Kita semua pernah alay. Tadinya, aku denial dengan hal itu. Pernah, sih, sms dan ngetik di medsos dengan tulis 4L@y. Tapi, yaa, kan sebatas tulisan.

Lagian, hp zaman dulu enak untuk dipakai alay. Tombol untuk mengapitalkan atau mengecilkan huruf lebih mudah ditekan daripada tombol spasi. Tuhkan, alasan banget.

Kalau soal artis, palingan dari Harry Potter. Tapi, itu kan dari fandom. Bedalah sama alay. Kaaan. Memang hobi denial.

Tapi, setelah ditelaah lagi, aku pernah alay. PERNAH BANGET. Menggemari artis sampai sukaaaa sukaaaaa banget. Sampai punya posternya. Semangat banget mendengarkan lagu-lagu mereka. Sampai semangat banget waktu akan bertemu. Bahkan, SAMPAI MAU FOTO BARENG.

Aku nggak bilang yang suka foto bareng dengan artis alay, ya. Blogger kan suka foto bareng artis sebagai portofolio. Nanti, aku disemprot ramai-ramai kan berabe. Lol.

Untuk kadar orang kayak aku sekarang, mau foto bareng artis, itu tuh ajaib banget. Jangankan artis. Presiden saja, aku mah biasa saja. Kalau di novel romance, kayaknya, aku adalah tokoh cewek yang malah sang artis yang akan ngajak foto bareng. HAHAHA.

Kecil-kecil Alay

Tapi, itu sekarang. Dulu, sih, lain cerita. AKU PERNAH PENGEN FOTO BARENG ARTIS.

Dulunya kapan? Waktu belum sekolah. Apa-apaan banget, kan? Membaca saja belum lancar, sudah punya idola sampai segitunya.

Aku sampai punya posternya, loh, dulu. Dan, waktu tahu kantor Bapak mengundang mereka, aku senang banget.

Jadi, siapakah artis tersebut?

Dea Ananda, Afandy, dan Leony. Iya, nggak lain dan nggak bukan Trio Kwek Kwek.

Mungkin dulu seleraku yang meriah-meriah, ya. Dibandingkan artis cilik lain, aku paling suka mereka. Mereka tampak energik dan bahasanya aku mengerti. Huehehe.

Chikita Meidy kan terkenalnya dengan lagu Minang. Enak, sih, didengar. Tapi, susah diikuti. Aku tetap suka, sih, untuk didengar. Saskia dan Geovani, aku lupa kayak gimana. Agens Monica? Aku malah lupa suka dia atau tidak. Aku hanya ingat dia sebagai pembawa acara. Yang pasti, pembawaannya lebih dewasa dibandingkan artis-artis seusianya saat itu, tapi bukan dewasa yang negatif, ya.

Kalau Maissy, aku malah nggak suka. Terlalu “princess“. Belum juga sekolah, aku kok sudah julid, ya. Hahaha. Mungkin bukan julid, sih, melainkan mempunyai preferensi. (Tapi, sekarang, aku respek banget dengan Maissy. Kece, deh)

Sedangkan, Enno Lerian menurutku sudah terlalu besar saat itu. Kalau Susan termasuk artis cilik, bolehlah dimasukkan ke dalam daftar artis cilik kesukaanku. Lol.

Sherina dan Tasya? Ketika aku di zaman alay, mereka belum terbit. Mereka hadir ketika aku sudah SD. Jadi, waktu aku suka mereka, cukuplah menggemari dengan lebih kalem.

Alay Berfaedah

Di mataku, artis-artis cilik itu sangat “wah”. Bagaimana tidak, mereka bisa menghafal lagu dan koreografi. Buatku yang ketika itu belum lancar membaca, jelas hal seperti itu keren. Kalau belum bisa membaca, kan boro-boro menghafal, ya. Lihat teks saja pusing. Lol.

Walaupun, yaaa, kalau sekarang dipikir-pikir, jelaslah mereka sudah bisa membaca dan menghafal. Mereka kan sudah sekolah, bahkan sepertinya ada yang sudah kelas 5 atau kelas 6.

Untung saja waktu itu aku nggak kepikiran sejauh itu. Melihat hal mengagumkan begitu saja sudah bisa membuatku berkeinginan belajar. Oh, ya, poster Trio Kwek Kwek dipasang di samping meja belajarku, loh. Wkwkwk.

Lalu, ketika Sherina dan Tasya sudah mengorbit, tentu aku sudah bisa membaca. Kekagumanku beralih pada hal lain.

Kalau tidak salah ingat, Tasya itu seorang juara kelas. Kalau tidak salau ingat, ya. Soalnya, seingatku, Ibuk membandingkanku dengan artis siapa gitu. Kayaknya, sih, Tasya. Semoga bukan hoax.

Nah, kalau Sherina … kamu tahu kan SHERINA BERKOLABORASI DENGAN WESTLIFE. Apa lagi tuh, ya, di albumnya ada bagian Sherina ngobrol dengan Westlife walau sebentar. Aku suka Sherina dan Westlife di waktu hampir bersamaan. Jadi, memang nggak santai waktu lihat mereka colab.

Rasanya, pengen nangis di pojokan, deh. Sherina kok pintar bahasa Inggris bangeeeeet padahal masih anak-anak.

Aku juga lebih anak-anak daripada Sherina, sih. Tapi, tetap saja. Sesama anak-anak gitu, loh. Bukan alasan, dong, Sherina sudah pintar bahasa Inggris kok aku masih begitu-begitu saja.

Oh, ya! Reza Oreo!

Dia pintar hitungan banget, loh. Aku ikut les di yayasan yang sama dengannya. Dia sudah level tinggi. Aku baru masuk. Sekarang apa kabar, ya? Masih jago hitungan nggak, ya?

Aku, sih, nggak lanjut les. Mungkin ketertarikanku bukan di sana. Karena apa? Karena ada kalkulator. Huahaha.

Nah, bahasa Inggris, aku malah ingin les dengan sendirinya. Kan, kalau ngomong, nggak bisa pakai kalkulator. Lol.

Jadi pengen tes TOEFL, deh.

Idola = Inspirasi

Sedikit-banyak, kehidupan akademikku kayaknya dipengaruhi para artis cilik. Nggak selamanya heboh alay itu buruk dong, ya. Well, tinggal pilih-pilih saja sifat dan sikap bisa menginspirasi.

Melihat anak lain bisa sekeren itu, menjadi salah satu motivasi. Pun, sekarang, beberapa dari mereka masih menginspirasi. Kalau melihat Tasya, rasanya ingin langsung apply beasiswa LPDP.

Jadi, kamu punya kenangan apa dengan idola masa kecilmu?

You may also like...

3 Comments

  1. Sherina sama Westlife lagu I have a dream. Sukses bikin pengen ngehafalin liriknya, meski ya sebisanya. Belum jaman browsing lirik di Google. Hahaha.

  2. Hahahaha, sambil baca ini saya senyum-senyum. Seru dan asyik banget gaya nulis Mbak Afifah ini. Btw, salam kenal ya Mbak. Saya mampir karena lihat lewat hestek #ODOPJuli2018. Ceritanya mirip-mirip sama saya dulu juga waktu gandrung sama mereka-mereka yang Mbak sebutin di tulisan. Kalau dipikir sekarang mah iyuuuuh, watdeheeelll, hahaha *ups. Nggak bisa dipungkiri juga, idola-idola masa kecil itu jadi salah satu bagian perjalanan hidup, yang secara nggak sadar jadi unsur pembentuk kita yang sekarang. Hehehe…

  3. Sepertinya kita merasakan hal yang sama, dulu pas tau sherina duet sama westlife aku ngerasa gimanaaaa gitu, englishnya jago dr kecil sih.hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *