Reportage

50 Tahun Bina Swadaya Memberi Semangat

   

Usia 50 tahun bagi seorang manusia mungkin merupakan usia yang sudah sangat matang. Ada yang semakian bersinar. Ada yang sudah semakin menyiapkan hari-hari ke depan.

Begitu juga bagi suatu lembaga. 50 tahun bukan lagi usia muda. Konsisten bukanlah hal mudah. Namun, bagi Bina Swadaya, usia 50 tahun harus menjadi bukti bahwa lembaga ini selalu berkembang dari hari ke hari.

Sebentar … Apa itu Bina Swadaya? Familiar dengan namanya? Jujur saja, aku kurang familiar dengan nama tersebut. Tapi, kalau disebut-sebut majalah Trubus, aku cukup mengenal media tersebut.

Dulu, majalah ini menjadi salah satu majalah yang selalu ada di rumah. Sampulnya identik dengan tanaman atau ikan. Saat itu, sedang musim ikan lou han. Majalah ini pernah menjadi penolong dalam membuat tugas kliping.

Setelah sekian lama tidak mendengar kabarnya, barulah aku tahu majalah Trubus berawal dari Bina Swadaya.

Bina Swadaya adalah suatu lembaga yang fokus melayani dan memberdayakan masyarakat. Bina Swadaya telah melakukan aksi pendampingan, pembelajaran, sampai penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

Tanggal 14 Juli 2017, Bina Swadaya menggelar perayaan setengah abad di Hotel Bidakara, Jakarta.

Bina-swadaya

Hajat Setengah Abad

Bina Swadaya semula bernama Yayasan Sosial Tani Membangun (YSTM) yang didirikan oleh Ikatan Petani Pancasila pada 1967. Tahun 1969 YSTM menerbitkan majalah pertanjan Trubus. YSTM juga terus melakukan pendampingan dan pengembangan usaha pertanian.

Semakin berkembangnya lembaga ini, jaringan pun terus dibangun. Bina Swadaya membangun jaringan nasional maupun internasional.

Rekam jejak Bina Swadaya ini dirangkum menjadi sebuah buku yang berjudul “Palugada (Apa Lo Mau Gue Ada): Hajat Setengah Abad“. Nama yang cukup nyeleneh, ya? Pemberian judul Palugada ini sesuai dengan keberadaan Bina Swadaya yang merangkul beragam aspek, terutama yang berhubungan dengan alam.

Trubus Kuala Swadaya

Lembaga pemberdayaan masyarakat tidak mungkin bergerak sendiri dalam mengembangkan masyarakat. Partisipasi masyarakat menjadi salah satu faktor pendukung kemajuan.

Di antara masyarakat, tentunya terdapat tokoh yang menjadi perintis usaha pemberdayaan.

Bina Swadaya memberikan penghargaan kepada generasi muda perintis pemberdayaan masyarakat. Penghargaan yang dinamakan Trubus Kuala Swadaya ini sudah berlangsung sejak 2007. Penganugerahan ini diharapkan dapat menjadi motivasi dan semakin mendorong masyarakat untuk terus melakukan kegiatan pemberdayaan.

Terdapat tiga kategori yang diberikan: individu, kelompok, dan penghargaan khusus. Nominasi berasal dari berbagai daerah seluruh Indonesia. Penilaian dilakukan kepada perintis dengan usia hingga 35 tahun untuk semakin menunjukkan bahwa generasi muda pun bisa bergerak.

Penganugerahan Trubus Kuala Swadaya merupakan malam puncak rangkaian HUT Bina Swadaya yang ke-50. Dalam acara ini, hadir juga Ditjen Perlindungan dan Jaminan Sosial mewakili Menteri Sosial.

Penerima penghargaan Trubus Kuala Swadaya tahun ini adalah:

  • Kategori Individu

Reka Agni Maharani. Beliau adalah perempuan yang menerapkan agroekologi di Sukabumi dengan konservasi tanah, kultur yang disesuaikan kondisi lingkungan.

  • Kategori Kelompok

Tahun ini, penghargaan diberikan kepada dua kelompok karena persaingan yang cukup ketat.

Kelompok pertama adalah Virage Awie (Komunitas Bambu Indonesia) dari Bandung. Komunitas ini berisi anak-anak muda yang mempopulerkan alat musik bambu. Mereka juga memberdayakan pemuda yang tidak memiliki pekerjaan.

Komunitas-bambu-indonesia-virage-awie

Kelompok kedua adalah Hysteria dari Semarang. Kelompok ini melakukan inisiasi di perkotaan dan menginisiasi program “merawat kampung” melalui kegiatan melukis kampung atau mengenal sejarah kampung.

  • Kategori Khusus

Penerima anugerah ini adalah Lodan Doe dari NTT. Programnya adalah pemberdayaan perempuan kepala keluarga di Flores dengan membentuk rumah insitoaf serikat pekerja. Kegiatannya antara lain, arisan tenun, arisan bangun rumah, dan mendirikan swalayan Pekka Mart.

Para penerima penghargaan diharapkan terus melakukan usaha berkelanjutan. Diharapkan juga, semakin banyak generasi muda yang termotivasi melakuakan perubahan untuk lingkungan yang lebih baik.

Majalah Trubus: Maju di Era Digital

Bukan cuma membuat masyarakat konsisten bergerak, Bina Swadaya juga konsisten dalam penyampaian informasi. Salah satunya adalah melalui majalah Trubus.

Tapi, di zaman digital ini, majalah cetak mungkin agak tergeser. Nah, Bina Swadaya juga mengerti keinginan generasi muda. Karena itu, Bina Swadaya menghadirkan Trubus versi online.

Trubus versi online ini diluncurkan pada acara HUT ke-50 juga. Trubus digital bisa diakses melalui situs Trubus.id.

Trubus.id

Tampilannya cukup menggambarkan kaum muda. Dengan latar putih dan huruf icon yang cukup berwarna. Informasi-informasi yang disajikan pun tidak kalah lengkap dengan majalah cetak.

Trubus.id pun sudah menghadirkan beberapa video. Hal ini tentunya agar generasi muda semakin tertarik. Dengan tertarik mengakses Trubus.id, diharapkan, generasi muda pun tertarik melakukan sesuatu bagi lingkungan.

Generasi muda yang sekaranglah yang akan meneruskan perjuangan Bina Swadaya untuk membuat bangsa yang lebih baik. Semoga saja dengan usianya semakin matang, Bina Swadaya semakin banyak merangkul masyarakat untuk bisa melakukan perubahan ke arah positif.

 

3 Comments

  1. Inspiratif banget para peraih penghargaan Trubus Kusala Swadaya.

  2. Akhirnya majalah Trubus pun mulai menjajaki dunia digital 😀

  3. Keren ya, majalah Trubus masih aktif di tengah maraknya gulung tikar bisnis-bisnis lawas. Semoga Majalah Trubus tetap bisa maju dan menyajikan artikel bermanfaat. Apalagi udah termasuk jadi keyword banget kan, kalo orang ngobrolin masalah flora, pasti dirujuk ke majalah Trubus.

Leave a Reply

Required fields are marked*