Sebutkan benda-benda yang kamu rasa tidak bisa hidupnya tanpanya!

Kalau pertanyaan ini ditanyakan dua puluh tahun lalu, mungkin jawabannya sekadar pangan, sandang, papan. Aku—yang saat itu masih SD—juga akan menjawab demikian. Kebutuhan pangan, sandang, dan papan adalah kebutuhan pokok. Benda-benda seperti kipas angin, ponsel, kendaraan, dan lainnya adalah kebutuhan sekunder dan tersier alias masih bisa dikesampingkan. Begitu yang aku pelajari sewaktu SD.

Nah, kalau sekarang bagaimana? Selain pangan, sandang, dan papan, banyak benda lain yang dirasa diri ini sulit lepas darinya. Listrik, ponsel, kipas angin, internet adalah beberapa benda yang aku rasa aku tidak bisa hidup tanpanya.

Oke, mungkin berlebihan kalau sampai bilang “tidak bisa hidup tanpanya”. Namanya juga hiperbola. Kita masih bisa hidup tanpa ponsel, tapi kita tidak bisa hidup tanpa makanan.

Namun, tidak bisa dipungkiri sangat sulit mengesampingkan listrik, ponsel, internet, dll. Semua itu seolah sudah sangat melekat pada diri kita. Iya, ‘kan?

Kemajuan zaman telah menawarkan berbagai kemudahan. Kita sangat terbiasa dengan teknologi modern. Satu saja hilang … wah, rasanya hampa.

Bulan Juli lalu, Bogor sempat mengalami pemadaman listrik. Pemadamannya cukup lama, sampai beberapa jam. Betulan, deh, bukan pengalaman yang menyenangkan!

Hidup di Bogor yang sedemikian panasnya tanpa kipas angin atau AC? Aduh, aduh. Seperti latihan kesabaran.

Belum lagi, Wi-Fi juga ikut mati. Jadilah harus pakai mobile data. Untungnya, waktu itu, aku masih punya kuota.

Masalahnya, pemakaian mobile data itu membutuhkan daya lebih besar daripada Wi-Fi. Baterai smartphone cepat sekali menuju sekarat. Bingung, deh.

Ditambah, kekhawatiran makanan di kulkas terancam rusak. Nah, loh!

Pemadaman listrik itu betul-betul membuat tersadar betapa keseharianku sangat bergantung dengan listrik.

Apakah Manusia Bisa Hidup Tanpa Listrik?

Bisa. Selama ribuan tahun, manusia berhasil hidup tanpa listrik. Jadi, pada dasarnya manusia bisa hidup tanpa listrik.

Ya, memang bisa, sih, hidup tanpa listrik, tapi … tapi apakah kita tidak kelimpungan kalau harus hidup seperti itu?

Hidup ini tentang pembiasaan. Kita terbiasa dengan kepraktisan.

Gelap? Tinggal tekan saklar. Lampu pun menyala. Ruangan terang benderang. Tidak perlu membuat obor.

Panas? Tinggal tekan tombol “on” pada kipas angin atau remote AC. Udara dingin pun mengalir menyejukkan. Tangan tidak pegal mengipasi diri.

Bahkan, menghasilkan uang pun sekarang sudah bisa hanya sambil duduk dan memegang benda berukuran 5 inci: smartphone.

Dibuat dengan Canva

Kalau suatu saat kita harus menjauh dari kepraktisan itu, mungkin butuh waktu beradaptasi. Hitungan hari, mungkin masih terasa seperti kebakaran jenggot. Hitungan minggu, mungkin sudah mulai bisa terasa biasa. Sekali lagi, “mungkin”.

Aku belum pernah hidup di daerah yang belum dialiri listrik. Jadi, aku tidak tahu apakah akan bisa terbiasa seandainya tinggal di sana ataukah selamanya merasa ada yang “kurang”?

Namun, bisa atau tidaknya seseorang hidup tanpa listrik bukan berarti mereka ingin hidup tanpa listrik selamanya, ‘kan? Siapa, sih, yang tidak ingin rumahnya terang pada malam hari? Bisa ke dapur tanpa gelap-gelapan. Bisa membaca di malam hari dengan bebas.

Sayangnya, di tahun 2021 saja, masih ada daerah yang belum dialiri listrik. Pada triwulan I 2021, 346 desa di Indonesia belum teraliri listrik. Rinciannya adalah 276 desa di Papua dan 70 di Papua Barat. [1]Purnama, Sugiharto. 2021. “346 desa di Papua dan Papua Barat belum teraliri listrik”. (https://www.antaranews.com/berita/2227618/346-desa-di-papua-dan-papua-barat-belum-teraliri-listrik, … Continue reading

Belum Semua Mendapat Listrik, Tapi Kok …

Cadangan energi fosil di Indonesia semakin menipis.

Pada Oktober 2020, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, menyatakan bahwa minyak bumi di Indonesia akan habis dalam sembilan tahun lagi kalau tidak ada penemuan cadangan baru, gas bumi habis 22 tahun lagi, dan batu bara 65 tahun lagi. [2]Setiawan, Verda Nano. 2020. “Bahan Bakar Fosil Menipis, ESDM Dorong Transisi Energi”. … Continue reading

Sebagai informasi, pada Juni 2021, 86,45% energi listrik di Indonesia masih berasal dari energi fosil. [3]Antara. 2021. “Realisasi Bauran Energi Baru Terbarukan Capai 13,55 Persen, Naik 2,04 Persen”. … Continue reading

Nah, loh. Padahal, di 2021 masih ada wilayah yang belum terjamah listrik. Artinya, dengan kenyataan bahwa tidak 100% warga Indonesia memakai listrik dari energi fosil saja, energi fosil hanya cukup untuk beberapa tahun lalu.

Memang, sih, energi fosil bukan cuma untuk listrik. Namun, tetap saja, hal tersebut menunjukkan bahwa kita—yang menikmati listrik sejak lahir—sangat berperan dalam menghabiskan energi fosil.

Sedia Payung Sebelum Hujan

Sedia sumber energi lain sebelum energi lama habis.

Minyak bumi dan batu baru adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Kita sudah belajar hal itu sejak SD. Dengan kata lain, kalau sumber energi fosil habis, ya sudah, dadah.

Bayangkan kalau minyak bumi di Indonesia habis. Hm … mungkin kita jadi impor?

Lalu, bayangkan kalau minyak bumi di seluruh dunia habis. Sudah tidak ada lagi opsi impor.

Kalau begitu, mau tidak mau harus mencari sumber energi lain. Namun, baru mencari ketika sudah habis termasuk terlambat.

Urusan listrik mungkin mudah ditangani. Bisa bangun turbin atau panel surya sendiri. Selesai.

Masalahnya, hasil fosil bukan hanya untuk listrik. Plastik dan aspal pun dari fosil.

Kalau energi fosil sampai habis sebelum penggantinya siap, siap-siap saja banyak jalan yang masih tanah saja.

Belum lagi plastik. Memang, sebaiknya kita hidup minim plastik. Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri peran plastik sangat besar. Dalam dunia medis, misalnya. Plastik menjaga banyak benda tetap steril.

Karena itu, bersiap-siap untuk berpindah ke energi selain fosil sangat perlu. Pindah sebelum habis. Biarlah energi fosil untuk hal-hal yang sangat penting saja.

Pindah ke Mana?

Ada banyak energi yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Angin, air, laut, tenaga surya, biomassa adalah beberapa contohnya. Indonesia mempunyai banyak potensi.

Energi angin, misalnya. Beberapa daerah mempunyai potensi energi angin lebih dari 100 Mega Watt. Daerah-daerah antara lain, Sukabumi, Garut, Lebak, Pandeglang, dan Lombok. [4]Arvirianty, Anastasia. 2018. “RI Punya Potensi 978 MW Tenaga Angin, Ini Sebarannya. … Continue reading

Lalu, ada tenaga surya. Tidak perlu ditanya lagi. Sebagai negara di khatulistiwa, Indonesia mempunyai potensi sangat besar untuk ini. Matahari bersinar sepanjang tahun.

Semudah Itukah Pindah? Bukannya Sektor Energi Juga Bisnis?

Yap, betul. Energi juga bagian dari bisnis. Selama ada urusan “bisnis”, orang-orang akan bekerja keras supaya bisnisnya tetap relevan di pasar.

Walaupun begitu, perlu diingat bahwa cadangan energi fosil akan habis beberapa tahun lagi. Jadi, apakah pelaku bisnis tetap saklek hanya berkecimpung di energi fosil?

Lagipula, salah satu faktor yang menjanjikan keuntungan dari bahan bakar fosil adalah dari sisi ekspor. Contohnya baru bara. Pendapatan ekspor batu bara mencapai 80-88% dari produksi batu bara di Indonesia selama dekade terakhir. Secara historis, volume ekspor batu bara mengalami fluktuasi. Cina merupakan tujuan ekspor utama dan sangat mempengaruhi harga. [5]Arinaldo, Deon (IESR). 2020. Energy Transition in the Power Sector and Its Implication for the Coal Industry. Seri Studi Peta Jalan Transisi Energi di Indonesia. … Continue reading

Di sisi lain, Cina pun mulai beralih ke energi terbarukan. Selain Cina, negara-negara lain pun mulai beralih ke energi terbarukan. Berikut beberapa contohnya: [6]Aryanto, Jobpie Sugiharto. Y. Tomi, dkk (Eds). 2013. Berpihak ke Energi Terbarukan dalam Energi Terbarukan – Peta Bisnis Energi Alternatif. TEMPO Publishing.

Dibuat dengan Canva

Bagaimana Peran Pemerintah?

Percaya tidak kalau aku bilang pemerintah pro Energi Baru dan Terbarukan (EBT)?

Harus percaya. Indonesia mempunyai target bauran EBT sebesar 23% untuk tahun 2025[7]Pribadi, Agung. 2019. Kejar Target Bauran Energi 2025, Dibutuhkan Investasi EBT Hingga USD36,95 … Continue reading. Kira-kira mudah tercapai tidak, ya? Coba lihat bagan di bawah ini. [8]Humas EBTKE. 2021. Capaian Kinerja 2020 Dan Rencana Kerja 2021 Subsektor EBTKE. https://ebtke.esdm.go.id/post/2021/01/15/2767/capaian.kinerja.2020.dan.rencana.kerja.2021.subsektor.ebtke, diakses pada … Continue reading [9]Purnama, Sugiharto. 2021. Realisasi bauran EBT capai 13,55 persen hingga April 2021. https://www.antaranews.com/berita/2192266/realisasi-bauran-ebt-capai-1355-persen-hingga-april-2021, diakses pada … Continue reading

Dibuat dengan Canva

Sepertinya, masih terlalu optimis untuk tahun 2025. Namun, kalau dilihat dari target di atas, setidaknya setiap tahun mengalami peningkatan. Kalau setiap tahun naik sekitar 2%, kemungkinan di 2050, lebih dari 50% listrik sudah bisa dipasok dari EBT.

Itu kalau naiknya segitu-segitu terus, ya. Bisa saja naiknya lebih tinggi. Ilmu dan teknologi terus maju. Mungkin saja pencapaiannya bisa lebih cepat.

20 tahun lalu saja, nama energi terbarukan masih sangat asing. Hanya sebatas kita tahu bahwa ada sumber-sumber daya yang dapat diperbaharui. Namun, untuk penerapannya, masih jauh. Sekarang?

Kita bahkan bisa memiliki panel surya sendiri di rumah.

Tertarik dengan Energi Terbarukan?

Yup, kalau tertarik, kita bisa, loh, memasang energi terbarukan sendiri di rumah. Sekarang, sudah banyak perusahaan yang menyediakan pemasangannya.

Jadi, tanpa saling tunggu, kita pun sudah bisa bergerak.

Jumlah kata: 1357

Referensi

Referensi
1 Purnama, Sugiharto. 2021. “346 desa di Papua dan Papua Barat belum teraliri listrik”. (https://www.antaranews.com/berita/2227618/346-desa-di-papua-dan-papua-barat-belum-teraliri-listrik, diakses pada 27 Agustus 2021).
2 Setiawan, Verda Nano. 2020. “Bahan Bakar Fosil Menipis, ESDM Dorong Transisi Energi”. (https://katadata.co.id/sortatobing/ekonomi-hijau/5f90073b81977/bahan-bakar-fosil-menipis-esdm-dorong-transisi-energi, diakses pada 27 Agustus 2021).
3 Antara. 2021. “Realisasi Bauran Energi Baru Terbarukan Capai 13,55 Persen, Naik 2,04 Persen”. (https://bisnis.tempo.co/amp/1468914/realisasi-bauran-energi-baru-terbarukan-capai-1355-persen-naik-204-persen, diakses pada 27 Agustus 2021).
4 Arvirianty, Anastasia. 2018. “RI Punya Potensi 978 MW Tenaga Angin, Ini Sebarannya. (https://www.cnbcindonesia.com/news/20180924102847-4-34413/ri-punya-potensi-978-mw-tenaga-angin-ini-sebarannya, diakses pada 27 Agustus 2021).
5 Arinaldo, Deon (IESR). 2020. Energy Transition in the Power Sector and Its Implication for the Coal Industry. Seri Studi Peta Jalan Transisi Energi di Indonesia. (https://iesr.or.id/pustaka/seri-studi-peta-jalan-transisi-energi-di-indonesia, diakses pada 27 Agustus 2021).
6 Aryanto, Jobpie Sugiharto. Y. Tomi, dkk (Eds). 2013. Berpihak ke Energi Terbarukan dalam Energi Terbarukan – Peta Bisnis Energi Alternatif. TEMPO Publishing.
7 Pribadi, Agung. 2019. Kejar Target Bauran Energi 2025, Dibutuhkan Investasi EBT Hingga USD36,95 Miliar(https://ebtke.esdm.go.id/post/2019/12/06/2419/kejar.target.bauran.energi.2025.dibutuhkan.investasi.ebt.hingga.usd3695.miliar, diakses pada 27 Agustus 2021).
8 Humas EBTKE. 2021. Capaian Kinerja 2020 Dan Rencana Kerja 2021 Subsektor EBTKE. https://ebtke.esdm.go.id/post/2021/01/15/2767/capaian.kinerja.2020.dan.rencana.kerja.2021.subsektor.ebtke, diakses pada 27 Agustus 2021).
9 Purnama, Sugiharto. 2021. Realisasi bauran EBT capai 13,55 persen hingga April 2021. https://www.antaranews.com/berita/2192266/realisasi-bauran-ebt-capai-1355-persen-hingga-april-2021, diakses pada 27 Agustus 2021 ).

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *