Beberapa waktu lalu, aku pernah membaca sebuah berita di Facebook. Seorang wanita mengalami kekerasan dan babak belur. Dia hampir kehilangan nyawa. Dengan keadaan nyaris sekarat, wanita itu melakukan selfie dan meng-upload-nya ke Facebook. Caption-nya hanya “Help”.
Tidak lama kemudian, tetangga wanita tersebut melihat foto itu. Sang tetangga langsung memanggil bantuan. Nyawa wanita itu pun berhasil diselamatkan.
Kejadian semacam itu rasanya seperti jauh sekali. Rasanya seperti menonton sebuah film. Apalagi, kejadian yang kubaca itu berlangsung di luar negeri.

Aku tidak pernah terpikirkan hal semacam itu. Selama ini, di otakku sudah di-setting “kalau butuh bantuan, telepon nomor darurat” atau hal-hal lain yang sudah umum. Aku mengagumi kebiasaan wanita itu untuk berpikir cepat.
Ternyata, kejadian semacam itu bukan hanya terjadi di luar negeri yang jauh di sana. Di sini, di Bogor, pun pernah terjadi kejadian yang haampir sama.
Sebelumnya, aku mau mengatakan, aku bukan saksi mata. Aku hanya tukang nguping.
Tadi siang, aku hendak pergi ke suatu tempat yang mengharuskanku naik angkot. Angkot yang kunaiki kebetulan sudah hampir penuh jadi tidak ngetem. Hanya saja, kemacetan tetap memakan waktu.
Aku duduk berhadap dengan dua pelajar SMP. Satu laki-laki, satu perempuan. Bukan pacaran, kok.
Mereka mengobrol sepanjang perjalanan itu. Pembicaraan mereka ke mana-mana. Sampailah mereka pada pembicaraan ekskul PMR. Lalu, soal darah-darahan, donor darah, golongan darah, dsb. Si cewek sepertinya agak takut darah #infonggakpenting.
Kemudian, si cowok bercerita ibunya jatuh di kamar mandi. Ibunya berdarah-darah. Darahnya sampai mengucur deras. Walaupun demikian, ibu itu tetap santai (anak itu bilangnya “santai”, mungkin maksudnya “nggak panik”).
Dari ceritanya, aku simpulkan ibu itu sedang sendirian di rumah.
Karena darah yang mengalir deras, ibu itu pun lunglai. Ibu itu tidak kuat untuk menelepon, apalagi mengetik pesan. Kalau sudah begitu, tentunya tidak bisa juga menunggu darahnya berhenti sendiri. Bisa-bisa malah kehilangan nyawa.
Lalu, apa yang beliau lakukan?
Ibu itu berselife. Beliau mengirimkan foto itu ke tante si anak laki-laki.
Beruntung, tante itu segera tanggap. Tidak terbayangkan seandainya tante itu sedang jauh dari hp. Tante itu pun segera mendatangi rumah si ibu dengan membawa bantuan lain.
Dan, kisah ini berakhir bahagia.
Lagi-lagi, aku tidak terpikirkan selife bisa menyelamatkan nyawa. Selama ini, berita yang lebih sering terdengar adalah orang kehilangan nyawa karena selfie.

Anak laki-laki tadi berkata ibunya sudah tidak kuat melakukan apa pun. Kalau sampai tidak terpikirkan melakukan selfie, mungkin bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Naudzubillah.

Aku bukan orang yang suka berselfie. Aku pun sering bosan melihat selfie orang-orang berkeliaran di timeline, terutama selfie close-up. Aku merasa melihat foto close-up sama dengan melihat orangnya secara langsung dari jarak beberapa milimeter. Aku nggak butuh. Dan, aku jadi ingin memberi emotikon yang ada gelembung dari hidung. No offense buat yang sering foto seperti itu, loh, ya.

Tapi, ternyata selfie-lah yang berjasa menyelamatkan nyawa dua orang. Dalam hal ini, penemu kamera depan juga berjasa. Kalau selfie dengan kamera belakang, mungkin akan lebih sulit dan tidak langsung memberi hasil yang diinginkan. Bisa saja perdarahan agak ke samping, tapi yang terfoto malah ubun-ubun.

Sosial media dan layanan pesan pun berperan penting. Pada keadaan biasa, kalau melihat foto berdarah-darah atau kiriman gambar yang sekiranya mengerikan, hal apa yang akan dilakukan?

Kalau di layanan chatting, sudah pasti tidak akan kubuka. Aku langsung hapus. Sekarang ini banyak sekali orang mengirim gambar mengerikan. Tidak terbayang kalau korban mengirimnya hanya ke aku lalu aku mengabaikan karena berpikir itu hanya meneruskan pesan berantai. Kalau ada “help”-nya mungkin akan kubuka, tapi kalau tidak ada, kemungkinannya sangat kecil untuk kubuka.

Sedangkan kalau di medsos, banyak gambar berseliweran. Kemungkina besar aku juga akan mengabaikannya. Tidak mengabaikan begitu saja seolah tidak terjadi apa pun, sih, tapi akan aku close secepatnya.

Makanya, aku salut pada tetangga dan saudara yang cepat tanggap seperti pada dua kasus tadi. Mereka sangat perhatian sampai tidak mengabaikan hal semacam itu.

Hal yang sering dianggap remeh pun ternyata bisa menyelamatkan nyawa seseorang.  Setelah membaca dan mendengar dua cerita tadi, mungkin aku harus lebih perhatian. Tapi, tolong jangan isengi aku dengan gambar-gambar aneh.

You may also like...

6 Comments

  1. Aku nggak pede selfie sendirian euy, Mbak. Selalu nyari teman. Haha. Wefie donk jadinya. Tapi salut ya sama ketenangan dan ide ibu itu.

  2. Kadang kita juga harus bisa peka dengan beberapa foto selfie ya. Yang penting bukan selfie ga jelas.hehehe

  3. Dulu aku suka selfie, sekarang mulai sadar,

  4. Aku liat2 tempatnya fah klo mau selfie 😀
    biar gak mengantarkan nyawa dg cuma2 demi bisa eksis..hehe
    tp kadang, dg selfie memang bisa menyelamatkan nyawa sih.
    misal, lg sediiih bgt rasanya, tp tiba2 aja kepikiran buat selfie, trus apload di sosmed, terus banyak yg komen bilang cantik 😀
    Ahh senangnya yaa.. akhirnya gak sedih lg deh haha

  5. baru tau ternyata ada manfaat lain dari selfie, kalau begitu saya akan melanjutkan selfienya

  6. baru dengar cerita selfie yang menyelamatkan nyawa. seringnya mengantarkan nyawa.
    nice posting fifah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *