Selamat Hari Sabtu! Saya selalu suka hari Sabtu, bukan karena Sabtu sudah weekend, melainkan udara hari Sabtu selalu berbeda bagi saya. Walaupun tidak selalu libur, saya tetap menyukai hari Sabtu. 
Cerita saya kali ini bukan mengenai hari Sabtu atau hal yang terjadi pada hari Sabtu, melainkan kejadian di hari sebelum Sabtu.
Kemarin saya ke Indonesia International Book Fair (IIBF) di Istora Senayan. Perjalanan ke sana aman-aman saja. Saya membeli tiket commuter single trip seperti biasa. Saya juga membeli tiket bus transjakarta seperti biasa.
Pulangnya, barulah saya terkena hal kurang biasa. Saya mengeluarkan uang Rp3500 untuk membeli tiket bus tj di halte Polda, tapi tidak bisa. Halte Polda sudah tidak melayani pembelian tiket kertas, saudara-saudara.
Untungnya, saya sempat membaca mengenai uang elektronik di blog mak Riski Fitriasari. Jadilah saya tahu loket tj melayani pembelian uang elektronik. Saya betul-betul berterima kasih karena postingan itu. Kenapa? Karena si mbak penjaga loket tidak memberikan solusi! Setelah mengatakan halte itu hanya menggunakan tiket elektronik, si mbak penjga loket malah nunduk lagi mengabaikan saya. 
Gimana kalau saya nggak baca postingan itu??? Hmm… mungkin saya cuma akan bilang, “Terus gimana dong? Saya nggak punya.” Dan mungkin si mbak cuma bilang, “bisa beli di sini” dengan muka jutek. Lah waktu saya bilang mau beli aja si mbaknya ngasih tau harga dengan nada seolah akan ada backsound petir karena saya terkejut mendengar nominal Rp40.000. Nyatanya, saya tidak terkejut . -____-“
Nah, memang uang Rp40.000 sebetulnya masalah menurut saya. Untung-untung saya tidak menghabiskan uang di IIBF. Saya masih mikir-mikir mau beli buku tapi kapan bacanya. Kalau uang saya habis dan kartu ATM tidak bisa digunakan, entah bagaimana saya bisa pulang. Bisa sih naik Kopaja, tapi saya masih bingung di mana turunnya dan saya juga pulang bersamaan dengan jam pulang kerja. Walaupun sama-sama penuh, setidaknya bus tj masih agak adem. Saya juga masih takut naik angkutan lain selain commuter, bus transjakarta atau APTB sendirian.
Saya jadi membayangkan kalau di mana pun di Jakarta sudah tidak menerima uang sungguhan. Lalu, ada orang yang baru datang ke Jakarta dengan uang pas-pasan, tidak punya kenalan di Jakarta. Uang Rp40.000 kan lumayan untuk makan dua kali. 
Mungkin menggunakan e-money memang tidak terlalu rugi. Tidak perlu mengantri di loket. Tidak perlu susah-susah mencari receh. Masalahnya adalah setelah saldo Rp20.000 habis, uang saya yang Rp20.000 kan hilang menjadi sebentuk kartu tak terpakai. #nggakmaurugi.
Kartu ini bisa diisi sih. Tapi, ya, agak ribet juga mengisinya. Sebetulnya tidak ribet bagi pemegang Paspor BCA. Sayangnya, akun BCA pun saya tidak punya. Berdasarkan panduan pada starterpack, cara mengisi ulang ada dua. Pertama, isi ulang di merchant Flazz, kedua melalui ATM atau ATM Non Tunai. Dua-duanya memerlukan kartu dan PIN Paspor BCA. 
Nah, tapi . . . saya juga Googling mengenai e-money ini. Berdasarkan hasil Googling dan kata mak Riski, e-money ini bisa diisi di merchant, seperti loket tj, Alfamart, Alfa Midi, Alfa Express, Lawson, Es Teler 77, dan Gramedia tanpa perlu menjadi nasabah bank yang bersangkutan. 
Mungkin saya akan mencoba ke salah satu merchant itu dan mengisi ulangnya tanpa menjadi nasabah lebih dulu. Bukannya saya nggak mau menjadi nasabah BCA, dari dulu juga saya berniat membuka akun BCA, tapi nggak jadi-jadi. Saya malas ngantri untuk ke customer service-nya. BCA kan salah satu bank dengan antrian panjang di Bogor.
Oh, ya, selain Flazz BCA, mungkin Halte Polda menyediakan e-money dari bank lain, tapi saya sudah malas untuk banyak bertanya kepada si mbak-yang-suka-nunduk. Dan sekarang saya menyesal kenapa saya tidak mengganggu saja si mbak-yang-suka-nunduk. Kalau saya dapat ­e-money dari bank yang saya punya akunnya kan saya nggak perlu bingung gimana mengisinya nanti. 
Haaah, sudahlah, yang pasti sekarang saya mempunyai uang plastik. Semoga tidak hilang karena uang plastik ini tidak bisa diblokir kalau hilang.
Ini penampakan kartu saya. Lumayan saya suka karena warna-warni.
Laporan perjalanan ke IIBF coming soon di Lady Book’s Notes, yaa. ^^

You may also like...

7 Comments

  1. Trus jadinya beli Mba?
    Iya itu Mba, hati2 soalnya uang plastik itu tdk bisa diblokir. Sy aja ngisinya sedikit2.
    Salam kenal Mba 🙂

  2. Aku juga punya pengalaman ini, mau posting juga ahhh…

  3. jadi. mungkin berguna kalau ke Jakarta lagi.
    Salam kenal, makasih postingannya. 🙂

  4. ayo, sharing. ditunggu postingannya. 🙂

  5. punya kartu ini di jogja malah bikin sebel. banyak pom bensin yg ada mesin ini tp males melayani, ribet katanya 🙁

  6. kalo flazz aku dah pnya jadi bisa ke jakarta dong ya hehe

  7. […] Cukup sekali beli tiket. Dulu belum harus pakai uang elektronik. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *