Sudah terlalu lama sendiri.

Sudah terlalu lama aku asyik sendiri.

Mungkin penggalan lagu “Telalu Lama Sendiri” yang dibawakan Kunto Aji tersebut sangat dengan sindrom-anak-sulung. Beberapa anak sulung mengalami hal ini: nggak mau punya adik. Alasannya? Seperti lirik tersebut. Sudah terlalu lama asyik sendiri.

Semula, apa-apa untuk dia, tiba-tiba dihadapkan pada pilihan untuk berbagi. Kadang, ada rasa insecure.

Mending, ya, kalau masih dalam pilihan. Kalau nggak? Yaa, namanya juga orang tua, pasti ada PR. *sotoy*

Beberapa temanku yang beda dengan adiknya hanya 1-2 tahun sempat mengutarakan hal ini. “Boro-boro ditanya mau punya adik atau nggak, ngerti juga belum.” Biasanya, kalimat itu muncul kalau si adik baru membuat kesal. Lol.

Kalau aku, dulu sudah secara bisa memilih. Sudah bukan batita lagi gitu, loh.

Tiap ditanya mau punya adik atau nggak jawabannya …

“Nggak.”

Hehe.

Aku hidup di lingkungan sepi. Seingatku, aku hanya bertemu bayi 1-2 kali dalam 4 tahun hidup. Itu pun hanya sekilas.

Dalam 4 tahun kehidupan itu, orang-orang memperlakukanku seperti princess *uhuk*. Apalagi, dulu di keluarga besar pun masih tergolong angkatan termuda. Kalau tiba-tiba ada adik, pasti si adik yang lebih didahulukan.

Sampai suatu hari, orang tua mengajak ke obgyn.  Mau ngapain coba anak umur 4 tahun dibawa ke obgyn?

Keluar ruang, mereka menanyakan hal itu lagi untuk kesekian kalinya,

“Mau punya adik, nggak?”

Yaaa, mau jawab nggak pun, nggak mungkin yang sudah ada dibatalkan, ‘kan?

Betul saja. Tahun berikutnya aku punya adik.

Walaupun mau-nggak-mau, tetap saja aku excited menyambut hal baru. Ibuk juga terus-terusan memberi contoh sepupu-sepupu favoritku yang kakak-beradik, dengan beda usia hampir sama denganku si adik.

“Biar kayak mereka.”

Begitu.

Jadi, yaaa, akhirnya aku terima kenyataan harus berbagi.

Walau jauh di lubuk hati aku tak ingin terus begini.

Aku harus terus berusaha tapi mulai dari mana.

Betul, deh, tiba-tiba nggak sendiri lagi itu membuat bingung. Maunya jadi baik, tapi kadang iri. Jadi mulai dari mana?

Pernah suatu ketika, Ibuk telat menjemput. Sekolah sudah sepi banget. Dalam hati, aku merutuk, pasti penyebabnya anak itu.

Pernah juga, waktu kelas 1, aku terpaksa ambil rapor sendiri. Guru bilang, rapor dibagikan besok atau lusa. Besoknya, orang tua sudah berdatangan. Dan, aku sendiriii~~~

Dan, belum cukup kesal karena ambil rapor sendiri, they didn’t appreciate what I achieved karena … terlalu ribet dengan si adik yang rewel.

Duh, princess lelah dibegitukan terus. Princess butuh perhatian (lagi).

Walaupun begitu, aku nggak sampai kepikiran “kayaknya mending nggak usah adik”. Aku nggak sejahat itu.

Yang ada, malah “gimana kalau aku nggak usah ada aja? ‘Kan udah gantinya.”

Lebih ekstrim, ya? Begitulah. Kadang, sindrom-anak-sulung memang mengerikan.

Di sisi lain, aku juga cenderung posesif terhadap si adik. Orang lain nggak boleh bawa-bawa dia. Entah, sih, ini posesif atau ada iri juga: kenapa si adik yang dibawa, diajak main, bukan aku?

Then, kami pindah rumah. And, he was my only friend. Waktu itu, belum menemukan teman baru. Barulah kerasa banget, enaknya punya adik.

Waktu itu, dia masih kecil banget. Masih bisa diatur-atur. Jadi, masih asyik banget mainnya.

Tapi, yaaa, berantem sering. Iri masih ada. Kesal juga.

Malah, kadang, kalau dia sakit, aku ketularan, dalam hati aku menyalahkannya. Jahat? Iya.

Atau, aku sakit, dia nggak. Itu juga suka membuat kesal. Bahkan, sekadar sakit kayak sariawan sekalipun.

Apalagi, dulu kami sering dibanding-bandingkan soal kesehatan. Aku yang dulu mudah jijik terhadap sesuatu ini, mudah juga sakit. Dia yang suka main kotor-kotoran, jarang sakit.

Belum lagi, kalau bagian susah minum obat. Yaa, namanya anak kecil, ‘kan? Obat sariawan yang pahit aja rasanya semacam siksaan hidup, ‘kan? Ya, ya, ya? *mencari pembelaan*

Makin besar, untungnya makin jarang sakit. Nggak pakai lagi acara nuduh ketularan atau iri-irian.

Sayangnya, makin besar juga, makin jarang berkomunikasi. Makin hidup di dunia masing-masing. Huhu.

Dalam seminggu, bisa dihitung dengan jari kapan kami bercakap secara langsung. Ngobrol langsung loh, ya. Via teks mah sering.

Dan, inilah yang membuat aku cinta banget dengan kemajuan zaman.

Whatsapp dari gebetan bikin senang? Nggg … mungkin. Tapi, ada lagi yang lebih bikin senang: Whatsapp dari adik.

Seringnya, memang aku yang ganggu dia duluan. Minta ini-itu. Apalagi, soal perkomputeran. Spesialisasi dia banget, ‘kan. Anak Teknik Komputer Jaringan gitu, loh.

Waktu laptopku rusak juga, akhirnya yang carikan tukang servis. Aku tinggal duduk cantik, menunggu laptop selesai.

Waktu mau daftar wisuda, sudah mepet banget, akhirnya aku minta jemput. Dan, jarak antarkampus yang puluhan kilometer bisa ditempuh dalam waktu 10 menit.

Kadang, memang harus mencari sesuatu yang penting untuk menjadi topik. Tapi, hal penting ‘kan nggak selalu ada.

Kalau sudah begini, hanya ada satu hal yang bisa menyatukan: makanan.

Notifikasi Whatsapp berisi ajakan jajan adalah salah satu hal yang paling bisa membuat langsung senyum-senyum sendiri. Gebetan ngajak jajan? Lewaaaat. Aku punya dia yang sudah Tuhan antarkan padaku sejak aku berusia 5 tahun.

Makanya, kalau sakit, malah membuat sedih. Nggak bisa jajan bareng. Bahkan, kalau sakitnya yang kata orang-orang ringan: sariawan.

Yaa, kalau sariawan bagaimana mau jajan coba? Makan saja susah. Makanya, jangan sampai deh sariawan lama-lama.

Sekarang, sih, sudah ada Aloclair Plus, obat sariawan yang nyaman dan cepat menyembuhkan. Nggak pakai perih.

Aloclair Plus mengandung ekstrak lidah buaya atau Aloe vera. 1-2 tetes, cukup untuk menutupi bagian yang luka. Jadi, bagian yang luka nggak terkena rangsangan sakit kayak makanan atau minuman yang nggak sengaja bergesekan dengan kulit.

Begitu gel disentuhkan dengan permukaan kulit, rasanya adem. Tunggu sekitar 2 menit sampai pelindung terbentuk sempurna.

Memang, sih, setelahnya nggak boleh makan selama satu jam, tapi kayaknya jauh lebih baik daripada naha sakit lama-lama. Aloclair ini cukup dipakai 3-4 kali sehari buat hasil maksimal. Kalau pakainya pas lagi main, nggak akan kerasa lama nunggu sejam itu.

Coba, ya, dari dulu sudah kenal obat ini, nggak akan ada acara iri dia-sehat-aku-sakit. Hehe.

Sesekali kepikiran, apa jadinya kalau aku sangat menolak kehadirannya? Mungkin Tuhan akan menjawab penolakanku dengan caranya. Mungkin aku akan sendiri, tapi tanpa keasyikan.

Hey, you!

Aku tahu aku sering galak. Sering bikin ribet. Sering galak. However, thank you ti be born to me. Ummm … It is hard to me to say, but … I can’t smile without you. 

You may also like...

1 Comment

  1. Dengan adanya Aloclair saya tertolong banget karena jadi bisa mengobati sariawan tanpa perih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *