Reportage

Balada Pencari Kerja di Job Fair “Job for Career”, Gelora Bung Karno

Dirgahayu ke-70 Indonesia-ku! Semoga bangsa ini semakin makmur, sejahtera, aman, dan damai. Semoga Indonesia merdeka dari pengangguran.
Hmm… Bisa nggak, ya? Mari berharap dan simak ceritaku. ^^
Tanggal 11-12 Agustus 2015, ada acara Job Fair “Job for Career” di Gelora Bung Karno. Ada puluhan perusahaan yang membuka stand di sana. Dari perusahaan sangat terkenal seperti Nestle, sampai perusahaan yang aku tidak tahu apa. Lalu, ada berapa job hunter yang datang ke sana? Huwaaaahhh… ratusan, mungkin ribuan. Bukan hanya dari Jabodetabek, bahkan ada yang jauh-jauh dari Surabaya! Jangan-jangan ada yang berasal dari pulau lain. Mereka semua ini pengangguran atau ada yang bela-belain ke job fair untuk pindah kerja? Entahlah.

Aku sudah diberi tahu oleh teman yang pernah ke sana tahun sebelumnya bahwa suasana akan sangat crowded, tapi aku tetap ke sana. Pikirku, kalau teman-temanku saja ke sana, masa aku tidak.

Aku dan temanku berangkat dari Bogor kira-kira pukul 10.00. Kami berangkat menggunakan commuter line dari Stasiun Bogor dan turun di Stasiun Sudirman. Dari Stasiun Sudirman, kami melanjutkan ke GBK menggunakan Kopaja 19. Kami tiba sekitar pukul 11.30. 
Ketika kami tiba, antrian para pelamar sudah seperti hendak menonton konser. Saat itu masih seperti hendok menonton konser. Tidak ada jalur khusus untuk mengantri, sebenarnya. Semua orang berkerumun di depan pintu yang konon adalah pintu masuknya. 
Panas Jakarta tidak sepanas melihat orang-orang sukses

Semua masih baik pada awalnya. Walau panas. Walau tanpa payung. Walau haus. Sampai masa semakin membludak dan matahari semakin terik, pintu masuk tak kunjung dibuka. Bukan, bukan karena belum waktu job fair itu dibuka, tapi karena daya tampung bagian dalam yang terbatas. Panitia memasukkan para job hunter sedikit demi sedikit. 
Teriakan-teriakan mulai terdengar, mengatai-ngatai panitia. Beberapa peserta yang sudah sampai depan pintu masuk pun mundur karena tak tahan lagi. Lebih baik mundur daripada pingsan. Aksi saling dorong pun tak bisa dihindarkan. Terjepit, dehidrasi, sesak napas. Peserta di belakang tidak tahu keadaan di depan. Seorang perempuan terhimpit antara gerbang besi dan masa yang mendorong di belakangnya. Ah, sebenarnya ini tempat mencari kerja atau ajang unjuk rasa? 
Begitu memasuki gerbang, kami tetap harus menunggu. Undakan penuh diduduki orang. Kami ber-“misi” dan ber-“maaf” untuk sampai ke atas. Dari bawah, tidak terlihat bahwa bagian atas juga penuh. Ups, sangat penuh. Berdiri mengantri lagi deh.
Kalau tadi di luar gerbang panas karena terik matahari, di dalam panas karena pengap. Aku pun memilih melipir karena antrian tidak juga bergerak. Dipikir-pikir, peluang yang ada tidak sebanding dengan usaha yang dibutuhkan. Entah berapa perbandingan antara pencari kerja dan pekerjaan yang tersedia. 
Setelah menyisi, aku masih merasa sulit bernapas, pengaruh dari berebut udara dan volume paru-paru yang berkurang karena terdorong-dorong di bawah. Aku pun ingat, saat itu aku belum sholat dzuhur. Kalau tiba-tiba malaikat maut datang bagaimana? Apa yang harus kukatakan sebagai alasan aku meninggalkan sholat dzuhur? Kalau aku berhasil diterima kerja bagaimana? Apa akan berkah kalau aku diterima tetapi meninggalkan sholat dzuhur ketika mencarinya? Aku pun memutuskan untuk turun ke luar. Mau turun saja sangat sulit. Undakan semakin penuh dengan orang-orang yang duduk. Duuh, kok nggak ada yang mau berdiri sebentar, memberikan jalan untuk orang yang lewat? Yang mau turun bukan hanya aku loh. Semakin banyak yang turun, semakin banyak ruang yang tersedia untuk orang lain, kan?
Akhirnya aku pun berhasil keluar. Aku pun berjalan entah ke mana. Yang terpikirkan olehku adalah mencari FX Sudirman, mencari musholanya. Untung saja, sebelum jauh-jauh ke FX Sudirman, aku menemukan mesjid. 
Setelah sholat dzuhur, aku berleha-leha di sana sambil menunggu ashar. Semula, aku tidak ingin kembali ke sana, tapi aku terlanjur penasaran. Seperti apa dalamnya? Pekerjaan apa saja yang ditawarkan? Kenapa orang-orang sangat ingin ke sana? Tapi, kalau aku ke sana lagi, aku akan pulang bersamaan dengan jam pulang kantor. Anker alias anak kereta pasti tau seperti apa commuter line pada jam pulang kantor. Sudah tadi terhimpit di GBK, harus terhimpit juga di kereta? Makasih deh.
Aku pun berpikir untuk datang lagi besok. Karena ada temanku yang tidak sempat ke sana pada tanggal 11, dia pun bermaksud pergi pada tanggal 12. Aku pun ada teman untuk kembali ke GBK. 
Berdasarkan pengalaman pada tanggal 11, ada dua kemungkinan untuk menghindari keruwetan di GBK: datang sangat pagi atau datang menjelang sore. Kami pun sepakat berangkat menjelang dzuhur. Kemungkinan tiba di sana pukul 14.00. Kalau terlalu sore, kami khawatir tidak kebagian tiket mengingat peminat acara tersebut sangat banyak.
Kami tiba hampir pukul 15.00. Dan, oww… tidak ada lagi kerumunan masa. Kami bisa langsung mengantri di loket lalu mengantri untuk masuk. Oh, ya, harga tiketnya Rp40.000. Mahal, ya? Emang! Harganya sama dengan harga tiket harian Popcon Asia 2015 dengan keseruan berbeda. *kumat**abaikan*
Kupikir, event ini diadakan di suatu ruangan, atau tempat yang lebih terbuka, lebih lapang. Aku tau event ini tidak diadakan di lapangan karena dari luar pun terlihat tidak ada apa-apa di lapangan selain hal-hal biasa: lintasan lari, rumput, gawang. Tapi, tidak terbayang olehku event ini hanya diadakan di . . . koridor. Koridor, lorong, kolong tribune, apa pun itu sebutannya. 
Jarak antara satu stand dengan stand di depannya sangat sempit, lebih sempit daripada gang-gang kecil di perkampungan. Orang-orang berjibaku. Arus keluar-masuk tidak teratur. Satu orang mau terus berjalan maju, satu orang ingin mampir ke stand sebelah, satu orang ingin menyeberang. Itu kalau hanya satu orang, nyatanya, ada banyak orang. 
The fighters

CV-CV menumpuk tak beraturan di setiap stand. Apakah semua akan dibaca? Kurasa tidak. Hanya CV yang benar-benar menarik yang akan dibaca. Beberapa stand bahkan sudah tutup saat aku datang. Mungkin kuota mereka sudah penuh. 

Pendingin ruangan menjadi penyelamat dari pengapnya udara yang minim. Pendingin ruangan yang ada pun bukan AC yang bisa diset sangat dingin, hanya pendingin udara portable yang diletakkan di sudut-sudut ruangan. Itu saja sudah cukup bagiku, seperti semilir angin di tengah padang tandus.
Di bagian yang cukup lapang, terdapat panggung kecil dengan kursi-kursi berderet di depannya. Seseorang sedang memberikan presentasi cara membuat aplikasi kerja melalui sebuah situs. Pada akhir presentasi, dia memberikan pertanyaan. Penonton yang dapat menjadi pertanyaannya diberikan hadiah. Senangnya.
Setelah sampai di stand terakhir, tiba-tiba saja, aku dan temanku mencium aroma somay. Hmmm… menggoda sekali. Ternyata, ada food court dadakan pada acara itu. Di tengah-tengah keramaian tadi, kami memang melihat penjual air mineral, tapi rupayanya di ujung ruangan tersedia berbagai pilihan makanan. Mulai dari sekadar camilan pengganjal perut, sampai makanan berat. Penjual case ponsel pun ada. Sayangnya, suasana tidak mendukung untuk makan. Kami memilih makan di luar. Maka, berakhirlah perjalanan kami di Job Fair “Job for Career”. 
Di mana ada keramaian, di situ ada tukang dagang
Berdasarkan pengalamanku, aku merangkum beberapa tips bagi para job hunter yang berniat mengikuti job fair di GBK. Berikut tips a la diriku:
  1. Makan dan minum sebelum berangkat! Ini adalah keharusan. Kita tidak tahu medan seperti apa yang akan kita hadapi. Lebih baik menampung energi supaya tidak pingsan.
  2. Bawa minum. Walaupun ada penjual air mineral, belum tentu bisa menjangkau tempatmu mengantri. Belum tentu juga dia datang di saat dibutuhkan. Dia penjual air mineral, bukan Superman.  
  3. Bawa camilan juga boleh. Camilannya yang mudah dicuil-cuil supaya mudah mencuri-curi makan di tengah keruwetan.
  4. Jangan menaruh uang di satu tempat. Simpan di dompet, di saku kiri-kana, saku belakang, di tas, di saku dalam tas, wherever. Walaupun belum ada laporan kehilangan ketika aku berkunjung, lebih baik berjaga-jaga. Kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan. Tanpa kejahatan pun mungkin saja dompetmu jatuh atau tasmu robek karena tertarik ke sana-sini.
  5. Pakai pakaian yang nyaman, tidak mudah mencetak keringat. Nyaman bukan berarti memakai kaos oblong, ya. Iya sih, itu nyaman, tapi kalau mau ikut tes kamera pasti hasilnya nggak banget. Cari yang bahannya nggak mencetak keringat karena keringat bisa menjadi aib.
  6. Pakai deodoran dan parfum! Tapi bukan parfum yang nyengat sampai bikin hidung gatal. Intinya adalah berbaik hati dengan orang di sekitarmu agar tidak mendapat sesuatu yang tidak seharusnya di dapat. You know what I mean.
  7. Berangkat pagi-pagi sekali atau sekalian sore, tapi jangan kesorean, nanti tutup atau banyak stand yang udah tutup.
  8. Buat CV seeeeemenarik mungkin.Pelamar yang datang sudah seperti semut mengerubungi gula, jadi mungkin HRD pun tidak akan membuang waktu membaca semua CV. Hanya CV yang mudah tertangkap mata yang akan benar-benar dibaca. Well, mungkin ada kemungkinan 1:1000 CV yang biasa saja dibaca, jika beruntung.
Oke, itu tadi tips yang kepikiran. Sekarang, saran untuk panitia:
  1. Tau nggak, waktu SNMPTN 2011, waktu pendaftaran angkatan sebelum 2011 dibedakan dengan angkatan 2011? Nah, di job fair ini, mungkin bisa dibedakan waktu kunjungan. Misalnya hari 1 jam sekian sampai jam sekian untuk lulusan SMA, jam sekian sampai sekian untuk lulusan Diploma, dsb.
  2. Dibuat garis antrian supaya antrian nggak semrawut, nggak dorong-dorongan.
  3. Tetapkan jumlah maksimal orang yang masuk dan waktu maksimal kunjungan. Hal ini supaya pencarian kerja lebih efektif dan pengunjung yang masih di luar nggak terlalu lama nunggu. 
  4. Belajar dari penyelenggara konser setingkat SM Town atau Super Show. Walaupun beda tujuan, pada akhirnya tetap mengorganisasikan orang banyak, kan? 
Cukup sekian dan terima kasih. 
Sepertinya postingan kali ini kepanjangan. Namanya juga bercerita. ^^
Semoga Pulau Jawa tidak semakin penuh. Pengangguran yang datang ke job fair saja banyak, belum termasuk pengangguran yang bergelimpangan di jalanan atau melanglang buana di sudut-sudut pulau terkecil di antara pulau-pulau besar Indonesia ini. Pulau Jawa mungkin tampak menjanjikan, tapi lebih baik membangun kampung halaman sendiri. 
Semoga para calon pencari kerja berpikir ulang untuk menjadi kaum pekerja. Berbisnis lebih baik. Yaah, bolehlah mencari kerja untuk mengumpulkan modal, setelah itu buka lapangan kerja, ya. 
Semoga di usia kemerdekaan yang ke-70 ini, Indonesia makin jaya!

 

You may also like...

9 Comments

  1. Aku belum pernah datang ke job fair, Mak. Ternyata ngeri juga ya. Eh, barangkali harus pakai map yang unik dan gonjreng agar menarik perhatian dan CV nya dibaca petugas rekrut 😀

  2. Kalau dr pengalamanmu sih, cari kerja lewat job fair kurang efektif. jumlah pelamar ga sebanding dgn jumlah lowongan.

    trus harus bayar.

    trus desak-desakan.

    trus belum tentu lowongan yang ada sesuai dgn yang kita mau.

    mending cari loker via internet aja 😀

  3. eh maap typo. maksudku *kalau dri pngalamanku..

  4. Wuiih rame bener maak, jual amakan pasti rae bingits ya maak

  5. hahaha. nanti yang ada mereka sakit mata. 😛

  6. iya. aku sih terlanjut penasaran. kalau tempo hari nggak datang kan postingan ini nggak akan. *otak blogger*

  7. ide bagus, mak! daripada nyari kerja yang nggak pasti, mending nyari uang langsung. 😀

  8. Pakai internet saja kalau mau cari kerja, biasanya di job fair malah disuruh ngisi formulir online, jadi di stand mereka sudah menyediakan komputer gitu 🙂

  9. Gak pernah ikutan acara kaya gini sih. Kebayang banget ribet plus ributnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *