Ke sini mahal. Ke situ jauh. Akhirnya, aku melontarkan usulan iseng, “Ke KRB aja.” Tak kusangka mereka meng-iya-kan. Kupikir, usulan ke Kebun Raya Bogor pasti dianggap angin lalu. Kebun Raya gitu. Mau ngapain? Mau lihat-lihat pohon? Tapi, bagi L dan Z, yang penting kumpul, yang penting murah. Tanggal pun ditentukan.
Masalah lainnya muncul. Kumpul di pintu mana? Pertanyaannya seperti itu saja bisa menjadi bahasan panjang. Grup ini hanya bertiga, tapi kadang sukses bikin ruwet. But, happy.  ^^

Kami pun sepakat bertemu di pintu dekat kantor pos. Aku pun menyimpulkan hasil diskusi panjang kali lebar itu: kumpul di kantor pos, jam 9, dresscode biru. Perihal dresscode itu aku sendiri yang menambahkan. Kupikir, lucu kalau kami memakai dresscode. Kalau harus bertanya lagi, pasti diskusinya panjang lagi. Untungnya mereka setuju-setuju saja.
Ketika kami sudah berkumpul di pintu dekat kantor pos, pintu itu tidak dibuka. Kami pun berjalan kaki ke pintu utama. Sebetulnya, ada angkot yang melewati pintu utama, tapi bule saja jalan kaki, masa pribumi naik angkot. Fighting!
Sampai di pintu utama, tiba-tiba kami menjadi warga Bogor norak. Kami tidak tahu letak loketnya. Piknik ke di kota sendiri saja seperti piknik ke kota lain, bagaimana piknik ke kota lain? Setelah sedikit bingung, kami menemukan loket di bangunan besar. Setiap lewat pintu utama Kebun Raya Bogor, aku selalu ingin tahu apa sebenarnya bangunan itu. Rupanya di sanalah loket berada.
Harga tiket untuk turis domestik Rp14.000, ditambah asuransi PMI Rp1.000. Setelah membeli tiket, kami keluar lagi untuk foto-foto. Aksi ala turis dimulai. Foto sana. Foto sini. Tak lupa ber-wefie ria.
Tujuan pertama kami adalah bunga bangkai. L dan Z belum pernah melihat bangkai. Aku pernah lihat, tapi aku lupa. Waktu itu, aku mungkin berjalan pun masih belum lancar. Setidaknya ada bukti foto, jadi aku yakin aku pernah lihat *maksa*. 
Kami memilih jalan yang banyak dilalui orang karena kami buta arah. Belum lama berjalan, kami melihat petunjuk arah. Ada arah ke Taman Mexico, Koleksi Pandan, dan Jalan Kenari. Kami memutuskan ke Taman Mexico.
Kami berjalan hingga menemukan tanaman-tanaman berbentuk unik. Inikah Taman Mexico? Bentuk tanaman-tanaman itu seperti bentuk tanaman yang ada di Mexico dalam film kartun sih. Mungkin memang ini tamannya. Tidak ada petunjuk lain. Kami mengambil beberapa gambar di sana.
Setelah beberapa saat, kami menyadari itu bukan Taman Mexico, melainkan Koleksi Pandan. Ampun. Selama ini aku hanya tahu tanaman pandan berwarna hijau dan tingginya tidak sampai selutut. Pandan yang ini besar-besar.
Kalau pandan sebesar ini, gimana metiknya?
Ya sudahlah, tempat ini juga eksotis. Masih bisa terasa suasana wisatanya, melihat pandan-pandanan besar. Anggap sedang dalam film sains fiksi yang merekayasa gen tumbuh-tumbuhan, tapi, ini bukan rekayasa.
Setelah itu, apakah kami melanjutkan mencari Taman Mexico? No. Terlanjur malas muter-muter. Jadi, kami melanjutkan pencarian bunga bangka. Setelah berjalan sebentar, kami menemukan denah KRB. Dilihat-lihat, sepertinya tidak jauh dan mudah ditemukan.
Sayangnya, menemukan tujuan sebenarnya tidak semudah menemukan tujuan di denah. Jalan beraspal yang kami susuri justru mengarah ke pintu khusus kendaraan. Kami pun meninggalkan jalan beraspal dan menyusuri pepohonan. Daun-daun yang berguguran dan tersebar di tanah membuatku membayangkan musim gugur. Kalau berfoto dengan kamera dari atas, bisa tampak seolah sedang berada di hutan yang sedang mengalami musim gugur. Ini cara menyenangkan diri sendiri yang belum kesampaian menikmati musim gugur sungguhan.
Kembali ke pencarian bunga bangkai. Akhirnya, kami menemukan sebatang tanaman yang dilabeli Amorphopallus titanum Becc. Tapi kok kayak tanaman biasa? Apa karena belum tumbuh lagi? Hal yang paling membuatku ragu adalah, bunga langka itu tidak diberi pagar pembatas. Kalau mau dicabut, sepertinya mudah. Tapi, petugas KRB tidak mungkin asal menancamkan label kan? Angan-angan melihat bunga raksasa pun pupus.
Inikah Amorphopallus titanum Becc?
Ketika keluar dari pepohonan, L bertanya pada orang yang sepertinya bekerja di KRB mengenai bunga bangkai. Beliau menunjukkan arah ke Rafflesia patma. Rupanya, di KRB ada dua bunga langka, Amorphopallus titanum Becc dan Rafflesia patma.Karena sepertinya arahnya, kami menyerah. Lebih baik, kami ke bagian KRB yang tampak seperti taman kalau dilihat dari jalan raya.
Entah siapa yang mencetuskan ide, mulai dari perjalanan menuju taman itu, kami membuat video perjalanan, berlagak jadi presenter acara wisata. Kami tidak merekam terus-menerus. Begitu ada hal menarik, barulah kami rekam. Seperti ketika sampai taman yang kami tuju tadi, kami hanya merekam sedikit dan lebih banyak mengambil foto.
Taman itu bernama Taman Soedjana Kassan. Di sana tidak banyak pohon besar, tapi ada beberapa pohon rindang. Tanahnya ditanami rumput. Ada petak bunga berbentuk garuda dan patung Soedjana Kassan, mungkin inilah sebabnya taman ini dinamakan demikian.
Petak bunga di tengah berbentuk garuda
Hari semakin siang dan masih ada tempat yang ingin dikunjungi. Kami tidak terlalu lama di taman itu lalu menuju destinasi selanjutnya: Griya Anggrek. Dalam perjalanan ke sana, kami melewati Taman Koleksi Tumbuhan Obat.
Griya Anggrek menampilkan koleksi anggrek dalam rumah kaca. Koleksi di sana dibagi dua, anggrek alam dan anggrek silangan. Koleksi anggrek alam tidak memiliki banyak ragam warna, tapi eksotis. Koleksi anggrek silangan memiliki warna yang lebih beragam dan cerah. Griya Anggrek juga menjual berbagai sovenir.

 

Dari Griya Anggrek, kami langsung menuju mesjid. Lalu, selanjutnya adalah acara paling penting dalam piknik: makan!
Tunggu. Ada objek menarik. Kolam Teratai Raksasa. Namanya juga regu fotografer-belum-kesampaian, foto-foto dulu. Sayangnya, teratai banyak teratai yang bolong-bolong.
Akhirnya, kami pun makan di bawah pepohonan. Karena namanya piknik, jadi bawa bekal. Sekalian ngirit.
Karena kami SMP, Sudah Makan Pulang, tidak ada muter-muter lagi. Kami keluar dari pintu yang besebrangan IPB. Tidak terasa kami hampir mengelilingi seluruh KRB. Berakhirnya piknik kali ini ditandai dengan video penutup di… angkot.
Esensi piknik kali ini adalah sekadar kumpul-kumpul setelah berbulan-bulan tidak jumpa. Karena jarang berjumpa, harus ada sesuatu yang istimewa, bukan sekadar ketemu di resto.
KRB yang selama ini kuanggap hanya sekumpulan pohon, ternyata bisa menjadi destinasi liburan menyenangkan di Bogor. KRB tidak hanya memiliki pohon, tapi banyak hal yang bisa dieksplor. Lagipula, daripada melihat mobil berseliweran, mending melihat pepohonan kan? Adem.

Omong-omong, aku masih penasaran dengan Taman Mexico. Lain waktu, aku ingin menemukan taman itu. Liburan di Bogor, di kota sendiri, ternyata tidak melulu membosankan.

Tulisan ini diikutsertakan:

Lomba Blog Piknik itu Penting

 

You may also like...

5 Comments

  1. Ke KRB belum pernah masuk ke taman anggreknya…hiks..pengen

  2. dari dulu, pengeeenn bgd ke sini, skrg tlh baca postingan dikau mak,eikeh malah jd tambah pengeeeennn

  3. Di KRB ada Jalan Astrid lhooo.. hehehe.. *geer

  4. Wah, beberapa kali ke krb koq ya ga mampir ke griya anggrek yaaa… next time aaahhh ….

  5. terimakasih partisipasinya. maaf pengumuman diundur tgl 20 oktober. goodluck

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *