Friendship, Loyalty, Comradeship

“We would rather sacrifice ourselves than betray our friends.”
– Erza Scarlet, Fairy Tail episode 23-

Hari ini gw nonton Fairy Tail episode 23 di Animax. Sebetulnya sudah pernah ditonton sebelumnya di pc, tapi karena di pc menggunakan bahasa Jepang dan di Animax menggunakan dubbing bahasa Inggris, jadi lebih mengena. Bahasa Jepang gw masih jauh dari bahasa Sunda gw yang belepotan.
Nah, episode 23 ini, ceritanya bisa dilihat di youtube karena kali ini gw tidak akan membahas sinopsis, cukup to the point saja.
Bagian ini sangat menunjukkan betapa mereka saling menjaga, melindungi, memiliki, mengasihi. Semua anggota serikat memiliki arti yang sangat berharga bagi mereka (kecuali bagi Laxus, mungkin). Ketika salah satu dari mereka disakiti, semua anggota lain dan master, langsung bergerak melindungi. Bahkan mereka mengorbankan diri sendiri.
Bagi gw, ini suatu hal yang janggal. Maksud gw, kalau di suatu komunitas (keluarga, sekolah, perkumpulan, dll) ada seseorang yang disakiti, mungkin semua orang akan bergerak. Tapi gimana kalau musuh menawarkan tidak akan menyerang lagi kalau menyerahkan seorang anggota dari pihak yang dimaksud? Mudah saja, daripada menelan lebih banyak korban, lebih baik menyerahkan seseorang itu, kan? Tapi tidak dengan mereka. Mereka justru rela mengorbankan nyawa untuk satu orang.
Walaupun Mira bilang itu bukan hanya untuk Lucy, hal itu tetap mengesankan. Mira mengatakan hal itu mereka lakukan untuk menebus teman-teman mereka yang menjadi korban pada penyerangan sebelumnya. Tapi tetap saja, kalau menyerahkan Lucy, bukankah masalahnya menjadi lebih mudah?
Di sini lah gw terkesan. Sangat bertentangan dengan kehidupan yang gw perhatikan di lingkungan sekitar gw. Jangan saling menlindungi, yang ada justru bersaing tidak sehat, saling menyabotase. Kalau pun ada yang seperti itu, mungkin sedikit. Atau setidaknya orang yang memilih mengorbankan nyawanya dibandingkan berkhianat, itu entah ada atau tidak.
Seandainya hal itu diterapkan pada persaudaraan umat Islam. Bukankah semua umat Islam bersaudara? Tapi masih ada kotak-kotak. Apalagi ketika ada yang tidak sejamaah memerlukan bantuan, mikir dulu deh, nolongin juga masih ada “rasa”. Ditambah lagi ketika kita sendiri terdesak dan ada orang lain yang memerlukan bantuan, mikirnya beribu-ribu tahun. Memang tidak semua seperti itu sih.
Yaah, berjamaah boleh, tapi bukan berarti jamaah yang lain buruk. Kalau diibaratkan dengan Fairy Tail, mereka itu berkelompok, tapi tetap satu. Kita juga sama, berkelompok tapi tetap satu. 
Gw ngasih perbandingan dengan anime. Anime itu diciptakan manusia. Tapi penciptaan suatu karya memiliki unsur ekstrinsik latar belakang kehidupan pengarang. Mungkin kaum nonis di sana seperti itu, memiliki ikatan kuat satu dengan lain.
Kalau mereka saja bisa, kenapa kita tidak? Karena kita terlalu besar? Kalau begitu, kita juga memerlukan alasan besar? What about Palastine?
Gw gak akan membahas terlalu panjang antara Fairy Tail dan persaudaraan kita, yaaa tau kali alasannya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *