Bahasa menunjukkan bangsa.

Arti peribahasa tersebut—secara sederhana—bahwa tutur kata seseorang menunjukkan perilakunya.

Secara lebih luas, tentu peribahasa tersebut mempunyai makna yang lebih dalam. Bahkan, mungkin banyak orang mempunyai tafsiran masing-masing.

Akhir-akhir ini, kalau buka Twitter, aku merasa harus lebih hati-hati. Kadang-kadang, aku berharap teman-teman blogger dan buzzer sedang mengkampanyekan sesuatu. Iklan-iklan seperti itu sekarang lebih nyaman dibaca ketimbang cuitan-cuitan orisinil pengguna Twitter saat ini.

Bukan apa-apa, terkadang, cuitan-cuitan itu menggunakan kata-kata kasar. An(sensor), Bang(sensor), Bang(sensor). Huhu.

Mereka bilang sesuatu semacam kebebasan berekspresi, menjadi diri sendiri, dan lainnya. Tapi, bolehkah aku melabeli mereka seperti peribahasa tersebut?

Bahasa menunjukkan bangsa.

Kalau pilihan yang digunakan adalah kata kasar, maka perilaku asli pengguna kata-kata tersebut adalah …

Yah, mungkin bukan kasar sampai suka memukul atau sejenisnya. Walau begitu, pemilihan kata seolah menunjukkan kelas penggunanya. Pemilihan kata juga menunjukkan kedalaman pengetahuan seseorang.

Iya, ‘kan? Ketika kita bisa mengganti suatu kata menjadi kata yang lebih baik, berarti kosakata kita memang banyak, ‘kan?

Misalnya, aku ingin membuat kalimat dengan frasa “common sense“, tapi dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, aku nggak tahu tuh padanan “common sense” dalam bahasa Indonesia. Jadi, aku sadar bahwa pengetahuan bahasa Indonesia-ku memang hanya segitu.

Contoh di atas bukan berarti aku menganggap bahasa Indonesia lebih baik daripada bahasa Inggris, ya. Hanya saja, aku pribadi lebih suka menggunakan bahasa Indonesia karena aku orang Indonesia. “Baik” memang mempunyai banyak makna, ‘kan?

Duh, maaf, ya, kalau terkesan menggurui. Sebetulnya, aku nggak bermaksud menggurui. Cuma mau curhat tentang kekurangnyamanan.

Empatikah?

Bisa saja aku membuat daftar kata-kata yang perlu di-mute supaya nggak tampil di akunku. Tapi, kadang-kadang, aku penasaran, sih. Hehe.

Sayangnya, rasa penasaran itu kadang-kadang hasilnya malah menemukan sesuatu yang menyedihkan. Salah satunya, ketika aku mampir ke postingan terkait alm. Pak Habibie. Banyak ‘kan tweet ucapan belasungkawa, cerita-cerita kenangan, bahkan grafis-grafis dalam rangka menunjukkan duka atas berpulangnya Presiden ke-3 RI? Nah, aku mampir ke salah satu postingan.

Aku juga membaca beberapa reply postingan tersebut. Lalu, ketemulah dengan salah satu reply yang menggunakan kata kasar. Ucapannya memang menunjukkan kesedihan, tapi kenapa harus disisipi pilihan kata yang seperti itu?

Seram. Aku jadi terbayang kalau terlalu terbiasa menggunakan kata-kata seperti itu, empati bisa turun suatu saat nanti.

Perjalanan pemilihan kata kasar sampai ke tahap empati turun mungkin tampak jauh. Saking jauhnya, mungkin masih bisa ditampik dengan “nggak kok, ikut sedih betulan kok”. Tapi, ibarat perjalanan penyakit atau patogenesis, perjalanannya mungkin lama dan jauh, tapi kalau dibiarkan, penyakit itu akan timbul suatu saat.

Mungkin penggunaan kata-kata yang menurutku kasar itu bagi sebagian orang adalah bentuk santai. Ingin terlihat santai.

Yah, santai boleh saja, asalkan nggak berlebihan. Lagian, apa, sih, hubungannya kata kasar dengan santai? Nggak ada, menurutku (jadi, entah menurut orang lain). Kita tetap santai tanpa kata-kata yang nggak enak didengar itu.

Amit-amit kalau sampai terjadi kepunahan bahasa Indonesia yang indah dan halus gara-gara keinginan santai yang berlebihan.

Antara Santai dan Jarak

Bicara soal indah dan halus, mungkin nggak, sih, perasaan “berjarak” karena harus berbicara formal kepada seseorang itu disebabkan kebiasaan santai yang berlebihan?

Beberapa hari lalu, aku menemukan tweet seseorang yang memberi screenshot contoh chat-nya kepada atasan. Reply-nya ada yang merasa nggak akrab, ada yang bilang sesuatu semacam untung di perusahaannya boleh “lo-gue” ke atasan, ada juga yang bilang itu seperti zaman lampau.

Menurutku, itu hanya soal kebiasaan saja. Lagian, kenapa harus merasa berjarak atau lebih rendah hanya karena pemilihan gaya bahasa? Toh, kalau bicara dengan nenek-nenek, nggak mungkin, ‘kan kita memakai “lo-gue”? Dan, dalam kesempatan itu, apakah kita merasa lebih rendah? Nggak, ‘kan? Cara bertutur kita dengan seorang nenek (kenal atau nggak kenal), terlontar begitu saja tanpa memikirkan perasaan berjarak atau rendah.

Pun, ketika bertemu orang penting sekelas presiden atau menteri. Apakah lanta kita merasa beda kasta karena menggunakan bahasa formal? Nggak juga. Mereka juga bisa saja menerima kita berbicara dengan gaya informal ber-“bro-sist”, tapi yaaa, sopan santun sajalah. Di lubuk hati terdalam pun mungkin kita bertanya-tanya, kenapa, sih, memaksakan diri berperilaku sok asyik demi sesuatu yang konon disebut keakraban? Formal belum tentu nggak akrab, ‘kan?

Bahasa Bisa Punah

Pada momen aku menemukan tweet screenshot itu, aku  juga  terpikirkan mungkinkah bahasa Indonesia formal/baku akan punah?

Sekadar info, bahasa juga punah. Di Indonesia, sudah ada beberapa bahasa yang punah dan beberapa lainnya terancam punah.

Ada 12 bahasa yang sudah punah: 10 bahasa dari Maluku dan 2 bahasa dari Papua. 9 bahasa tergolong pudar dan ratusan lainnya tergolong hampir punah, sekarat, tergeser, serta terancam. (Sumber: National Geographic edisi Juni 2018).

Menurutku, nggak apa-apa kalau mau ber-“lo-gue” dengan atasan atau orang yang lebih tua selama orang tersebut nggak keberatan. Aku juga suka berbicara kasual dengan orang-orang yang lebih tua. Tapi, bukan berarti merasa aneh dengan bahasa formal, ‘kan?

Aku betulan takut, loh, bahasa formal bisa punah. Sekarang saja, banyak kurang pemahanan tentang cara mengirim surel formal, ‘kan? Misalnya,

Boleh minta rate card?

Kalau ada yang minta rate card, biasanya aku, sih, senang. Hehe. Tapi, kalau kalimat dalam surel hanya seperti itu tanpa subjek, tanpa kata-kata pembuka, bahkan tanpa signature, bukankah malah menimbulkan kecurigaan?

Buat apa meminta rate card? Mau menawarkan pekerjaan? Mau membandingkan rate card? Mau belajar membuat rate card melalui contoh yang ada?

Aku nggak perlu surel panjang-panjang, kok. Aku pribadi sudah cukup dengan surel, seperti:

Selamat pagi,

Perkenalkan, saya Aya. Saya dari MIJMG. Saya ingin mengetahui dan belajar membuat rate card. Saya bermaksud membuat rate card untuk keperluan portfolio saya. Untuk itu, saya ingin meminta tolong. Bolehkan saya meminta contoh rate card?

Terima kasih.

Salam,

Aya

Ada perkenalan. Ada latar belakang dan tujuan. Ada kalimat permintaan. Ada terima kasih. Oh ya, subjek juga perlu.

Iya, memang bukan cuma tugas akhir yang perlu latar belakang dan tujuan. Bukan juga cuma mengucapkan terima kasih kalau sudah diberi sesuatu.

Aku pribadi biasanya mengucapkan terima kasih sebelum dan sesudah permohonanku diterima atau bahkan ketika sekadar chat info yang tanpa permohonan. Karena apa? Yaaaa, karena enak aja gitu mengucapkannya.

Tapi, bukan berarti aku lebih baik daripada orang-orang yang terlalu santai, sih. Buat orang yang suka merasa mentok ketika berada di lautan manusia ini, untuk merasa lebih baik ya jelas masih jauuuh. Dengan pilihan kata halus, atau bahkan baku, kalau lagi tajam, ya tajam.

Lagian, awal mula tulisan ini memang karena kepikiran kemungkinan punahnya bahasa yang indah. Sayang banget, ‘kan? Padahal, bahasa adalah identitas bangsa.

Kita suka, ‘kan, melihat budaya Asia Timur? Salah satu yang bisa diperhatikan adalah soal bahasa.

Kalau melihat Korea dan Jepang, mereka masih punya tingkat bahasa. Di Jepang, yang aku tahu, cara bicara dengan kakak kelas yang beda setahun saja kadang-kadang beda dengan cara bicara bersama teman-teman seumuran. Bahkan ketika hubungan dengan kakak kelas itu terbilang dekat. Jadi, kenapa nggak bagian itu ditiru?

Di sisi lain, jangkauan bahasa Indonesia nggak seluas bahasa Inggris. Penggunanya cuma kita-kita, atau orang-orang yang kebetulan suka. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan bahasa ini? Jangan sampai suatu saat bahasa Indonesia yang enak didengar punah, lalu tersisa bahasa Indonesia yang kasar. Kemudian, makin lama, mungkin bahasa Indonesia akan hilang sama sekali.

Memang, ketika suatu bahasa hilang, kita masih bisa memilih banyaaaaak bahasa lain di dunia. Tapi, kenapa membiarkan hilang suatu identitas yang bagus?

 

 

 

 

You may also like...

26 Comments

  1. Intinya ya…harus disesuaikanlah ya kapan berbahasa formal dan nonformal. Kalo bahasa formal, hari2 aku familier karena di kantor surat2 resmi pake bahasa formal

  2. Kelestarian sebuah bahaa memang kembali pada bangsanya sih menurut aku. Alngkah indahnya dan baik jika setiap keluarga menyadari, jikamelestarikan bahasa adalah sebuah kewajiban.
    Keluarga bisa memulainya dengan mencontohkan dan mengajak ana-anaknya untuk berbahasa induk, bahasa nasional

  3. Memang sangat miris sih ya, mba. Mungkin, entah abai atau bisa jadi gak mengerti bagaimana caranya berbahasa yang baik, terutama ya di media sosial. Jadi saat meminta tolong, jadi terkesan tidak sopan.
    Makanya, saat ini banyak sekali pelamar kerja yang mengirim email di body text-nya aja masih banyak kesalahan dalam menyampaikan tujuan & tata bahasa yang tidak sopan.

  4. Penggunaan bahasa dengan salah arti juga bisa fatal akibat nya. Dan menurut saya itu lebih dari kata kasar nilai buruknya.
    Seperti masih banyak yg mendoakan semoga almarhum “Khusnul khatimah” padahal itu artinya akhir hayat yang buruk. Masa sih yakin mau mendoakan almarhum dalam kondisi buruk?
    Padahal mungkin maksudnya akhir hayat yang baik yaitu husnul khatimah. Tuh beda satu huruf saja fatal kan? Dan itu nilai buruknya melebihi kata kasar/tidak sopan

    1. Wah, baru tau nih Teh.
      Iya juga yaaa. masalah transliterasi ini penting utk dipahami

  5. Medos sekarang isinya makian meski nggak semua dg nada marah, katanya biar gaul & los gitu. Pengin negur tapi takut mubazir. Karena seringnya kalau ditegur mereka tambah ngomel2 dg bahasa yg lebih kasar tapi no mention. Jadi yasudahlah mute aja yg kasar2 biar akunya nggak kepancing emosi.

  6. aku nih suma risih kalau ada agensi yang anak zaman skrg, agak kurang sopan gitu bahasanya, dan gak alay juga, aku jadi males kadang balesnya

  7. nggak cuma di twitter sih, mbak.
    kebetulan aku doyan banget dengerin podcast. Host podcast jaman sekarang bahasanya ya kayak gitu juga.
    kotoran manusia juga diucapin… pusing juga sih waktu dengerin podcastnya. padahal konten-nya lumayan oke.

  8. Saya juga respect kalau oranh mengirim surel dengan niat, maksudnya yang lengkap dari kalimat pembuka sampai ucapan salam. Apalagi untuk urusan sepenting minta ratecard ya kurang etis kalau to the point hehe

  9. Saya pernah baca kalimat kasar di Twitter, malas lihatnya. Abaikan saja. Sayangnya di FB juga banyak yang gitu, tambah bikin malas saja, ha ha.
    Senang baca artikel yang bahas bahasa. Jadi merasa punya teman sesama peminat bahasa Indonesia.
    Saya kiha khawatir kalau bahasa Indonesia yuang baik punah, digantikan bahasa kasar yang rendah.

  10. Pemilihan kata yang kurang tepat kadang menimbulkan salah tafsir ya mbak. Saya juga sering mengecek dulu kalimat sebelum kalimat itu terkirim ke orang yang saya tuju, takut salah kosakata atau menyinggung orang yang membacanya. Kadang suka sedih ketika membaca tulisan di medsos yang kurang sopan. Orang muda dengan mudahnya melempar cacian kepada orang tua, dsb…..santun dan bijak berkata dan membuat tulisan itu akan menandakan kelapangan hati penulis atau pengucapnya.

  11. Setuju banget mba, bahasa Indonesia kita yang punya. Makanya harus dilestarikan. Aku kalo di rumah pakai bahasa Jawa halus sama orang tua. Kalau anak-anak masih campuran Jawa dan Indonesia.

    1. Hebat, deh. Anak-anak masih diajarkan bahasa Jawa, ya.

  12. Baru tahu nih Mbak. Bahasa bisa punah dan itu sudah terjadi ya di Indonesia. Sayang sekali kalau kita tidak ikut melestarikan bahasa. Saya juga termasui orang yang nggak suka banget kalau liat postingan yang bahasanya kasar gitu.

  13. Betul banget di email sekarang malah tulisannya kaya lagi chat aja main reply2an juga singkat. Sebenernya singkat gak apa-apa tapi lebih jelas aja apalagi buat yang baru pertama kali setidaknya ngenalin diri lah

  14. Saya masih harus belajar banyak mengenai ini tapi yang pasti untuk pertama menawarkan kerjasama ya perkenalan dulu sih dan diakhiri terima kasih.

  15. Cara berbahasa netizen emang ajaib belakangan ini. Gampang banget ngetik kata kasar yang sebenernya nggak pake kata itu juga udah bermakna kalimatnya

  16. Bahasa Indonesia memang dinamis ya. Semakin hari semakin banyak kosakatanya. Dan begitu juga rasa di kata-kata. Ada tingkatannya. Jadinya kita kudu pandai-pandai milih kata. Supaya gak ada yang tersinggung. Iya deh, di medsos, mentang-mentang gak jumpa orangnya, pada banyak yang pake kata-kata kasar. Padahal orang dewasa. Sedih dan miris lihatnya.

  17. Bahasa sekarang agak bikin mengernyit sih. Jangankan di sosial media, di kehidupan nyata aja anak2 sampai remaja biasa mengucapkan kata2 bersensor dan nggak merasa takut seakan itu hal yg wajar.

    Bener di Jepang dan Korea itu anak2 mudanya masih tau sopan santun sama yg beda umur. Ada bahasa formal dan bahasa sehari2 plus bahasa gaulnya mereka.

  18. eh iya juga ya, kecuali kalau kita udah udah kenal banget ama orang tersebut mungkin bisa santai bahasanya. thx sudah mengingatkan ya

  19. Kalo di Betawi bahasa lo gue kayaknya emang udah umum ya Mbak, jadi gak masalah ke siapa pun karena emang udah bajasanya. Pernah denger temenku gitu sih ke orangtuanya juga.

  20. Aku setuju banget dengan dirimu mba. Pemilihan kata-kata dalam menyampaikan pendapat memang menunjukkan kepribadian seseorang. Entah karena sudah berada di usia tertentu, kurang gaul atau apa lah, aku kok kurang sreg ya baca cuitan, status FB, caption IG dsb yang banyak ‘njir’ ‘gob***’ gitu bertebaran. Seakan-akan harus begitu agar dianggap anak gawl jaman now. 🙁

  21. Lomen lagi, takut yang kemarin gagal komen karena tidak nongol pas saya cek ulang.
    Saya senang baca blog yang bahas ulasan mengenai bahasa zaman sekarang, memang memprihatinkan karena pengguna bahasa Indonesia banyak yang abai pada kaidah berbahasa mereka, diganti dengan kata atau kalimat sarkas gitu bisa menurunkan derajat si pemilih bahasa sebagai insan pengumpat.
    Sekarang Oktober dan bulan bahasa Indonesia, mari kita berjuang dengan tulisan yang menggugah kesadaran mengenai kaidah lebahasaan.
    Salam kenal.

  22. Benar sekali mbak, bahasa menunjukkan identitas suatu bangsa. Nah, dengan memilih dan memilah bahasa yang tepat mampu memberikan kebaikan terhadap bahasa itu sendiri.

  23. Bahasa Indonesia itu relatif sederhana dan menyenangkan untuk dipelajari. Harus kita jaga twrus ya

  24. Kegelisahanmu sama mba denganku. Banyak orang yang sekarang ekspresinya keterlaluan. Bahasa Indonesianya banyak yang ga bener tapi lebih sedih lagi ucapan/tulisan kasar merajalela

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *