Ayo, ngomongin jajanan! Masih di nulis bareng Kak Zelie. Kali ini cerita soal jajanan pertama.

Aku lupa apa jajanan pertamaku. Jajan sepertinya menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan dari kisah masa kecil.

Aku tinggal di dekat mal. Kalau mau jajan, tinggal jalan kaki sedikit.

Karena itu, aku sudah mengenal jajan sejak balita.

Jajanan di mal nggak jauh-jauh dari makanan kemasan. Salah satu favoritku adalah:

Chiki Balls!

Adakah anak Indonesia yang nggak suka Chiki Balls?

Membayangkannya sekarang saja aku jadi ingin Chiki Balls lagi.

Aku nggak tahu Chiki Balls rasa apa yang paling kusuka sewaktu balita. Namun, seiring waktu, favoritku menjadi rasa kaldu ayam. Enak banget!

Selain Chiki Balls sepertinya aku juga suka “chiki-chiki” yang lain sejak balita. Dulu, semua makanan kering dalam kemasan semacam itu memang disebut “Chiki”.

Taro, Jetz, Chitato, apa pun itu tetap saja disebut Chiki. Palingan diperjelas misalnya “chiki Taro”, artinya ya Taro saja, bukan Chiki Balls dan Taro.

Oh, ya, walau aku suka jajan, bukan berarti aku bisa menerima semua jajanan.

Dulu, aku nggak bisa makan jajanan seperti yang dari pasar gitu. Jajanan yang mungkin entah pewarnanya apa, pemanisnya apa.

Kalau makan yang seperti itu, bersiap saja bertemu dokter.

Untungnya, ketika masuk SD, aku sudah lebih strong. Aku bisa jajan jajanan di sekitar sekolah.

Melihat anak-anak lain jajan, jelas banget aku kabita. Cakwe, cireng, apa lagi, ya?

Di samping sekolah pertama, ada swalayan juga. Kadang-kadang, aku jajan es krim.

Di sekolah kedua, aku mulai kenal telur gulung. Dulu, telur gulung nggak pakai bihun. Agak beda dengan telur gulung sekarang. Dulu juga, penjualnya menggunakan pikulan. Sekarang menggunakan gerobak, ‘kan?

Awalnya, aku hanya jajan telur gulung dengan taburan semacam micin saja. Lama-lama, coba-coba sausnya. Iya, saus yang penampakannya membuat merinding itu. Itulah pertama kalinya aku jajan dengan saus yang entah apa bahannya.

Begitu pindah sekolah lagi, aku nggak menemukan telur gulung.

Aku menemukan telur gulung lagi di tempat kuliah. Yang pakai bihun itu. Bisa juga minta tanpa bihun, sih. Nah, saat itu aku sudah tobat dari saus-saus aneh. Jadi, walaupun jajan telur gulung, nggak pakai saus.

Kalau sekarang … aku lebih tobat lagi, deh. Jangankan telur gulung atau jajanan semacam itu, martabak saja aku mikir-mikir lagi. Nasi Padang saja sudah lama aku nggak makan. Mending tumis kangkung di rumah saja, deh. Lebih bisa aku percaya.

Untuk jajanan kemasan, jelas masih mau. Toh, jajanan kemasan biasanya sudah terdaftar di BPOM dan MUI, ‘kan? Tinggal dicek di kemasannya, mudah.

Walau begitu, sekarang sih aku mengurangi jajanan kemasan juga. Sampah kemasan itu loh … bikin pusing! Bahkan, sebelum sampai ke tangan kita, sudah ada sampah di pabriknya, ‘kan?

Jadi, demi bumi lebih sehat, deh. Toh, mengurangi jajanan juga membuat diri lebih sehat jiwa, raga, dan kantong.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *