Opinion

Belajar Vertikal dan Horizontal dari Ibu Cantik Ruli Retno | Sabtu Kenalan

 

“Fah, kok tau, sih? Diam-diam duluan nih, kayaknya.”

“Gue kaget lo tau. Gue aja baru tau kemarin.”

Kadang, pernyataan semacam itu keluar ketika aku share atau tiba-tiba nyeletuk soal hal-hal semacam tektek bengek persiapan wedding, kesehatan bumil,  ibu-anak, dan semacamnya. I just wondering, masa tahu doang nggak boleh? Mesti menunggu waktunya? Dikit-dikit dikira ngebet.

Padahal mah, aku tau juga karena baca. Aku mah baca aja apa yang lewat di internet. Ada artikel psikologi anak dibaca, ada artikel otomotif dibaca padahal nggak ngerti. Yaa, nggak rajin-rajin banget, sih. Kalau sekiranya isinya info bagus ya diklik. Daripada baca akun gosip. Lol.

Internet tempat segala informasi bisa didapat. Nggak cuma dari web-web kenamaan, tapi juga dari blog-blog. Malah, baca dari blog kadang lebih seru karena berdasarkan pengalaman bloggernya. Dan, pengalaman tiap orang pasti beda-beda walaupun kasusnya mirip. Selain itu, baca tulisan blogger juga biasanya kita bisa menemukan ciri khas. Kadang, ciri khas beliau bisa jadi pencerahan untuk kita.

Contohnya, Mbak Ruli Retno yang mempunyai blog www.ruliretno.com . Beliau sering kali sharing pengalamannya sebagai seorang ibu. Tapi, ada puluhan mom blogger di negeri ini, ‘kan?

Hal yang membedakan tulisan Mbak Ruli dengan yang lainnya adalah beliau mengaitkan beberapa tulisannya dengan aspek agama. Bukan sok agamis dengan memberikan ceramah, melainkan lebih kepada merenungi bahwa segalanya harus kembali kepada aspek ketuhanan.

Misalnya saja, ketika membaca soal flat niple di blog Mbak Ruli. Aku belum tahu apa itu flat niple. Setelah membaca bagian awalnya, aku langsung apa yang dimaksud. Tapi, sebagai perempuan awam, ada kekhawatiran tersendiri memikirkannya.

Belum sempat berpikir terlalu jauh, Mbak Ruli sudah berpesan di paragraf selanjutnya bahwa hal tersebut bukanlah bahan celaan maupun keluh kesah. Bahwa, hal tersebut adalah sebaik-baiknya pemberian Allah.

Dan kemudian, aku ingat hal-hal lain yang terkadang menjadi bahan celaan atau keluh kesah, atau bahkan menjadi bahan untuk membuli orang lain. Yang terhujat sebenarnya bukan hanya orang yang bersangkutan, melainkan yang Dia, Yang Menciptakan. Pun, saat mengeluhkan soal diri sendiri. Yang dikeluhkan bukan sekadar tubuh kita, melainkan tubuh pemberian-Nya.

Nilai-nilai ini pun ditanamkan Mbak Ruli Retno kepada anaknya sejak dini. Untuk soal makanan saja, Mbak Ruli sudah mengajarkan mengenai makanan halal dan haram. Sepertinya bukan perkara mudah. Dalam salah satu blogpost , Mbak Ruli berbagi cara mengenalkan perkara ini kepada anak.

Orang dewasa saja sering kali tergoda mencicipi hidangan yang belum jelas halal atau tidaknya, alih-alih malah berdalih “bismillah saja”. Ini pun cukup menyentilku. Aku saja masih sering mengira-ngira. “Ah, yang penting bukan babi, bukan alkohol.” Padahal, mah nggak boleh gitu, ya. Mana tahu di dapur restoran seperti apa. Sepertinya, kalau makan dengan anak-anaknya Mbak Ruli, aku yang malu, nih.

Setiap tulisan, akan menjadi amal bagi penulisnya. Amal baik atau amal buruk. Mengingatkan perkara baik melalui tulisan bukanlah suatu kesalahan atau sok menggurui. Bahkan, bisa jadi hal itu justru menjadi pengingat bagi penulisnya di kala khilaf.

Hal ini, bukan cuma berlaku untuk aspek vertikal, melainkan horizonal. Tulisan akan sangat bermanfaat kalau pembacanya bisa mendapatkan sesuatu.

Ah, main ke blog Mbak Ruli memberikan insight baru. Bukan hanya mendapatkan informasi, melainkan juga pencerahan soal hati.

You may also like...

1 Comment

  1. Setuju banget, aku juga suka sama tulisannya mba Ruli salah satunya krn ada aspek2 agama yg emang bagus dan sesuai dng artikelnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *