Zaman sekolah dulu, aku paling suka belajar grammar tapi entah kenapa sampai sekarang masih gagap grammar. Aku merasa belajar grammar adalah hal yang menantang *ceile* karena harus pakai insting. Nggak grammar bahasa Inggris, nggak grammar bahasa Indonesia, dua-duanya sama-sama sulit yang seru. 
Aku nggak akan membahasa grammar bahasa Indonesia karena sudah pasti hancur berantakan. Di kehidupan sehari-hari aku terlalu sering menggunakan bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar. Bahasa sendiri justru kadang lebih sulit.
Grammar bahasa Inggris semula lebih mudah daripada bahasa Indonesia dan lebih seru. Belakangan, aku sering menonton anime atau drama dengan terjemahan bahasa Inggris. Aku lebih suka terjemahan bahasa Inggris karena aku kurang menyukai terjemahan bahasa Indonesia dengan grammar dan vocab berantakan padahal sehari-hari menggunakan grammar dan vocab yang hancur berantakan.
Sama seperti bahasa Indonesia, terjemahan bahasa Inggris pun sebetulnya tidak selalu menggunakan grammar dan vocab yang baik dan benar. Oke lah vocab rupa-rupa sehingga vocab aku pun bertambah. Sedangkan grammar? Lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Aku, yang grammarnya masih pas-pasan ini, justru ikut-ikutan berbahasa seperti terjemahan anime atau drama. Dulu, guru bahasa Inggris-ku pernah bilang bahwa di negara asalnya, orang-orang justru sering mengabaikan grammar. Makin kuabaikanlah grammar.
Sekarang, abaikan kenyataan grammarku pas-pasan. Kadang, penggunaan kalimat atau frasa dengan grammar salah pun tetap digunakan asalkan terdengar enak. Lebih baik salah grammar, yang penting enak didengar atau dibaca daripada grammar benar tapi tidak enak didengar dan dibaca. Pembaca dan pendengar pun biasanya cenderung kurang peduli. 
Aku rasa, seperti kata guru bahasa Inggris-ku, untuk bahasa yang penting adalah pembicara dan lawan bicara sama-sama mengerti kecuali untuk urusan formal yang mengharuskan tata bahasa yang baik dan benar. Seperti kebiasaan kita juga, kalau ada orang bicara dengan tata bahasa baik dan benar cenderung dibilang kaku. Tergantung kebiasaan setiap orang, yang penting sama-sama mengerti.

Dan, ketika membuat postingan ini pun aku sadar ada banyak grammatical error, tapi kembali lagi, aku merasa begini lebih enak.

You may also like...

2 Comments

  1. Grammer angkat tangan aja deh ��

  2. Nah, betul tuh … tujuan komunikasi kan agar sama2 mengerti. Biarpun grammar hancur berantakan tapi lawan bicara mengerti kan tujuan tercapai? *membela diri sendiri hehehe*

    Sama Mbak. Sy waktu sekolah dulu sukaa banget sama bahasa Inggris tapi sayang, bukannya menjadi fasih, sekarang malah makin amburadul akibat jarang sekali dipakai. Baru2 saya daftar mystery shopper yang komunikasinya ke manager dan kantor pusat (di Belgia) secara tertulis dalam bahasa Inggris … lumayanlah, bisa belajar kembali 😀

    Siapa tahu mau ikutan, ada tuh ceritanya di blog saya, yang judulnya Helion Mystery Shopper dan Telepon dari Luar Negeri (di situ saya cerita ttg tiba2 dapat tlp dari Belgia) … *eh, promo dikit gpp kan, Mbak? :)*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *