Pernikahan adalah sesuatu yang luar biasa. Dengan sebuah kalimat yang disebut ijab kabul, banyak hukum berubah antara dua belah pihak. Hal ini pun bukan sekadar legalitas hukum, tapi lebih dari itu. Begitu pernikahan dinyatakan sah, petualangan baru kehidupan pun dimulai. Maka, nggak salah kalau pernikahan disebut sesuatu yang sakral.

Tentu saja, pernikahan adalah salah satu momen paling membahagiakan dalam kehidupan seseorang. Plus, momen penting dalam kehidupan banyak orang. Maksudku, kayak pernikahan orang tuaku. Jelas aku nggak menghadiri pernikahan mereka. Tapi, pernikahan mereka termasuk momen penting dalam kehidupanku, ‘kan?

Begitulah saking mewahnya pernikahan.

Bukan mewah dari segi harta, melainkan dari makna.

Memaknai momen indah, banyak orang ingin merayakannya dengan konsep tertentu. Aku pribadi, kalau bertemu jodoh di dunia ini, berharap bisa merayakan dengan cara sederhana saja. Tagline blog ini saja “Stories from simple life“. Hehe.

Zero Waste Wedding

Aku pun banyak mengamati acara resepsi teman-temanku, baik yang mewah maupun yang cukup-cukup saja. Dari sana, banyak hal bisa ditemukan.

Salah satu yang sering menarik perhatianku adalah soal sampah. No offense untuk teman-teman yang sudah menikah, tapi sering kali acara resepsi dihinggapi banyak sampah. Piring dan gelas disposable, tisu yang berceceran, dan yang paling membuatku sedih adalah makanan-makanan yang diambil tapi nggak dihabiskan.

Resepsi pernikahan seharusnya menjadi hari bahagia. Lalu, kenapa harus dihiasi sampah? Hari bahagia kita seharusnya bisa dilakukan tanpa merusak bumi.

Just to remember, pembuatan piring dan gelas sekali pakai perlu banyak energi fosil. Belum lagi, penanganan pasca penggunaan yang juga perlu banyak energi dan berpotensi mencemari lingkungan.

Isu lingkungan memang kompleks. Membayangkan berapa energi fosil yang dibutuhkan untuk piring dan gelas disposable saja sudah ngeri. Belum lagi, ketika mengetahui kenyataan sampah yang menggunung setelah acara. Merinding.

Aku, sih, mau hari bahagia nggak pakai bumbu merinding negatif, nggak pakai rasa bersalah terhadap bumi. Bahagia, ya, bahagia.

Makanya, konsep resepsi pernikahan minim sampah sangat diperlukan.

Berdasarkan pengamatanku, untuk membuat konsep ide resepsi pernikahan zero waste nggak begitu sulit. Tinggal mengganti beberapa hal dari konsep. Mungkin butuh personel lebih banyak untuk beberapa hal. However, anggap saja berbagai rejeki. Yang pasti, sebisa mungkin keberadaan konsep zero waste nggak bikin ribet tamu atau keluarga.

Untuk betul-betul nol sampah mungkin agak mustahil. Siapa yang bisa memaksa tamu menghabiskan makanan kalau tamu itu memang sudah nggak ingin? Lagian, bisa saja tamu tanpa sengaja menemukan sesuatu yang membuat alergi. Lalu, tamu itu sadar ketika sudah di piringnya. Masih banyak juga kemungkinan lain yang bisa terjadi.

Walau nol sampah banget mungkin impossible, minim sampah alias mengurangi potensi sampah masih mungkin.

Aku, sih, kebayang hal-hal berikut. Nah, ini ide resepsi pernikahan zero waste versiku.

Tempat Acara

Baik tempat indoor maupun outdoor, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Indoor:

  • Bebas hujan (+)

Hujan yang tiba-tiba kadang-kadang membuat manusia makin “giat” menghasilkan sampah. Mungkin akan ada orang yang memakai keresek untuk sepatu. Mungkin ada yang refleks mengeluarkan tisu ketika terciprat sesuatu. Bahkan, mungkin akan ada yang berlama-lama di depan pengering supaya pulang nggak basah-basahan. Jadi, yaaa, kalau lokasi indoor, nggak perlu mengkhawatirkan semua itu.

  • Lokasi banyak pilihan (+)

Banyaknya pakai banget, sih. Kadang-kadang, ada juga tempat yang nggak disangka ternyata bisa untuk gedung pernikahan. Dan, keuntungan lokasi yang banyak pilihan, bisa dipilih juga lokasi yang dekat akses kendaraan umum atau pintu tol. Hitung-hitung mengurangi jejak karbon.

Misalnya, Grand Galaxy Convention Hall (GGHC), gedung pernikahan terbesar di Bekasi. Jaraknya nggak begitu jauh dari Jakarta. Lokasinya pun nggak sampai 30 menit dari Stasiun Kranji dan Stasiun Bekasi. Cocok kalau menikah dengan orang Jakarta/Bekasi atau tamu yang diundang kebanyakan dari Jakarta/Bekasi. Gedung yang besar juga biasanya terkenal, jadi driver online lebih mudah menemukan.

Grand Galaxy Convention Hall
Grand Galaxy Convention Hall
  • Perlu AC (-)

Hampir semua gedung aula di negara tropis ini kayaknya perlu AC atau setidaknya kipas angin. Kalau nggak, pengap.

  • Perlu lampu (-)

Yaaaah, lampu juga masuk hitungan, deh, kalau AC masuk hitungan. Sama-sama butuh listrik.

Outdoor:

  • Khawatir hujan (-)

Dampak hujan seperti yang aku sebutkan tadi. Di sisi lain, hujan sebetulnya sesuatu yang baik. Sedih, sih, kalau harus khawatir hujan.

  • Biasanya lokasi sulit dijangkau (-)

Iya, ‘kan? Lokasi di Jabodetabek saja kayaknya jarang yang outdoor. Lokasi yang sulit dijangkau kemungkinan jauh dari gerbang tol, jauh dari stasiun, jauh dari mana-mana. Artinya, berpotensi menimbulkan jejak karbon yang banyak.

  • Nggak perlu AC (+)

Sirkulasi udara mungkin lebih lancar karena ada dari segala penjuru. Mungkin agak panas kalau sedang terik, tapi bisa disiasati dengan membayangkan sedang liburan. Hehe.

  • Nggak perlu lampu (+)

Yaaah, kecuali kalau acara malam, sih.

Kalau aku, kalau disuruh milih, aku mau indoor, sih. Alasanku:

First, soal hujan. Aku nggak mau mengharapkan nggak hujan. Hujan adalah hal baik. Nggak boleh sampai terbersit, “Yah, sayang banget hujan.” Naudzubillah juga, jangan sampai pakai pawang hujan. Nggak boleh, syirik. Masa sesuatu yang baik seperti pernikahan dibalut sesuatu yang tidak disukai Tuhan?

Next, soal akses. Akses yang mudah termasuk bentuk penghargaan terhadap tamu. Apa lagi, kalau ada tamu dari luar kota. Sudah minta datang, sebaiknya memberi kemudahan. Dan, kalau bisa, mudah dijangkau kendaraan umum juga. Climate change akibat polusi kendaraan itu real banget.

Kalau soal AC dan lampu, kalau acara masih siang masih bisa, deh, disiasati walaupun indoor.

Dekorasi

Paling enak memang kalau venue memang sudah cantik dari sananya. Tapi, sering kali butuh juga tambahan dekorasi tertentu. Dekorasi paling umum dan mudah adalah bunga.

Supaya minim sampah, bisa pilih bunga artifisial saja kalau tim dekorasi mempunyai stok bunga tersebut. Bunga artifisial bisa dipakai berulang. Tapi, kalau tim dekorasi nggak punya stok bunga artifisial, bunga asli pun nggak apa-apa. Kalau mau membeli bunga artifisial dan menyumbangkannya kepada tim dekorasi setelah acara juga bisa. Walau begitu, entah akan terpakai lagi atau nggak. Beda orang, beda selera.

Then, kalau memang akhirnya memakai bunga sungguhan, setelah acara, langsung kumpulkan semua. Bunga-bunga tersebut bisa dijadikan kompos. Kalau nggak muat di wadah kompos sekaligus, bisa dibuat beberapa batch. Toh, bunga nggak akan bikin bau walau ditaruh di luar.

Dekorasi lain selain bunga, sudah pinjam tim dekorasi saja.

Sudah zamannya pernikahan impian bukan sekadar seperti negeri dongeng, tapi pernikahan yang melindungi bumi.

Bunga di resepsi pernikahan teman

Makanan

Kumpulkan sisa diambil tapi tapi tidak termakan. Jadikan kompos. Titik.

Makanan lain yang masih belum tersentuh, bisa disumbangkan.

Besides, aku juga punya pikiran ekstrim, sih: nggak menyediakan makanan prasmanan. Cukup gubuk-gubukan saja dan porsinya kecil.

Soalnyaaaa, makanan prasmanan adalah biang mubadzir. Sering kali ada yang mengambil sepiring, yang dimakan hanya beberapa sendok.

Makanannya nggak mesti makanan ala gubuk-gubukan, bisa juga sekadar capcai yang sudah dibagi menjadi porsi kecil. Mirip salad, ‘kan?

Kalau venue besar seperti Grand Galaxy Convention Hall, tinggal taruh gubuk-gubukan sesuka hati.

Grand Galaxy Convention Hall
Grand Galaxy Convention Hall

Kalau venue terbatas pun bisa diakali. Nggak perlu terlalu banyak juga makanan, deh. Untuk membuat lebih berkesan, bisa dibuat tematik, misal hanya menyediakan makanan ala healthy lifestyle. Ingat gula darah. Hehe.

Oh, ya, tentu saja semua piring, sendok, garpu, dan gelas bukan yang sekali pakai. Pokoknya, alat makan sungguhan yang bisa dicuci, dikeringkan, disimpan bertahun-tahun. Kalau pihak katering nggak punya, kayaknya ada tempat menyewa alat makan, deh.

Nah, perkara alat makan ini yang butuh personel lebih. Untuk cuci-cuci dengan cepat. Artinya, menambah orang yang harus dibayar. Makanya, aku bilang:

Hitung-hitung berbagi rejeki.

Souvenir

Sedotan stainless steel atau bambu, alat makan kayu, atau tote bag sekilas seperti souvenir yang cocok untuk resepsi pernikahan zero waste. Tapi, menurutku, nggak demikian.

Tamu mungkin sudah mempunyai benda-benda itu. Kalau sudah punya, mungkin akhirnya hanya tergeletak di rumah mereka. Mungkin nggak terpikir untuk memberikan ke orang lain. Mungkin sungkan untuk memberikan ke orang lain karena itu hasil pemberian. Ada juga kemungkinan souvenir itu memang terlupakan.

Aku pribadi justru kepikiran sesuatu yang mempunyai masa pakai tertentu. Contohnya, spons dari goni. Spons kan sesuatu yang suatu saat harus diganti. Jadi, kalau spons tamu sudah saatnya diganti, bisa pakai spons goni itu. Dan, spons goni lebih baik daripada spons plastik.

Selain itu, souvenir yang menurutku menarik juga adalah sesuatu yang bisa dimakan/diminum. Misal: teh, kopi, cookies, dsb. Nggak akan tergeletak begitu saja. Untuk bungkusnya, mungkin bisa dengan plastik singkong. Plastik singkong mungkin menjadi sampah, sih, tapi better daripada both bungkus dan isi sama-sama terbuang tak terurai hingga ratusan tahun. Pun, plastik singkong bisa terurai kurang dari setahun.

Mungkin makanan kurang berfungsi sebagai pengingat di tahun-tahun mendatang. Tapi, makanan akan menghasilkan energi bagi yang memakannya.

Lalu, Hukum Kekekalan Energi pun terjadi.

Kemudian, energi dari makanan berubah menjadi energi-energi lain di dunia, begitu seterusnya sampai hari terakhir dunia. Jauh lebih baik daripada energi yang terpendam dalam benda mati, ‘kan?

Ide souvenir pernikahan
Homemade cookies pun bisa berkesan

Pakaian

Selama masih ada pakaian yang bisa disewa atau dipinjam, kenapa tidak?

Kalau memang harus membuat khusus, mungkin setelahnya bisa diturunkan kepada saudara atau anak. Bisa juga diberikan kepada salon penyewaan kostum.

Btw, menurunkan pakaian pengantin kepada saudara atau anak sepertinya romantis. Tampak indah kalau kakak dan adik menggunakan pakaian yang sama. Bahkan, kalau adik beda gender, bisa untuk (calon) adik ipar. Dan, tentunya kalau bisa menurunkan ke anak, indaaaah banget.

Tapi, nggak maksa anak juga nantinya, sih. Masih ada opsi salon penyewaan.

Kado dan Amplop

Aku, sih, kalau bisa mau bilang nggak usah bawa kado dan amplop. Nggak usah memberikan yang seperti itu kok.

Kado biasanya dibungkus sesuatu yang berpotensi sampah. Jujur saja, isinya pun belum tentu sesuai. (Nggak maksud menyinggung, ya. Cuma berusaha realistis).

Aku pribadi sudah berhenti memberi kado ke pernikahan teman-teman. Bagaimanapun, hal yang menurutku berguna, belum tentu memang berguna bagi teman-temanku. Masih mending ngamplop karena penggunaannya bisa disesuaikan kebutuhan mereka masing-masing.

Amplop juga berpotensi sampah, sih. Apa lagi, amplop yang disegel. Hampir tidak bisa digunakan lagi. Jadi, yaaa, nggak usah ngasih begituan nggak apa-apa kok.

Pun, aku nggak mau memberatkan tamu, sampai mereka harus berpikir mau memberi apa atau berapa. Soalnya, aku pernah dengar orang-orang yang harus mengirit demi memberikan sesuatu kepada kerabat yang menikah.

Hari bahagia harus meminimalisasi kepusingan orang lain. Hehe.

Undangan

Hampir lupa! Undangan juga nggak jarang menjadi sampah. Kalau bisa, nggak perlu cetak-cetak undangan, deh. Cukup undangan digital. Kalau memang harus, mungkin cuma bagi orang-orang tertentu saja, seperti nenek jauh.

Buku Tamu

Aku nggak tahu fungsinya buku tamu. Hehe. Tapi, setelah acara, mungkin hanya tergeletak juga, ‘kan? Jadi, buku tamu konvensional bisa diganti dengan buku tamu digital. Dibuat dari aplikasi sejenis Spreadsheet di Smartphone.

Hmmmmm. Apa lagi, ya? Segitu dulu, deh.

Kok panjang, ya?

Yaaaa, namanya mempersiapkan pernikahan memang nggak sederhana, sih, sepertinya. Bahkan kalau konsep yang diinginkan adalah konsep sederhana. Lagian, visi yang ingin dicapai dalam marriage memang bukan hal sederhana, ‘kan? Visi tentu hal besar.

Jadi, sekadar menyiapkan resepsi pernikahan mungkin masih terbilang hal sederhana dibandingkan hal-hal yang akan dihadapi dalam kehidupan pernikahan.

Well, enaknya, kalau ada paket all in one untuk wedding. Tinggal minta sesuatu yang berkaitan dengan minim sampah saja. Jadi, nggak perlu mencari satu-satu vendor.

Salah satu penyedia paket all in one adalah Grand Galaxy Convention Hall. Tinggal coba tanya-tanya, deh, mungkin atau nggak untuk menyediakan detail minim sampah.

Adanya wedding organizer juga sangat membantu calon mempelai untuk lebih tenang. Mencari WO pun mungkin nggak bisa hanya dengan hanya kedipan mata. Tapi, untuk mudahnya, mendatangi pameran wedding bisa membantu.

Salah satu pameran yang ada dalam waktu dekat adalah Bekasi Wedding Exhibition. Diadakan di Gedung Pernikahan di Bekasi yang terbesar, yaitu GGHC. Pameran ini rutin diselanggarakan di Grand Galaxy Convention Hall. Tahun ini, Bekasi Wedding Exhibition akan dilangsungkan pada 13-15 September.

Kesempatan banget untuk mencari info-info supaya acara pernikahan sesuai keinginan. Nggak ribet juga walau keinginan dengan konsep berbeda seperti konsep ramah lingkungan.

Pernikahan adalah sesuatu yang seharusnya membahagiakan. Sebelum mulai, jangan sampai stress. Dan, tentunya, kebahagian pernikahan pun perlu sebanding dengan kebahagiaan bumi karena ada resepsi pernikahan yang minim sampah.

 

You may also like...

39 Comments

  1. Menarik juga nih konsep Zero Waste Weddingnya. Aku belum kepikiran sampai situ. Tapi udah mikir sih soal apa2 yang baiknya gak dipakai karena berujung mubadzir. Kaya dulu aku nyaranin ke ortu pas seserahan Kakak supaya pakai pembungkus yang gak terbuang kaya taplak misalnya

    1. Jadi kebayang bungkus ala Jepang yang pakai kain gitu, deh

  2. Kalau di desa, pernikahan zero waster masih sangat mungkin dilaksanakan lho. Bahkan nanti pernikahanku mungkin bisa begitu

    makan pakai piring, yang pasti dicuci. Minum pakai gelas kaca, yang pasti dicuci.
    Nggak ada aqua aqua gelas..

    Kalau soal bunga, wahh sayangnya aku lebih suka bunga hidup hiihihi. Tapi bunga hidup kan kalau sudah selesai acara bisa dibagi bagi ke saudara. Jujur waktu kakak kakaku nikah, aku suka banget ambilin bunga pengantinnya 😀

    1. Iya, bisa buat hiasan di rumah dulu bunga-bunganya. Kalau udah kering, baru dikompos. ;D

  3. TOP nih Mbaaa
    Zero waste bener2 bisa diterapkan juga dlm wedding yaaa ternyataaa

  4. Grand Galaxy Convention Hall ini bagus banget gedungnya ya ampuunn! mewah banget dan luasnya juga oke banget buat acara nikahan yaa..
    paketnya oke2 nggak mba di sana? Aku ada ponakan di daerah sana yang tahun depan mau nikah soalnya

  5. Iyaaaa abis acara resepsi pernikahan viasanya banyak meninggalkan sampah hiks. Alhmdulillah ada ide pernikahan zero waste gini. Bisa jadi pilihan utk konseo pernikahan. Aku berharap sih ide zero waste ini bs jd trend. Kece dah. Makasih share infonya ya mbk

  6. Menarik banget nih konsep acara wedding seperti ini. Andai dulu sempet kepikiran bikin konsep ini ya hihihi.
    Jadi kangen mempersiapkan acara pernikahan, hehhe

  7. Ide yg bagus..tapi falam.pelaksanaannya harus dikoordinasikan benar dg semua pihak terkait ya.. Dan juga jangan kaget kalau ada kemungkinan pesta zero waste justru budgetnya lebih besar..hehe..

  8. Nikahan orang solo tuh zero waste banget menurutku dan tamu yg hadir benar benar dimuliakan

    1. Waaah, kayak gimana, Kak? Aku belum pernah ke acara nikahan konsep Solo kayaknya.

  9. Masalahnya nggak bisa dilepaskan dari soalmental sh ya. Contoh soal makan yang ambil sepiring, dimakan dua sendok itu, faktual banget. Bahkan mereka yang terpelajar juga melakukannya, miris kan.

  10. Idenya unik ya ini, Zero Waste Wedding, apalagi kalau sampai meniadakan penggunaan produk plastik. Boleh juga nih, secara produk plastik jadi yang paling sering digunakan dalam setiap resepsi pernikahan, terutama sedotan. Duh, itu sampah sedotannya jadi banyak banget begitu acara usai.

  11. Idenya unik banget. Gak kepikiran waktu menikah sepuluh tahun lalu. Tapi seneng kalau ada konsep kaya gini. Sama sama ikut menjaga kelestarian bumi yang kita tinggali ya kak.

  12. Dekor rustic dengan bunga2 dan daun bekas tuuh lagi ngetren dan memberi kesan yang juga cantik ya mbak 🙂

  13. Kalau begitu asli pernikahan saya zero waste soalnya kami tidak mengelar resepsi. Tidak ada undangan dari pihak laki-laki pun yg datang hanya tiga orang. Beneran asal sah saja. Alhamdulillah…

    1. Alhamdulillah. Yang penting sah. Yang penting maknanya, ya, Mbak. =)

  14. bener banget nih, beberapa kali dateng ke nikahan temen memang piring dan gelasnya yang sekali pakai, praktis emang ya, tapi meninggalkan sampah yang ga sedikit 🙈

  15. Wah kalau bs zero waste keren lah..minimal meminimalisir ya… Kalau ga nyiapin paraamanan hrs nyiapin di gubuk gubukan itu sesuatu yg bs ngeganti itu..Krn kadang ke nikahan org sengaja dlm kondisi perrut kosong..hahaha.

  16. Aku setuju loh dengan souvenir yang bisa dimakan atau minum. Daripada souvenir yang selama ini aku terima, kebanyakan ya udah tergeletak gitu aja di lemari dapur. Jadi menuhin tempat. Kasih kipas, pouch atau dompet cocok malah. Kalo gak aku pakai, bisa dikasih ke orang lain

  17. Buku tamu digital idenya bagus juga tuh Fifah jadinya gak usah beli-beli buku tamu konvensional ya. Jadi kalau Fifah nikah maunya dikasih apa? gak kado atau gak amplop, transfer aja ya gak pake sampah kok hihihi

  18. Ys ampuun modern sekali dan keren pakai buku tamu digital ya. Gak buang buang limbah kertas dan lebih hemat bidgetnya ya mba?

  19. Yeay idenya unik. Kayaknya bisa diaplikasikan karena skarang sedih juga lihat banyak sampah dan tindakan ini bisa dilakukan dengan baik 🙂

  20. Bagus ihh idenya pakai undangan digital tapi kalau di wilayahku sendiri masih banyak yang ga punya email or sosmed jadi kudu undangan fisik hehe.

  21. Pengin yg ideal gini. Tapiii…. Para sesepuh yang agak susah. Kalau undangan nggak cetak sekeluarga 1 dianggap nggak diundang wkwkwkk. Padahal ada loh yg serumah ortu & menantu ya tetap 2 undangannya. Mungkin cantukin nomor rekening aja kali ya, bebas sampah amplop atau nyediain mesin edc heheee

  22. Pas keponakanku jadi manten lalu, cateringnya sudah ada kerjasama dg panti asuhan. Jadi atas seijin yg punya gawe, kalau sisa banyak, langsung dibawa kesana. Soal makanan sisa di piring itu akibat budaya yg keliru. Orang kita kalau melihat orang lain mondar mandir di meja prasmanan pasti dilirik sinis. Padahal kalau adab internasional yg betul malah seperti itu, ambil sedikit lalu habiskan. Bolak balik gpp, santai aja. Jadi minim yg nyisa.

  23. Wah menarik ini, konsep pernikahan dengan zero waste. Coba dulu udah ada ya, zaman aku nikah hehe. Enak nih nih konsep nikah zaman now 🙂

  24. Bagus banget ide pernikahannya Mba. Yg zero waste ini yg perlu digalakkan. Karena isu lingkungan emang nyangkutnya keseluruh sisi kehidupan kita. Ide ngisi buku undangan di spreadsheet boleh juga tuh, dibantuin sama penerima tamu kali ya, buat yg udah tua mah 🙂

  25. keren loh konsep pernikahan macam ini, sebisa mungkin harus zero waste ya kak, soale biasanya kan setelah pernikahan tuh identik sama sampah yang menumpuk ya

  26. Wuih keren banget. Iya juga ya, kalo lihat nikahan, sedih deh lihat sampahnya. Ya sampah dari barang2 yang sekali pakai sampe ke sampah makanan yang banyak bersisa. Coba kalo semua yang nikahan nerapin konsep di atas. Pasti bakal kereeen…

  27. Bagus nih konsep zero waste untuk pernikahan. Bisa banget kujadikan panduan nanti bila saatnya akan menikahkan si sulung heheee.. masih lamaaaa padahal. Tapi gapapa kan ya, ada wacana bagus gini bisa kubicarakan dengan si bapak dulu.

  28. Banyak hal yang harus dipersiapkan menjelang pernikahan ya mbak. Apalagi kalau sekarang pasti banyak pilihan yang memudahkan kita, salah satunya dengan menghadiri Wedding Exhibition gini mbak jadi nambah pengalaman sebelum married.

  29. kalua zero waste susah, at least less waste ya mba. Suka dengan berbagai ide kreatif namun sederhana dan sangat membantu banget. perlu segera diterapkan niiih

  30. Hall kaya gini nyaman banget kalau tamu undangannya sesuai.
    Gak banyak pilar yang menghalangi.
    Tapi sewa hall zaman sekarang di kisaran harga berapa yaa…?

  31. Bagus banget nih konsep pernikahannya zero waste wedding. Banyak yang bisa dihemat ya terutama yang bakal jadi sampah. Nanti deh buat nikahan anak-anakku, mau kuterapkan hehe

  32. Wedding Exhabition diperlukan juga nih buat pasangan yang belum menikah ya mba
    buat referensi. Dulu ak mempersiapkan semuanya sendiri sekarang lebih mudah ya

  33. Lucu idenya nih karena Zero Waste
    Pasti banyak yang incar nanti
    Bahkan undangan juga sudah pada digital

  34. yang zero waste ini bisa jadi inspirasi, kebayang sih pesta2 biasa menumpuk sampahnyaaa

  35. Kalo weedinh itu biasanya banyak sampah di makanan sisa mba kadang suka ngerii mba liatnya makanan di buang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *