Culinary

Cilok Mang Gogon Mengobati Kerinduan │ Rabu Jajan

 

rabu-jajan-cilok

 

Untuk ketiga kalinya, Rabu Jajan bahas cilok. Kesannya aku cinta banget cilok. Haha.

Setelah insiden cilok isi tisu, aku tidak pernah lagi makan cilok sampai berbulan-bulan. Masih trauma. Tapi, yah, memang dasarnya suka, tidak mungkin juga selamanya tidak makan cilok. So, pada akhirnya, aku merindukan cilok … so much.

Walaupun begitu, aku belum tega menjajankan uangku untuk cilok. Membuat sendiri? Belum sampai tahap rindu hingga mau berkutat membulat-bulatkan cilok sendiri.

Beberapa kali sempat berpikir untuk membeli cilok secara online. Aku pikir, industri semacam itu kemungkinan lebih menjaga hygiene daripada industri cilok gerobak. Bukan bermaksud mengecilkan industri gerobak, ya. Kalau ada apa-apa dalam cilok yang sudah eksis secara online ‘kan mudah saja komplainnya. Ada cs-nya. Kalau mau garis keras, bahkan bisa via media sosial. Kalau komplain cilok gerobak? Mau komplain ke mana? Ke tukang jualannya. Biasanya ‘kan bukan beliau yang membuat. Paling-paling tukang jualannya hanya bisa pasrah dan bingung.

Sayangnya, ada cilok online pun aku belum juga membeli. Aku mengira-ngira, sepertinya isinya sedikit. Sayang ongkos kirim. Harganya juga berkali-kali lipat dibanding cilok biasa. Perhitungan banget, ya. Hehe.

Kalau bukan gara-gara grup Telegram, mungkin sampai sekarang aku belum makan cilok lagi. Di salah satu grup itu ternyata ada yang menjual cilok. Karena teman sendiri, ya aku percaya saja soal hygiene. Isinya juga sepertinya tidak terlalu sedikit. So, akhirnya aku pun membeli cilok.

Harganya Rp23.000 dengan ongkos kirim dari Bandung Rp17.000. Mahal ongkos kirimnya, ya. Soalnya, pakai yang sehari sampai karena takut basi. Jadi, totalnya Rp40.000. Kalau beli cilok di gerobak, bisa dapat 80 butir. Haha. Tapi, yah, kadung ngebet.

Setelah menunggu cilok seperti menunggu hadiah giveaway, gerombolan cilok pun datang. Muncullah sebungkus Cilok Mang Gogon.

cilok-mang-gogon

Wait … ini cilok yang dijual online itu. LOL. Tapi, nggak apa, sih. Ternyata tidak sesedikit yang dikira. Butirannya lebih besar daripada cilok gerobak.

Langsung saja dihangatkan sesuai petunjuk di balik kemasan. Untung sebelumnya masih ingat untuk difoto *seolah penting*. Cilok cukup dikukus selama sekitar lima belas menit dan bumbu kacang dihangatkan.

Voila! Cilok siap membuatku bahagia. 😀

cilok

Aku tambahkan kecap untuk lebih membahagiakan. Makanan yang berbumbu kacang perlu ditambah kecap. #prinsip (kecuali karedok)

Ciloknya kenyal, tidak lembek ataupun keras. Dalam satu kemasan, sepertinya isinya bermacam-macam, tapi kalau dilihat dari toko online sebelah, cilok ini isinya jando atau lemak susu. Aku tidak begitu mempermasalahkan isinya karena aku makan sekali suap satu butir. Hehe.

Bumbunya agak pedas. Rasa kacangnya tidak membuat enek. Pokoknya enak. Haha.

Ternyata … ternyata … makan beberapa butir saja cilok ini sudah mengenyangkan. Tapi aku mau lagi. 😀 Nanti, deh, kapan-kapan. Kalau keseringan, bisa gumoh cilok. Lol. 

Bahagia itu sederhana, sesederhana rasa cilok. 😀

You may also like...

1 Comment

  1. Cilok oh cilok, aku juga sering rindu sama makanan yang satu ini, sampai beli online yang ongkirnya seharga dengan ciloknya ha…ha… .BTW salam kenal mba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *