Anak-anak yang tampak seharusnya masih duduk di bangku SD atau SMP itu duduk di pinggir trotoar jalan raya terbesar di Kota Bogor. Masing-masing membawa sebuah benda yang sama: payung. Ya, mereka bukan hanya sekadar duduk-duduk tanpa tujuan yang jelas di pinggir trotoar, mereka menunggu rezeki datang, mereka menunggu hujan turun. Mereka adalah para pengojek payung.
Langit saat itu memang sudah gelap berawan. Pertanda tak lama tetes-tetes air akan turun membasahi bumi. Ribuan tetes air yang sejuk akan mendinginkan jalanan yang panas. Dan ribuan rupiah akan sampai ke dalam kantong para pengojek payung.
Ketika tetes-tetes rahmat Ilahi itu akhirnya turun, anak-anak itu bergegas ke pelataran sebuah mall tak jauh dari tempat mereka duduk-duduk sebelumnya. Dengan penuh harap, mereka menawarkan jasa ojek payung kepada para pengunjung mall yang hendak pulang. Setiap pengunjung yang melewati mereka, mereka tawari peminjaman payung itu. Entah berhasil atau tidak, entah banyak atau tidak uang yang mereka dapatkan, mereka akan selalu tetap berharap hujan turun.
Di lain tempat, saat kemacetan menjebak kendaraan-kendaraan bermotor, saat hujan masih membasahi seluruh kota, para remaja yang tentunya sudah sedikir lebih tua daripada para pengojek payung berlarian di tengah jalan raya, menghampiri angkutan umum yang terjebak macet. Dengan cekatan, mereka mengusapkan spons bersabun pada kaca-kaca angkutan umum. Tidak semua angkutan umum, ada beberapa sopir yang menolak kacanya mobil yang dikendarainya dibersihkan. Setelah menggosok kaca mobil itu dengan spons yang mereka bawa, sopir akan memberi mereka upah, tidak seberapa, tetapi cukup untuk keberlangsungan hidup mereka jika dikumpulkan dari beberapa angkutan.
Hujan. Mereka selalu menunggu hujan. Bagi mereka, benarlah bahwa hujan mendatangkan rezeki. Walau mungkin tidak seberapa, setidaknya cukup untuk menambah biaya hidup mereka. Semakin sering hujan, semakin bertambahlah uang dalam saku mereka.
Entah apa yang mereka lakukan ketika tidak sedang hujan. Mungkin mereka memiliki pekerjaan lain, tetapi mereka akan tetap menunggu hujan. Akan selalu ada kebahagian dalam setiap tetes air hujan.
Dalam dinginnya tetes air hujan
Bukan air mata yang turun bersamanya
Bukan rasa sakit yang datang bersamanya
Melainkan rahmat-Nya lah yang senantiasa mendampingi
Mengisi setiap butir air langit
Membasuhi setiap permukaan dengan kebahagiaan
And when it rains on your parade, look up rather than down. Without the rain, there would be no rainbow.” – Gilbert K. Chesterton

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *