Culinary

Mencoba Mie Baso Akung Bandung yang Direkomendasikan

 

 

Salah satu keuntungan bergabung di chat group dengan sekelompok orang dari daerah tertentu adalah mudah mendapat rekomendasi kalau mau ke daerah tersebut. Kadang-kadang, malah percakapan biasa bisa berujung menyebutkan nama-nama tempat recommended di daerah tersebut.

Misalnya, bilang akan pergi makan siang, ditanyalah sama orang yang satu daerah, mau makan di mana. Kemudian disebutkan nama tempat yang dituju. Dan, percakapan pun mengalir tentang tempat itu recommended atau tidak atau menunjukkan tempat-tempat lain.

Beberapa waktu lalu, aku bergabung dengan chat group yang isinya ada beberapa orang Bandung. Mereka, cukup sering menyebutkan Mie Baso Akung.

Sebagai orang yang kurang minat dengan bakso, aku menganggap hal itu angin lalu. Kalau sempat ke Bandung dan dekat, ya, ke sana. Kalau nggak sempat, ya nggak perlu.

Akhirnya, aku ke Bandung lagi. Waktu itu, nebeng dari Bandung atas ke Bandung kota. Di jalan, akang dan teteh ini menceritakan tempat-tempat yang dilewati.

Sampai di suatu perempatan, disebutkanlah dua tempat makan yang menjadi favorit. Sambil menunjuk salah satu sisi jalan, katanya di sana ada mie kocok dan bakso yang enak. Baso Akung.

Langsung aku ingat dengan chat group. Sebegitu enaknya sampai banyak yang merekomendasikan?

Yaaa, kalau nanti tempatku menginap tidak jauh dari sana, aku coba. Maksimal sekali naik angkot.

Dan nggak disangka … tempatku menginap dan jalan itu sangat dekat. Jalan kaki pun bisa.

Ditemani Google Maps (walau dekat, tetap aja harus ditemani ini), besoknya aku mencari Mie Baso Akung.

Aku sempat muter-muter. Di Maps kok kayak sudah sampai, tapi aku kok belum. Terus, aku kurang yakin jalan yang aku masuki adalah jalan yang sebelumnya ditunjukkan atau bukan. Jadilah, aku jalan lagi ke jalan di sebelahnya.

Memang, ya, malu bertanya sesat di jalan. Sudah ada Maps, tetap saja linglung.

Di jalan sebelahnya pun, tidak ada tanda-tanda tempat baso. Aku balik lagi ke jalan sebelumnya. Dengan pikiran akan naik angkot ke stasiun atau terminal saja. Toh, nggak terlalu penasaran.

Begitu balik lagi, waktu nggak senaja mendongak, barulah kelihatan plang bertuliskan “Akung”. Omagat. Plangnya atas banget. Aku kira itu ruko apa, tempat makan apa. Heu…

Lirik kanan-kiri, atas-bawah (oke, ini hiperbola), barangkali ada plang mie kocok, tapi nggak ada. Ya sudah, Akung saja dulu. Mie kocok kapan-kapan.

Tempat Akung ini sekilas mirip dua bangunan berbeda. Masuknya, lewat bangunan yang kecil mirip rumah. Ada semacam warung di depan.

Berhubung aku sendiri, aku taruh tas dulu, ambil dompet, barulah ke kasir untuk pesan. Maklum, ya, kalau sendiri, harus tag tempat dulu. Yaa, sambil menunggu barangkali untuk memesannya pelayannya menghampiri, terjadi nggak. (tapi, waktu aku lagi makan, ada sekelompok orang datang, pelayannya menghampiri. Hiks).

Untuk menunya, ada pilihan polos, bihun/mie kuah, atau yamin. Yaminnya ada pilihan manis, sedang, asin. Isian kuah baksonya  ada bakso, tahu, somay, ceker, dan pangsit. Dipilih satu-satu per item.

Aku pesan bakso, tahu, dan pangsit dengan yamin 1/2 porsi. Waktu itu, aku belum ngeuh ada pilihan manis, sedang, atau asin di menunya. Baru sadar waktu lihat Zomato lagi. Lol.

Mau coba somaynya, sih. Sayangnya, harga tidak dicantumkan di daftar menu. Kalau aku nggak bisa pulang ke Bogor gimana? Huehe.

Untung di Jawa Barat masih ada budaya teh tawar gratis. Ngirit. 😀

Then, nggak lama, pesanan datang.

Ekspektasiku, bakso dan teman-temannya hanya sebagai pelengkap. Disajikan dalam mangkuk kecil atau setidaknya setengah ukuran mangkuk ayam.

Tapi kemudian, aku agak syok.

Yang datang justru mangkuk yamin dan mangkuk bakso yang besarnya sama. Mangkuk ayam. Malah, bakso kuah itu lebih banyak daripada yamin. Kalau biasanya yamin dilengkapi bakso, ini bakso dilengkapi yamin. >_<

Mari dicoba!

Rasa yaminnya cukup enak. Menurutku, standar. Hampir di mana-mana yamin begitu rasanya. Kalau nggak begitu, biasanya malah nggak enak. Jadi, aku suka yamin ini.

Untuk baksonya, lagi-lagi sukses membuat syok. Mungkin “syok” kata yang berlebihan, tapi aku nggak menemukan kata lain.

Kuahnya manis, Gaesss. Biasanya ‘kan kuah bakso asin gurih. Ini mah manis, tapi gurih kok.

Karena yaminku manis, jadinya manis ketemu manis. Kalau aku makin manis, itu karena aku coba Mie Bakso Akung. Lol.

Tekstur baksonya mirip bakso Jawa. Agak kasar gitu. Bakso Bandung ‘kan yang aku tahu mulus kayak pipi Song Joong Ki. Mungkin Akung orang Jawa, ya?

Tahunya tahu putih. Nggak digoreng. Kayak tahu di tukang somay. Aku suka, nih. Nggak nambah kolesterol. 😀 Ukurannya besar.

Nah, pangsitnya … bersih! Isinya daging ayam saja. Tanpa jeroan atau tulang ayam atau oplosan lainnya. Aku tuh kadang menyisihkan sebagian isi pangsit karena ada yang nggak bisa dikunyah. Pangsit Akung semuanya aku makan.

Mie-bakso-akung-bandung

Aku bersyukur banget pesan yaminnya hanya 1/2 porsi. Segitu saja sukses bikin kekenyangan. Malah, mungkin yang perutnya lebih kecil dariku, tanpa mie pun cukup.

Untungnya, waktu aku datang, tempatnya belum terlalu ramai. Jadi, aku bisa istirahat, menurunkan bakso dan teman-temannya. Aku duduk di pojokan. Bangku untuk berempat.

Tempat Mie Baso Akung terbagi 2. Di tempat yang mirip rumah, dan bangunan yang besar.

Tempat yang mirip rumah seperti warung bakso biasa. Kecil dan berdempetan.

Aku duduk di bangunan yang besar Tempat ini luas. Meja dan kurisnya banyak untuk ukuran tempat bakso. Jarak antar mejanya pun cukup lebar. Untuk yang datang untuk menyendiri sesaat, tempat ini cukup oke. Entah, sih, kalau weekend. Hehe.

Bakso-akung

Kalau ada tamu yang pulang, mejanya langsung dibersihkan. Ini poin plus, menurutku. Kadang, ada tempat makan yang sampai harus kita yang minta untuk merapikan, ‘kan?

Eh, tapi, tempat bakso emang kayak gitu, sih, di Bogor. Di tempat kamu gitu, nggak?

Ketika waktunya bayar, aku agak deg-degan. Takut pulang cuma bisa naik bis. Nggak bisa naik kereta atau travel. Dan, nggak bisa jajan lain lagi. Haha.

Tapi nggak kok. Sekenyang itu aku cuma bayar sekitar Rp20.000-an. Puas? Ya, puaslah. Udah kenyang gitu. >_<

Cuma, memang satu hal yang aku sayangkan. Kuahnya manis. Eh dua, deh. Baksonya kurang mulus. Yaa, selera masing-masing, sih.

Kalau nanti ada yang ajak ke sana lagi, aku mau kok. 😀

You may also like...

1 Comment

  1. […] sudah menyenangkan. Pernah juga aku duduk lama di halte sambil menunggu salah satu warung bakso tempat makan di Bandung yang terkenal buka dan rasanya tetap nggak menjemukan. Kalau di Jakarta begitu, mungkin aku sudah […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *