Aku merasa film atau drama high school adalah sesuatu yang hampir selalu menarik. Tentunya, bukan yang mengandung cinta-cintaan berlebihan, ya. ๐Ÿ˜‚ Film atau drama remaja biasanya mengingatkan pada masa muda (walaupun sekarang juga masih muda. Lol). Segala semangat remaja seolah muncul kembali. Begitu juga masalah-masalah pada masa itu ikut kadang terkenang. ๐Ÿ˜Œ

Masalah di usia sekolah menengah sepertinya berkutat pada hal yang sama dari masa ke masa. Pencarian jati diri, bullying, beban untuk menjadi dewasa, dan sebagainya. Walaupun demikian, tantangan setiap zaman tentu berbeda. Dengan begitu, cara mendidiknya pun mungkin berbeda. Sayangnya, sering kali sebuah film hanya berkutat pada kesalahan yang dilakukan remaja tanpa menunjukkam keterlibatan orang tua.

Hal itulah yang coba diangkat Sutradara Upi dan IFI Sinema dalam film My Generation. Kira-kira demikian yang aku tangkap dari trailer maupun sedikit bocoran di akun media sosialnya.

Film My Generatiom menceritakan persahabatan 4 anak SMA: Zeke, Konji, Suki, dan Orly. Keempatnya merupakan remaja berbeda karakter dan menghadapi masalah berbeda pula. Mereka mendapat hukuman karena video yang memprotes guru. Keempatnya tidak diizinkan pergi berlibur.

Mereka tentu tidak menerima hukuman itu dengan ikhlas sepenuhnya. Keempat remaja itu pun mulai melakukan pemberontakan. Mereka pun menemukan banyak kejadian dan petualangan yang memberikan pelajaran bagi kehidupan.

Hal yang Diinginkan Remaja

Apa, sih, yang diinginkan remaja? Pengakuan? Eksistensi? Kebebasan?

Sutradara Upi mencoba menggali hal yang selama ini banyak menjadi penghalang bagi remaja. Beliau membeberkan masalah-masalah tersebut melalui keempat tokoh utama.

Pubertas merupakan suatu masa yang krusial bagi kehidupan seseorang. Cara berpikir sudah mengalami banyak kemajuan dibandingkan masa kanak-kanak. Berbagai pertanyaan pun seolah tiba-tiba bermunculan. Hal yang selama ini tampak baik pun kadang bisa menimbulkan pertanyaan baru. Belum lagi, soal perubahan hormonal, yang kadang disadari atau tidak, banyak memberikan pengaruh.

Menghadapi remaja pun sama sulitnya dengan membersihkan sepatu putih yang baru saja dipakai outbond. *perumpamaan macam apa ini*. Maksudnya tuh, kalau terlalu pelan, nggak akan bersih-bersih. Kalau terlalu kasar, yang ada sepatu malah rusak.

Dan, sama halnya seperti sepatu yang sudah dipakai outbond, makin lama dibiarkan, makin sulit dibersihkan. Kalau buru-buru dibersihkan, masih mungkin cling seperti baru. Dan, jangan sampai deh harus dibersihkan ke tukang pembersih sepatu. Urusannya lain lagi. Kalau manusia ‘kan bukan dibawa ke tukang pembersih sepatu, melainkan ke psikolog. Jangan sampai deh mesti kayak gitu.

Kembali ke Orang Tua

Daripada sekadar film remaja, aku lebih suka menyebut film ini sebagai tontonan bimbingan orang tua. Sekali lagi, hal ini berdasarkan yang aku lihat melalui trailer and social media.

Kenapa demikian? Akan lebih baik kalau setelah menonton film ini, orang tua dan anak melakukan brainstorming.

Film My Generation

Kalau hanya orang tua saja yang menonton, khawatirnya malah jadi parno berlebihan si anak di luar ternyata bandel banget. Makanya, perlu opini langsung dan real dan anak yang sedang atau akan atau bahkan baru saja melewati fase itu.

Kalau hanya remaja saja yang nonton, aku yakin buibu dan pakbapak banyak mengelus dada hanya dengan melihat trailer-nya, ‘kan? ๐Ÿ˜‚ Sudah pakaian seperti itu, nakal di Supermarket, coret-coret mobil orang. Lantas, prestasi mereka nggak ditonjolkan di trailer ini. Kalau cuma remaja yang nonton dan orang tua hanya “manut” saja ya gimana?

Masa, nanti anak bilang, “Bu, kata di film tuh harusnya begini begini”, lalu si ibu langsung menurut saja tanpa memerhatikan dan mempertimbangkan karakter anaknya sendiri. Blass, bisa runtuh rasa hormat kepada orang dewasa dan bisa menimbulkan kesongongan. ๐Ÿ˜

Keseimbangan Hubungan

Film My Generation

Sekritis-kritisnya remaja, mereka belum merasakan hidup yang betul-betul sikut-sikutan. Emosi dan energi berlebihan sering kali masih menguasai dalam pengambilan keputusan, ‘kan? Kayak kutipan Orly di atas. Memang betul orang tua pasti pernah melakukan kebodohan, tapi justru tugas orang tua supaya anak tidak ikutan bodoh, ‘kan? Tinggallah caranya yang jangan sampai bikin kalimat kayak Orly itu muncul.

Di sisi lain, sebanyak-banyaknya pengalaman orang tua, hal yang dihadapi tiap zaman akan selalu berbeda. Zaman dulu, mana ada profesi selebgram. Seamoralnya selebgram di mata orang dewasa, kerja mereka terkonsep. Tapi, tentu orang tua yang anaknya mau jadi selebgram harus tau ini-itu soal dunia tersebut supaya mereka nggak menjadi selebgram minim moralitas.

Makanya, yang aku tangkap, film ini mengajak orang tua dan anak untuk sama-sama berpikir demi masa depan yang baik.

Nggak harus nonton bareng kok. Kadang, remaja ‘kan malu ya buat ke mana-mana bareng orang tua, terutama remaja cowok. Bisa aja beda sesi. Yang pasti, kalau anaknya nonton ini, orang tuanya juga nonton, ya.

Film My Generation Membawa Warna Baru

Film ini didasarkan pada riset yang dilalukan Mbak Upi melalui social media listening selama 2 tahun. Targetnya adalah generasi milenials. Untuk beberapa dialog pun diambil dari percakapan milenials di social media.

Untung, ya, risetnya sudah selesai. Soalnya, cara komunikasi yang sedang trend sekarang sepertinya penggunaan bahasa Sunda yang kasar banget sebagai kata ganti orang pertama. ๐Ÿ˜‚ Untuk kalangan menengah, sih. Untuk yang agak lebih atas kayaknya bahasa internasional masih lebih dominan. Di sekolah saja semua pelajaran sudah pakai bahasa Inggris. Yaa, walaupun dalam percakapan sehari-hari banyak disertai umpatan. Semoga saja film ini lebih minim umpatan. Aku mah remaja kolot, risih dengar kata 4 huruf berakhiran “K” itu. ๐Ÿ˜‚

Tapi, dilihat dari gaya film ini, nggak menutup kemungkinan akan ada hal-hal mengejutkan sepanjang film. Baik kejutan positif ataupun kejutan yang bikin buibu ngelus dada. Namanya juga film yang ingin menjembrengkan kehidupan remaja masa kini, Moms.

Film ini sepertinya akan masuk kategori film serius tapi santai. Yaa, namanya film high school, kalau terlalu serius, mungkin cuma remaja geek aja yang mau nonton. Kalau mau dibilang santai, nyatanya, trailer-nya saja sudah mengajak penonton untuk berpikir.

Keempat tokoh utama diperankan oleh aktor dan aktris yang benar-benar baru, yaitu Brian Angelo,ย  Arya Vasco, Lutesha, dan Alexandra Kosasie. Katanya, sih, supaya kesannya lebih “dalam”. Talenta-talenta baru ini juga akan memberikan efek fresh pada perfilman. Nantinya, mereka akan menjadi next generation di industri perfilman tanah air.

Pastinya, bukan hanya wajah baru yang akan tampil. Ira Wibowo, Surya Saputra, Joko Anwar, Indah Kalolo, dan beberapa artis terkenal lainnya pun turut meramaikan film ini.

Film ini akan tayang tanggal 9 November nanti. Film ini bisa jadi memberikanย  warna baru bagi dunia perfilman Indonesia. Bukan saja sebagai suatu hiburan, melainkan untuk semakin memahami masing-masing karakter dalam keluarga.

Jadi, sudah siapkah dengan kehadiran film My Generation?

 

 

You may also like...

6 Comments

  1. yup, memahami anak muda bisa lewat apa aja. Bahkan lewat film remaja

  2. Ya, setuju, film serius tapi santai. Dan banyak pelajaran yg bisa diambil dari film ini. Gimana orang tua yg selalu curiga dan menekan kepada anaknya. Ya jadi begitu, kenakalan mereka jadi tumbuh.

  3. Saya suka sekali dengan perumpamaannya sepatu putih itu, Mbak Afifah.
    Ya, menghadapi remaja tidak boleh terlalu keras, tidak boleh terlalu lembut juga.
    Yang sedang-sedang saja.

  4. semoga film ini bisa membuka mata orang tua dan anak2 remaja jaman sekarang

  5. jdi ga sabar ini pengen nonton film nya.. tambah penasaran..

  6. Bener ga harus nonton bareng. Mereka akan banyak pelajar dari film ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *