Tema ODOP yang ini cukup serius, ya.

Berat-nggak-berat menuliskannya.

Nggak berat karena berdasarkan yang aku pahami, kalimat-kalimat Pancasila nggak bertentangan dengan Islam.

Berat karena yaaa, mau nulis apa lagi? Kalimat di atas sudah mewakili.

Case closed. Harusnya.

Aku mau menjabarkan menggunakan Alquran atau hadits, tapi khawatir salah sebut. Aku sudah mencari tahu beberapa ayat Alquran yang mungkin sesuai, tapi yah kalau aku belum betulan baca tafsirnya, tetap saja perlu hati-hati.

*Masih harus nabung untuk beli set tafsir Alquran. Harganya sejutaan, sih.**malah curhat*

Intinya, sepemahamanku, Pancasila nggak bertentangan dengan ajaran Islam.

Perumusan sila-sila Pancasila mungkin ada “drama”-nya. Tapi, alhamdulillah, kalimat-kalimat yang lahir yang seperti kita kenal sekarang. Wallahu’alam.

Sekarang, bagi yang sekolahnya seangkatan denganku, pasti ingat pelajaran PPKn sewaktu, ‘kan? Pelajaran paling mudah, apalagi kalau soalnya pilihan ganda. Hehe.

Judul-judul babnya adalah sifat-sifat manusia. Contohnya, ada bab yang berjudul “Tenggang Rasa”. Aku paling ingat judul bab itu karena baru kali itu aku mendengar istilah tersebut.

Di dalam bab, akan dijelaskan makna dari istilah dan perilaku yang sesuai. Lalu, ada pengaitan dengan Pancasila, seperti:

Sifat tersebut sesuai dengan Pancasila sila ke-…

Hayo, tenggang rasa sesuai Pancasila sila keberapa?

Anyway, aku jadi kepikiran.

Dalam mengamalkan Pancasila dan sifat-sifat lain yang disebut baik oleh manusia, mungkin ada hukum-hukum Islam yang menjadi batas.

Misal, ada laki-laki nonmahram yang chat curhat panjang lebar. Nah, perlu hati-hati ‘kan, Sist? Jangan sampai empati bikin diri terjerumus khalwat. Plus, kalau nggak dicegah, berarti menjerumuskan orang itu ke jurang yang sama.

Di sini perlu pintar-pintar memaknai yang betul-betul baik atau baik sekadarnya. Lebih penting empati soal dunia atau akhirat?

Kalau sudah ada perilaku chat begitu, mending diarahkan ke pihak yang berwenang yang sama-sama laki-laki. Psikolog atau apalah.

Dari contoh kasus di atas, mungkin kelihatan tega. Orang curhat kok malah diarahkan ke orang lain. Mungkin kelihatan nggak sesuai dengan kaidah kehidupan yang umum.

Tapi, kalau ditelusuri lebih jauh, justru hal itu mewakili empati yang sesungguhnya secara ajaran Islam. Empati demi supaya orang tersebut nggak kena double misery. Sudah kena masalah dunia sampai butuh curhat, jangan sampai kena masalah juga di akhirat gara-gara tempat curhat yang nggak tepat.

Yak, sekarang soal ujian:

Kasus di atas sesuai dengan pengamalan Pancasila sila ke berapa?

Hehe.

Wah, ternyata tulisan ini bisa agak panjang juga, ya. Lumayan juga.

Pokoknya, memahami sesuatu butuh ilmu dan kepala dingin supaya nggak mudah emosi. Dan, perlu hati yang kuat supaya nggak nyasar.

Wallahu’alam.

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *