Anak dan gadget

 

Zaman sekarang, siapa sih yang nggak kenal gadget? Apa lagi warga perkotaan, ya. Kalau di kereta tuh, tengok kanan, lagi chatting. Tengok kiri, lagi streaming. Gadget menjadi penyelamat. Informasi bisa segera ter-update. Mati gaya bisa segera teratasi.

Hal ini pun bukan hanya terjadi pada orang dewasa. Balita pun sudah pandai mengoperasikan gadget, kan? Walaupun belum bisa membaca, mereka tahu cara bermain game, mengoperasikan kamera, bahkan membuka YouTube.

Terlihat hebat, memang. Zaman aku balita, bisa bermain Pac Man saja sudah bagus, tanpa benar-benar aware cara mengoperasikan komputer yang besar itu. Anak sekarang sepertinya tanpa perlu diajari pun langsung bisa mengoperasikan gadget.

Walaupun demikian, tentu ada side effect. Nggak usah jauh-jauh soal intelektual atau motorik, ya. Salah tap saja bisa bahaya. Apa lagi, sekarang, pengoperasian gadget cukup dengan suara. Kalau nggak sengaja menekan voice search lalu muncul gambar aneh, bagaimana?

Waktu aku kecil, orang tua mungkin khawatir kalau anaknya di depan tv terus. Tapi, orang tua sekarang mungkin lebih memilih anaknya nonton tv daripada menonton entah apa di layar 5 inci. Yaaah, kekhawatiran setiap zaman memang berbeda. Toh, kemampuan berpikir mencari solusi juga berkembang.

Mungkin karena melihat kekhawatiran orang tua zaman sekarang, Srikandi Muslimahpreneur acara sharing session dengan tema Peranan Orang Tua dalam Pengaruh Gadget di Era Digital (sesi #Sharing_SMC ) pada 7 Oktober 2018 lalu. Pembicaranya adalah RR Finandita Utari, M.Psi., Psikolog., CTC., CGA., seorang psikolog dan konsultan pendidikan sekaligus member Terapis Perilaku (ABA-Australia). Acara ini juga hasil kerja sama dengan Indonesia Social Blogpreneur dan Az-Zahra Honey Premium #AzZahraHoneyPremiumXISB.

Rr finandita psikolog

Kekhawatiran dan Trik Menghadapinya

Soal pemberian gadget untuk anak memang terkadang membingungkan. Kalau tidak dilarang, khawatir menjadi candu. Kalau dilarang, kasihan juga kalau menjadi anak yang kurang update di lingkungan pergaulannya. Bisa-bisa dicap kuper.

Kekhawatiran orang tua tentu bukan tanpa alasan. Secara motorik, anak akan lebih jarang bergerak karena lebih sering bermain gadget daripada bermain permainan nyata. Secara fisik, perkembangan anak pun bisa terganggu. Ada yang bisa kurang gizi atau justru obesitas.

Belum lagi arus informasi di internet jelas-jelas berpotensi mengalir begitu saja. Berdasarkan info dari Mbak Fina, efek kencanduan gadget dan pornografi lebih parah daripada efek kecanduan narkoba. Seram, ya?

Walaupun demikian, hal tersebut tentu bisa dicegah. Beberapa orang tua sudah menerapkan screen time kepada anak-anaknya. Hanya boleh menggunakan gadget di waktu-waktu tertentu. Tentunya, bukan hanya sekadar melarang. Orang tua juga perlu lebih aktif dan kreatif. Yaaa, kalau nggak boleh main gadget tapi nggak ngajak main permainan lain juga, masa anak mesti bengong saja?

Menurut Mbak Fina, anak usia TK-SD masih sangat menyukai sesuatu yang nyata. Misalnya, bermain balok-balokan. Balok yang betulan, bukan balok di permainan Tetris. Mumpung anak belum terlalu mencandu, loh. Orang tua perlu bisa berbesar hati kalau anak mau main kotor-kotoran. Misalnya, main pasir atau main di kebun.

Belajar pun bisa dari alam. Misalnya, belajar berhitung. Anak bisa diminta mencari ranting sejumlah angka tertentu. Selain mengurangi paparan gadget, anak juga bisa lebih dekat alam, ‘kan?

Kalau sudah usia SMP, mungkin akan banyak alasan untuk ber-gadget, ya? Tugas sekolah, urusan PR mendadak, dan semacamnya. Orang tua bisa kok memberikan gadget, tapi diberikan jeda waktu sekian jam per hari. Untuk tugas yang membutuhkan internet, bisa saja dengan menaruh komputer di ruang keluarga sehingga lebih terlihat apa yang anak akses.

Di zaman seperti ini, orang tua sudah nggak bisa ignorance. Pengabaian bisa membuat anak tenggelam dalam dunia entah apa dalam layar selebar telapak tangan. Di sisi lain, orang tua yang terlalu protektif justru annoying. Bisa-bisa, anak malah menarik diri dari lingkungan. Yah, yang demokratis sajalah.

Mengatasi Candu

Kalau sudah kecanduan bagaimana?

Misalnya, anak kecanduan game tertentu. Pada posisi ini, orang tua harus berusaha menjadi teman anak. Orang tua dapat berpura-pura ingin tahu tentang game tersebut. Lalu, orang tua mencoba bermain. Barulah bisa dijelaskan baik-buruk game tersebut kepada anak.

Anak usia remaja memang lebih rentan. Malau dilarang, amit-amitnya akan memberontak. Kalau nggak dilarang, bisa bablas. Jadi, lebih baik dengan trik menjadi temannya sekaligus orang yang patut dihargai.

Belajar dari Gadget

Gadget nggak selamanya buruk, kok. Anak bisa mendapat banyak informasi melalui gadget. Bisa juga tumbuh minatnya terhadap seni grafis karena melihat gambar-gambar luar biasa yang mustahil ditemukan di kehidupan nyata. Semua itu tentu kalau terawasi dengan baik.

Gadget pun bisa menjadi ajang anak mengenal wirausaha. Sering melihat orang tua berbelanja online mungkin menumbuhkan keingintahun anak. Suatu waktu, anak akan mengerti tentang konsep jual-beli melalui gadget. Kalau demikian, tinggallah orang tua mendampingi anak untuk belajar berwirausaha melalui gadget.

Orang tua yang memang berwirausaha, terutama yang menjajaki bidang online, tentu bisa mendampingi anak dengan baik. Tapi, bukan berarti yang nggak berwirausaha nggak akan bisa mendampingi anak dengan baik, ‘kan? Bisa. Asalkan belajar. Menjadi orang tua kan proses belajar juga. Kalau waktu balita, kita belajar berjalan. Waktu SMP, belajar untuk UN. Begitu menjadi orang tua, ya belajar menjadi orang tua.

Ada banyak contoh wirausaha. Mulai dari menjadi reseller, MLM, kulakan (bahasa Indonesia-nya apa, ya?), ataupun memproduksi barang sendiri. Tinggallah dipilih yang mana yang sesuai.

Salah satu wirausaha yang baru dirintis awal tahun ini dan sudah cukup berkembang adalah Az-zahra Honey Premium. Produk yang ditawarkan adalah madu dengan komposisi madu alami murni, royal jelly, bee pollen, dan propolis. Semua dalam 1 botol. Az-zahra menawarkan program reseller dengan modal tertentu. Harga jual madu adalah Rp150.000 untuk 1 botol 1 gram. Keuntungan yang akan didapat adalah Rp45.000/botol. ##AzZahraHoneyPremium juga menawarkan produk face scrub.

Az-Zahra Honey Premium sudah mendapatkan izin DINKES PIRT dengan nomor 2083671060042-23. Untuk izin BPOM dan MUI, sedang diurus, kata Pak H Budi Suhendrio pemilik Az-Zahra Honey Premium.

Penjualan Az-Zahra Honey Premium sebagian besar melalui online. Jadi, mungkin perusahaan ini bisa menjadi bahan pertimbangan ketika akan terjun ke dunia bisnis.

Gadget nggak selamanya buruk, kan? Asalkan pengawasan baik tapi tidak otoriter, gadget bisa menjadi tempat menimba ilmu. Bagaimanapun, selain pendidikan akademik, softskill juga perlu diasah, ‘kan?

Sebagai seseorang yang tumbuh di zaman transisi alias awal keberadaan gadget dan melihat bagaimana orang-orang termasuk anak-anak tumbuh, aku bisa bilang ini: dasar dari orang tua penting banget. Bagaimanapun, orang tua nggak bisa selalu ada untuk melindungi, ‘kan? Ilmunyalah yang akan melindungi. Kalau sudah berilmu, melihat hal negatif pun, bisa diurai sehingga hanya diambil pembelajaran positif.

You may also like...

1 Comment

  1. Penggunaan gadget punya dampak negatif ya mbak kl nggak diawasi, padahal kalau digunakan sebaik mungkin tentunya akan banyak memberikan keuntungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *