Travel

Family Gathering di Trizara Resorts

 

Pernah ikut acara family gathering ‘kan, ya? Atau company gathering? Jalan-jalan bareng atau menginap di suatu tempat Seru-seruan beramai-ramai. Sejenak melupakan keluh kesah atau perang-perangan.

Kalau gathering gitu biasanya ngapain? Makan-makan? Nge-games?  Outbond? Ngobrol? Setiap keluarga atau company pasti punya kegiatan favorit.

Nah, kali ini, aku ikut acara family gathering. Family-nya siapa? Family-nya blogger.

Acaranya di Trizara Resorts, Lembang, Bandung. Kembali ke Trizara setelah lebih dari setengah tahun.

Dari Jakarta, berangkat sekitar jam 9 pagi. Estimasi sudah sampai di sana saat jam makan siang. Estimasi tinggal estimasi karena bus yang kami gunakan harus memutar lewat Purwakarta. Waktu itu, Jembatan Cisomang belum bisa digunakan lagi untuk kendaraan besar.

Sudah mah perjalanan jadi jauh, macet pula. Kami sempat istirahat di Cimahi karena perut-perut lapar mulai teriak.

Kami baru sampai di Trizara sekitar pukul 3 sore. Blogger-blogger Bandung sudah kumpul sejak pagi. Maafkan Cisomang, ya, Kakak-kakak.

Sampai di sana, rasanya mau langsung masuk kamar dan guling-guling di kasur. Huehe.

Trizara-resorts-lembang-bandung

Sayangnya, cuma bisa guling-guling sebentar. Fun games sudah menunggu.

Oh, ya, aku satu kamar dengan Kak Atre dan Kak Ratna Dewi di Svada. Kali ini dapat tenda Svada. Bisa langsung lihat gunung dari depan kamar. 😀

Fun Games

Fun games-nya kurang lebih sama dengan yang lalu. Bagian uji konsentrasi cukup membuatku berusaha memerhatikan arahan. Nggak mau lagi kena hukum. Hehe.

Fun games ini cuma pemanasan untuk games selanjutnya: archery battle! Excited! Tadi masih ingin guling-guling di kasur, sekarang udah nggak, deh.

Archery Battle

Berhubung kami bukan pemanah sungguhan, sebelum battle latihan dulu. Ternyata, main panah nggak semudah yang terlihat di film. Jangankan tepat sasaran, megangnya aja beribet. 😅

Setelah latihan seadanya karena sudah sore, battle pun dimulai. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk bertandi per dua kelompok. Area bertanda dilingkupi net, jadi yang di luar, nggak perlu takut panah nyasar.

Para peserta harus memakai perlengkapan battle untuk melindungi diri berupa tameng dan helm. Untuk yang pakai kacamata, kacamata jadi terasa mengganggu banget karena terdesak helm. Penglihatan jadi terbatas karena mengganjal. Tapi, kalau kacamata dilepas ‘kan tidak bisa melihat jelas. Dilema. Lol. 😂

Kelompok yang menang dihitung berdasarkan yang paling banyak mengenai target lawan dalam waktu 5 menit. 5 menit saja? Kok cepat? Trust me, 5 menit di arena kayak 5 jam di luar.

Kalau ada peserta yang kena panah lawan, peserta itu harus keluar battle sampai “diselamatkan”. Ini nih fungsi pelindung. Melindungi bagian vital tubuh. Aku sempat kena panah di lengan, dan cukup sakit dan bikin kaget.

Battle ini umpet-umpetan seru. Nggak mau ‘kan kena panah lawan, tapi ingin memgenai target. Kalau sembunyi terus, bagaimana mau menyerang? Belum lagi kalau panah habis. Harus ambil di tengah area. Sasaran empuk bagi tim lawan.

Unfortunately, kelompok kami kalah. Mungkin kebanyakan yang matanya minus. *alasan*

Selesai semua kelompok, masih ada yang belum puas bermain. Jadilah beberapa orang main lagi padahal langit sudah berubah menjingga.

Piknik

Menuju jeda makan malam, digelar acara piknik. Piknik di petang hari. Gelap-gelapan. Hihi.

Set up-nya cukup lengkap. Ada makanan, minuman, karpet, plus properti-properti foto seperti topi Indian dan topi koboi.

Nggak semua datang ke piknik karena ini acara bebas. Banyak yang mau leha-leha di kamar setelah lari sana-sini di battle. Sungguh 5 menit penuh perjuangan archery battle ini.

BBQ

Makan malam kali ini agak lain. Konsepnya BBQ. Aku sempat membayangkan BBQ di api unggun, harus bakar-bakar sendiri. Ternyata, BBQ di restoran. Yang membakar waitress Trizara. Kita mah tinggal makan. BBQ holang kayah mah gini. Lol.

Setelah makan, salah satu blogger pinjam jenga ke lobi. Tadinya, hanya main biasa. Lama-lama ada hukumannya bagi yang merobohkan jenga: minum air jahe. Enak, sih, minum jahe di udara dingin, tapi, kalau kebanyakan ya panas. Dan, aku sekali kena hukum gara-gara nambrak meja dan jenganya ambruk. Hmm.

Sekitar pukul 9, kami sudah pindah lokasi kumpul-kumpul, ke tempat api unggun. Kali ini, aku agak bolos karena ada urusan. *uhuk* Tapi, sempat ambil dan membakar satu tusuk marshmallows. Tetap, ya, urusan makanan nggak mau rugi. Kangen marshmallows bakar, sih.

Pagi besoknya, aku usaha bangun untuk melihat matahari terbit. Tapi, sudah susah-susah usaha, mataharinya nggak tampak. Mendung. Dua kali ke Trizara, belum sempat lihat matahari terbit. Gemas.

Pagi itu, sebetulnya ada Zumba. Tapi, berhubung aku nggak mau uget-uget, aku ikut. Huehe.

Offroad

Nah, agak siangan (nggak siang banget, sih, sekitar pukul 8 atau 9), kami bersiap untuk offroad.

Excited juga dengan agenda satu ini. Gathering kali ini jadi bisa coba hal-hal baru.

Trizara-resorts-lembang-bandung-offroad

Rutenya Sukawana-Cikole. Awal-awal jalur yang dilalui masih cukup bagus. Ada perkebunan teh segala. Lama-lama, jalan mulai bergelombang.

Dijelaskan oleh instruktur, salah satu kaki harus menahan dengan bertumpu pada bangku di seberang.

Diguncang kiri-kanan. Beberapa kali melewati jalur sempit dengan ranting-ranting mencuat masuk ke mobil. Debu beterbangan karena belum hujan. Kalau hujan, mungkin lebih seru karena jalanan menjadi licin. Tapi, itu semua menyenangkan. Tiba-tiba saja hiruk-pikuk kota terlupakan. 😄

Trizara-resorts-lembang-bandung-sukawana-cikole

Kami sempat melewati jalur yang terkena rembesan air, entah dari mana. Air cukup menggenang. Mobil juga sempat maju-mundur tidak cantik. Sempat juga ada yang sampai turun mobil.

Trizara-resorts-lembang-bandung-offroad-activities

Sekadar saran, jangan pakai baju bagus-bagus kalau offroad. Sayang kalau kena debu dan ranting. Hehe.

Kami sempat berhenti untuk foto-foto. Foto-foto adalah kewajiban, ‘kan? Hehe. Setelahnya, barulah melanjutkan perjalanan dengan jalur yang gelombangnya lebih besar.

Sampai di tempat tujuan, langsung saja menyerbu snack yang sudah disiapkan. Cuma duduk ternyata bisa bikin capek. 😂

Di tempat ini, ternyata ada objek wisata sejarah, tetapi kami tidak masuk. Bayar, Kaaak. Nggak persiapan uang. Hehe.

Ada juga warung dan toilet ala kadarnya. Aneh tapi nyata, ada warung di tempat seperti ini. Tempat ini jauh banget dari keramaian. Orang-orang memang hebat, ya, mencari rejeki di mana pun. Lagian, keberadaan mereka helpful banget untuk yang belum persiapan atau nggak mau repot bawa makanan.

Setelah cukup istirahat (dan foto-foto), kami pulang dengan rute yang sama. Bisa saja lewat rute lain, tapi khawatir akan macet begitu keluar ke jalan raya.

Dan, hujan turun begitu kami sampai di Trizara. Terjawab sudah mendung tadi pagi. Jadilah kami sedikit kehujanan, dengan kaki yang ngilu. 😂

It was so much fun to attend this gathering. Banyak aktivitas luar ruangan yang disiapkan Trizara. Harga juga cukup oke. Mulai dari Rp1.265.000-Rp2.000.000 per pax.

Oh, ya, ada paintball juga. Tapi, kayaknya aku tetap prefer archery battle. Memanah itu ternyata ribet. Salut deh dengan Susan Pevensie. 😆

Liburan di satu tempat bisa banyak pengalaman gini. Ini baru sebagian yang ditawarkan. Salah satu aktivitas lainnya ada boxing juga. 😆 Pilihan aktivitasnya ada website Trizara. Fasilitasnya juga makin banyak. Ada high ropes, flying fox, trompolin, dan mainan favorit segala bangs: ayunan.

Penasaran mau coba semua, tapi mau leha-leha juga di kalau sudah sana. Lol. Harus balik lagi pokoknya. 😄

2 Comments

  1. Huaaaaa jadi pengen ke Trizara lagi nih,,.

  2. kangeeeeeeen mau ke sana lagiiiiiii!

Leave a Reply

Required fields are marked*