Sudah lama banget aku ingin menuliskan ini. Tapi … sudahlah, kebanyakan “tapi”.

Intinya, sejak akhir tahun lalu, aku ingin bisa membuat pupuk kompos. Membuat kompos adalah salah satu cara mengurangi sampah organik berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Aku sudah membaca beberapa teori tentang membuat kompos, tapi maju-mundur karena sepertinya ribet. Hehe.

Lalu, suatu hari di awal tahun ini, aku berkesempatan belajar langsung membuat kompos bersama Kertabumi Foundation. Dan, anggapan bikin kompos tuh ribet pun berubah. Ternyata, membuat kompos sederhana banget.

 

Cara membuat pupuk kompos sederhana

 

Kenapa Perlu Membuat Kompos?

Awalnya, aku melihat akun-akun zero waste di Instagram. Aku mendapat banyak insight dari mereka. Zero waste bukan hanya soal plastik. Zero waste mencakup banyak hal. Soal plastik, soal bahan-bahan sintesis yang mencemari lingkungan, soal ketersediaan energi dan sampah tak kasat mata akibat penggunaan listrik berlebihan, dan lainnya.

Tentunya, banyak juga dibahas soal sampah organik. Sampah jenis ini sangat lekat dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin bisa dibilang, sampah organik justru yang paling nggak bisa dihindari. Sampah organik juga merupakan sampah yang paling banyak di TPA, lebih banyak daripada sampah plastik.

Sampah organik biasanya berasal dari yang kita makan. Mau makan telur ceplok, cangkangnya nggak mungkin dimakan, ‘kan? Jadi deh sampah. Mau bikin sayur bayam, batang bawah bayam yang dekat akar, tentu nggak ikut dijadikan sayur, ‘kan?

Bahkan, kalau kita nggak masak dan beli makanan di luar, tetap saja ada sampah secara nggak langsung. Restoran tempat kita membeli makanan kemungkinan menghasilkan sampah ketika menyiapkan pesanan kita. Belum lagi, kalau yang kita beli seperti ayam atau ikan. Di rumah pun, kita akan menghasilkan sampah organik dari tulang ayam atau ikan itu.

Sampah-sampah itu mungkin nggak tampak mengerikan. Seingatku, sejak zaman sekolah, aku diajari bahwa sampah organik mudah terurai. Tapi, tenyata, nggak sesederhana itu.

Sampah organik yang nggak ditangani dengan baik justru akan menghasilkan gas metana. Gas tersebut berbahaya. Contoh sampah organik nggak tertangani dengan baik adalah sampah organik bercampur dengan sampah plastik dan lainnya.

Akibatnya, proses penguraian sampah organik terhambat. Gas metana justru meningkat.

Pernah dengar ada TPA meledak? Penyebabnya karena gas metana itu.

Karena itu, sedih banget kan kalau kita bikin sup, kulit wortelnya dibuang ke TPA, eh malah jadi salah satu penyebab TPA meledak. Amit-amit, deh. Kita enak makan sup, pemulung atau orang yang tinggal di sekitar TPA yang kena batunya. Jangan sampai gitu, ya.

Cara Membuat Kompos Sederhana di Rumah

Ada beberapa cara membuat kompos. Umumnya, pembuatan kompos dibagi menjadi 2: teknik aerob (dengan udara (oksigen)) dan anearob (tanpa udara (oksigen)).

Kompos yang aku buat adalah dengan teknik aerob. Walau disebut “teknik”, tapi betulan nggak ribet kok. Cuma pakai alat sederhana, bahan apa adanya, tanpa campuran EM4 atau cairan-cairan apalah itu, tanpa komposter yang mahal juga. Aku sih pokoknya pakai yang murah, yang penting hasil nggak murahan.

Alat

Alat yang digunakan tentu saja wadah untuk tempat kompos. Bisa wadah apa pun, asalkan bisa dilubangi. Kertabumi Foundation mencontohkan dengan pot besar yang diberi lubang-lubang. Aku sih menggunakan wadah es krim 5 Liter atau 8 Liter, yang juga dilubangi kecil-kecil. Aku menggunakan wadah es krim karena:

  • Adanya itu di rumah. Kalau pot besar, mesti beli dulu.
  • Wadah es krim sudah dilengkapi tutup. Nanti di bawah aku kasih tahu kenapa aku merasa perlu tutup.

Aku melubangi wadah es krim dengan alat semacam logam bergagang kayu yang dipanaskan di kompor, lalu dicolok-colok ke wadah tersebut. Belakangan, karena alat tersebut rusak, aku menggunakan garpu biasa yang juga dipanaskan di kompor. Ternyata, malah lebih praktis dengan garpu karena sekali colok, langsung terbentuk 4 lubang.

Jumlah yang diperlukan dikira-kira saja, ya. Pokoknya cukup untuk sirkulasi udara, tapi nggak kebanyakan sampai bikin kompos keluar-keluar.

Cara membuat kompos sederhana di rumah
Wadah es krim dilubangi kecil-kecil. (Bunga cuma buat foto biar nggak plain)

(Optional) Siapkan juga kantong plastik atau apa pun sebagai alas bagian luar wadah. Kadang-kadang, ada cairan yang dihasilkan kompos. Kalau ditampung, bisa untuk menyiram tanaman juga.

Kalau wadah sudah ada, bawa keluar rumah, ya. Taruh di luar. Karena berlubang, khawatir ngotorin lantai kalau di dalam ruangan.

Bahan dan Cara Membuat

Kalau wadah sudah siap, saatnya praktik!
Pada dasarnya, membuat kompos memerlukan 2 jenis bahan: brown dan green. Keduanya dimasukkan selang-seling atau boleh diaduk.

Tapiiii, bagian paling bawah dan paling atas harus brown. Dan, bahan brown sebaiknya lebih banyak daripada bahan green. Gunanya supaya bau dari bahan green nggak menyeruak.

Cara membuat kompos sederhana di rumah
Daun kering sebagai bahan brown. Cuma dapat segitu, jadi ditambah media tanam.

Contoh bahan brown dan green:

Cara membuat pupuk kompos sederhana di rumah

Bahan brown itu ibarat bahan kering. Green ibarat bahan basah.

Do!

Bahan brown yang biasa aku gunakan adalah daun kering, ranting patah, atau media tanam. Kalau dekat toko material, boleh tuh minta serbuk kayunya. Atau, kalau punya sekam juga boleh.

Bahan green yang aku gunakan … yaaaa, semua sampah organik sisa makanku. Sisa sayuran, buah, bahkan tulang bahan hewani.

Ada yang berpendapat tulang-tulang jangan dimasukkan ke kompos karena lama terurai (dan bikin bau). Noooo. Nggak apa-apa.

Masukin saja.

Berdasarkan pengalamanku, tulang dan sisa hewani lain justru lebih mudah terurai daripada kayu. Beberapa hari lalu, aku menemukan ranting dari kompos beberapa bulan lalu masih nyaris utuh padahal bahan lainnya sudah terurai dan sudah menyerupai tanah.

Di sisi lain, waktu aku ngorek-orek kompos yang dibuat beberapa minggu lalu, aku sudah nggak menemukan sisa tulang atau pun cangkang telur yang aku masukkan ke sana.

Kalau soal bau, baunya akan tertutupi aroma sayuran dan tanah. Apa lagi, kalau ada sisa kulit jeruk, aroma kompos jadi enaaaak.

Don’t!

Ada yang bilang kertas, koran, dan sebagainya boleh dimasukkan ke kompos, tapi aku sih nggak menyarankan, ya.

Kertas, koran, dsb memang akan terurai secara kasat mata. Tapi, bahan-bahan kimia yang nggak tertangkap mata belum tentu terurai. Apa lagi, kertas sering kali menggunakan pemutih dalam proses pembuatannya. Belum lagi, tinta percetakan ataupun tinta tulis yang mungkin mengandung unsur berbahaya.

Kertas-kertas mah mending dipilah dan dikirim ke bank sampah saja. Bisa didaur ulang juga.

Selain itu, yang sebaiknya jangan dimasukkan ke kompos adalah tanaman parasit yang baru banget dicabut. Tapi, aku sih biasanya mengeringkan dulu tanaman-tanaman liar itu. Kalau sudah kering, baru deh masuk ke kompos.

Soalnya, kalau nggak gitu, mau dibuang ke mana kan tanaman liar itu?

Berapa Lama Sampai Kompos Jadi?

Biasanya sih 3 minggu-sebulan sampah-sampah organik itu sudah terurai dan kompos bisa dipanen. Tanda kalau sudah jadi kompos jadi adalah wujudnya menjadi seperti tanah. Nggak kering, nggak terlalu basah.

Kecepatan penguraian tergantung pada bahan yang dimasukkan. Kalau bahan keras seperti bonggol jagung, biasanya agak lama. Kalau bahan seperti kulit buah, biasanya cepat.
Tapi, kalaupun belum semua terurai, misal tersisa bonggol jagung, boleh saja kok dipanen sebagian. Bonggol jagung atau apa pun yang belum terurai, tinggal dibiarkan saja. Disimpan lagi untuk bahan batch selanjutnya.

Selain jenis bahan, kecepatan penguraian juga dipengaruhi ukuran bahan. Semakin kecil ukuran, semakin cepat terurai. Makanya, ada orang yang menyacah dulu sisa organik sebelum dimasukkan ke kompos. Aku sih, nggak serajin itu. Hehe. Aku biasanya langsung memasukkan semua. Palingan aku sobek-sobek pakai tangan kalau terlalu besar.

Ya sudah, begitu saja sih cara mengkompos. Intinya kan: menyiapkan wadah yang memungkinkan sirkulasi udara, masukkan bahan brown, masukkan bahan green, masukkan bahan brown lagi.

Kalau besoknya punya sampah organik lagi, tinggal masukkan saja sampah tersebut, timbun dengan bahan brown lagi. Begitu terus sampai wadah penuh.

Kalau sudah penuh, tinggal tunggu beres.
Kalau sudah jadi, bisa digunakan untuk pupuk tanaman secukupnya. Atau, disebar saja di taman.

Tantangan dalam Pembuatan Kompos

Biar fair, aku kasih tahu sesuatu yang mungkin menjadi challenge ketika belajar mengkompos. Sesuatu itu adalah …

Organisme kecil.

Mungkin akan ada kumbang, belatung, cacing dan sebagainya yang muncul di dalam kompos. Jangan takut, yaaa. Itu nornal banget pada metode aerob.

Pertama kali aku bikin kompos, aman banget nggak ada yang begituan. Mungkin karena wadahnya aku cover lagi dengan plastik keresek besar.

Tapi, begitu aku sudah nggak pakai cover lagi, di wadah kedua, muncul hewan-hewan kecil. Hehe.

Sebetulnya, kalau kompos itu dibiarkan sampai terurai sepenuhnya, nggak akan ketahuan ada hewan. Mereka kemungkinan akan mati karena makanan sudah habis dan mungkin mereka akan ikut terurai. Tapi, karena aku kehabisan media tanam untuk menanam sesuatu, aku mengambil kompos yang baru jadi sebagian itu dan menemukan mereka yang bergeliat-geliat. Hehe.

Jadi, jangan takut, ya. Kalau sudah sebulan sih mungkin sudah bersih. Toh, mereka juga nggak berkeliaran di luar wadah.

Atau, tutupi saja dengan sesuatu yang longgar tapi cukup menutupi sampai bawah, seperi keresek besar. Kemungkinan hewan nggak akan masuk.

Dan, salah satu alasan aku pakai wadah es krim kan karena ada tutupnya. Itu mencegah hewan yang lebih besar mengorek-korek kompos dari bagian atas atau mengoyak-oyak plastik keresek. Di rumahku sering ada kucing liar atau musang.

Selain itu, percaya deh. Bikin kompos tuh nggak horror kok.

Lebih horror kalau kulit kentang jadi bahan peledak TPA, ‘kan?

Reward” Membuat Kompos

Nah, walau membuat kompos ada challenge yang mungkin bikin “hiiiiih”, membuat kompos juga bisa menghasilkan reward yang bikin senaaaaaang banget.

Dari sisa-sisa makanan, kadang-kadang bisa tumbuh individu baru.

Nih, contohnya.

Membuat kompos tanpa em4

Mangga!

Waktu itu, aku memasukkan biji mangga ke bahan kompos. Setelah didiamkan beberapa waktu, ternyata tumbuh.

Awalnya, aku nggak tahu ada biji mangga tumbuh. Waktu buka wadah, aku senang karena hal lain. Di bagian paling atas, tumbuh tunas-tunas cabai. Aku nggak nyangka dan itu bikin senang banget. Kayak dapat kado yang pas di hati.

Ya sudah, aku ambil tunas-tunas itu. Beres.

Beberapa hari kemudian, aku buka lagi untuk memgambil kompos dari wadah tadi. Waktu lagi ngambilin kompos, tiba-tiba aku nemu biji mangga yang sudah tumbuh akar.

Karena nggak tahu ada biji yang tumbuh, akarnya patah, doooong. Ketarik. Huhu. Tinggal tersisa 1 helai/lembar/unit akar. Tapi, karena penasaran, aku tanam lagi. Alhamdulillah, sekarang sudah tumbuh segitu.

Sebelum mangga dan cabai, pernah juga sih aku menemukan tanaman entah apa. Itu tuh, tanaman di ember di belakang mangga pada foto di atas.

Aku nggak tahu tanaman apa, yang pasti tumbuh dari biji. Waktu ditemukan, bijinya sudah nggak ketahuan itu biji apa, cuma tampak sebentuk biji keras. Jadi, yaaa, biar saja tumbuh.

Yang pasti, setiap menemukan tanaman yang tumbuh tanpa sengaja dari biji sisa makanan, aku senaaaang banget banget. Jadi, buka wadah kompos tuh kayak buka wadah hadiah.

Lagipula, yang dimasukkan ke bahan kompos kan banyak, jadi yang tumbuh pun nggak bisa diprediksi.

Kalau nggak ada yang tumbuh, ya nggak apa-apa. Melihat kompos beres dan siap dipakai saja sudah senang. Berasa achievement unlocked! Apa lagi, kalau ditambah menemukan tanaman yang tumbuh dari biji di dalam kompos, aku merasa mendapatย reward yang luar biasa!

Niat sekadar mengurangi sampah, malah dapat lebih.

Jadi, ayoklah, bikin kompos.

Cara membuat kompos sederhana di rumah

 

You may also like...

18 Comments

  1. Ternyata ngga begitu rumit ya Mak.
    Asik nih kalo semua rumah tangga pada semangat bikin kompos sederhana
    Lingkungan jadi makin sehat dan budget iriiitt ๐Ÿ˜€

  2. Wah . . . Dulu juga Pernah belajar juga pas dikampus. Enggak ribet Dan bermanfaat sekali terimakasih info lengkapnya mak.

  3. Masha Allah mbk aku baru tahu ini masalah kompos jadi pengen belajar nih makasih mbak ilmunya bermanfaat banget nih

  4. Tanaman jadi subur nih berkat kompos ya, dan ternyata bisa bikin kompos sederhana sendiri di rumah. Ternyata nggak terlalu sulit bikinnya. Makasih buat informasinya, jadi tambah pengetahuan baru lagi nih.

  5. Sederhana ya mba cara bikinnya. Mau kuinformasikan ke ibuku nih yang hobi tanam-menanam. Selama ini komposnya selalu beli. Akan lebih manfaat kalik ya kalau memanfaatkan limbah organik yang kita hasilkan sehari-hari.

  6. Oh itu kulit wortel kalau dibuang dan bersatu dengan sampah lain bisa jadi pemicu ledakan ya? Batu tahu nih…
    Kalau buat komposnya sendiri saya di rumah sudah sejak dulu. Maklum di kampung banyak banget kan sampah dari pohon secara sekeliling rumah itu kebun dan pepohonan.
    Meski tetangga komplain banyak daun jatuh, tapi saya lebih komplain lagi karena mereka buang sampah ke sungai sementara saya ya dibuat kompos.

  7. Aku baru tahu kalau bisa bikin kompos sendiri di rumah. Cara jelasinnya gampang dimengerti + ada infografisnya juga ๐Ÿ˜

  8. mertuaku suka deh nanem tanaman tapi biasanya kalau pupuk jarang bikin dia beli aja gitu kompos dari tukang bunga heheh boleh nih ak kasi ke mertua

  9. Ternyata bikinnya lumayan simple dan gak seribet yang dibayangkan yah mbak. Duh, ini pas kebeneran makan siang aku mau bikin sayur sop dan ngupas wortel nih mbak, jadi serem ama gas metana huhuhu
    Makasih sudah diingatkan yah mbak.

  10. Ternyata lumayan simple dan gak seribet yang dibayangkan yah mbak. Pas kebeneran siang ini rencananya mau masak sayur sop dan mau ngupas wortel. Jadi serem ama gas metana nih. Huhuhu
    Makasih sudah diingatkan yah mbak

  11. Membuat kompos sendiri penuh kesabaran banget ya kak,, saya punya temen yang buat kompos sendiri dari sisa2 sayuran dan makanan yang dia makan terus komposnya itu dia bagi2 ke temennya juga.

  12. You are doing well and it is indeed very beneficial for our environment. Thank you for sharing things with us as well

  13. Aku belum pernah membuat kompos sendiri dan kayaknya mau nyobain karena jadi tantangan juga nih ๐Ÿ™‚

    Apa aku harus lebih telaten ya mba ๐Ÿ™‚

  14. Aku pengen nih memanen kompos lagi. Dulu rajin bikin ginian sekarang sering lupanya. Huhuhuhu. Artikel nya bermanfaat nih mbak

  15. Saya baru tau ternyata gas metana yang menyebabkan ledakan di TPA ya? Saya kira ada yang membuang sampah yang bisa meledak seperti batre atau sejenis petasan gitu hihihi
    Pernah punya keinginan buat pupuk kompos di rumah, tapi belum terlaksana aja. Banyak alesannya :))

  16. Wah bagus ini memang kudu disosialisasikan terus ya kepedulian terhadap lingkungan ini…

  17. aku jadi teredukasi karena postingan ini
    selain ulasannya yang dengan bahasa mudah ditangkap
    ada juga infographic lucu-lucu yang bikin kita yang bacain jadi semangat pengen segera bikin juga

  18. Kamu rajin bercocok tanam ya Mba, hehehe
    aku nggak suka, takut cacing . Tapi kalau ibuku beda, semuanya bisa nanem apa aja
    ini jadi bikin kompos sederhana bisa juga ya, makasih tipsnya mba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *