Karena sedang nggak  ada ide untuk membuat postingan, jadilah copas dari tulisan bertahun-tahun lalu sewaktu masih menjadi bagian dari kaum ababil (sekarang juga belum stabil sih). Judul awalnya adalah Diet, tapi kok setelah kata “diet” menjadi makanan sehari-hari, jadi terasa aneh. Ya sudah aku ganti dengan judul yang pertama muncul di otak. Isi sama sekali tidak diedit. Bukan karena yakin bagus, cuma memang lagi nggak ada mood baik.
Chubby Cheek
Rindi terbangun di ruangan bercat putih. Dia langsung tau dia berada di UKS. Kepalanya masih terasa agak berat. Dia ingat tadi dia pingsan ketika latihan upacara, mungkin karena sejak pagi dia cuma makan selembar roti. Dia berusaha bangkit tapi ada yang menahannya.
“Loe gak usah bangun dulu,” kata orang yang menahannya itu.
Tanpa perlawanan, Rindi kembali membaringkan badannya lagi. Kepalanya sedikit berdenyut setelah dia mencoba bangun.
Rindi melihat orang yang menahannya tadi. Jantungnya berdegup kencang setelah melihatnya. Ternyata Rei, cowok yang disukainya.
Rindi menoleh ke sekeliling. Hanya mereka berdua di UKS. Kalau tidak sedang lemas, dia pasti sudah salah tingkah tapi karena dia sangat lemas, dia hanya bisa terbaring menatap Rei.
“Nih, minum dulu,” kata Rei, menyodorkan secangkir teh manis hangat.
Rindi mengangkat tubuhnya sedikit. Rei membantunya bangun. Rindi meminum tehnya pelan-pelan, cangkirnya dipegangi Rei.
“Kata Leni loe dari tadi belum makan karena lagi diet, ya?” kata Rei.
“Iya,” jawab Rindi pelan. “Sekarang dia di mana?”
“Di lapangan, latihan lagi. Tadinya dia yang mau jagain loe di sini, tapi gue bilang gue aja yang di sini.”
Rei mau jagain gue? batin Rindi.
“Kenapa sih cewek-cewek suka banget nyiksa diri sendiri kayak gitu? Nahan lapar cuma demi badan langsing,” kata Rei lagi.
Rindi tak bisa menjawab kata-kata Rei karena jawabannya menyangkut Rei. Dia yakin Rei lebih suka cewek langsing daripada cewek gemuk, lagipula cewek gemuk nggak pantas buat cowok seperti Rei.
Rei mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dan memberikannya kepada Rindi.
“Nih bolu, tadi belum sempet gue makan. Loe aja yang makan, loe kan belum makan.”
Rindi memakan bolu itu. Walaupun hanya sedikit, setidaknya bisa mengganjal perutnya yang keroncongan karena belum diisi apa pun. Sambil memakan bolu itu, sesekali dia mencuri pandang ke arah Rei.
“Jujur, gue lebih suka cewek gemuk, kayak loe,” sambung Rei.
Kalimat Rei itu nyaris membuat Rindi tersedak. Beneran nih? Rindi tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Kenapa loe lebih suka cewek gemuk?” Rindi bertanya dengan nada yang dibuat-buat terdengar biasa.
“Lucu aja. Beda daripada yang lain.”
Rindi ingin melompat dari tempat tidur saking senangnya tapi dia menahan keinginannya karena takut Rei akan menganggapnya aneh. Sebagai gantinya, dia hanya menarik nafas panjang. Dia belum pernah merasa sesenang itu.
“Tipe cewek seorang cowok kan beda-beda jadi, buat cewek-cewek gemuk gak usah susah-susah diet karena ada cowok-cowok yang lebih suka cewek gemuk. Gemuk bukan berarti gak cantik,” kata Rei lagi.
Rindi memikirkan kata-kata Rei itu. Benar juga. Gemuk juga bisa cantik asalkan pandai merawat diri. Selain itu, kecantikan bukan hanya dari luar melainkan juga dari dalam hati. Justru inner beauty-lah yang paling penting.
“Loe bener,” kata Rindi.
Rei tersenyum. “Jadi, jangan susah-susah ngelangsingin badan lagi, ya. Gemuk atau langsing, yang paling penting adalah tetap hidup sehat. Gue suka loe apa adanya.”
Tepat ketika Rei selesai berbicara, pintu UKS terbuka. Leni masuk dengan wajah berkeringat.
“Oh, Di, syukur deh loe udah sadar,” kata Leni begitu melihat Rindi yang sudah duduk di tempat tidur.
“Hmm… karena udah ada Leni, gue ke lapangan dulu, ya!” kata Rei lalu menghilang di balik pintu UKS.
Rindi senyum-senyum sendiri mengingat kata-kata Rei tadi. “Jujur, gue lebih suka cewek gemuk.” ” Gemuk bukan berarti gak cantik,” “ Gue suka loe apa adanya.”
“Len, ingetin gue supaya gue gak diet lagi,” kata Rindi
Leni cuma bisa terheran-heran melihat sahabatnya tampak senang dan tidak mau diet lagi. Yang dia tahu, perubahan pikiran Rindi pasti ada hubungannya dengan Rei.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *