Kalau kamu follow Twitter-ku dan membaca kicauan-kicauanku sejak lama [ada nggak, sih, yang baca? :”) ], mungkin kamu pernah mendapati aku berkicau soal film. Bukan cuma film, sih. Drama Asia, serial Barat, dan anime pun sepertinya pernah aku kicaukan di Twitter.

Aku memang bukan pengamat dunia perfilman, tapi aku sukaaaaaaa nonton. Aku juga bukan penonton yang terlalu picky. Aku nonton apa pun yang aku mau. Kecuali tontonan yang terlalu sadis atau terlalu sedih, sih. Tapi, dulu aku bahkan bisa nonton film-film sedih ataupun sadis. Oh, kecuali film dokumenter. Dari dulu, aku lebih minat baca data daripada nonton film dokumenter.

Semua tontonan yang aku inginkan, aku menontonnya di bioskop ataupun di rumah. Dari zaman mesti pakai laptop, sampai ke zaman aku lebih nyaman menonton dengan smartphone. Aku juga suka menonton film-film terbaru, tapi ada juga film yang aku tonton berkali-kali.

Kacamata Patah

Lalu, suatu hari, kacamataku patah. Menjelang akhir Ramadan tahun ini.

Sejak beberapa bulan lalu, aku memang sudah deg-degan kacamata yang kubeli tahun 2017 itu akan patah. Aku melihat semacam retak kecil di bagian bingkai. Aku sempat bertanya di Instastory tentang tempat yang bisa memperbaiki kacamata. Aku sayaaaaang banget sama kacamata itu. Makanya, nggak mau mikirin beli kacamata baru.

Dari Instastory itu, aku juga mendapatkan rekomendasi optik yang—menurut beberapa orang—bagus. Tapi, yah, aku kan cuma nanya. Cuma supaya antisipasi saja karena belum betulan patah. Niatku, nanti saja kalau betulan patah. Aku nggak langsung buru-buru ke sana karena masih sekadar retak kecil.

Nggak diduga, patahnya justru berminggu-minggu setelah aku menanyakan hal itu. Dan, waktunya sama sekali bikin terhenyak.

Akhir Ramadan gitu, loh. Orang-orang ke luar rumah untuk beli ini-itu. Kebayang kan pusat perbelanjaan ramai. Jalanan juga ramai.

Lalu, aku pikir, aku mau beli kacamata secara online saja dulu. Aku nggak begitu peduli soal model atau hal lainnya karena yang penting kan ada dulu. Toh, aku berniat kembali ke kacamata lama.

Niatku, setelah Idulfitri, baru deh aku datang ke tempat yang direkomendasikan itu. Yang penting, kan aku bisa melihat dengan jelas dan nggak perlu berkubang di lautan manusia yang sedang mempersiapkan belanjaan Lebaran. Hehe.

Teruuus, aku kan cerita ke Bapak. Kemudian …

Malah dikasih uang buat beli kacamata di optik sungguhan. Hahaha.

Kalau sudah gitu, mau nggak mau ya aku ke luar rumah. Ke pusat perbelanjaan yang menguji kesabaran. Optik yang aku percaya yang paling dekat ya yang di pusat perbelajaan itu. Huhuhehe.

Singkat cerita, jadi deh aku punya 2 kacamata baru. Yang 1 kacamata baru diperbaiki. Yang 1 kacamata baru betul-betul baru. (Yang diperbaiki itu sekarang sudah rusak lagi, btw. Ya udah, ikhlasin aja, ya).

Mematahkan Kebiasaan

Aku lupa entah gimana, aku tiba-tiba kepikiran sesuatu.

Kan kacamata ini uangnya dari Bapak. Mungkin saja bisa jadi amal, ‘kan?

Misal, aku pakai untuk tilawah atau untuk belajar ilmu yang bermanfaat, mungkin pahalanya juga nyangkut ke Bapak. Wallahu a’lam.

Dari 24 jam sehari, berapa jam aku pakai kacamata? Palingan lepas kacamata pas tidur atau bersihin wajah.

Dan, 24 jam kan sebetulnya nggak banyak-banyak banget, ya. Kalau dipakai sejam saja buat nonton, sayang banget.

Walau tontonan yang konon memotivasi. Walau yang konon isinya baik. Tapi kan ada hal yang lebih baik. As I mentioned, tilawah, misalnya.

Kalau ada sesuatu yang lebih baik daripada sekadar baik, kenapa nggak memilih yang lebih baik, ‘kan? Dan, kalau ada yang terbaik, kenapa memilih yang sekadar lebih baik?

Godaan, sih, pasti ada. Apa lagi nonton film/drama/anime tuh sudah kayak kebiasaan banget. Waktu itu bulan Ramadan, tapi tetap saja kayak ada bisikan-bisikan untuk nonton. Padahal, setan dibelenggu kan, ya. Untungnya, sih, aku bisa melalui bulan Ramadan tanpa film apa pun.

Lolos dari bulan Ramadan, aku agak khawatir godaan akan makin tinggi.

Dan, betul saja. Aku tergoda. Huhu.

Tapi, waktu aku coba nonton. Aku nontin “tontonan biasa”, tapi ada perasaan deg-degan aneh gitu. Betul-betul deg-degan kayak bakalan ada yang siap menyergap. Yah, jadinya keingat, sih. Memang selalu ada yang merhatiin, ‘kan? Allah.

Terus, jadi berhenti nonton sama sekali?

Hmmmm. Pertanyaan yang sulit.

Duuuh, bukan film, sih, tapi godaan YouTube besar banget. Banyak tontonan yang aku tau nirfaedah atau faedahnya sedikit. Agak deg-degan juga nontonnya, tapi aku tetap nonton ketika aku merasa ada waktu atau pikiran luang. Dalihnya banyak. Sekalian belajar bahasalah, untuk observasilah, dll. Mumpung luang.

Yang luang-luang kadang bahaya, ya.

Padahal mah jauh di dalam hati aku tahu itu cuma dalih. Padahal belajar bisa dengan cara lain. Padahal nonton hiburan apa pun, ada saja kemungkinan muncul sesuatu yang nggak sepatutnya dilihat atau didengarkan. Padahal mah cuma kepo pengin nengokin YouTube. Apa lagi, nonton YouTube nggak bikin deg-degan amat.

Iya sih, nggak deg-degan banget, tapi kemudian …

Aku kecipratan minyak dari wajan suatu malam. Kena bagian sisi mataku. Sekian milimeter dari bola mata. Padahal kan kacamataku cenderung lebar.

Di situ, berasa ditegur banget, sih. Kalau cipratan itu bergeser sedikiiiit lagi, mataku mungkin kena. Huhu. Minyak panas.

Kalau mata kenapa-kenapa tapi hal-hal yang terakhir dilihat bukan sesuatu yang bikin pahala naik, gimana? Naudzubillah.

Terus, nanti pas dihisab di akhirat gimana? Apa yang akan dihisab dari mata dan kacamata?

Lagian, kalau dipikir-pikir, waku luang tuh apa? Sehari cuma 24 jam, tapi ada saja hal-hal yang perlu dipelajari dan diperbaiki untuk semua gerak-gerik setiap waktu. Cuma, sering kelupaan karena lebih ingat on-going anime or drama daripada on-going perjalanan hidup sesungguhnya. Nggak boleh gitu kan ya, harusnya.

Jadi, sekarang aku berhenti nonton dunia entertainment? Penginnya sih gitu. Semoga saja bisa.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *