Gw selalu menyukai cerita mengenai time travel. Gw suka karena setiap cerita mengenai itu, pasti tokoh utamanya memperhitungkan dampak perubahan yang dilakukannya di masa lalu kalau perjalanannya mundur. Kalau perjalanannya maju, gw suka bagian ketika dia mengetahui masa depan itu dan menyelamatkan masa depan itu.
Belum lama ini, gw nonton K-drama, judulnya Nine: Nine Times Time Travel. Awalnya gw pikir tokoh utamanya punya/nemu mesin waktu seperti kepunyaan Doraemon dan dia sembilan kali menjelah waktu. Ternyata, mesin waktunya itu berupa dupa dan penggunanya tidak bebas menjelah waktu, dia hanya bisa kembali ke waktu dua puluh tahun lalu pada tanggal, jam, menit, detik yang sama dengan yang dia tinggalkan di masa kini. Jadi, misalnya dia membakar dupa itu pada tanggal 9 Juli 2013 pukul 18:53, dia akan kembali ke tanggal 9 Juli 1993 pukul 19:53.
Park Sun-Woo (Lee Jin-Wook), sebagai tokoh utama, ingin mengubah masa kininya, mengembalikan kehidupan ayah dan kakaknya. Dia kembali ke masa lalu dan bermaksud menolong ayah dan kakaknya. Masa depan memang berubah. Kakaknya memang hidup lagi. Sayangnya, masa depan tidak seperti yang diharapkannya. Dia mengharapkan hidup bahagia tetapi justru hidup lebih ruwet. Orang-orang di sekelilingnya juga menjadi tidak bahagia walaupun semula bahagia ketika awal dia mengubah takdir.

 
Gw ga akan spoiler alasan bahagia dan tidak bahagianya. Hal yang ingin gw sampaikan, sebagai esensi dari drama itu dan kisah time travel lainnya, adalah mengenai ikhlas dan maaf.

Kadang gw, sebagai manusia (gw masih hobi mengkambinghitamkan “manusia”), berpikir “Andaikan dulu gw gini. . . Andaikan dulu gitu. . .”. Kenyataannya adalah semua sudah terjadi. Bunga sudah menjadi buah. Singkong sudah menjadi keripik. Tidak dapat diubah.
Sebagai manusia, gw seharusnya ikhlas mendapatkan buah atau keripik tersebut, bagaimana pun rasanya. Rasa itu dapat diperbaiki, jika kurang enak, dengan menambahkan bumbu. Misalnya, buah yang tadinya sepat dijadikan rujak. Oke, gw tidak pernah menyukai rujak. Tapi, maksud gw, mungkin ketika gw mencoba hal tersebut diperbaiki dengan sebuah cara, cara itu dapat menjadikannya lebih buruk. Mungkin juga buah itu dijadikan sop buah. Gw suka sop buah. Ketika gw mencoba cara lain, gw mendapat hal yang baik. Sama halnya dengan keripik, mungkin bisa ditambah lada atau garam. Gw tidak akan pernah tahu rasanya sebelum mencoba. Ketika dicoba dan rasanya buruk, bisa saja mencari yang baru.
Menyesal itu boleh, tetapi jangan berlebihan. Menyesal sebagai bentuk pengendalian agar perbuatan bodoh tidak terulang itu boleh. Menyesal hingga terpuruk tentu saja tidak boleh. Bagaimana pun, hal pertama yang harus dilakukan ketika menerima sesuatu adalah mengikhlaskannya. Ketika sudah ikhlas, move on akan lebih mudah. Otak dan hati mudah bekerja mencari jalan yang lebih baik.
Kalau buah atau keripik itu pemberian orang lain dan rasanya kurang enak, hal yang pertama harus dilakukan adalah ikhlas. Namanya juga pemberian, sudah diberi, malah protes. Kedua adalah memaafkan. 
Park Sun-Woo mendapat keruwetan juga karena dia tidak bisa memaafkan. Dari film/drama/anime yang gw tonton, semua hal yang terkait tidak memaafkan selalu memperpanjang masalah. Ketika seseorang tidak memaafkan, hatinya tidak akan tenang. Orang yang tidak dimaafkan juga merasa seperti dikejar hal yang tidak terlihat. Sebesar apa pun masalah yang ditimbulkan orang itu, please, try to forgive. Memaafkan juga mempermudah move on. Kalau perlu, gunakan rumus maafkan+lupakan+tinggalkan. 
Teori lebih mudah dibandingkan praktek. Nah, coba dulu deh. Kalau memang sulit memaafkan, pura-pura tidak tahu, hidup normal seolah tidak terjadi apa pun. Coba dulu itu. Lama kelamaan juga dendam akan hilang. Namanya manusia, pasti tidak akan tidak memiliki kesalahan. Kalau tidak memaafkan, justru akan rugi. Hidup dalam api.

Gw tidak memiliki, tidak akan memiliki, mesin waktu. Hal yang dapat gw lakukan hanya sebatas terus berjalan. Berjalan pun diperhitungkan sebelum melangkah agar tidak mengulang atau membuat kesalahan baru. Belajar dari pengalaman. Kalau gw terus terbayang masa lalu, gw tidak akan bisa menatap ke depan dengan baik. Mata gw tidak akan dapat menangkap kebenaran dengan benar. Lihat+rasakan+maju.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *