Aku sudah beberapa kali mengunjungi Bandung sewaktu kecil. Hanya saja, aku belum pernah bertemu orang Bandung yang seusiaku. Mungkin pernah, entahlah, aku lupa.

Hal yang aku bayangkan tentang anak Bandung adalah mirip dengan anak Bogor. (Walau aku bilang “anak”, bukan berarti anak-anak usia imut, ya. Selama masih di range usia remaja, bahkan remaja akhir, masih bisa disebut “anak kan, ya).

Anak Bogor seperti apa?

Anak Bogor banyak yang nggak bisa bahasa Sunda.

Tahu dari mana?

Tahu dari hasil ulangan, tentu saja. Pelajaran bahasa Sunda salah satu penyumbang peserta remedial terbanyak.

Mungkin hal itu karena kebanyakan anak Bogor adalah keturunan suku lain. Entahlah.

Masih Ada Bahasa Daerah

Lalu, suatu ketika, aku kembali menghirup udara di tanah Sunda. Ketika itu, aku dengan warga Bandung yang seusiaku. Aku pun terkesima dengan logatnya. Logat Sunda.

Aku sempat mengira itu karena dia tinggal di lokasi tertentu. Tapi, lalu aku bertemu dengan mereka yang tinggalnya berlainan daerah di Bandung. Ada yang di kota, ada yang di kabupaten. Logat mereka juga sama. Sunda banget.

Kalau aku bertemu orang-orang tua yang berlogat Sunda, mungkin aku akan merasa biasa saja. Tapi, bertemu dengan orang-orang seusiaku yang berlogat Sunda, rasanya ajaib.
Apakah mereka bisa bahasa Sunda juga atau hanya logatnya?

Nggak perlu ditanya.

Aku juga bertemu anak-anak dari wilayah Jawa Barat lainnya. Kalau mereka bercakap-cakap, aku bisa mengerti apa yang dibicarakan, tapi nggak bisa menimpali dengan bahasa yang sama.

Walau begitu, aku nggak merasa asing. Aku justru nyaman. Ada semacam atmosfer yang membuat tenang. Mungkin atmosfer ajaib yang hanya bisa didapat dari bahasa daerah. Mungkin semacam kembali bisa merasakan bahwa hidup nggak melulu persaingan dengan bahasa asing. Padahal, kalau mereka mau berbicara bahasa Inggris, aku yakin bisa.

Kota di Pinggir Provinsi

Kadang-kadang, salah satu dari mereka bilang, “Bogor juga Sunda” gara-gara aku nggak ikutan berbahasa Sunda.

Yaaaas, tapi kan …

Bogor sudah terkontimasi banyak hal. Bogor, Depok, dan Bekasi sepertinya sudah kebanyakan menyerap polusi Jakarta. Hehe.

Kota di pinggir provinsi mungkin memang beda, ya. Sisi barat Jawa Barat, berbatasan dengan gemerlap metropolitan. Bahasa daerahnya berkurang mungkin karena kebanyakan yang ada dari Jakarta adalah para pendatang sehingga yang digunakan adalah bahasa persatuan. Tapi, itu hanya perkiraanku kenapa Jakarta jadi minim bahasa daerah, sih. Hehe.

Dibanding Depok dan Bekasi, mungkin Bogor masih mending. Sunda-nya masih beberapa kali aku dengar di tempat umum. Tapi, Sunda kasar. Itu juga masih banyak dicampur bahasa Indonesia. Walau begitu, sesekali aku bertemu warga Bogor yang Nyunda banget. Tapi, yah, palingan usia ibu-ibu atau bapak-bapak.

Karena itu, aku betulan terkesima ketika melihat mereka yang seusiaku masih suka berbahasa Sunda. Lancar pula.

Di Jawa Barat bagian timur, yang berbatasan dengan Jawa Tengah, mungkin bahasanya juga berbeda. Aku belum pernah berkunjung ke sana, tapi dari orang-orang yang tahu, sepertinya mereka masih menggunakan bahasa daerah. Mereka juga sepertinya masih mengerti bahasa Sunda yang aku kenal.

Pentingkah Bahasa Daerah?

Suatu kali, aku dan beberapa teman kuliahku naik angkot di Bogor. Teman-temanku berasal dari kota lain. Ada yang dari provinsi lain. Ada yang dari Bekasi.

Lalu, ada seorang ibu di angkot itu. Beliau berbicara kepada kami. Aku lupa beliau mengatakan apa. Yang pasti, beliau menggunakan bahasa Sunda.

Ketika beliau turun, teman-temanku bilang bahwa mereka nggak mengerti beliau bilang apa.

Aku kira, mereka senyum kepada ibu itu karena mengerti loh. Gubrak! Haha. Tapi, yah, setidaknya mereka senyum, sih.

Waktu kejadian, aku nggak kepikiran hal ini. Aku baru kepikiran hal ini ketika membuat artikel ini:

Kemampuan bahasa bisa menjadi bentuk menghargai orang lain.

Kalau kita berada di suatu tempat dan ada orang lain yang bisa berbicara dengan bahasa yang sama dengan kita, rasanya menyenangkan, ‘kan? Mungkin kita nggak bisa mengikuti tata cara hidup ala bangsa/suku lain, tapi kebisaan bahasa dapat menunjukkan bahwa kita nggak menutup diri dari masyarakat. *Ngaca*

Apalagi, kalau ada kejadian seperti di angkot itu. Masih untung kalau yang dibicarakan panjang lebar bukan sesuatu yang perlu ditanggapi dengan kalimat. Kalau sudah bicara panjang lebar dan mengharapkan tanggapan kalimat tapi lawan bicara ternyata nggak mengerti, gimana cobak? Awkward. Kasihan juga kan.

Mungkin di situ perlu kemampuan menyetir percakapan supaya sebelum orang lain bicara panjang dengan bahasa yang nggak dimengerti, kita sudah bisa bilang bahwa kita nggak mengerti.

Tapi, memang lebih baik bisa bahasa, sih.

Terus, apakah aku sekarang bisa bahasa Sunda?
Hehehehe.

Walau Secukupnya, yang Penting Belajar

Karena perkataan temanku soal “Bogor juga Sunda” dan supaya aku nggak hanya menjadi pendengar setia, membuatku ingin juga belajar bahasa daerah. Barangkali nanti bertemu yang seperti ibu di angkot itu, yang bikin ingin menanggapi dengan bahasa daerah juga.

Sesekali, aku bertanya hal receh kepada teman di Bandung. Walau sedikit-sedikit, lumayan memperkaya kosakata. Kadang-kadang, ada bonus mengenal sesuatu yang berbeda.

Seperti soal buras oncom. Katanya, di Bandung nggak ada buras oncom. Hehe.

Buras oncom

Aku juga jadi tertarik dengan bahasa daerah lain, terutama Jawa. Supaya bukan cuma darah yang ada Jawa-nya (itu pun cuma sepersekian dari leluhur).

Mendengarkan Perbedaan Atmosfer

Entah kenapa, sekarang aku suka mendengarkan perbedaan logat atau aksen. Waktu pergi ke Yogya, rasanya menyenangkan mendengarkan logat-logat Jawa di mana-mana. Belum lagi, kalau ada yang menggunakan bahasa Jawa. Yang pasti, bukan menggunakan bahasa Jawa kepadaku, sih.

Orang-orang Yogya kayaknya langsung tahu aku bukan warga Yogya, deh. Mungkin karena perbedaan logat yang kentara. Jadi, nggak ada yang mengajakku bicara bahasa Jawa.

Walau begitu, aku juga ingin bisa bahasa Jawa. Sudah lama kayaknya aku nggak “menganggu” temanku, menanyakan arti-arti tulisan receh berbahasa Jawa yang aku temukan di mana-mana (biasanya di media sosial).

Logat dan bahasa mungkin mencirikan suatu daerah, ya? Dikelilingi suara-suara yang asing bisa membuat excited. Suatu saat, pasti ada rindu dengan bahasa yang biasa, tapi ketika masih menjejakkan kaki di kota lain, nikmati saja dulu rasa excited itu.

Menikmati atmosfer tersebut juga bisa membuat diri sadar dengan perbedaan kebiasaan.

Semacam mengasah kepekaan terhadap kepribadian seseorang.

Mungkin tiap orang mempunyai kepribadian berbeda. Tapi, kadang-kadang, ada pola tertentu juga hasil perpaduan pribadi dengan lingkungan sekitar.

Sebaliknya, kadang-kadang, sepintas orang-orang mempunyai perilaku yang mirip. Setelah diperhatikan, ada sisi berbeda setiap orang.

Iya, kalau berpergian, aku memang suka mengamati perilaku orang-orang di sekitar. Karena, orang-oranglah yang menciptakan atmosfer keseharian.

Mengamati dan mempelajari sifat manusia bisa berperan dalam kehidupan. Contohnya? Banyak, deh.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *