Hello!

Selamat hari Rabu! Puasanya masih lancar, kan?
Aku mau jadi setan dulu, yaa. Posting makanan. Hihi. Makanannya yang bisa dimakan bisa dimakan tanpa mengenal cuaca. Hari hujan, makanan ini dicari. Bilangnya, enak dingin-dingin makan yang panas. Hari panas, makanan ini pun tetap dicari. Bilangnya, mau yang segar, yang biasanya merujuk pada kuahnya yang rasanya ringan.

Jadi, ceritanya, hari itu (sebelum Ramadan), aku sebetulnya harus mencari sesuatu. Lalu, aku terpikir mencari hal lain: bakso. Yah, menghilangkan be to the te kalau pencarian utama tidak berhasil. Aku, sih, bilang ke temanku mau berburu bakso.Urusan sesuatu yang harus dicari itu kalau ketemu sepanjang jalan syukur, tidak pun tak apa. Pretend to be anak nakal itu memberikan kepuasan tersendiri. Penghilang beteeeeee. (Pretend atau memang nakal, Fah?)

So, aku tidak menemukan apa yang seharusnya ditemukan itu. Ya sudah, mlipir ke tempat bakso saja.

Aku bukan pecinta bakso, tapi aku suka Bakso Seuseupan. Waktu kecil, aku pernah beberapa kali ke tempat itu. Karena waktu itu tahunya cuma asal sampai, aku tidak terlalu memerhatikan jalan. Dalam bayanganku, tempatnya ada di pertigaan atau perempatan jalan.

Aku bahkan tidak yakin naik angkot apa. Karena namanya Bakso Seuseupan Ciawi, aku pun naik angkot jurusan Ciawi saja. Untungnya, temanku baik. Tidak masalah diajak nyasar. Lol.

Di jalan, aku sambil googling. Mungkin saja bakso itu sudah tidak ada. Kalau baru tahu tidak ada setelah sampai sana kan sedihnya berlipat-lipat. Kalau sudah tahu ketika masih di jalan, kan bisa cari alternatif lain.

Kata Google, sepertinya bakso itu masih ada. Sepertinya.

Aku sempat mengira perjalanannya akan terasa jauhhh. Ciawi kan memang jauh. Tapi, entah kenapa, malah tahu-tahu sudah mentok.

Kami diturunkan di depan rumah sakit. Kata sopir angkot, tinggal jalan sedikit, nanti ada pertigaan. Yes, betul, kan? Pertigaan. Hehe.

Sampai di pertigaan, kami langsung melihat kedai bakso. Tulisannya, sih, Bakso Seuseupan. Jadilah kami masuk.

Tapi, ada yang menurutku sangat janggal. Kok sepi? Apakah pamornya sudah turun? Sewaktu kami datang, sedang tidak ada tamu lain. (Setelah beberapa waktu, ada beberapa yang take away). Kecurigaanku bertambah, ketika melihat tulisan “Bakso Solo Seuseupan“. Memangnya Seusepan baksonya bakso Solo?

Mbuh lah. Aku terlalu lapar untuk berpikir. Lagipula, kami tidak melihat plang bakso lain di jalan itu.

Kami memesan masing-masing satu porsi bakso campur alias dengan mie dan bihun. Minumannya, temanku memesan jus alpukat. Aku, sih, air mineral saja. Hehe.

Tempatnya lumayan besar untuk ukuran kedai bakso. Sepertinya itu teras rumah yang disulap menjadi kedai bakso. Oke, kedai bakso, jus, dan pempek. Ada kipas angin, musola kecil, dan ada . . . penyu! Penyu hidup betulan, loh. *kemudian aku norak*

Pesanan kami pun datang. Daaaan . . .

Aku pun cengok.

bakso-solo-seuseupan-ciawi-bogor

Sepengetahuanku, ciri khas bakso Seuseupan adalah gajih kering. Tapi, di mangkuk kami berdua tidak ada gajih kering sama sekali. Aku pun berpikir, mungkin harus memesan dengan jelas. Dulu, kan, aku dipesankan oleh ibu, bapak, om, tante, siapa pun yang mengajakku. Aku tidak tahu bagaimana mereka memesan.

Aku mengadukan hal ini kepada temanku. Dia pun dengan baik hatinya menghampir tukang bakso itu lagi untuk meminta gajih kering.

Dan, seperti sudah kita semua kira, kami salah tempat, Saudara-saudara.
Sedih. Iya, sedih.

Paling tidak, rasa bakso di tempat yang salah itu tidak salah. Baksonya not bad walaupun lebih mirip bakso Sunda daripada bakso Solo. Jusnya, kata temanku, enak. Maksudnya, jusnya kental. Harga seporsi mie bakso campur Rp11.000. Kalau jusnya, aku lupa berapa.

Karena sudah terlanjur terobsesi, aku mengajak temanku untuk pindah tempat setelah selesai di tempat itu. Dia sampai menanyakan, “Fah, nggak kenyang?”

Makan bakso kan nggak bikin kenyang. 😛 (Ini juga salah satu alasan aku kurang suka bakso)

Buka kartu banget, sih, Fah. Huehehe. Biarin. Makan untuk bahagia. Yang penting, aku akhirnya menemukan Bakso Seuseupan di Ciawi. 😀

Lokasinya tidak jauh dari tempat Bakso Solo Seuseupan tadi. Jadi, dari tempat turun angkot, begitu menemukan pertigaan, kami jalan lurus. Ternyata, harusnya belok. Tempatnya juga tidak jaug dari belokan itu. Plangnya tidak terlalu terlihat, sih. Adanya di atas. Memang dasarnya rezeki tukang Bakso Solo Seuseupan tadi juga, sih.

Tempatnya tidak terlalu besar. Pastinya, tidak ada penyu. Tapi, ada sertifikat halal MUI ditempel di dinding. Sepertinya sudah lama, sih.

bakso-seuseupan-ciawi-bogor-halal-mui

Kedai ini juga tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang makan di sana. Oh, ya, aku datang di hari kerja, tapi di jam makan siang. Ramainya justru oleh pekerja.

Aku memesan bakso saja, tanpa mie ataupun bihun. Walaupun aku bilang “Makan bakso kan nggak bikin kenyang”, aku kan cuma mau gajih keringnya saja. Kalau ditambah mie atau bihun, semakin banyak makanan lain yang masuk ke mulut, nikmat gajih keringnya akan berkurang. #apasihfah

Temanku hanya pesan jus. Nah, kalau ini, aku mau bilang, “Kok nggak takut kembung?”. Tahu, kan, gelas jus sebesar apa? Mungkin isinya sekitar 300-400 mL. Kalau dia minum dua gelas, berarti dia minum 600-800 mL, bahkan mungkin 1 Liter, dalam waktu berdekatan. Buatku, sih, yang seperti itu yang bikin kenyang. Tapi, terserah dia juga, sih. Aku bilang begini, tapi memangnya volume seporsi mie bakso campur ditambah seporsi bakso lagi berapa liter? Hehe.

Pesanan kami datang hampir bersamaan. Ini dia penampakan Bakso Seuseupan.

bakso-seuseupan-ciawi-bogor

Kalau ini, penampakan jus pesanan temanku. Aku foto karena mereka mengemas jus untuk dine in seperti untuk take away. (Kata temanku, jusnya agak encer)

bakso-seuseupan-ciawi-bogor-jus-buah

Oke, mari kita nikmati Bakso Seuseupan yang aku rindukan!

Baksonya enak. Can’t find another word to describe it. Seperti yang aku bilang, aku kurang suka bakso, tapi aku suka Bakso Seuseupan. Walaupun pada dasarnya aku yang aku buru adalah gajih kering, bukan berarti aku tidak mau baksonya. Baksonya masuk ke dalam list bakso-yang-langsung-aku-iyakan-kalau-ditawari (kecuali dalam rangka jaim).

Nah, gajih keringnya bagaimana? Juara! Rasanya lumer. Begitu gajihnya habis, rasanya berubah menjadi rasa kesedihan. #inijugapasihfah

Tulisan ini mungkin agak aneh dan lebay karena aku menulisnya selagi lapar. Huhu.

Oh, ya, aku pesan baksonya saja, kan. Aku pikir, hanya akan kecil dan bakso besar yang biasa. Ternyata, ada bakso isi telur puyuh juga. Kalau begitu, menu bakso telor spesial jumlah baksonya berbeda atau baksonya memang berbeda, ya? Pakai telur ayam, mungkin? Aku baru kepikiran sekarang. Kemarin-kemarin terlalu girang. Lol.

Beberapa hari kemudian, aku makan Bakso Seuseupan lagi di cabang Bangbarung. Aku pesan baksonya saja lagi. Di sini, tidak diberi bakso telur, hanya bakso besar biasa. Mungkin beda SOP. Bagaimanapun, yang penting, rasa bakso dan gajih keringnya sama. Dan, sama seperti di Ciawi, ada pangsit juga untuk tambahan teman makan. 😀

bakso-seuseupan-bangbarung

Harganya?

Seporsi baksonya saja Rp15.000. Worth it-lah, ya.

bakso-seuseupan-daftar-menu-harga

Bakso Seuseupan ini ada di empat lokasi di Bogor. Pusatnya di Ciawi, di Jalan Seuseupan (karena itu namanya Bakso Seuseupan). Cabangnya ada di Gunung Batu (bukan Gunung Batu yang di Jonggol), Bangbarung, dan Taman Cimanggu. Sepertinya, aku pernah mencoba di semua lokasi itu. Sewaktu kecil. 

Pokoknya, untuk pecinta bakso, kalau mampir ke Bogor, harus mencoba bakso ini. ^^

You may also like...

8 Comments

  1. seuseupan itu apa karena tempatnya nyempil gtu ya mba? btw itu gambarnya lucu, bikin dimana?

  2. Nggak nyempil, cuma mungkin kami aja yang kurang merhatiin. Hehe.
    Gambarnya bikin pakai Indesign dan Illustrator, Mbak.

  3. Nggak nyempil, cuma mungkin kami aja yang kurang merhatiin. Hehe.
    Gambarnya bikin pakai Indesign dan Illustrator, Mbak.

  4. aku pikir semua baso itu sama. ada bakso dan mie. ternyata ada juga yang namanya bakso solo dan ciawi. aaa, salah aku bacanya siang-siang begini XD

  5. seuseupan apak kesurupan ia sih? eh (kemudian diagmpar)

    ane suka yang namanya bakso hampir tiap wekend makan ini kesukaan. kalo bakso kesurupan ini sperti apa rasanya belum tahu , patut dicoba jika kesana.

  6. nanti dicoba ah kalo maen ke bogor

    salam kenal mbak

  7. Waduh euy ngebacanya aja deg-degan.. Tolong abdi mamah… Aku pengen bakso seuseupan..

  8. Wihii nyammi.btway emang kalo bakso solo ciri khasnya apa ya mba. Hihi aku kok selama ini ya makan aja… judulnya sama bakso
    . Hihii ga tau deh bakso sunda, bakso solo, ato bakso betawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *