“Aku dimanfaatin!”

Pernah dengar drama semacam itu? Terbayang adegan ala sinetron ketika seseorang mengeluarkan emosi karena merasa dimanfaatkan orang lain. Kemudian, orang itu teriak-teriak, banting sana-sini, atau justru menangis sesegukan sampai menghambiskan tisu sekotak.
Tapi, bukankah manusia harus bermanfaat bagi orang lain?
Nah kan.
Ucapan “dimanfaatin” biasanya keluar karena orang tersebut merasa menjadi “sapi perah”. Manusia memang harus bermanfaat, tetapi manfaat itu harus saling menguntungkan. Bukan hanya bermanfaat bagi satu pihak. Keuntungannya pun perlu secara nyata. Bukan cuma “Aku kan nyumpang pahala”. Duh, buang ke laut aja orang kayak gitu mah. Kata Gita Gutawa, “Dasar kau parasit!”
Aku juga pernah berpikir demikian. Mana enak, sih, dimanfaatin. Awal-awal, pasti masih biasa. Masih baik. Minta ini-itu masih belum terasa berat. Lama-kelamaan, barulah sadar kok sepertinya tidak ada timbal balik. Apalagi, ketika kita minta tolong lalu orang itu, dengan segala excuse-nya, berkata tidak bisa. Huff.

Kemudian, one day in my life, bukan your life.One Day in Your Life” sih punya Micheal Jackson.

Aku sedang belajar dengan saudara. Di tengah jalan, ada sedikit intermezzo.

Aku lupa sebelumnya kami membahas apa. Tahu-tahu, dia mengatakan tentang menjadi manusia yang bermanfaat. Waktu itu, aku hanya mengawang.

Sebagai remaja labil, aku cukup sering mendengar keluh-kesah “Aku dimanfaatin.” Aku pun jadi berpikir, saudaraku itu sok tahu. Walaupun menjadi manusia harus bermanfaat, “dimanfaatin” sangat tidak enak. Aku berpikir begitu padahal aku hanya penonton drama di sekitarku, bukan aku yang merasakannya langsung.

Sampailah dia pada kalimat, “Nggak usah kesel kalau dimanfaatin orang. Daripada jadi orang nggak ada manfaatnya, kan?”

Aku pun menyimpulkan dia try to be an angel. *kok aku jahat banget?*

Perlu bertahun-tahun bagiku untuk bisa setuju dengan kalimat itu.

Aku bukan anak baik yang bisa ikhlas ketika diparasitkan orang lain. Masih ada perasaan ingin mengirim orang itu ke Gurun Sahara. Tapi, perasaan semacam itu hanya menguras energi.

Setelah dipikir-pikir, lebih mudah mengiyakan kalimat saudaraku itu. Ikhlas itu sulit, yes. Walaupun demikian, aku merasa ikhlas tidak pernah menguras energi. Dendamlah yang menguras energi. Kalau sudah ikhlas, sudah bisa melupakan, sudah bisa menjalani kehidupan dengan tenang. Kalau masih dendam, apa-apa pasti terpikirkan lagi, kesal lagi, emosi naik lagi. Butuh vitamin C lagi.

Aku pribadi tidak tahu apa sebenarnya manfaatku di dunia ini. Mungkin, dengan “dimanfaatin” itu, justru aku menyambung rantai-rantai lain yang berujung pada hal baik. Aku ingin bisa selalu ingat buku “The Five People You Meet in Heaven“. Di sana, seseorang yang merasa nothing sesungguhnya mempunyai arti everything tanpa dia sadari.

Kalau ingat betapa sekarang aku berusaha menjunjung tinggi kalimat saudaraku itu, kadang ada perasaan bersalah. Aku pernah menganggapnya sok tahu. Sebetulnya, dia hanya orang yang mempunyai hati cukup lapang. Kalau bukan karena dia, aku mungkin akan lebih lama lagi baru bisa memahami konsep “manfaat” ini. Aku baru membaca buku karangan Mitch Albom tadi sekitar setahun lalu, sedangkan hidupku sebelumnya harus juga terbebas dari “gondok”.

Aku hanya berharap tidak akan ada yang mendaur ulang kutipan dari saudaraku sebagai senjata memanfaatkan orang lain. Sejujurnya, aku sering berpikir kenapa ada orang yang hobi memanfaatkan orang lain? Dalam arti negatif, tentunya.

Pelajaran ikhlas tidak mudah. Lebih tidak mudah lagi belajar memahami pikiran orang semacam itu.

Are you even human?

Hmmm. Yah, sepertinya orang semacam itu tidak usah dipikirkan. Kan ceritanya mau ikhlas, mau bermanfaat, walaupun ada yang berpikir hal itu hanya “trying to be an angel“. Senyum sajalah.

 

You may also like...

11 Comments

  1. Paling enak sih bermanfaat buat dua belah pihak jd kesannya fair hehehe

  2. Jadi inget masa lalu, punya genk dimana dalam genk itu ada yang tajir edan dan kami teman satu genk sepertinya "memanfaatkan" dia untuk traktir makan, beliin sepatu yang sama buat anak genk sampe ke tas pun dia yang beliin. Kalau inget itu merasa berdosa. Tapi yang dimanfaatin dy tetap bahagia no complain dan tulus main sama kita. Apa yang diberikan dengan ikhlas tentu akan mendapat balasannya, saya senang mendapati kabarnya sekarang ini dia sudah sukses menjadi dokter di ibukota ^^

  3. Karena sebaik-baik manusia, adalah dia yang memiliki manfaat bagi orang lain. Jadi, aku bisa memanfaatkan apa pada Fifah? 😛

  4. Iya, lebih menyenangkan dimanfaatin daripada ga ada manfaat ^^

  5. Bener, Mba.

    Sebaik2nya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

  6. Rach Alida Bahaweres

    Kalau dimanfaatin untuk kebaikan, kayaknya nggak papa ya mba. Hihii…

  7. Bagaimanapun juga sangat penting untuk menjadi makhluk yang bermanfaaat bagi sesama 😀

  8. Cumilebay MazToro

    Ikhlas bermanfaat

  9. dimanfaatin… beari memberikan mnfaat pada orang lain.. , tapi udah dimanfaatin..disakitin pula… huaaaawaaaaaa

  10. Pagi2 baca artikel ini… mencerahkan. Dimanfaatin emng g enak ya mak…tp lbh baik dr pd gak ada manfaatnya. ^_^

  11. 'Dimanfaatin' untuk kebaikan kayaknya it's ok. Tapi harus hati-hati kalau 'dimanfaatin' yang gak baik. Bisa-bisa kita yang kena imbasnya.

    so far setuju sama kamu, fah. Hidup itu harus bermanfaat. Kalau 'dimanfaatin' sama orang lain. Ya sudahlah, ikhlasin aja. Dari pada nggak ada manfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *