Opini adalah pendapat. Sekarang ini, banyak media untuk menyampaikan pendapat. Mulai dari media sosial sampai portal-portal lain. Beropini menjadi hal yang sangat bebas.

Banyaknya media ini juga bisa untuk mengasah kemampuan menulis. Umumnya, setiap portal mempunyai ciri khas berbeda. Secara nggak langsung, kita perlu belajar tulisan yang bagaimana yang banyak diminti di portal tersebut. Hal ini biasanya berhubungan dengan segmen pembaca di sana.

Baru-baru ini, ada portal namanya Opini. Ada website yang bisa diakses di opini.id. Ada mobile Apps di iOS dan Android. Ciri khasnya warna hijau. Ummm … hijau yang mendekati biru. Mirip turquoise.

Apa Saja Pembeda Opini?

Aku jelaskan singkat saja, ya. Mobile apps dan website-nya mudah banget diakses. Jadi, bisa coba-coba sendiri. 🙂

1. Siapa saja bisa menulis

Registrasinya bisa menggunakan surel, Twitter, atau Facebook. Setelah masuk, bisa langsung menulis, menanggapi tulisan orang lain, menambah artikel di topik yang sudah ada, dan sebagainya.

2. Tampilan unik

Kalau biasanya informasi disajikan panjang dari atas ke bawah, tampilan di Opini agak berbeda. Bentuknya slide, digeser-geser kalau mau lanjut baca.

Sebagai pembaca, aku suka yang begini. Jadi, terlihat lebih ringkas. Nggak bikin horror duluan karena melihat tulisan panjang dari atas ke bawah. Lebih suka lagi kalau tiap slide tulisannya singkat. Yaaa, 8 baris, deh. Hehe.

Selain tulisan jadi terlihat ringkas, setiap slide juga bisa dipakaikan gambar. Bisa jpeg, png, atau bahkan gambar bergerak: gif.

3. Bisa beropini secara anonim

Nggak harus log in kalau cuma mau memberi opini di salah satu artikel atau ikut polling. Yaaa, in case mau kasih pendapat, tapi nggak mau dikenal.

4. Bebas menulis topik apa pun

Bebas bas bas. Mau menulis pro-kontra politik, curhat gebetan, review tempat wisata, apa pun itu bebaaass kayak jiwa anak muda. Memang, sih, Opini ditujukan untuk pembaca-pembaca muda atau yang jiwanya muda atau ingin berjiwa muda.

So far, belum ada moderasi. Kelebihannya, jadi bisa menuangkan apa pun. Kelemahannya, harus mengolah tulisan supaya tidak menimbulkan perang.

Wait, yang barusan aku bilang kelemahan bisa jadi kelebihan juga. Kita jadi bisa belajar menyampaikan pendapat dengan benar tanpa menimbulkan konflik. Dan, belajar menahan diri untuk nggak menyerang orang lain dengan akun anonim. 😁

Hal yang masih aku sayangkan dari Opini dari segi kontributor adalah belum adanya fitur edit. Setelah di-publish, kalau ada typo, ya cuma bisa pasrah atau menulis ulang.

Selain itu, kalau dari segi pembaca, topik-topik yang ada di Opini belum disusun berdasarkan kategori. Aku, sih, cenderung pemilih untuk membaca berita. Kalau maunya membaca travel atau food tapi yang muncul paling atas justru artikel bola ‘kan malas, ya. Kalau belum banyak yang menulis, mungkin nggak begitu masalah. Tapi, kalau sudah banyak jadinya ribet. Hehe.

Pas buka Opini, tahu-tahu suporter bola banyak yang lagi mencak-mencak, ‘kan jadi malah langsung tutup lagi. Eh, no offense dengan bola, ya. Cuma contoh.

Fitur-fitur tulisan ala internal Opini, sih, sudah oke menurutku. Kayak Meng-Giring Nalar atau Obrolan Kulkas. Penyajiannya kayak receh banget, tapi isinya kadang “dalam”.

After all, yang paling aku suka dari Opini adalah kemudahannya untuk diakses. Aplikasinya nggak berat di ponselku. Versi web-nya … aku belum coba. Aku suka banget dengan versi aplikasi dan malah jadi belum coba versi web. Hehe.

Jadi, apa opinimu tentang Opini.id?

You may also like...

2 Comments

  1. baru tahu tentang opini.id

  2. senang bisa juga nulis di sana, bagus aplikasinya dan menambah skill saya dalam menulis hihi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *