Belakangan ini, sepertinya, aku jarang jajan. Kalau ingin jajan, biasanya sekali jajan, langsung macam-macam supaya sekalian jalan. Lokasi tempat jajan pum yang saling berdekatan saja. Irit ongkos dan tidak makan waktu.

Hari itu, aku sedang ingin jajanan SD. Jadi, aku pergi ke depan Museum Perjuangan. Kenapa tidak ke SD?  Jam segitu SD sudah sepi.

Di sekitar Museum Perjuangan memang cukup beragam jajanannya. Dekat dengan area beberapa sekolah. Di seberangnya pun ada Pusat Grosir Bogor.

Setelah membeli beberapa jajanan, aku langsung pulang. Aku lewat PGB, lumayan mengurangi paparan sinar matahari. Lol.

Waktu jalan menuju PGB dengan itulah, mataku menangkap segerombolan anak SMA merubungi satu gerobak jajan. Sekilas tampak adonan yang dituang ke dalam cetakan takoyaki. Dan, aku pun penasaran.

Sayangnya, aku malas balik lagi padahal hanya beberapa langkah. Belum lagi, malas juga mengantri. Jadi, kubiarkan rasa penasaranku.

Setelah sekian lama, aku cukup lupa dengan rasa penasaran itu. Sampai ketika aku sedang jalan entah ke mana. Aku melewati SD yang sudah sepi, tapi masih ada satu gerobak jajanan. Dan, jajanan itulah yang waktu itu aku lihat!

Akhirnya, aku beli jajanan itu. Cilor namanya.

Kesan pertama setelah membelinya?

Errr… Kok aneh gitu, ya?

Tadinya, aku tidak akan beli lagi. Tapi, kupikir-pikir itu karena abang tukang cilornya sudah suntuk dan memberikan cilor yang belum sepenuhnya matang.

Waktu cerita ke teman, katanya cilor enak. Dia suka. Jadi, yaaah. Aku nanti coba lagi, deh.

Daaaan, setelah sekian lama, akhirnya aku coba si cilor itu lagi. Masih beli di tempat yang sama.

Lebih enak daripada yang pertama. Lol.

Oh, ya, aku sebut-sebut cilor memangnya dunia sudah tau cilor itu apa?  Malaikat,  sih, sudah tahu.

Cilor itu . . .

Seperti jajanan yang namanya menggunukan “ci” lainnya, jajanan itu terbuat dari aci alias tepung sagu.

Sebentuk bahan menyerupai cireng belum digoreng dicampur dengan adonan. Dicetak dalam loyang bulat-bulat. Setelah matang, cilor dihancurkan dalam suatu wadah dan dicampur dengan bumbu. Bagian ini sebetulnya agak disgusting padahal wadahnya gelas ukur biasa ukuran jumbo, bukan ember atau baskom. Mungkin karena bekas bumbu pembeli-pembeli sebelumnya masih ada. Tapi, yah, jajanan SD mana sih yang tidak disgusting. Jajanan SD elit kali, ya.

Pilihan bumbunya ada asin, pedas, dan keju. Bumbu-bumbunya berupa serbuk.

Pada percobaan kedua, aku beli rasa asin dan pedas-asin. Yang asin aku beli Rp3.000, yang pedas aku beli Rp2.000 saja karena hanya ingin coba paduan pedas-asinnya. Sayangnya, yang pedas ini rasanya sampai nyedak. Mungkin abangnya terlalu obsesi dengan pedas. Haha.

Harga satu bulatan cilor Rp1.000. Tapi, beli Rp3.000 saja sebetulnya cukup mengenyakan. Kenyang sementara, sih. Sejam kemudian lapar lagi. Lol.

Setelah ini, mungkin aku akan beli cilor lagi, tapi di tempat lain. Nanti. Suatu saat kalau tidak sengaja menemukan ketika sedang jalan. Suatu saat kalau belum tobat dari dunia perjajanan SD.  Mwahaha.

You may also like...

1 Comment

  1. aku ga suka cilor. mending cilok atau cireng sajah 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *