Hello!
Beberapa hari yang lalu, aku lihat postingan-postinganku berantakan. Kadang ngepost ini, kadang ngepost itu. Postingan yang dulu pernah aku jadwalkan tiap weekend, Bacaan Pagi Ini, buyar di minggu kedua. Agak malas juga harus nge-save postingan orang lain dan milih yang paling kusuka selama seminggu. 
Untuk postingan ini, aku harap aku tidak malas. Aku pilih sesuatu yang memang kusuka lahir batin. Jajan. Menurut kamus versiku, jajan adalah sesuatu yang dianggarkan tetapi tidak direncanakan secara spesifik. Nah loh. Maksudnya? Kayak uang saku. Ada anggaran untuk ongkos, ada anggaran untuk jajan. Anggaran untuk jajan ini memang ada, tetapi pasti belum terencana dengan jelas mau dijajankan apa saja. Lain cerita kalau anggaran itu disisihkan untuk beli hal lain, misalnya beli buku.
Jadi, yang namanya jajan kadang tidak dianggap sebagai kebutuhan, tapi begitu tidak bisa jajan malah rewel. Bukan cuma kurang piknik yang bisa bikin rewel. Kurang jajan juga.
Dalam hal ini, jajan yang kumaksud bukan cuma jajan makanan. Apa pun bisa jadi jajanan. Bahkan, masker juga bisa aku masukkan sebagai jajanan. Pokoknya, segala hal yang bisa dibeli untuk mendapatkan kesenangan bisa disebut jajanan. Karena aku yang buat postingan ini, jadi suka-suka  aku mau apa saja yang kumasukkan ke sini. ^^

Sebagai permulaan, aku mau cerita yang paling baru dulu, ya. Soalnya mau jajan di tempat jajan betulan, belum sempat. *sok sibuk*

Cilok Isi Kepiting

Pasti tahu cilok, kan? Salah satu jajanan zaman SD yang selalu digemari. Jajanan ini terbuat dari sagu, sepeti namanya yang merupakan singkatan dari aci dicolok, atau sagu dicolok. Mungkin dulu cilok memang dicolok. Atau karena makannya dicolok satu-satu. Mbuh lah.

Sekarang cilok bukan hanya bisa ditemui di SD. Di mana-mana sudah banyak. Bahkan, di restoran pun ada menu cilok. Salah satu resto yang menyediakan cilok adalah Orange Resto, Bogor. Review Orange Resto-nya, nanti, ya, di postingan terpisah. Sekarang, ngomongin cilok dulu.

Cilok di Orange Resto diberi nama Cinlok. Aku tidak tahu kenapa demikian. Mungkin supaya yang makan jadi cinlok. #eaaa.

Hal apa yang menjadi pertimbangan sebelum memilih makanan? Aku, sih, melihat harga.

Jujur saja, harga cilok ini cukup membuat melotot. Rp13.000. Huhu. Harga segitu, bisa untuk beli berapa cilok di SD?

Bukan aku, sih, yang beli. Aku mah ikutan saja. Temanku yang mau-maunya beli cilok harga segitu.

Ketika pesanan datang, aku makin meringis. Porsinya sama kayak satu porsi cilok di SD. Mungkin ada yang istimewa dari cilok itu makanya harganya segitu.

Bagian luar cilok ini standar saja. Nah, istimewanya ada di bagian dalam. Ada warna orange yang tampak di sana. Semula, kami pikir itu wortel. Yes, warna itu selalu identik dengan wortel. Tapi, ada bagian putihnya. Atau, wortel dicampur bahan lain? Setelah berdebat dengan teman, akhirnya, barulah ngeuh itu apa. Kepiting.

Well, aku memperkirakan, kepitingnya bukan kepiting sungguhan. Kalau kepiting sunggahan, sepertinya warnanya tidak setengah putih setengah orange. Dari segi rasa, sama seperti kepiting imitasi lain. Karena dicampur dengan bagian luar dan saus cilok, rasanya pun agak tertutup. Makanya, kami tidak bisa langsung menebak kalau itu kepiting.

Sausnya, seperti saus pempek, tapi tidak begitu menyengat. Secara keseluruhan, rasa ciloknya oke. But, harganya bikin meringis. Padahal, harga menu lainnya standar, loh.

Oke, curhat ciloknya segini dulu.

Sampai jumpa dengan jajanan lainnya!

You may also like...

5 Comments

  1. Kirain mau bagi resep cilok isi kepiting, wkwk

  2. Judulnya bukan "jajan" dong. CX

  3. selama ini hanya dengar namanya "cilok" ini, tapi sampai saat ini belum pernah merasakan kenikmatannya 🙂

    penasaran pengen tahu seenak apa sih rasanya??

  4. hahaha, jadi kepengen makan cilok

    tapi di Bengkulu cilok itu artinya mencuri loh,

  5. Kata ponakanku, cilok itu enak.
    Sampai sekarang, aku belum kepengin hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *