Image source: Deviantart, edited by me.
Iseng-iseng, aku melihat On This Day di Facebook. Rupanya setahun lalu, aku menulis status mengenai susu. Status itu tentang diet-dietan yang menganggap minum susu selain ASI itu tidak baik. Orang dewasa sebaiknya tidak minum susu lagi. Susu sapi bukan untuk manusia. Dan macam-macam pandangan lain mengenai susu. Tau kan diet apa? Ah, masa nggak tau. Kalau nggak tau, tetap lanjut baca sampai beres, ya.
Sebelum membaca postingan ini jauh-jauh, aku beri warning. Tulisan ini dibuat oleh orang awam, bukan ahli gizi, bukan dokter, apalagi scientist. Ini murni pendapat pribadiku. 
ASI vs SuFor adalah salah satu pemicu mom war yang nggak ada ujungnya. Udah ada ujungnya belum sih? Belum kan? Yaaa, aku mah nggak ikutan, jadi nggak tau.
Tapi, walaupun nggak ikutan mom war, aku mau ikutan ngasih pandangan.

ASI is the best.
Setuju?
Nggak ada yang bisa menggantikan makanan yang satu ini, nggak akan pernah. 
Makanan yang satu ini memang makanan paling istimewa sejagat raya. Satu-satunya makanan yang diproduksi oleh manusia secara alami. Satu-satunya makanan yang nutrisinya paling lengkap padahal bentuknya cuma cairan. Belum tentu si ibu nggak kurang gizi, tapi tetap aja nutrisi ASI nggak dikurangi sedikit pun. Juga, satu-satunya makanan yang dijamin aman tanpa proses-proses dengan peralatan modern. Dan pastinya, satu-satunya makanan yang nggak bikin khawatir ada zat-zat kimia berbahaya di dalamnya. 
Jadi, udah pasti banget kan ASI lebih baik daripada sufor?
Nih, dengar-dengar, sufor banyak ditambah zat-zat kimia dalam prosesnya. Pasti ibu-ibu langsung pada ngeri.
Dan, pasti temanku yang anak kimia akan bilang, “Kenapa kimia lagi yang disalahin sih? Kita itu kimia.” Maksud dia, dari ujung kepala sampai ujung kaki, semua hasil sambung-menyambung berbagai molekelu kimia dengan bermacam ikatan kimia.
Aku juga suka bingung kenapa kimia sering disalahin. Kasihan.
Sufor udah pasti diberi tambahan zat kimia. Setauku, dalam prosesnya dari susu sapi, bakal ada banyak zat gizi yang hilang. Prosesnya kan panjang. Supaya gizinya tetap mencukupi, dikasihlah zat-zat kimia alias zat gizi itu. Kalau nggak gitu, apa yang bakal didapat dari minum susu selain begah karena minum air?
Soal tambahan yang biasanya tercantum di kemasan seperti “Diperkaya dengan . . . ” atau “Mengandung . . .”, aku juga nggak tau zat-zat itu dibutuhkan atau nggak. Atau bikin anak makin pinter atau nggak.
Kalau susu-susu yang kayak gitu bikin anak jadi hiperaktif, nggak tau deh. Hiperaktif itu bukannya berkaitan dengan psikologi? 
Aku temasuk anak zaman sekarang kan, ya? Iyahin aja, biar senang.
Aku minum susu. Lepas ASI, aku minum sufor. Tiada hari tanpa susu. Tapi aku nggak hiperaktif loh. Hehe.
Kalau ada yang bilang sufor bisa berpengaruh ke generasi selanjutnya, kayaknya anak kecil tahun 1990-2000 ada yang udah punya anak, kan? Kalau lahir tahun 1990 aja, tahun 2000 (tahun mulai banyak sufor), masih anak unyu-unyu, tapi tahun 2015 udah bisa punya anak unyu-unyu.
Tapi, aku juga nggak punya bukti sih.
Berhubung pengetahuanku tentang sufor dikit banget, aku nggak akan bahas hal-hal semacam itu lebih jauh. Yang tau isi sufor sesungguhnya kayaknya cuma orang lab di pabriknya deh. Aku berharap lembaga-lembaga yang ngasih izin edar sufor melakukan riset yang terbaik. Betul-betul menilik satu-persatu kandungan, manfaat, dan bahaya dari setiap zat di dalam sufor, baik untuk dampak jangka pendek, maupun jangka panjang.
Karena hal-hal terkait zat-zat itu di luar kemampuanku, aku cuma mau bilang, kalau sufor bahaya, nggak mungkin anak-anak di tempat aku PKL dikasih sufor. Aku PKL di salah satu rumah sakit ibu dan anak berskala nasional. Kasarnya nih, kalau mereka mau membahayakan pasien, bisa jadi masalah nasional.
Anak yang dikasih sufor bukan cuma anak yang udah bisa jalan, tapi bayi baru lahir juga. Kenapa? Karena mereka butuh gizi lebih banyak daripada bayi pada umumnya. Ada yang lahir dengan berat rendah, atau kasus-kasus lain. Dan mungkin juga ibunya nggak bisa ngasih ASI atau ada keadaan tertentu sehingga nggak bisa dikasih ASI.
Kalau sufor berbahaya buat anak-anak biasa, harusnya sufor lebih berbahaya buat mereka. Memang, sufornya juga nggak asal karena tiap sufor kandungannya beda. Tapi, beberapa merek udah nggak asing kok.
Buat anak yang baru dioperasi, nggak bisa langsung makan-makanan padat, yowes dikasih makanan cair, mulai dari yang jernih sampai susu. Saluran pencernaan menyesuaikan secara bertahap pasca operasi. Kalau susu merusak pencernaan manusia normal, harusnya mereka lebih rusak.
Susu itu kan makanan, tapi bentuknya cair. Dibuat cair supaya mudah dicerna. Ada beberapa orang yang memang nggak bisa minum susu. Yaaahh, kupikir, ini sama aja kayak orang-orang yang alergi makanan tertentu.
Nah, seandainya ada ibu yang ASI-nya nggak keluar, anaknya mau dikasih apa kalau bukan sufor? Kopi? Bisa sih dikasih ASI ibu lain, tapi resikonya pun besar, terutama masalah religi. Riwayat kesehatan ibu itu juga harus ditilik betul-betul supaya nggak terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.
Ngasih makanan pada buat bayi? Jangan coba-coba, bahkan pisang yang udah dilumat, buat bayi yang belum waktunya makan makanan padat. Saluran pencernaannya masih keciiiil banget. Bukannya bikin si bayi sehat, yang ada malah bikin masalah baru. Masih mending sufor kan kalau begitu.
ASI atau sufor, itu pilihan masing-masing ibu. Aku percaya setiap ibu udah mempertimbangkan pilihannya.
Kalau ada yang bilang anak yang dikasih susu sapi namanya anak sapi, itu sih nggak bisa bedain manusia dan sapi kali, ya. Atau seumur hidup nggak pernah lihat sapi. Hehe. Pis ah.
Susu sapi menjadi susu paling umum karena jumlah lemaknya paling sama dengan susu manusia. Nggak sama-sama banget, tapi mending daripada yang lain. Handout-ku udah entah di mana sih, jadi aku nggak bisa ngasih tabelnya.
Walaupun begitu, susu yang paling cocok untuk manusia tentu susu yang dihasilkan manusia. Kalau memang punya kesempatan buat ngasih ASI, kenapa nggak? Tapi, nggak ngasih ASI juga bukan suatu tindakan nista yang layak mendapat pengucilan. Kalau nggak ngasih ASI, terus nggak ngasih sufor juga, lalu anaknya mati kelaparan, baru deh bisa dibilang ibu yang nggak bertanggung jawab.
Aku cuma nggak mau, kalau ada ibu yang nggak ngasih ASI, si ibu itu di-bully. Mungkin si ibu udah melakukan beragam riset, atau anaknya punya kasus khusus, atau malah anaknya yang nolak ASI, dan atau-atau lainnya.
Aku juga nggak mau ada ibu yang stress berat gara-gara ASI-nya nggak keluar. Biasanya sih, si ibu didorong dan disemangati supaya ASI-nya keluar. Sayangnya, kadang, katanya sih nyemangatin, tapi malah bikin si ibu makin seteres karena ibu itu merasa nggak bisa memenuhi harapan banyak orang. Belum lagi kalau si ibu dengar desas-desus bahwa sufor berbahaya, pasti dia merasa memasukkan racun ke tubuh anaknya. Makin banyak pikiran, makin nggak keluarlah itu ASI. Mending si ibu diajak hepi-hepi aja deh.  

Anyway, kok aku baik banget sih mikirin ibu-ibu? *disiram susu basi*

You may also like...

2 Comments

  1. Gimana klo tergantung juga sama selera si anak? Misal anak pas umur 1 tahun udah ngga doyan ASI tapi klo dikasih susu formula mau?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *