupa. Pakai masker 1-2 kai seminggu. Ditambah buah dan sayur supaya vitamin bekerja dari dalam. Yang paling penting adalah telaten. Yang namanya mimpi ada kemungkinan menjadi nyata, ‘kan?

Sudah dua kali aku menyebutkan buah dan sayur, tuh. Selain demi dua hal di atas, pastinya buah dan sayur bikin tubuh sehat.

4. Ribet tandanya supaya nggak menyusahkan orang lain. Bawa sepatu lebih supaya nggak bikin orang lain ribet kalau sepatu rusak atau kaki keseleo karena heels, ‘kan? Kadang, keribetan kita juga bermanfaat. Bisa menolong orang yang muntah di kereta dengan tisu yang kita bawa, misalnya.

5. Women is always right. Yang jadi masalah adalah kalau sesuatu “right” itu berbeda dari satu perempun ke perempuan lain. Tapi, selama kita bahagia dan aman dengan pilihan itu, kenapa nggak? Asalkan pilihan itu nggak menyalahi aturan dan menggeser hak orang lain.

Mungkin menjadi perempuan memang nggak mudah, tapi memangnya menjadi laki-laki mudah? Bisa saja ternyata menjadi perempuan lebih mudah.

Mengutip kata seseorang di Twitter, jadi laki-laki belum tentu mudah.

Lagipula, pada dasarnya kita sudah biasa dengan keribetan. Nggak ada keribetan yang terjadi tanpa ada jalan keluar. Istimewa, ‘kan?

Jadi, selamat menikmati setiap hari, setiap detik, sebaik-baiknya. ^^

 

8 Comments

  1. Hastira

    betul sekali, nangani perubahan hormon itu wah butuh perjuangan

  2. memang jadi cewek emang gak mudah mbak, tapi dibikin enjoy aja, mungkin disudut sebelah ada cowok yang mungkin pernah bilang “enak yah jadi cewek” dan setiap orang punya sudut pandang sendiri-sendiri..
    dan untuk hormon, saya malah lebih parah, soalnya siklus bulanan saya siklus pendek. tapi setelah nikah udah gak sih, karena kena KB, tapi tetep labil juga, hehehe apalagi perihal mood..
    yang jelas Wanita tak pernah salah

  3. Dulu ketika awal-awal haid, ada perasaan menyesal jadi cewek. Ribet banget ya. Setiap bulan kayak gini.

  4. Na

    Wkwkwkwk…bener ribeeeet.
    Tapi apa daya. Ya sudahlah di syukuri dan dinikmati.
    Paling sebel kalu mau traveling pas lagi bulannya.

  5. Itulah kenapa saya salut dengan para perempuan yang produktif berkarya di tengah keribetan dan kesusahan yang mereka alami sbg perempuan.

  6. aku jadi inget rekan kerjaku mba, ketika dia mau datang bulan entah hormonnya gimana dia selalu marah2 dan butuh suaminya dirumah ketika dia resign karena suaminya juga punya kesibukan dikantor akhirnya dia diperbolehkan untuk bekerja kembali 😀

  7. Memang nggak mudah, tapi banyak pahalanya 😀

  8. Jadi perempuan memang ga mudah, tapi dengan mensyukuri takdir kita sebagai perempuan, semuanya akan terasa lebih mudah… ^^

Leave a Reply

Required fields are marked*