Siapa yang tidak kenal Farah Quinn. Gayanya yang khas dan aksen bicara yang terkadang diselingi bahasa Inggris membuatnya mudah diingat. Hal lain yang membuatnya khas adalah, setiap selesai dengan satu resep, Farah Quinn selalu menunjukkan karyanya sambil mengatakan, “This is it, (nama hidangan) ala Chef Farah Quinn.”

Selain malam-melintang di televisi, Farah Quinn kini juga aktif dengan YouTube. Farah Quinn mempunyai channel memasak “Cooking with Farah Quinn”. Farah Quinn juga bergabung dengan Komunitas Kokiku Network.

Secara singkat, Komunitas Kokiku Network adalah komunitas food and travel yang berbasis di YouTube. Kokiku TV juga mempunyai website berisi resep-resep masakan dan review di kokiku.tv. Anggota Kokiku tersebar di dalam maupun luar negeri. Sampai saat ini, sudah Kokiku sudah mempunyai 75 member. Selain Farah Quinn, ahli-ahli memasak lain pun sudah bergabung dengan komunitas ini, di antaranya Putri Wong, Tiya Rahmatiya, dan Cindessert.

Kalau mau melihat video-video Kokiku, bisa kunjungi channel-nya: Kokiku TV. Ada banyak ragam video memasak. Ada juga food review di channel ini. Video-video di sana sangat cantik, seperti acara masak-memasak di televisi.

Kalau melihat video-video memasak di channel ini, kita pasti berpikir video-video tersebut sangat pro, seperti acara di televisi. Nyatanya, tidak semua video itu dibuat menggunakan teknologi ribet dan mahal seperti yang dimiliki stasiun televisi. Beberapa video memasak di-shot dengan smartphone.

Kokiku TV berbagi tips and trick seputar video blogging pada 17 Juni 2016. Bertempat di Modena Experience Center, Jakarta, acara ini bekerja sama dengan Blibli.com. Acara ini bertajuk Cooking and Video Blogging Workshop #BelanjaKebaikan with Kokiku TV.

Hal apa yang harus dilakukan sebelum memasak? Memikirkan mau memasak apa? Pastinya. Menyiapkan resep? Yes. Selanjutnya, tidak lupa kita harus membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Beberapa bahan mungkin harus dibeli di hari yang sama ketika akan memasak karena harus fresh. Beberapa mungkin sudah menjadi stok mingguan atau bulanan.It is your option juga mau belanja di mana. Di pasar tradisional, di supermarket, ataupun di e-commerce seperti Blibli.com. Sekarang makin banyak pilihan untuk berbelanja.

Bersamaan dengan bulan Ramadan, Blibli mengadakan program #BelanjaKebaikan. Berbelanja sambil berbagi. Setiap berbelanja minimal Rp250.000, kita berkesempatan mengikuti buka bersama Blibli, artis-artis Trinity yang sudah bekerja sama dengan Blibli, dan anak yatim.

Untuk persiapan memasak, Blibli menyediakan bahan-bahan makanan. Blibli juga menyiapkan peralatan memasak, seperti peralatan Modena, supaya lebih cantik kalau tertangkap kamera. Malu, kan, kalau panci gosong masuk YouTube? Hehe.

Kalau bahan dan peralatan sudah siap, kita sudah bisa mulai memasak. Plus, membuat video.

Kokiku membagi “rahasia dapur” seputar membuat video blogging.

Lighting yang Baik

Sebelum mulai, kita harus pastikan ruangan cukup terang. Kalau sewaktu sekolah dulu ada yang bilang “posisi menentukan prestasi”, kalau untuk video blogging, “Lighting menentukan kemenarikan”. Ruangan dengan lighting alami bagus untuk pengambilan gambar. Aku langsung berharap mempunyai dapur seperti ruangan yang dipakai untuk acara ini. Pasti sangat terang dan cantik untuk di-shot.

Kalau memang dapur di rumah belum dilengkapi jendela selebar itu, tetap bisa kok menggunakan lampu. Lampunya bukan yang 5 watt, ya. Nanti malah jadi sleeping beauty.

Content is The King

Bukan hanya tulisan saja yang perlu konten. Video pun demikian. Supaya channel kita tidak sepi, kita bisa membuat breakdown tema. Satu bahan bisa menjadi bermacam hasilnya. Misalnya, dari bahan ayam kita bisa membuat tiga konten. Pertama, cara preparing ayam. Kedua, cara membuat kaldu. Ketiga, cara membuat Soto Ayam.

Hal ini juga berhubungan dengan kekonsistenan. Kalau kita rajin membuat video, kita akan terlihat konsisten. Subscribers pun akan senang. Belum lagi, kalau kita membuat jadwal tertentu, misalnya, hari Rabu khusus resep dari bahan ayam. Kalau ada subscriber pecinta ayam, dia akan menunggu hari Rabu itu datang.

Pilih Thumbnail Menarik

Tidak bisa dipungkiri orang-orang melihat thumbnail dahulu sebelum mengeklik video kita. Kalau thumbail yang digunakan adalah gambar orang yang memasak, calon penonton akan bertanya-tanya seperti apa masakannya. Karena video tidak seperti tulisan di blog, orang akan malas mengeklik thumbnail semacam itu. Aku, sih, memikirkan kuota. Tidak worth it kalau ternyata hasilnya kurang memuaskan kita. Thumbnail paling menarik adalah hasil masakan kita.



Makin Menarik dengan Musik

Hidup ini krik-krik, ya, kalau tanpa musik. Begitu juga dengan video. Penonton tidak akan bosan kalau ada musik. Pastkan musik yang kita pakai legal. YouTube tahu kalau kita memakain musik yang ilegal. Untuk menghindari masalah dengan YouTube, ada baiknya kita menggunakan musik dari YouTube Library saja. Mungkin tidak akan secocok musik yang kita miliki, tapi hal ini lebih baik daripada dipermasalahkan oleh YouTube.

Ikuti Trend

Hal ini selalu menjadi alternatif menarik. Ketika sesuatu sedang trend, adalah kesempatan kita mengarahkan orang-orang kepada hal yang kita punya. Kalau martabak sedang trend, buat video martabak. Kalau yang sedang banyak dicari adalah menu buka puasa mudah, buat video tersebut.

Judul yang Jelas

Video memasak? Cukup beri judul Resep blablabla.

Tagging Video Sesuai Kata Kunci

Tagging ini semacam hashtag di Instagram. Hal ini bisa mempermudah pencarian.

Deskripsi Harus Diisii

Untuk video memasak, deskripsi yang bisa dibuat adalah resep secara jelas. Bisa juga ditambahkan tips yang berhubungan dengan masakan yang dibuat.

Playlist untuk Memberi Kesan Rapi

Ketika membuka channel seseorang, kita akan mudah menemukan yang kita cari kalau orang itu membuat playlist, kan? Selain itu, dengan adanya playlist, setelah selesai satu video, akan dilanjutkan video lain dari playlist tersebut. Dengan begitu, viewer kita pun meningkat.

Kualitas Video Demi Kenyamanan Penonton

Siapa, sih, yang mau menonton video dengan kualitas buruk? Kalau sudah melakukan shot dengan baik, jangan lupa mengeditnya. Ada banyak pilihan aplikasi yang bisa digunakan untuk mengedit video, di komputer, maupun smarphone.

Kalau video sudah selesai, jangan lupa backup  ke harddisk dan USB. Tidak mau, kan, sudah susah-susah membuatnya, tiba-tiba hilang?

Sudah mempunyai channel YouTube? Bagi YouTubers, subsribers adalah hal yang penting. Hal ini juga bisa menjadi acuan sekilas seberapa pro kita. Pernah, kan, melihat channel yang subscribers-nya banyak lebih memilih melihat-lihat videonya daripada video YouTuber dengan subscribers sedikit?

Salah satu cara meningkatkan subscribers adalah dengan melakukan kolaborasi. Si A berkolaborasi dengan Si B. Subsribers A akan kenal B. Subscibers B akan kenal A.

Untuk video memasak, ada baiknya kita melakukan interaksi dengan penonton. Interaksi bisa berupa sapaan atau penampilan kita memasak sambil berbicara, seperti yang dilakukan Farah Quinn. Penonton akan merasa kita friendly. Tahu, kan, apa saja keuntungan menjadi orang friendly?

Sebetulnya, ada dua macam video memasak. Video dengan orang yang tampil berbicara atau video tanpa bicara. Video tanpa bicara ini biasanya dibantu dengan teks supaya penonton tahu step by step. Video tanpa bicara pun dibuat ramah dengan penonton. Caranya, dengan beberapa kali menge-shot sang koki. Jadi, bukan hanya tangan atau masakannya saja yang terlihat.

Kalau kita mau monetizing YouTube sangat bisa. Kokiku TV membantu kita me-monetize YouTube dengan cara menjadi creator di channel tersebut.

Loh, kan mau me-monetize channel sendiri, kok malah tampil di Kokiku TV?

Creator tetap mempunyai channel sendiri. Kemudian, channel itu terhubung dengan Kokiku TV. Kokiku terlebih dulu menanyakan tujuan kita. Kokiku akan membantu kita mencapai tujuan kita me-monetize channel kita. Tujuan famous? Ada caranya. Beda tujuan, beda jalannya.

Selain terhubung dengan channel Kokiku TV yang subscribers-nya sudah banyak, kita juga bisa mendapat banyak keuntungan, antara lain:

  • Mendapatkan akses di studio Kokiku di Jakarta untuk keperluan produki, termasuk perlengkapan memasak dan video editing.
  • Mendapatkan copyright-free music dari library yang disediakan Kokiku. 
  • Berkesempatan dibuatkan trailer channel untuk ditampilkan di homepage YouTube channel.
  • Bantuan untuk channel manegement, optimasi, dan promosi channel.
  • Bantuan penjualan.
  • Memudahkan kolabarasi dengan YouTuber lain
  • Mendapatkan akses untuk program edukasi dan acara-acara Kokiku lainnya. 

Banyak, ya? Semua itu hanya perlu bermodalkan YouTube channel. Bahkan, kalau kita belum mempunyai channel, bisa dibuatkan juga.

Oke, itu tadi sedikit soal program Kokiku TV. Kembali seputar masak-memasak.

Pada acara ini, hadir Chef Lucky, juara Masterchef Indonesia yang pertama. Chef Lucky juga mempunya channel. Pada kesempatan ini, Chef Lucky memasak dan pihak Kokiku melakukan pengambilan video dengan kamera smartphone.

Video dimulai dengan opening. Bisa juga dengan memberikan bahan-bahan yang dibutuhkan, tapi kebanyakan adalah dimulai dengan opening. Opening cukup kalimat yang mengenalkan diri kita dan apa yang akan kita masak.

Untuk pengambilan video bahan, dilakukan satu per satu per bahan. Gunanya supaya bisa diselipkan teks di tiap bahan. Cara pengambilan untuk bahan yang ditempakan di wadah bening dan berwarna pun berbeda.

Untuk hasil menarik, kadang, masakan yang dibuat dalam video belum matang sepenuhnya. Hal ini dikarenakan masakan yang matang tampilannya akan kurang menarik di kamera. Hasil di kamera biasanya lebih gelap daripada asli. Karena itu, masakan yang belum matang justru akan terlihat seperti masakan yang sudah matang. Masakan yang matang akan terlihat overcooked. Supaya tidak mubazir, setelah selesai pengambilan video, masakan bisa dimatangkan kembali.

Ketika memblender, kadang bahan yang sedikit membuat proses ini tidak begitu terlihat di kamera. Solusinya adalah menambah cairan. Kalau ibu-ibu di rumah, mungkin bisa sekaligus memblender untuk porsi satu keluarga. Hehe. Kalau bahan yang diblender banyak, kamera bisa diposisikan di atas supaya lebih jelas. Tidak perlu khawatir muncrat karena bahan yang banyak membuat proses ini lebih stabil. Kamera bisa diposisikan sejajar dengan blender kalau bahan yang diblender tidak terlalu banyak.

Setelah proses memasak, selanjutnya adalah closing dan enjoyment shot alias bagian mencicip. Dua bagian ini bisa dibolak-balik. Opening, closing, dan sesi mencicip akan menunjukan engagement terhadap penonton.

Setelah melihat Chef Lucky memasak dan tim Kokiku melakukan syuting, semua peserta workshop diajak melakukan experience langsung. Peserta dibagi kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua atau tiga orang. Peserta diminta memasak sambil dilakukan pengambilan video. Satu orang menjadi model, sedangkan yang lain mengambil gambar dan membantu persiapan.

So, ini hasil videoku bersama Mbak Hanny Nursanti yang menjadi partnerku.

Ketika mengedit video, aku menyadari beberapa kesalahan.

Kesalahan pertama: tidak mengingat secara detail cara mengambil video. Aku pikir, nanti saja aku lihat-lihat lagi catatan dan video (aku merekam beberapa bagian yang disampaikan narasumber) event ini di rumah. Ternyata, kami diberi kesampatan praktik langsung.

Kalau dirinci, kesalahan-kesalahanku adalah:

Ada video yang aku ambil landscape, ada yang portrait. Walaupun bisa di-rotate, hasilnya tidak maksimal. Better, semuanya diambil landscape untuk mengikuti layar.

Angle masih berantakan.

Kurang sering men-shot Mbak Hanny. Aku merasa, engagement  video ini kurang. Mungkin karena kurang manusia.

Apa lagi, ya? Ada yang bisa menyebutkan? Supaya nanti aku bisa lebih baik.

Untuk suara, aku tidak bisa membuat video dengan model berbicara selama proses padahal ketika syuting, Mbak Hannya memasak sambil menjelaskan proses. Terlalu banyak suara lain. Mbak Hanny bicara apa, suara-suara di belakang bicara apa. Suara-suara lain itu terlalu jelas. Namanya juga belajar beramai-ramai, ya. Aku harus belajar menghilangkan suara-suara yang tidak seharusnya. Ada caranya, kan?

So, hasil belajar di Modena Experience Center benar-benar memberiku experience baru. Ilmu baru. Pusing? Iya. Namanya masih belajar, ya, pusing. Semoga saja suatu saat aku bisa membuat video bagus, begitu pun teman-teman yang mengikuti workshop ini.

You may also like...

3 Comments

  1. Ahi hi hi saya pernah ngalamin mbak memang susah untuk yang baru pertama kali tapi kalau sudah terbiasa mah juga nantinya bagus hasilnya.

  2. hmm.. lebih ribet sih ya bikin video, tapi emang lebih disukai orang dan nantinya bermanfaat banget. Tapi harus mengerahkan banyak hal supaya videonya bagus [yaiyalah] semoga aku bisa bikin video suatu saat, aamiin

  3. lumayan mba videonya… saya pgn belajar jg ah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *