Satu hari, aku sedang ingin jalan-jalan. On weekdays. Sayangnya, teman jalan-jalanku hanya bisa dari jam 9.00-15.00. Sudah pasti tidak bisa jalan-jalan yang jauh. Mengutip istilah temanku yang lain, “Mau lihat yang hijau-hijau”. Tempat yang hijau-hijau itu kebanyakan jauh. Kebun Raya tidak masuk hitungan, yaaa. So, kami pun berpikir, berpikir, seperti Jimmy Neutron.

Tercetuslah CIFOR (Center for International Forestry Research), Dramaga, Bogor. Beberapa orang bilangย  itu bisa untuk wisata. Beberapa orang bilang “gitu-gitu aja”. Yaudahlah, yaaa, googling aja.

Dan akhirnya, kami pun berangkat ke CIFOR. Berbekal GPS. Cukup 30 menit dari pusat kota. Aku pernah, loh, ke Dramaga dari Balai Kota 10 menit saja. Dramaga-nya IPB, yaaa, jadi aku tidak tahu CIFOR itu di mana.
Maka, sampailah kami di daerah CIFOR.
Jadi, ada apa saja?

Ada hutan. Pasti.

Ada situ alias danau kecil. Kata Google, ada tiga situ. Situ Gede, Situ Burung, dan Situ Panjang. Sepertinya, yang mudah diakses adalah Situ Gede, jadi kami memilih ke sana.

Tidak ada biaya masuk ke Situ Gede alias gratis. Kalau membawa motor, hanya biaya parkir saja Rp3.000. Kalau membawa mobil, sepertinya harus parkir di pinggir jalan.

Kesan pertama: gini doang?

Haha. Memang hanya danau. Sebetulnya, untuk duduk-dudukan cantik, sih, asyik. Sembari ngabuburit, misalnya. Atau mau ngobrol ngalor-ngidul. Ada perahu bebek juga. Berhubung aku pernah melihat situ lain yang membuatku langsung terpesona, seperti di film-film dokumenter, ekspektasiku terhadap situ ini menjadi cukup tinggi.ย  Kata orang, traveler never expect. Masih jauh untuk menjadi traveler.

Lagian, sombong banget, Fah, bilang “gini doang?”, seolah bisa menciptakan yang semacam ini.

Yah, sebetulnya, Situ Gede ini cukup oke. Temanku malah membayangkan membangun tenda. ๐Ÿ˜›

Di sini juga ada warung-warung. Kapan lagi coba jajan di warung dengan latar belakang hutan?

Sayangnya, di hutan pun masih saja ada sampah. Kok ya pada malas banget bawa plastik untuk sampah? -_-”

Dari Situ Gede, aku dibawa memutari kawasan CIFOR dan Dramaga. Sebagai nebenger, aku sih pasrah saja.

Di CIFOR, ada penangkarang rusa juga. Aku tidak foto karena hanya satu rusa yang aku lihat dan dia kecil. Kalau dia takut aku, gimana?

Di sini juga ada semacam wisma, namanya Puri Dramaga. Ada tiga wisma, lokasinya di sekitar rumah penduduk. Eh, tapi aku tidak tahu ya itu untuk turis atau bukan. Mungkin hanya untuk researcher. Mungkin entah untuk apa. Berhubung memang daerah ini bukan dimaksudkan untuk wisata, tidak ada pusat informasi untuk turis di garda depan. Mungkin bertanya ke orang di gedung CIFOR-nya, atau warga sekitar.

Hasil putar-putar tanpa tujuan pun membawa kami ke Situ Burung. Tidak sengaja. Tanpa GPS. (aku tetap sesekali lihat GPS, sih, hanya untuk mengetahui lokasi kami, takut masuk ke Negeri Antah Berantah). Hanya mengikuti feeling, feeling anak itu.

Begitu melihat sebentuk danau, aku langsung berpikir, “Nah, ini nih”. Situ ini tidak dikeliling hutan, tapi cantik. Memang tidak ada perahu bebek atau warung, tapi tempat ini justru yang lebih cocok untuk nongki cantik sambil melihat danau.

Setelah dari Situ Burung, kami cuss pulang. Dan, ternyata, kalau lewat jalan lain (jalan pulang kami), Situ Burung tidak terlalu jauh dari Situ Gede. ^_^’

You may also like...

4 Comments

  1. tau dramaga tapi gak tau ada cifor ternyata… heuheu

  2. Di dramaga ada apaan? Ada kampus IPB

  3. Oiya salam kenal mba Afifah ๐Ÿ™‚

  4. di Dramaga Bogor ada kampus aku dulu (arah mau ke IPB dari terminal Laladon) tapi bukan IPB ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *