“Ma, tadi aku dapat nilai 100 di ulang Matematika!” Lea menunjukkan gigi-giginya yang “berjendela” di bagian tengah atas, bangga atas dirinya sendiri.
“Selamat, ya. Kamu pasti sudah belajar giat.” Mama merangkul Lea lembut.
“Iya, dong. Kemarin Mama nggak datang sih. Aku belajar sampai malam loh.” Gadis kelas tiga SD itu sekali lagi tersenyum bangga.
“Kamu memang anak pintar.” Mama mengecup puncak kepala Lea.
“Ma, hari ini juga akan pergi lagi?”
Mama terhenyak. Hujan di luar belum menunjukkan tanda-tanda reda. Tapi, seiring meredanya hujan, pertanda wanita itu harus pergi lagi, seperti hujan yang datang dan pergi.
“Iya, Sayang. Maaf, ya. Mama harus pergi lagi.”
“Kapan Mama akan mengajakku?”
“Nanti, Sayang. Nanti.”
Hanya itu jawaban yang dapat diberikan Mama. Selalu seperti itu. “Nanti” yang entah kapan. Ia tahu Lea selalu merindukannya, sama seperti dirinya yang selalu merindukan putri tunggalnya itu.
Dan, lagi-lagi Lea cemberut.
“Kamu harus menemani Papa dulu. Kasihan Papa. Setiap pulang kerja, lelah Papa pasti akan hilang begitu melihatmu.”
“Tapi, memangnya Mama nggak sedih sendirian? Lagian Papa kan ada Tante Tria.”
Nama itu. Nama yang selalu mampu membuat genggaman Mama menguat. Namun, ekspresi Mama pasti tetap sama, tetap tersenyum. “Mama banyak teman kok. Kapan-kapan Mama ajak ke sini.” Mama berusaha meyakinkan Lea. “Lagian kerjaan Mama lebih banyak daripada Papa.”
Lea merajuk. Ia ingin seperti teman-temannya: memiliki seorang ibu yang selalu ada untuknya, bukan ibu yang selalu datang dan pergi seperti hujan yang turun dan reda. Ia ingin dibangunkan oleh seorang ibu. Ia ingin mencicipi masakan seorang ibu. Ia ingin diantar seorang ibu ke sekolah. Ia ingin memeluk seorang ibu sepulang sekolah. Ia ingin . . . ah, terlalu banyak keinginannya mengenai sosok ibu impiannya. 
“Tapi Tante Tria galak, Ma.” 
“Makanya kamu jangan nakal.”
“Nggak kok. Aku nggak nakal. Kemarin aku dipukul gara-gara aku nggak sengaja numpahin sup.”
Mama mengelus kepala Lea lembut.
“Lea!” Suara Papa. Papa sudah pulang. Itu artinya . . .
“Mama harus pergi.” Lagi-lagi kalimat itu terucap dari wanita di samping Lea.
Dan, dengan satu kecupan ringan di dahi, Mama pergi melewati jalan belakang. Gadis itu tidak pernah mengerti alasan mamanya tidak pernah mau menemui Papa. Tidak saat itu. 
Maka, dengan kepergian Mama, Lea menghampiri Papa, yang tentu saja pulang bersama Tante Tria. Tentu saja, Papa pasti menjemput Tante Tria.
“Halo, Sayang.” Papa memeluk gadis kecilnya dan mencium kedua pipinya. Mau tak mau Lea merasa kepergian Mama terobati.
Tante Tria juga berusaha memeluknya, tapi gadis itu mengelak. Ia tidak mau disentuh wanita yang kadang baik,  dan lebih sering jahat itu. “Kamu kok gitu sama Mama?”
“Mama”, ya. wanita itu sering menyebut dirinya Mama, sejak Lea belum mengerti apa pun. Namun, kedatangan Mama beberapa waktu lalu mengubah semua. Lea tahu Tante Tria bukan Mama yang sesungguhnya. Walau demikian, dengan enggan, Lea tetap memanggilnya Mama, demi Papa.
“Pak, saya mendapati wanita ini mengendap-endap keluar.” Mang Amir yang berbicara. Ia tukang kebun yang kebetulan sedang bekerja hari itu.
“Mama!” pekik Lea. Ia menghambur ke wanita berambut panjang itu.
“Mama!?” Papa dan Tante Tria berseru heran sekaligus terkejut.
“Lea, ini Mama!” Tante Tria menunjuk dirinya sendiri.
“Nggak! Aku mau Mama yang baik. Kata Mama, Tante cuma ngambil Papa dari Mama!”
“Lea, ini Mama! Ibu kandungmu!” Tante Tria tidak dapat menyembunyikan ekspresi kengerian.
“Bohong!”
“Tria,” desis Papa. Wajahnya tegang. “Dia pasienku yang hilang beberapa bulan lalu.”

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *