I always love Bogor, no matter what. Bandung mungkin lebih cantik. Jogja mungkin lebih mudah. Bogor tetap yang paling aku suka.
Aku sudah tinggal di Bogor sejak aku lahir. Begitu pun dengan kedua orangtuaku. Kakek-nenekku juga besar di Bogor. Kata orang, kampung halaman selalu mempunyai kesan tersendiri. Mungkin hal itu juga yang membuatku menyukai kota ini. 
Letak Bogor sangat strategis. Kalau melihat di peta, Bogor terletak di bawah Jakarta. Lokasi ini memungkinkan warga Bogor mudah pergi ke Jakarta. Bogor juga dekat dengan Sukabumi. Kalau mau liburan ke tempat yang agak dingin, ke Sukabumi saja. Bogor-Bandung pun tidak terlalu jauh. Dulu, sebelum ada tol Cipularang, Jakarta-Bandung harus mampir ke Bogor dahulu.
Ada kota-kota lain yang mengelilingi Jakarta, tapi Bogor yang paling berbeda menurutku. Industri-industri besar masih jarang yang berlokasi di kota ini. Bogor mungkin panas, tapi tidak sepanas Bekasi. *eh* Ini kata teman yang tinggal di Bekasi, loh.
Belakangan, pertumbuhan Bogor semakin cepat. Dalam 3 tahun terakhir, sangat banyak perubahan yang terjadi. Hotel-hotel menjamur. Restoran dengan berbagai konsep semakin marak. Spot-spot di Bogor banyak yang bertransformasi menjadi lebih berwarna”.

Bagi yang pernah atau berada di Bogor beberapa tahun terakhir, mungkin perbedaan ini tidak terlalu drastis. Paling-paling, hanya timbul pernyataan, “Kayaknya dulu nggak gini.” Tapi, bagaimana perbedaan Bogor dengan 50 tahun lalu? Yuk, simak rangkuman cerita yang sering kudengar sewaktu kecil.

Dari Karet Hingga Kereta

Lokasi tempat tinggalku saat ini sama dengan tempat tinggal ibuku sewaktu kecil. Sudah pasti beliau melihat berbagai perubahan yang terjadi.

Tempat ini dari dulu sampai sekarang dilalui rel kereta Bogor-Jakarta. Rel kereta yang membelah Jalan R.E. Martadinata ini sekarang mempunyai dua jalur. Sewaktu ibuku kecil, rel yang ada hanya satu jalur. Frekuensi kereta masih sangat jarang sehingga satu jalur pun cukup.

Di dekat jalan kereta, sekarang ada perumahan. Tempat itu semula adalah semacam perkebunan karet. Waktu ibuku kecil, beliau sering mengambil getah karet untuk dijadikan mainan. Pohon-pohon karet itu dulunya tumbuh di tempat yang sekarang menjadi perumahan hingga pinggirjalur kereta. Kendaraan bermotor dan kereta masih sangat jarang. Jadi, masih aman bermain di sana

Sangat disayangkan pepohonan itu ditebang. Tapi, selalu ada pengorbanan untuk hal yang lebih baik. Orang-orang bisa membangun tempat tinggal yang layak dan kokoh walaupun di pinggir jalan kereta. Sebagai penikmat transportasi yang cepat, aku tidak akan komplain mengenai pepohonan yang menjadi jalur kereta dan perumahan. It’s better daripada aku harus memutar jauh kalau mau ke Jakarta. Jalan di sekitarnya perumahan pun sudah bagus sehingga bisa menjadi alternatif menghindari macet. Semoga saja pepohonan lain ditumbuhkan lagi di suatu tempat.

Sungai Tempat Bermain

Membelah Jalan R.E. Martadinata, ada Sungai Cibalok. Nama sungai itu aku temukan di Google Maps. Warga sekitar tidak menyebutnya demikian. Mereka menyebutnya Cigede. “Ci” dari kata “cai”, yang berarti air. “Gede” artinya “besar”. Jadi, Cigede berarti air yang besar. Nama ini merujuk pada lebar sungai.

Di dekat Cigede, ada sungai yang disebut Ciereng. Jangan tanya arti Ciereng itu apa. Ibuku pun tidak tahu artinya api. 

Sungai ini lebih kecil daripada Cigede. Sebetulnya, Ciereng adalah percabangan dari Cigede. Lebar Ciereng mungkin tidak sampai 3 meter. Airnya tidak sedalam Cigede. 

Dulu, Ciereng adalah tempat bermain anak-anak. Airnya jernih dan tidak ada sampah. Arusnya tidak besar, tetapi cukup untuk anak-anak bermain. Tidak perlu jauh-jauh ke pedesaan karena di tengah kota pun bisa bermain di sungai. 

Sayangnya, orang-orang yang malas membuang sampah di tempat yang benar membuat sungai itu bernasib malang. Nun jauh di daerah bernama Cimanggu sana, Sungai Cibalok dipagari dan diberi tulisan larangan membuang sampah ke sungai. 

Air Mancur yang Semula Pilar

Kalau mau ke Jalan R.E. Martadinata dari arah Bogor, sudah pasti melewati Air Mancur. Tempat ini juga terkenal dengan martabaknya. Ada tempat menjual martabak yang menjadi salah satu yang tertua di Bogor.

Tempat itu disebut Air Mancur karena memang ada air mancurnya. Ada bundaran besar di pertigaan jalan. Air mancur belum ada sewaktu orangtuaku kecil. Namanya pun bukan Air Mancur.

Tempat itu dinamakan Pilar. Mungkin karena banyak pilar di sana. Di belakang kios-kios di sana, ada jalan menurun menuju rumah-rumah penduduk. Daerah itu dinamakan Lebak Pilar. Untung saja, ketika Pilar berubah menjadi Air Mancur, Lebak Pilar tidak ikut berubah menjadi Lebak Air Mancur. Bisa-bisa Pak Pos bingung. Hehe.

Rumah Nenek di Tengah Kota

Kalau tadi tempat tinggal ibu, sekarang tempat tinggal ayah.  Rumah ayah sudah pasti rumah nenek. Kalau orang lain menulis suasana desa ketika harus menceritakan rumah nenek, aku justru menceritakan kota. Rumah nenekku itu berada di tempat bernama Taman Malabar.

Lokasi Taman Malabar sangat “kota”. Beberapa langkah dari rumah, sudah bisa langsung bertemu Kebun Raya. Menengok sedikit, ada rumah dinas walikota. Mau ke rumah sakit? hanya perlu 5 menit berjalan kaki, sampailah di Rumah Sakit PMI. Tugu Kujang? Sepertinya tidak sampai 500 meter dari rumah.

Tidak banyak yang berubah dari tempat ini. Taman Malabar masih saja sepi. Rumah-rumah di sana masih didominasi oleh rumah yang pemiliknya jarang bersosialisasi. Mungkin, bedanya sekarang lebih banyak rumah yang dijadikan tempat kos. 

Rumah-rumah di Taman Malabar masih besar-besar. Bagaimanapun, rumah-rumah itu pernah lebih besar lagi. Beberapa rumah yang dulu pernah berdiri dilebur menjadi rumah-rumah yang lebih kecil (walau pada dasarnya tetap besar). Semakin banyak manusia yang lahir, semakin banyak jumlah rumah yang diperlukan. Daripada mempertahankan rumah besar zaman dahulu, lebih baik memperkecil ukuran rumah supaya lebih banyak rumah yang bisa dibangun.

Sebagian rumah itu sekarang bergaya minimalis. Aku sedih ketika melihat rumah nenek berubah menjadi bergaya minimalis. Mau bagaimana lagi, rumah itu sudah menjadi milik orang lain.

Rumah-rumah itu semula bergaya seperti rumah-rumah zaman dahulu pada umumnya. Arsitekturnya masih dipengaruhi gaya kolonial. Setipe dengan rumah walikota atau rumah-rumah kecil yang ada di Istana Bogor. 

Setiap rumah dihiasi berbagai tanaman. Membayangkannya saja membuat hati adem. Pagar-pagar tinggi tidak menghalangi pemandangan dari rumah ke jalan atau sebaliknya karena sebagian rumah itu mempunyai undakan sehingga posisi bangunan utama lebih tinggi. 

Rumah-rumah di Taman Malabar dibagi menjadi rumah yang menghadap ke barat dan ke timur. Rumah-rumah yang menghadap ke timurlah yang banyak diubah menjadi rumah minimalis. Para penghuni aslinya sudah tidak di sana lagi, termasuk nenekku.

Rumah-rumah yang menghadap ke barat sebagian besar masih terjaga keasliannya. Mungkin penghuninya masih penghuni lama atau pewarisnya. Rumah-rumah yang menghadap ke barat terasa lebih ramah dan lebih hidup dari segi sosial. Ukuran rumah sedikit lebih kecil dan bidang bangunan serta halaman rata-rata datar tanpa perlu undakan. 

Rumah yang menghadap barat dan timur dipisahkan taman yang cukup luas. Dulu, ada pohon-pohon besar di sana. Mungkin hal ini yang menyebabkan perbedaan di dua bagian Taman Malabar. Kalau tetangga kiri-kanan sudah pergi, akan terasa sepi karena tetangga depan jauh sekali sedangkan tidak ada istilah tetangga belakang bagi penghuni rumah yang menghadap timur. Di belakang rumah-rumah itu adalah pertokoan di Jalan Pajajaran. Well, beberapa dulunya rumah, tapi rumah yang saling punggung-punggungan tidak akan menjadi tetangga.

Taman yang berada di wilayah itu sekarang lebih hidup. Dulu, di taman itu hanya ada tumbuh-tumbuhan. Hampir semuanya serba hijau.

Sekarang, di sana sudah terbagi menjadi lapangan dan tempat bermain. Ada mainan-mainan yang biasa kita jumpai di taman kanak-kanak. Kalau sore, taman itu ramai oleh anak-anak dan remaja. Tempat ini nyaman karena jauh dari jalan raya. Jadi, siapa bilang semakin ke sini, ruang bermain semakin berkurang? Tidak selalu seperti itu, kan.

Sekolah yang Bertahan dan yang Tidak

Aku yakin aku tidak akan sanggup kalau disuruh menyebutkan semua sekolah yang ada di Bogor sekarang. Jumlahnya puluhan, atau mungkin ratusan. Sekolah negeri saja sangat banyak. Belum lagi sekolah-sekolah swasta. Entah sejak kapan sekolah semakin banyak di kota ini. Memang penduduknya semakin banyak, sih, jadi jumlah sekolah pun harus sesuai.

Sekolah negeri yang sudah ada sekitar 50 tahun lalu, sepertinya masih ada. Sebut saja SDN Polisi dan SDN Pengadilan. Dua sekolah itu masih kokoh dan terus mengukur prestasi. 

Hal berbeda dialami sekolah Swasta. Sekolah swasta memang belum banyak, tetapi usianya tidak panjang. Sekolah swasta yang dulu di ada Bogor antara lain, Satu Bakti, Pamekar, Regina Pacis, dan Hutabarat. Dua di antaranya sudah tutup lama sebelum aku lahir, yaitu Pamekar dan Hutabarat. Satu Bakti dan Regina Pacis masih berdiri sampai sekarang. Dan, Regina Pacis menjadi salah satu sekolah terbaik di Bogor. 

Sebetulnya, aku ingin menceritakan rumah sakit, hotel, dan tempat-tempat umumnya lainnya. Masih banyak yang bisa diceritakan di kota ini. Tapi, sepertinya postingan ini sudah panjang.

Jadi, Ini Dia Sejarah-sejarah Menarik Indonesia. Setiap tempat pasti mempunyai cerita. Banyak hal berubah yang terjadi di kota ini sejak 50 tahun lalu. 50 tahun mendatang pasti akan lebih banyak lagi perubahan. Aku hanya berharap Bogor tidak bertambah panas dan macet.

You may also like...

4 Comments

  1. waaaa,,, aku udah lama gak ke bogor 🙁

  2. Banyak yang berbeda, ya dalam 50 tahun. 🙂

  3. Fifaaah aku baca cerita kamu ini ngebayangin Bogor 50 tahun lalu. Dan aku kangen Bogor 10 tahun lalu yang gak macet seperti ini 😀

  4. Memang mirriiss lihat rumah tua yang dulu asri sekarang jadi hotel dan outlet. Harusnya pemerintah ikut langkah jakarta dalam mempertahankan rumah tua di daerah Menteng Jakpus. Saya nggak malu motretin rumah di sekitar Pasar Anyar, Surya Kencana, inin punya arsip semua rumah tua di Bogor sebelum lenyap. Masih banyak lai yg blm sy ambil gambarnya, spt dibelakang terminal, Jl.Semeru, Kota Paris, jl.Ardio, dll. Judulnya ngenesss klo rumah jadul berubah jd minimalis. Meuni maleusss liatnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *