Seorang murid SMA mengatai gurunya dengan satu kata kasar. Ia mengira gurunya tidak mendengarnya. Ternyata seorang guru lain mendengarnya dan memberitahu guru yang bersangkutan. Murid itu diberi nilai 50 pada mata pelajaran guru tersebut padahal nilai ulangannya selalu bagus.

Seorang calon karyawan membuang bungkus permen sembarangan di sekitar perusahaan tempat ia melamar. Pewawancaranya melihatnya dan langsung menolaknya ketika memasuki ruangan wawancara.

Seorang murid SMP yang biasa-biasa dalam hal akademik memungut gumpalan kertas dari koridor yang dilaluinya. Tanpa disadarinya, seorang guru PKn melihat kejadian tersebut. Pada akhir semester, guru itu memberinya nilai 95 pada mata pelajarannya.

Seorang anak putus sekolah yang menjual koran mengejar seorang bapak yang baru saja membeli korannya. Ia memberi uang kembalian yang kurang lima ratus rupiah. Bapak itu terkesan lalu menyekolahkan anak itu.

Seorang calon karyawan membantu seorang nenek tak dikenal menyeberang jalan. Salah satu mobil yang melintas adalah mobil orang yang akan mewawancarainya. Tanpa banyak diberi pertanyaan, ia pun diterima bekerja.

Seorang ibu menolong anak yang tersesat dan memberinya makanan. Anak itu menyukai makanan buat ibu tersebut. Tanpa diduga, anak itu adalah seorang pengusaha besar. Anak itu lalu meminta orangtuanya memberikan modal usaha kepada ibu tersebut untuk membangun bisnis kuliner.

Mungkin dalam kehidupan nyata, kejadian-kejadian tersebut jarang ditemukan. Tapi “jarang” menandakan “ada”. Mungkin kita tidak menyadari hal-hal kecil yang kita lakukan, tetapi setiap perlakuan selalu menimbulkan goresan, entah itu goresan abstrak yang tidak membuat orang lain tertarik, atau justru goresan indah yang membuat semua mata ingin melihatnya.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *