banner(8)

Apa yang terbayang kalau mendengar kata “camping?”

Mungkin tenda. Alam terbuka. Mungkin nyamuk. Tidur berdesakan. Satu hal yang pasti, selalu ada keseruan dalam keadaan serba terbatas.

Lalu, apa yang terbayang kalau mendengar kata “resorts”?

Fasilitas mewah. Kenyamanan. Mungkin semua hal indah dan serba santai.

Bagaimana kalau dua hal ini disatukan?

Camping tanpa khawatir soal nyamuk, tidur berdesakan, atau makanan seadanya, meskipun tetap menggunakan tenda dan berhadapan dengan alam terbuka.

Hal inilah yang coba dihadirkan oleh Trizara. Glamour camping alias glampingCamping mewah di Trizara Resorts Lembang, Bandung.

Camping kok bermewah-mewah, nggak seru dong?

Coba flashback lagi, apa, sih, yang membuat camping seru?

Pertama, pasti alam terbukanya. Setiap hari kita dihadapkan dengan gedung dan knalpot. Sesekali ingin merasakan alam terbuka. Kedua, main-mainnya, menjelajahnya, dan segala aktivitas di luar ruangan lainnya.

Walaupun begitu, ada yang menurunkan nilai keseruan camping, yaitu ribetnya. Harus bangun tenda, khawatir hujan dan nyamuk, belum lagi soal makanan dan toilet. Barang bawaan pun biasanya seabrek.

Aku pernah camping sewaktu SD. Itu pun hanya bohongan karena dilakukan di sekolah, bukan di alam terbuka. Hanya namanya saja “camping“. Hal yang membuat suasana camping-nya terasa sebatas api unggun, plus susahnya tidur di tempat yang bukan kamar tidur. Juga, makanan yang seadanya.

Waktu SMA juga pernah yang semacam itu. Tidak disebut camping, sih. Kami stay di tempat berdinding, berpintu, berjendela, tapi bisa dibilang seadanya. Makanannya? Cukup disyukuri saja. Toiletnya? Cukup disyukuri juga karena tidak menyebabkan anyang-anyangan walaupun sulit air. Mungkin karena itulah aku tidak mau mengikuti acara inap-menginap bersama sekolah lagi.

Dibalik keseruan, ada kesusahan.

Inti dari liburan adalah bersenang-senang. Rasanya tidak worth it kalau terlalu banyak yang membuat tidak nyaman. Selagi ada pilihan yang lebih mudah, why not?

Stay di Trizara Resorts pun tidak mudah-mudah amat. Kalau semua masih dilakukan dengan hanya menekan “call” dari tempat tidur atau sofa mah tidak seru. Maksudku, tidak seperti di hotel berbintang biasanya.

Jalan menuju ke sana susah-susah gampang. Bagi yang sudah sering ke Bandung, mungkin mudah menemukan jalan masuknya. Jalan masuk berada di antara pemukiman penduduk. Sepintas mirip gang biasa yang hanya bisa dilalui satu mobil. Dua mobil kalau terpaksa, itu pun pas-pasan. Seingatku, sewaktu aku ke sana bersama travel bloggers, tidak ada mobil lain yang lewat.

Baca juga, ya: Meet Up with Travel Bloggers

Dari jalan masuk, masih beberapa ratus meter lagi. Kalau jalan kaki, lumayan untuk membakar banyak kalori. Ditambah lagi, ada tanjakan curam.

Tidak jauh dari tanjakan itulah kita akan menemukan gapura besar, gerbang Trizara Resorts. Gerbangnya akan mengingatkan pada India karena menyerupai Gerbang India yang ada di New Delhi.

gateway

Begitu masuk, suasananya cukup berbeda dengan suasana di sekitar luar. Semacam menemukan taman setelah naik-turun gunung. Well, “Trizara” sendiri mempunyai arti “taman di surga“. Diambil dari bahasa India.

Area lapang langsung menyambut. Langsung terlihat juga lobi resepsionis dan restorannya. Restoran Trizara mengusung konsep terbuka. Sekilas pandang, tempat ini hanya seperti restoran terbuka dengan halaman yang luas. Tidak terlihat ada tempat untuk bermalam.

depan

Lalu, di bagian mananya tempat ini bisa disebut “resorts”?

Kalau diperhatikan, ada turunan di ujung lobi. Mendekati arah lobi, barulah terlihat bagian lain Trizara.

gate

Pembangunan tempat ini mengikuti kontur tanah. Bandung bagian atas memang berbukit-bukit, kan? Karena itu, semakin ke dalam, semakin ke bawah.

Kamar-kamar di sini berupa tenda. Tapi, bukan tenda seadanya. Tenda sudah dibuat sedemikian rupa agar kokoh.

Tipe Kamar

Ada empat tipe kamar di Trizara Resorts.

kamar

trizara

Netra. Tipe ini bisa mengakomodasi maksimum 2 orang. Tempat tidur yang disediakan adalah queen size. Seperti namanya yang berarti “penglihatan”, netra menawarkan pemandangan terbaik. Kamar-kamar Netra terletak di paling atas. Pemandangan pegunungan dan semua yang ada di bawahnya terlihat jelas. Pemandangan malamnya adalah yang terbaik, menurutku.

netra

Nasika dan Svada. Tipe ini adalah tipe family. Satu kamar bisa untuk 4 orang. Bisa 5 orang kalau dengan anak kecil. Tendanya sedikit lebih besar daripada Netra. Tipe bed-nya queen dan single yang bagian bawahnya terdapat kasur tambahan. Perbedaan Nasika dan Svada? Hmmm… letaknya. Svada agak lebih di tengah, sedangkan Nasika di pinggir.

svada

Zana. Maksimum ditempati 2 orang. Tipe ini cocok untuk honeymoon atau orang yang ingin privasi lebih. Letaknya berada paling bawah. Jauh dari ketiga tipe lainnya.

zana

Sewaktu menginap di Trizara, aku mendapat kamar di Nasika. Kebetulan, kamarku paling menjorok ke dalam sehingga tidak bisa melihat langsung view pegunungan dari depan kamar. View yang aku dapat adalah view taman. Walaupun begitu, suasana kemping terasa karena terasa terpencilnya. Apalagi, kalau malam, di pojokan begitu dan tidak ada penghuni di kamar sebelah . . .

Fasilitas di dalam kamar?

nasika3

Selain tempat tidur, ya. Ada meja tulis plus kursinya, rak untuk menaruh dan menggantung baju, serta peti dengan gembok untuk menyimpan barang berharga. Kamar juga dilengkapi kipas angin. Bukan AC, loh, ya. Lagi pula, siapa yang butuh AC di Lembang?

nasika2

nasika

Peralatan standar ala hotel pun tetap ada seperti sandal, air mineral, kopi, teh, pembuat air panas, dan lembar semacam manual book yang salah satunya berisi daftar menu makanan.

Listrik, tentu ada. Colokan pun banyak. Kalau mau kerja sambil liburan, tidak perlu khawatir kehabisan baterai. Sekarang ini nyawa gadget sudah hampir seperti nyawa sendiri, kan, ya.

Dua hal yang tidak ada adalah televisi dan telepon.

Keberadaan televisi mengurangi nuansa escape, kan? Bisa-bisa, menemukan film seru, malah anteng di depan televisi.

Ketiadaan telepon juga disengaja untuk mengurangi sensasi hidup mudah. Kalau di hotel, biasanya kan tinggal telepon. Sedikit-sedikit telepon. Sedikit-sedikit room service. Sedikit penghambat kemudahan tidak masalah, kan? Namanya juga camping.

Walaupun begitu, Trizara menyediakan fasilitas Whatsapp. Bagaimanapun juga, tamu adalah tanggung jawab pihak Trizara. Letak kamar cukup jauh dari lobi. Jadi, kalau memang ada hal perlu, bisa menggunakan Whatsapp.

Yah, kalau cuma mau makan mah usaha sedikit, dong, ya. Nggak seru, ah, kalau pakai room service. Lagian, kasihan waiter kalau harus membawa makanan sambil menuruni jalanan berbukit.

Wi-fi

Walaupun tidak ada televisi, di sini ada wi-fi. Wi-fi di sini pun cepat. Internet sekarang ini sudah menjadi semacam kebutuhan, kan? Tanpa internet, liburan seperti tidak tenteram. Takut ada hal-hal darurat, terlebih sekarang sebagian besar komunikasi membutuhkan jaringan internet, seperti Whatsapp, Line, Telegram. Tidak bisa upload foto liburan sesegera mungkin juga kalau tidak ada internet. Hehe.

Bathroom

Oh, ya. Aku belum cerita tentang kamar mandinya. Konsep kamar mandinya modern. Tidak ada bathub, memang. Tapi, ada shower dan wc duduk. Shower-nya dilengkapi air panas dan air dingin. Kamar mandi ini juga sudah dilengkapi sikat gigi, pasta gigi, sabun, shampoo, conditioner, dan shower cap. Cukup hotel, kan?

bathroom

View

Sudah di dalam kamar, maunya bobo cantik? Tidak juga, sih. Sayang, kan, jauh-jauh ke Lembang malah mendekam di kamar. Apalagi, Trizara dibuat sedemikian rupa agar indah dipandang. Letak setiap tenda tidak tampak menumpuk.

Pemandangan utamanya adalah Gunung Tangkuban Perahu dan gunung-gunung di seberang resorts ini.

Yap, akhirnya, aku bisa melihat Tangkuban Perahu. Gunung yang membuatku penasaran. Apanya yang mirip perahu nangkub alias terbalik?

Karena hampir setiap hari aku melihat Gunung Salak, nyaris tidak ada yang istimewa dari sebuah gunung. Itu kalau melihatnya dari jauh. Kalau melihatnya di dekat kakinya, lain cerita.

Melihat sedikit ke bawah, pemandangannya seru. Pepohonan. Jalanan berliku. Melihat ke atas, gunung megah menyambut.

view2

Jadi, apakah aku bisa melihat ada yang mirip perahu terbalik?

Mungkin. Bentuk gunung ini memanjang dan ada sedikit lekukan, lalu memanjang lagi. Gunung ini melandai di kedua sisinya seperti ujung perahu. Memang benar kalau gunung ini dikatakan mirip perahu terbalik. Sayangnya, kameraku tidak cukup bagus untuk mengambil gambar gunung tersebut, terutama pada cuaca mendung dan berkabut.

view

Pemandangan malam pun tidak kalah indah. Lampu-lampu di kejauhan tampak seperti bintang di dataran bumi. Bagi yang tinggal di perkotaan, mungkin sudah tidak asing dengan lampu jalanan di malam hari. No, no, no. This is more amazing. Lampu-lampu itu tidak begitu gemerlap, tapi justru karena itulah tampak lebih memesona. Aku sangat bersyukur bisa melihat semua itu. Terlebih, aku bersyukur kedua mataku bisa melihat dan tidak buta warna.

Malam itu, aku juga baru menyadari aku sudah lama tidak mendongak, menengadah langit pada malam hari. Sudah lama aku tidak melihat bintang sesungguhnya. Dan, yap, di bumi atau pun di langit, aku bisa melihat bintang.

Aku mengagumi semua itu sambil menikmati api unggun dan mendengar cerita para travel blogger. Tentunya, sambil mencoba marshmallow yang dibakar langsung di api unggun juga.

Trizara Resorts menyediakan fasilitas api unggun dan BBQ bagi yang me-request. Kalau berlibur bersama teman-teman sekantor atau membawa keluarga besar, dua hal ini patut dicoba. Membawa kembali kenangan masa kecil. Atau, dalam kasusku, merasakan kenyataan dari cerita fiksi. Api unggun di sekolah kan tidak cukup terasa berada di alam terbuka.

bornfire

marshmallow_bakar

Kalau hari sudah gelap, ada api unggun dan BBQ. Kalau hari masih terang, ada apa?

Di sini, ada beberapa permainan yang bisa dicoba. Trizara menyediakan board games, seperti jenga, monopoli, Uno, dan scrabble. Mau coba hulahop? Ada.

Bisa juga berkeliling dengan sepeda. Sepedanya sudah disediakan kok.

Selain itu, kalau mau coba yoga dan zumba juga bisa. Sayangnya, ketika itu, kami tidak sempat mencobanya. Lagian, sayang kalori kalau lagi puasa. Hehe.

Nah, yang tidak kalah seru, atau mungkin ini yang paling seru. Kita bisa melihat matahari terbit berlatar belakang pegunungan. Pasti keren, ya. Aku tidak melihatnya waktu itu karena . . . ketiduran setelah sahur. ^^v Begitu melihat yang lain posting matahari terbit, iri rasanya.

Makanan

Untuk makanan, di sini ada buffet dan a la carte. Sewaktu aku (kami) datang, bagi yang berbuka dan sahur, disediakan menu buffet.

Menunya tidak banyak, tapi mencirikan makanan tradisional. Mungkin bukan “tidak”, melainkan “belum”, ya. Yang berbuka dan sahur tidak begitu banyak saat itu.

Dari segi rasa, menurutku cukup. Standar rasa buffet hotel. Mungkin sedikit lebih baik kalau buah dikeluarkan di awal ketika berbuka. Untuk starter, ada tempe goreng dan kolak, sih, tapi aku merasa bersalah kalau berbuka langsung makan yang berlemak. Hehe.

tempe

Kalau tidak puasa, tamu akan disambut dengan welcome drink semacam infused water langsung ketika datang. Buahnya malah langsung muncul ketika belum berbuka. ^^v

 welcome drink

Just info. Sayuran yang dipakai mengolah makanan di sini berasal dari kebun warga sekitar.

Pelayanan

Keramahan sepertinya sudah menjadi streotipe positif yang melekat pada warga Bandung. Keramahan pegawai hotel dan resorts juga sepertinya sudah menjadi streotipe positif di masyarakat. Walaupun begitu, dua keramahan itu kadang terasa berbeda. Terlebih, untukku yang pernah sedikit bersinggungan dengan dunia perhotelan.

Gabungan kedua keramahan ini yang dibangun Trizara. Dari awal, aku memang mengira pelayan dan sebagainya adalah orang Bandung. Ternyata, mereka adalah warga sekitar resorts ini. Mereka dilatih sebagai bentuk feedback kepada lingkungan area Trizara berdiri. Mereka mendapat pelatihan dari grup perhotelan Salak.

Lainnya

Selain fasilitas menginap dan berlibur, di Trizara juga ada fasilitas lain. Misalnya, fasilitas piknik. Kalau hanya ingin bersantai sambil menumpang foto-foto tanpa menginap, bisa mencoba piknik ini. Rate-nya Rp100.000 sudah termasuk segala macam perlengkapan piknik seperti di film. Tinggal bawa diri dan kamera. Mau diam duduk bisa. Mau berburu foto bisa. Selain pemandangan alam, ada juga photobooth ala India.

booh

Berhubung tempatnya memang bagus untuk foto-foto, bisa juga untuk pre-wedding. Rate-nya start from Rp1,9juta untuk 7 jam. Sudah termasuk changing room, lunch, dan afternoon tea.

Mau sekalian wedding di sini? Bisa. Bisa. Sekitar Rp85juta. Spot bisa di halaman atau di bawah. Tidak usah memikirkan dekorasi lagi karena memang tempatnya sudah cantik. Setelah wedding, sekalian honeymoon saja karena ada paket khusus honeymoon.

Oh, ya, untuk urusan bisnis, di sini juga ada meeting room. Tepatnya ada 3 ruangan. Jadi, kalau mau trip dengan kantor bisa menginap, rekreasi, dan meeting di satu tempat. Kalau hanya mau senang-senang tanpa menginap, disediakan fun games dan team building.

meeting

Jadi, selain menyediakan sesuatu untuk back to nature, fasilitas setara hotel pun tetap ada di sini.

Rate

Hampir lupa tidak memberikan rate inap. Biayanya sekitar Rp1,2-2,6juta per malam. Kamar yang Rp2jutaan adalah yang tipe family alias yang bisa untuk 4-5 orang. Mahal? Harga adalah hal yang relatif, ya. Kalau menurutku . . . Aku tidak tahu karena memang tidak tahu harga hotel. Biasanya terima beres. Hehe.

Yang pasti, fasilitas di sini menurutku cukup lengkap. Memang setara hotel, tapi ditambah dengan pengalaman ala camping. Tempat ini bisa dijadikan tempat wisata sekaligus tempat menginap. Sepertinya, harga segitu pantas.

i was

Trizara Resorts
Jl. Pasirwangi Wetan, Lembang
Bandung, Jawa Barat
Book: +6222-8278-0085
Email: trizararesorts@gmail.com

You may also like...

25 Comments

  1. Seru nih, mirip2 tenda tapi aman.

    1. Iya, Mbak. Insya Allah aman. 🙂

  2. Enak banget ya.. Terbayar dengan harganya. Kalau mau enak memang pasti mahal.

    1. Semacam rumus gitu, ya, Mbak. Hehe.

  3. Hua klo camping-nya begitu aku juga mau, seru dan nyaman 🙂

    1. Yuk, Mbak. Sekalian mampir ke Bogor dan Bandung. ^^

  4. pasti menyenangkan banget nih camping di sini, fasilitasnya mewah banget euy 🙂

    1. Iya, Mbak. Seru. Alhamdulillah bisa ngerasain. 🙂

  5. whehehe ini baru namanya Glamping 😀
    Mantaaaappp, mau dong aku kapan-kapan diajak ke sini faah >.<

    1. Kapan-kapan ajak Kak Rani juga ajak aku jalan-jalan. 😀

    2. glamour camping. Glamping. namanya aja udah fancy yak

  6. Weh campingnya manjain banget yaaa. Duh endos ada api unggunnyaaa

    1. Api unggun jadi semacam esensi camping, ya, Mbak. Hehe.

  7. OMG, kerennnnn banget suer. Baru liat kayak begini kali i ni.
    Seru, mewah ya tempatnya ya Allah 😀
    mahal ga hihihih.
    ajak aku kesanaaaaaa 😀
    ulasannya keren kak

  8. Glampingnya seruuu, bikin nagih. Kapan kesini lagi ya hmmm

  9. Wuah keren banget tempatnya, mau ah kalo camping seperti ini 🙂
    Enaknya kalo nginep rame-rame ya, seru!

  10. Lembang itu dingin bangeet kan malem2, apalagi tidur di tenda gitu ya..Wii seru….

  11. Aaaaaaah ……seru pakai bangeet.Krucilsku pasti sukaa nih yang beginian.Sayang mahal bangeet ya permalamnya.

  12. tempatnya kereeen 😀
    camping nggak berasa camping deh kalo tempatnya begini 😀

  13. nyaman banget ini ih bisa gak bangun2 dari tempat tidur.

  14. Wahh ini sih enak nih camping yg family friendly hehe, gak pake rempong tinggal terima beres. Camping model gini lagi banyak bermunculan ya, makin banyak pilihan deh.

  15. Ih bagus banget! Keren! Nkasir! Fotonya sih yang bagus dan genic ahahha. Tapi asli kepengen banget ke sana. Makasih reportase kecenya kakak Aififah Heitzz:DDD

    Biayanya sekitar Rp1,2-2,6juta per malam. Kamar yang Rp2jutaan adalah yang tipe family alias yang bisa untuk 4-5 orang–> hmmm harga sebanding kualitas yah sist. Mayan juga :”””)

    btw suka sama blognya. Clean, rapih, bersih, bikin betah.

  16. Hai Fifah. Nyimak tulisan kamu asik juga. Aku baru baca yg ini dan whats new on ur blog. Seru. Oh ya, yg bikin excited sih kamu punya book blog theladybook yes, aaakh sukak!

  17. Pernah diajak ma teman kesana, tapi belum sempat-sempat. Makasih mbak ulasannya.

  18. […] di Trizara Resorts, Lembang, Bandung. Kembali ke Trizara setelah lebih dari setengah […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *