Pernah suatu hari tanpa sengaja menemukan komplain dari seorang customer kepada pemilik sebuah toko buku online. Ia mengatakan dalam tulisannya bahwa ia tersinggung atas perlakuan kurang sopan dari pemilik toko buku tersebut. Perlakuan kurang sopan bagaimana, kan toko online tidak berhubungan langsung dengan pelanggan? Ternyata masalahnya terletak pada kata ganti orang kedua yang digunakan pemilik toko tersebut. Pemilik toko tersebut menggunakan “kamu” sedangkan pelanggan itu tidak suka di-“kamu-kamu”kan.
Awalnya, saya heran, bagi saya itu bukan masalah besar. Apalagi yang biasa saya temukan dari toko online di Facebook, kata itu tampaknya sudah umum. Apa bedanya antara kata “kamu”, “Anda”, dan yang lainnya? Yang penting tidak menggunakan bahasa serapan dari bahasa daerah, seperti “lu”, “maneh”, “situ”, kalau itu kan tampak lebih tidak sopan.
Setelah dipikirkan lagi, mungkin ada benarnya. Orang yang lebih tua atau orang yang menghargai sopan santun, akan tidak menyukain penggunaan kata yang mungkin hanya pantas digunakan untuk orang seumuran atau yang sudah mengenal dekat. 
Sempat saya membayangkan jika pegawai bank yang terkenal dengan keramahan dan sopan santunnya menggunakan kata “kamu”. Sekali pun kepada customer yang jauh lebih muda, rasanya kurang pantas. Begitu pun dengan pelayan toko offline, tetap kurang pantas. Lagipula, seandainya customer itu lebih muda, tidak ada salahnya tetap menggunakan “Anda”, tetap terdengar lebih baik.
Jadi, sepertinya penggunaan kata sederhana, yang tidak terlalu sederhana, itu sangat penting. Hal semacam itu saja dapat membuat Anda ditinggalkan klien. Tampaknya sepele, namun ternyata tidak sesepele itu.
Maka dari itu, tulisan saya ini, dan mungkin tulisan lainnya walaupun tanpa sengaja, menggunakan bahasa yang cukup formal.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *