Hari gini, siapa sih yang nggak punya social media sama sekali? Nggak gaooll deh nggak punya socmed. Emak-bapakku aja punya.
Sekarang, mau curhat, bikin status di Facebook. Mau ngomong-ngomong nggak jelas, berkicau di Twitter. Nggak tau mau ngapain, buka Instagram. Lagi senang, bahagia, sedih, marah, semua dibagikan di socmed.

Ada lahan, ada lapak. Kelakuan orang zaman sekarang yang sedikit-sedikit mampir ke socmed bisa dijadikan ladang emas bagi sebagian orang. Dibukalah lahan jualan di socmed. Toko-toko online bertebaran. Di Facebook, Twitter, Instagram, sampai di tempat yang awalnya hanya untuk chatting pun ada, seperti di Line. Mau cari apa pun sepertinya ada.

Tapi, di socmed nggak cuma asal jualan, nggak cuma asal ngiklan. Ada tata caranya supaya jualan laris, belanja aman, buat yang hobi ngebuzzer juga supaya linknya dilirik. Mengenai hal ini, Blogger Bogor mengadakan acara Kelas Bogor untuk membahas Social Media Commerce. Pembicaranya dalah Mas Erick (@InsideErick) dari Internet Sehat dan Mas Fahmi (@fahmi_ph) dari Jualio. Oh, iya, Kelas Bogor ruting diadakan tiap bulan dengan tema dan tempat berbeda. Salut deh sama komunitas Blogger Bogor yang giat menebar ilmu.

Kelas Bogor kali ini berlangsung pada hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2015 lalu, bertempat di Pajajaran Suites Hotel, Bogor. Iya, di hotel! Gaya banget kan. Pendaftarannya pasti mahal, ya? Nggak kok, Kelas Bogor ini gratissss. Daftarnya cuma mention Twitter @KelasBogor, tunggu balasan, udah deh terdaftar. Udah gratis, di hotel, dapat coffee break pula. Aku dan buibu blogger lain pun bahagia.

Perkembangan teknologi juga berpengaruh pada cara orang mengakses internet. Ngaku deh, lebih sering internet pakai laptop atau smartphone? Tentu jawabannya smartphone. Yep, sebagian besar orang memang mengakses internet lewat smartphone. Sering kan kalau lagi nunggu orang, lagi di kendaraan, atau malah lagi makan buka-buka socmed. Buka socmed yang cuma iseng-iseng ini pasti lebih enak dilakukan lewat smartphone. Untuk perangkat lainnya, biasanya hanya digunakan untuk kebutuhan tertentu.Sesi pertama oleh Mas Erick. Beliau membuka dengan pemaparan perkembangan pengguna internet zaman sekarang. Beliau menerangkan bahwa sekarang semakin banyak pengguna internet, khususnya social media. 49%-nya berada di rentang usia 18-25 tahun. Usia yang masih tergolong muda, ya? Usia dengan keinginan yang masih banyak.

Zaman makin maju, socmed pun makin beragam. Dulu cuma kenal Facebook, sekarang hampir semua socmed punya. Twitter, Path, Instagram, semuanya ada akunnya. Biar kekinian gitu loh. Tapi, sebagai pelaku pasar, yang nggak cuma memakai socmed supaya dibilang gaya, harus tahu socmed mana yang paling diminati. Dan, jawabannya adalah . . .

Facebook!

Socmed buatan Mark Zuckerberg ini masih menjadi media paling ngehits dari dulu sampai sekarang. Jadi, toko-toko online pun masih banyak yang menggunakan Facebook sebagai lapak mereka. Menurutku, memang Facebook ini ramah pengguna sih. Posting tulisan panjang kali lebar kali tinggi bisa. Ngetag orang bisa. Bikin album foto bisa, supaya pembeli gampang lihat-lihat foto sesuai kategori. Bikin grup bisa, tau-tau kita udah dimasukin ke suatu grup. Bikin fanpage juga bisa, nggak perlu berteman tapi news feed tetap bisa diikuti.

Bukan cuma Facebook sih, yang namanya socmed memang enak dipakai lahan jualan. Sebagai pembeli, nyari barang di socmed pun gampang. Kemudahan ini yang sering membuat kita lupa dengan beragam resiko yang ada. Ibaratnya nih ya, saking tiap hari makan nasi, lupa deh kalau makan nasi di tempat sembarang bisa aja banyak kumannya, bisa kena diare deh (Pengibaratan versi Afifah Mazaya).

Dengan mudahnya, kita konfirm pertemanan padahal nggak kenal itu siapa. Berinteraksi dengan siapa aja, tentang apa aja, padahal nggak kenal juga. Privasi dilupakan. Main asal klik, akhirnya kena jebakan betmen. Parahnya nih, kalau keamanan akun nggak diatur. Password nggak unik, terlalu biasa. Buat log in, nggak pakai two step verification. Kalau gitu mah, kalau kena hack jangan nangis.

Lalu, buat yang sering belanja orang, mudah banget dirayu. Jadi cewek, jual mahal dikit nggak papa kok *kabur*. Terus, percaya-percaya aja dengan yang too good to be true. Lihat tas branded harga ratusan ribu, langsung beli. Padahal mah… kw 10. Mending kw 10, masih dikasih barang. Kalau uangnya dibawa lari?

Nah, supaya nggak membuat para penjahat tertawa bahagia, ini beberapa tips aman dalam berbelanja online di socmed:

  • Lakukan riset pada akun atau website tempat berbelanja. Periksa nomor telepon, cari testimonial, bisa juga cari info di Google. Kalau sekiranya ada yang nggak beres, sebaiknya tinggalkan saja.
  • Periksa paket barang dan baca deskripsinya. Jangan sampai karena tertarik dengan gambar, langsung beli. Begitu barang diterima, ternyata zonk. Waktu komplain, ternyata sebetulnya sudah dijelaskan di deskripsi produk. Nggak bisa apa-apa kan akhirnya.
  • Curiga kalau ada barang bermerk terkenal tapi diskonnya besar.
  • Jangan buru-buru tergoda dengan penawaran barang murah, yang biasanya dikirim lewat email spam. Mending kunjungi situs resmi penjual dan beli di sana.
  • Cari tanda kalau situs itu aman. Waktu buka situsnya, cari tanda gembok di samping kiri, alamat web harus didahului https, bukan http. Dengan https, informasi pembayaran dienkripsi dulu, jadi lebih aman.
  • Amankan PC dan smartphone. Minimal PC dilengkapi antivirus. Lebih bagus lagi dipasangi anti spyware dan firewall juga.
  • Pertimbangkan cara pembayaran. Kalau biasanya pembayaran dilakukan dengan kartu, pembayaran dengan transfer bank, PayPal, atau COD lebih aman. Sekarang marak pencurian nomor kartu kredit.
  • Periksa harga total: harga barang ditambah ongkos kirim atau biaya handling. Mungkin saja ada diskon. Bandingkan juga dengan situs lain.
  • Simpan bukti transaksi. Deskripsi produk dan harga, kwitansi, juga salinan email penjual dan pembeli. Screenshot aja kali, ya, supaya bukti kalau yang dituliskan dulu tuh begitu.

Gampang kan? Intinya adalah: Waspada!

Pembahasan untuk pengguna socmed dan pembeli online sudah. Lanjut ke sesi kedua oleh Mas Fahmi. Giliran pembahasan untuk para penjual online.

Di sesi ini, kembali sedikit diulas tentang “keajaiban” socmed. Setiap bulan ada 1,44 Milyar pengguna aktif di Facebook, dan ada 684.478 konten dibagikan di Facebook tiap menit. Tiap menit juga ada 3600 photo di-share di Instagram. Daaan, masih banyak angka-angka lainnya yang menunjukkan kalau socmed dianggap dunia pararel, dunia itu akan memiliki waktu lebih cepat daripada dunia nyata. Kalau di sini baru hitungan hari, di sana sudah hitungan bulan. *oke, aku memang kebanyakan nonton film*.

Kembali ke topik, kenapa socmed menjadi lahan yang bagus untuk membangun bisnis online? Kalau tokonya nggak ada di socmed, pasti setidaknya ada iklannya. Malah sekarang ada buzzer-buzzer yang iklannya nggak kelihatan kayak iklan, kalimatnya biasa tapi keselip merk atau link tertentu.

Alasan itu semua bisa terjadi adalah karena….
Lebih dari 50% orang mengandalkan socmed untuk membuat keputusan sebelum membeli barang. Cari-cari testimoni, atau kepengaruh teman di socmed. Begitu beli dan barang diterima, langsung deh ngetweet: “Makasih ya, barangnya udah sampai. Recommended banget deh pokok!”. Tweet itu lalu dibaca followers lain dan followers juga jadi kepengaruh. Promo di socmed sekarang kayaknya sudah menjadi hal yang penting demi kelangsungan brand.

Ngepost di socmed juga nggak asal ngepost. Coba deh, kalau nemu kalimat “JUAL BLABLABLA” di Facebook. Pikiran yang langsung muncul adalah “Apaan sih nih orang!? Unfollow/unfriend!”, nah loh.

So, learn before social media posting and learn to social media insight. Apa nih yang lagi jadi trend di socmed? Followers-ku orangnya seperti apa? Produk ini kira-kira laku nggak, ya? Gimana caranya supaya produk ini kelihatan menarik? Gimana caranya supaya mereka mau beli?

Untuk para pemasar, ada langkah-langkahnya nih:

Pertama, growth. Langkah ini berfokus dalam memperluas jaringan. Menambah followers, likes, fans.
Kedua, engagement. Kalau sudah punya banyak followers, likes, atau fans, pikirkan gimana caranya supaya makin banyak yang membicarakan kita atau mau berinteraksi dengan kita.
Selanjutnya, sentiment. Pekerjaan yang harus dilakukan setelah engagament adalah meningkatkan rasio percakapan positif mereka. Hal ini tentu sangat bermanfaat.
Terakhir, leads. Ya sudah, bawa mereka ke dalam penjualan dan transaksi langsung.

Menarik pengikut, sudah. Masih ada yang kurang? Oh, iya, cara supaya mudah konten ditemukan? Jawabannya adalah dengan menggunakan hashtag. Begitu satu hashtag diklik, biasanya kan muncul Tweet atau Instagraman lain muncul yang menggunakan hashtag yang sama.
Bagi para pemilik toko online, tentu mau jualannya laris manis dan terus mengembangkan sayap. Sayangnya, kadang kepentok dengan customer yang tanya-tanya terus. Duh, cape juga kan ngeladeninnya. Mending kalau ujung-ujungnya beli, kalau nggak? Cape deh. Coba-coba pakai social media commerce platform, traffic malah pindah ke tempat mereka.
Karena itu, penting untuk mencari social media commerce platform yang bisa menjaga branding kita, website, atau blog, tanpa traffic pindah ke website mereka, seperti Jualio. Selain tidak memindahkan traffic, Jualio juga mendukung direct to fans selling dan banyak model pembayaran. Jadi, begitu calon pembeli melihat produk di socmed, langsung akan dibawa ke halaman pembayaran. Kalau pembeli dibawa lagi ke deskripsi produk atau bahkan ke halaman utama, yang ada bisa nggak jadi beli. Makin kebanyakan langkah, makin lama, makin calon pembeli punya waktu untuk berpikir. Kalau pakai mikir-mikir lagi, kemungkinan nggak jadi beli lebih besar.
Bisa saja calon pembeli sebetulnya nggak niat belanja online, tapi dia lagi makan, tangan kanan pegang sendok, tangan kiri pegang Smartfren Andromax C2, scrolling layar, ngelihat produk menarik, tertarik, pengin beli. Selanjutnya, apa yang akan dilakukannya? Pasti cari cara beli. Dalam situasi santai begitu, dia nggak akan mau kebanyakan mikir. Kalau dibawa ke lembar lain dulu, dia bisa jadi malas, juga tanpa sadar mikir benar-benar mau beli atau tidak. Kemungkinan nggak jadi beli. Kalau langsung dibawa ke metode pembayaran, langsung deh transaksi.
Makanya, mulai sekarang, jangan biarkan calon pembeli kebanyakan mikir. Cus, langsung kasih keranjang belanja dan bawa ke kasir.
Setelah penjelasan dari Mas Fahmi, para peserta Kelas Bogor makin melek tentang jual-beli online. Walaupun begitu, mungkin masih ada yang mengganjal di hati. Karena itu, lanjut ke sesi tanya jawab. Para peserta pun mengajukan pertanyaan kepada Mas Erick dan Mas Fahmi.
Kemudian, diadakan kuis dan pengumuman pemenang live tweet. Walaupun acara gratis, tetap bertabur hadiah dong.
Pemenang live tweet dan kuis diapit kedua narasumber

 

Demikianlah, acara pun berakhir bahagia selamanya. Eh, maksudnya acara ini memberikan kebahagian kepada para peserta lewat ilmu dan keseruannya.
Can’t wait for next class! ^^

 

You may also like...

3 Comments

  1. facebook tetap masih jadi jawaranya 🙂

  2. iyap. Facebook selalu upgrade. ^^

  3. FB ngga ada matinya. Wah, dirimu ikutan kelas ini juga ya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *