Sederetan film Indonesia sepertinya dapat disandingkan dengan film-film luar negeri. Sebut saja serial Laskar Pelangi, Denias – Senandung di Atas Awan, Gie, Rindu Purnama, dan masih banyak lagi.
Sayangnya, ketika tadi saya membuka 21cineplex.com, saya (kita) masih mendapati film-film kelas teri, seperti Pulau Hantu dan Pocong Kesetanan (sudah jadi pocong kok masih bisa kesetanan). Saya heran mengapa masih saja ada film-film seperti itu. Suatu genre film tidak akan ada tanpa adanya respon masyarakat yang mau menontonnya. Lantas siapakah yang mau menonton film-film seperti itu?

Jujur saja, saya pribadi tidak berminat menonton film-film seperti itu. Horor Indonesia jauh dari kesan menegangkan. Namun, dekat dengan kesan menjijikan dan menjual permainan seks.
Pernah satu kali saya menonton film semacam itu karena diajak seorang kawan sebagai bentuk perpisahan, itu pun dia yang bayar (kalau bayar sendiri sih mana mau). Judulnya saya lupa. Ketika menonton jujur saja saya sama sekali tidak takut dan justru merasa cekikikan. Film itu sangat disgusting.
Saya yakin, film-film tidak layak tayang seperti itu bukan hanya film yang saya tonton itu saja saya. Berdasarkan trailer yang saya lihat di televisi, belum pernah saya melihat ada film horor Indonesia yang layak ditonton. Jangankan menontonnya di bioskop, iklannya saja tidak layak di lihat anak kecil.
Kemanakah lembaga sensor film Indonesia? Mengapa masih bisa meloloskan film-film semacam itu? Mungkin urusan bisnis.
Kalau film-film horor aneh itu tidak lolos sensor dan film-film berkualitas baik seperti yang saya sebutkan diawal diperbanyak, film Indonesia akan dapat menembus pasaran internasional. Indonesia akan terkenal dengan film-filmnya yang bagus. Antara film Laskar Pelangi dan The Letter to God saja saya prefer Laskar Pelangi.
Mengapa tidak meningkatkan film-film yang berperikemanusiaan daripada berperikesetanan. Dan juga sebaiknya teknologi perfilman Indonesia terus dikembangkan agar bisa membuat film-film fantasi sebab penulis-penulis Indonesia sudah berani mengeluarkan novel-novel fantasinya, agar tidak ada lagi “pertempuran beda alam” antara naga dan manusia. Hihi. ^_^v

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *